Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
agustiar sabran
Pegiat Lingkungan Nilai Debat Dua Gubernur soal Asap Terlalu Receh
Pegiat Lingkungan Nilai Debat Dua Gubernur soal Asap Terlalu Receh
Sunday, 04/10/2026

KALBARONLINE.com – Perdebatan Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan dan Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran terkait asal kabut asap mendapat sorotan dari pegiat lingkungan sekaligus Ketua Yayasan Kolase, Andi Fachrizal.

Pria yang akrab disapa Daeng ini menilai perdebatan kedua gubernur tersebut terlalu receh karena hanya berkutat pada persoalan siapa yang mengirim asap dan siapa yang paling banyak membakar. Menurutnya, asap tidak mengenal batas administrasi antarprovinsi.

“Menurut saya, perdebatan antara dua gubernur ini terlalu receh. Cuma di level siapa yang mengirim asap dan siapa yang paling banyak membakar,” kata Daeng kepada kalbaronline.com, Minggu (4/10/2026).

Ia menjelaskan, arah angin memang menentukan pergerakan asap. Namun, untuk memastikan sumber asap, diperlukan pembuktian menggunakan berbagai data secara bersama-sama.

Menurut Daeng, data hotspot, luas area terbakar, arah angin, citra satelit hingga verifikasi lapangan perlu digunakan untuk melihat sumber dan pergerakan asap secara lebih utuh.

“Kalau memang ada asap dari Kalteng yang masuk ke Kalbar, itu harus dibuktikan dengan data. Sebaliknya, kalau sebagian besar sumber asap berasal dari karhutla di Kalbar, itu juga harus dibuka secara transparan,” ujarnya.

Daeng yang juga merupakan jurnalis senior di Kalbar ini turut mengingatkan agar data luas area terbakar tidak digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk membantah ataupun membenarkan asal asap.

Sebab, menurut dia, luas area terbakar dan pergerakan asap merupakan dua hal yang berbeda.

“Jadi jangan menggunakan angka luas terbakar semata untuk membantah atau membenarkan asal asap, karena luas area terbakar dan pergerakan asap adalah dua hal yang berbeda,” katanya.

“Perdebatan dua gubernur di Pulau Kalimantan ini seperti mengaburkan persoalan utama, yaitu pengendalian karhutla dan perlindungan masyarakat,” ujarnya.

Daeng menilai para kepala daerah semestinya tidak mempertontonkan perdebatan yang justru menjauhkan perhatian dari persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.

“Gubernur jangan pertontonkan atraksi kebodohan di tengah rakyat yang sedang tercekik asap,” tegas Daeng.

Pernyataan Ria Norsan sebelumnya menyebut kabut asap di sejumlah wilayah Kalimantan Barat turut dipengaruhi limpahan asap dari Kalimantan Tengah. Norsan kemudian menegaskan pernyataannya berdasarkan data satelit Sipongi dan arah angin yang dapat dilihat melalui satelit NOAA.

Sementara Agustiar Sabran merespons dengan membandingkan data luasan Karhutla di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Ia menyebut luas Karhutla di Kalteng berdasarkan data yang dimilikinya berada di kisaran 14.000 hingga 15.000 hektare, sedangkan Kalbar disebut lebih dari 50.000 hektare.

Menanggapi silang pendapat tersebut, Daeng menilai pernyataan kedua gubernur perlu sama-sama diuji menggunakan data yang relevan.

“Jadi, pernyataan Gubernur Kalbar mengenai limpahan asap ini perlu diuji dengan data meteorologi dan sebaran asap. Data Gubernur Kalteng mengenai luas karhutla juga perlu ditempatkan dalam konteks yang sama. Publik membutuhkan verifikasi, bukan perang klaim,” tegasnya.

Daeng bahkan menyebut perdebatan tersebut terlalu kekanak-kanakan jika persoalan kabut asap hanya ditempatkan sebagai pertarungan klaim antarprovinsi.

“Ini akibatnya jika kabut asap diperlakukan seperti persoalan batas wilayah,” katanya.

Menurutnya, masyarakat tidak terlalu membutuhkan perdebatan mengenai asap berasal dari provinsi mana. Yang lebih penting adalah kejelasan mengenai pihak yang bertanggung jawab mencegah kebakaran, melindungi kesehatan masyarakat, serta memastikan kejadian serupa tidak terus berulang.

“Padahal, bagi masyarakat, yang penting itu bukan asapnya berasal dari provinsi mana. Masyarakat ingin tahu siapa yang bertanggung jawab mencegah kebakaran, melindungi kesehatan masyarakat, dan memastikan kejadian yang sama tidak perlu berulang,” pungkasnya. (Jau)

Jawab Agustiar Sabran, Ria Norsan: Saya Bicara Sesuai Data Sipongi
Jawab Agustiar Sabran, Ria Norsan: Saya Bicara Sesuai Data Sipongi
Saturday, 03/10/2026

KALBARONLINE.com – Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan memberikan tanggapan setelah pernyataannya soal adanya limpahan asap dari Kalimantan Tengah menjadi perhatian dan mendapat respons dari Gubernur Kalteng Agustiar Sabran.

Melalui pesan yang disampaikan kepada KALBARONLINE.com, Ria Norsan menegaskan bahwa pernyataannya mengenai kondisi kabut asap didasarkan pada data satelit.

“Saya bicara sesuai dengan data satelit Sipongi. Arah angin dari utara ke selatan bisa dilihat satelit NOAA,” kata Norsan.

Sebelumnya, Norsan menyebut kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Barat, khususnya Kayong Utara dan sekitarnya, tidak hanya berasal dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah setempat.

Ia mengatakan arah angin memungkinkan asap dari Kalimantan Tengah bergerak menuju wilayah Kalimantan Barat, termasuk Ketapang, Kayong Utara hingga Pontianak.

Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Agustiar Sabran. Gubernur Kalteng itu membandingkan data luasan Karhutla di kedua provinsi dan menyebut luas kebakaran di Kalteng berdasarkan data yang dimilikinya berada pada kisaran 14.000 hingga 15.000 hektare.

Agustiar juga menyebut luasan Karhutla di Kalbar telah mencapai lebih dari 50.000 hektare. Ia menjelaskan arah angin turut memengaruhi pergerakan asap antarwilayah.

Menanggapi polemik tersebut, Norsan tidak menjelaskan lebih jauh mengenai perbandingan data luasan Karhutla kedua provinsi. Ia justru kembali menekankan dasar data yang digunakan dalam menyampaikan pernyataannya.

Selain itu, Norsan menyampaikan perkembangan terbaru kondisi Karhutla di Kalbar. Menurut dia, api di sejumlah wilayah sudah banyak yang padam dan kondisi cuaca mulai membaik.

“Alhamdulillah api kita sudah banyak yang padam, cuaca mulai cerah. Tks Ya Allah,” tulis Norsan.

Secara terpisah, Kementerian Kehutanan pada 3 Oktober 2026 menyebut Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masih menjadi wilayah yang mendapat perhatian dalam operasi pengendalian Karhutla. Pemantauan SiPongi hingga 2 Oktober juga menggunakan data satelit, termasuk NOAA-20, sementara kondisi asap disebut dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran, pergerakan massa udara, arah dan kecepatan angin, serta kondisi atmosfer.

Ria Norsan Sebut Limpahan Asap Kalteng, Agustiar Sabran Bandingkan Data Karhutla
Ria Norsan Sebut Limpahan Asap Kalteng, Agustiar Sabran Bandingkan Data Karhutla
Thursday, 01/10/2026

KALBARONLINE.com – Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Barat turut dikaitkan dengan pergerakan asap dari wilayah Kalimantan Tengah.

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan sebelumnya menyebut kabut asap di Kayong Utara dan sejumlah wilayah Kalbar tidak hanya berasal dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di daerah setempat, tetapi juga dipengaruhi limpahan asap dari Kalimantan Tengah.

Pernyataan itu disampaikan Ria Norsan saat melakukan kunjungan ke Kayong Utara, Senin (21/9/2026). Ia menjelaskan, arah angin memungkinkan asap dari wilayah Kalimantan Tengah bergerak menuju Kalimantan Barat.

“Kalau saya bisa mengatakan asap ini tidak hanya dari Kayong Utara saja, tapi ini juga limpahan dari Kalimantan Tengah yang daerahnya berdekatan dan anginnya mengarah ke kita, dari Kalteng ke Ketapang dan Kayong Utara dan dari sini mengarah ke Pontianak,” terang Ria Norsan.

Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran. Ia membandingkan data luasan Karhutla di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat sebagai salah satu gambaran kondisi kebakaran di kedua provinsi.

Agustiar menyampaikan hal tersebut di Palangka Raya, Selasa (29/9/2026) malam. Ia menyebut luas kebakaran di Kalimantan Tengah berdasarkan data yang dimilikinya berada pada kisaran 14.000 hingga 15.000 hektare.

Menurut Agustiar, data tersebut berasal dari Kementerian Kehutanan dan BPBD Kalimantan Tengah.

“Ini data menurut Menteri Kehutanan, menurut BPBD kita di angka 14.000 lebih saja,” ujar Agustiar.

Dalam kesempatan yang sama, Agustiar menyebut luas kebakaran di Kalimantan Barat telah mencapai lebih dari 50.000 hektare. Angka tersebut dibandingkannya dengan luasan Karhutla di Kalimantan Tengah saat menjelaskan kondisi kabut asap yang belakangan dirasakan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.

Menurut Agustiar, kondisi kebakaran di masing-masing wilayah perlu dilihat secara utuh dan tidak hanya berdasarkan keberadaan asap yang terlihat di suatu daerah.

Ia juga menjelaskan bahwa arah angin turut memengaruhi pergerakan asap. Karena itu, asap yang muncul di suatu wilayah tidak selalu berada tepat di lokasi sumber kebakaran, melainkan dapat bergerak mengikuti kondisi angin.

“Kalau angin barat ke barat, bila angin timur ke timur. Itu analoginya,” kata Agustiar.

Pergerakan asap tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat kondisi kabut asap antarwilayah di Kalimantan. Selain arah angin, perkembangan Karhutla juga berkaitan dengan luasan area terbakar, kondisi cuaca, serta hasil pemantauan di lapangan.

Penanganan Karhutla pun masih menjadi perhatian pemerintah di Kalimantan Barat maupun Kalimantan Tengah, seiring kondisi cuaca dan kebakaran yang masih memerlukan pemantauan di sejumlah wilayah.