KALBARONLINE.com - Ramadan di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, rasanya belum lengkap tanpa kehadiran sotong pangkong. Kuliner khas yang hanya muncul saat bulan puasa ini selalu menjadi incaran warga untuk berbuka hingga santai malam hari.
Salah satu lokasi yang paling ikonik untuk berburu sotong pangkong adalah Jalan Merdeka, yang setiap Ramadan dipenuhi deretan gerobak pedagang.
Di antara banyaknya penjual, ada sosok Fitriana (39 tahun), yang akrab disapa Kak Ipit. Perempuan ini bukan pedagang baru. Ia sudah berjualan sotong pangkong sejak masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar, tepatnya sekitar tahun 1990-an.
“Sudah dari saya SD jualan, sekitar tahun 90-an lah. Jadi sudah lebih dari 20 tahun,” ujarnya sambil melayani pembeli.
Kak Ipit bercerita, saat pertama kali berjualan, suasana Jalan Merdeka belum seramai sekarang. Bahkan saat itu ia hanya berjualan seorang diri. Seiring waktu, semakin banyak pedagang yang ikut membuka lapak sotong pangkong.
“Dulu belum ramai, masih saya sendiri. Mungkin orang-orang lihat saya jualan, akhirnya ikut jualan juga. Awalnya dari orang-orang gang sekitar,” katanya.
Di lapaknya, Kak Ipit menyediakan dua pilihan sambal, yakni sambal kacang dan sambal ebi. Namun menurutnya, sambal ebi menjadi favorit pembeli karena rasanya yang lebih gurih dan khas.
Memasuki Ramadan tahun ini, ia mengaku suasana sudah ramai sejak awal puasa. Meski begitu, jumlah pembeli dinilai belum seramai tahun sebelumnya.
“Ramadan memang paling ramai. Tapi tahun ini agak beda, mungkin karena harga sotong juga naik,” ungkapnya.
Ciri khas sotong pangkong miliknya terletak pada sambal racikan keluarga yang sudah diwariskan turun-temurun. Dalam satu malam, ia bisa menghabiskan hingga dua kilogram sotong.
Nama “sotong pangkong” sendiri berasal dari proses pengolahannya. Sotong terlebih dahulu dibakar, kemudian dipukul atau “dipangkong” agar teksturnya empuk sebelum disajikan dengan sambal.
Menurut Kak Ipit, resep ini berasal dari orang tuanya. Awalnya, sang bibi lebih dulu berjualan sotong pangkong di Gang Botin. Ibunya kemudian mencoba meneruskan usaha tersebut hingga akhirnya diwariskan kepadanya sampai sekarang.
“Dulu mamak saya diminta kakaknya untuk jualan juga. Akhirnya ibu saya lanjutkan resepnya, dan sekarang turun-temurun sampai saya,” ceritanya.
Ia pernah mencoba berjualan di luar bulan Ramadan, namun suasananya terasa berbeda dan pembeli tidak seramai saat puasa.
“Kalau bulan biasa pernah coba, tapi tidak ramai. Memang suasananya beda, Ramadan itu yang paling hidup,” katanya.
Selama Ramadan, lapak Kak Ipit mulai buka sejak pukul 14.00 WIB hingga sekitar pukul 01.00 dini hari, melayani warga yang datang silih berganti untuk menikmati salah satu cita rasa khas Pontianak yang melegenda. (Lid)
Puluhan Tahun Bertahan, Sotong Pangkong Kak Ipit Tetap Diburu Saat Ramadan
BERITA TERKINI
Sintang
Berkat KUM Harapan Bank Kalbar, Galeri Sintang Milik Ibu Sumjulia Tembus Pasar Sarawak
Friday, 23 October 2026
Nasional
ATR/BPN Tangani Ribuan Kasus Pertanahan, Potensi Kerugian Negara Rp23,3 Triliun Berhasil Dicegah
Thursday, 22 October 2026
Bengkayang
Tahu Wahyudin di Bengkayang Berkembang 25 Kali Lipat Berkat Pembinaan dari Bank Kalbar
Thursday, 22 October 2026
Nasional
Ermin Elviani Terima SK Ketua Demokrat Kalbar 2026–2031, Siapkan Konsolidasi Lima Tahun
Thursday, 22 October 2026
Pontianak
Pontianak Raih TPAKD Award 2026, Edi Kamtono Dorong Akses Keuangan Lebih Luas
Thursday, 22 October 2026