Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
air asin
Antisipasi Intrusi Air Laut, Pemkot Pontianak Bidik Biong Jadi Alternatif Sumber Air Baku
Antisipasi Intrusi Air Laut, Pemkot Pontianak Bidik Biong Jadi Alternatif Sumber Air Baku
Wednesday, 23/09/2026

KALBARONLINE.com – Pemerintah Kota Pontianak terus mencari sumber air baku alternatif untuk memperkuat ketahanan air bersih, terutama menghadapi kemarau panjang dan intrusi air laut yang memengaruhi kualitas air baku dari Sungai Kapuas.

Salah satu lokasi yang kini disasar adalah kawasan Biong, Kabupaten Kubu Raya, yang merupakan bagian dari aliran Sungai Landak. Lokasi tersebut berjarak sekitar 22 kilometer dari Waduk Penepat.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono turun langsung untuk memastikan kondisi lapangan, Selasa (22/9/2026) sore. Tim Laboratorium Perumda Tirta Khatulistiwa turut mengambil sampel air di lokasi untuk menguji kualitasnya.

“Ini salah satu alternatif yang kita lihat karena semakin jauh dari pengaruh pasang air laut, kualitas air diharapkan semakin tawar,” ujar Edi.

Pengujian awal terhadap kualitas air di lokasi tersebut menunjukkan hasil yang cukup baik. Salah satu parameter yang diperiksa adalah kadar garam yang tercatat hanya 11 miligram per liter.

Meski demikian, Edi menegaskan penetapan sumber air baku tidak dapat hanya didasarkan pada kadar garam. Pemerintah juga harus memperhitungkan berbagai aspek teknis, mulai dari lebar dan kedalaman sungai, jarak menuju instalasi pengolahan, hingga kemungkinan pembangunan jaringan perpipaan.

“Bukan hanya soal airnya tawar atau tidak. Kita harus hitung aksesnya, jaraknya ke instalasi pengolahan, sampai bagaimana nanti jaringan pipanya,” jelasnya.

Menurut Edi, karakter Sungai Landak di wilayah Biong juga perlu dikaji lebih lanjut dari sisi operasional. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah membangun koneksi perpipaan dari arah Waduk Penepat.

“Untuk Biong, salah satu kemungkinan yang perlu kita kaji adalah menyambungkan pipa dari arah Waduk Penepat,” ujarnya.

Edi mengatakan, Pemkot Pontianak tidak ingin hanya bergantung pada satu sumber air baku. Pengalaman menghadapi kemarau panjang dan intrusi air laut menjadi pelajaran untuk membangun sistem penyediaan air yang lebih tangguh.

Karena itu, sumber alternatif yang disiapkan juga harus memiliki karakter risiko yang berbeda dengan Waduk Penepat sehingga dapat menjadi pilihan ketika sumber air baku lainnya terdampak kondisi tertentu.

“Kita tidak ingin hanya mengandalkan satu sumber. Semua alternatif akan kita uji dan hitung secara teknis,” katanya.

Menurut Edi, pencarian sumber air baku baru merupakan bagian dari upaya jangka panjang Pemkot Pontianak dan bukan sekadar solusi darurat ketika kualitas air Sungai Kapuas menurun akibat intrusi air laut.

“Ikhtiar ini kita lakukan supaya kebutuhan air bersih masyarakat tetap terjaga, hari ini maupun ke depan,” pungkasnya. (*)

Air PDAM Asin Tiap Kemarau, Krisantus Dorong Pembangunan SPAM Regional Kalbar
Air PDAM Asin Tiap Kemarau, Krisantus Dorong Pembangunan SPAM Regional Kalbar
Tuesday, 22/09/2026

KALBARONLINE.com – Persoalan air PDAM yang menjadi payau dan terasa asin saat musim kekeringan kembali menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.

Wakil Gubernur Kalbar Krisantus Kurniawan mendorong kajian pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional yang dapat melayani kebutuhan air bersih lintas kabupaten/kota sebagai solusi jangka panjang.

Hal itu disampaikan Krisantus saat meninjau Instalasi Pengolahan Air Bersih PMI Kalbar AP81 di kawasan Taman Makam Pahlawan Dharma Patria Jaya, Jalan Adisucipto, Kabupaten Kubu Raya, Selasa (22/9/2026).

Krisantus mengatakan persoalan air payau yang terjadi hampir setiap tahun tidak bisa terus ditangani dengan pola yang sama. Menurutnya, pemerintah perlu menyiapkan solusi jangka panjang melalui pembangunan infrastruktur air bersih.

“Langkah ke depan, tadi saya sudah sampaikan juga bahwa bencana ini terjadi hampir setiap tahun. Walaupun tidak selalu separah ini, tetapi terjadi setiap tahun, yaitu air PDAM menjadi payau dan rasanya asin,” kata Krisantus.

Ia menyebut kondisi air yang lebih asin dari biasanya dapat mengganggu kebutuhan masyarakat dan berpotensi berdampak terhadap kesehatan maupun peralatan rumah tangga.

“Kalau sekarang asinnya cukup terasa. Kalau biasanya memang asin, tetapi tidak terlalu seperti sekarang. Namun, jelas berdampak kepada kesehatan, berdampak kepada peralatan-peralatan rumah tangga dan sebagainya. Mesin pompa juga menjadi cepat rusak,” ujarnya.

Karena itu, Krisantus meminta Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kalbar segera mengkaji kemungkinan pembangunan SPAM Regional yang dapat melayani kebutuhan air bersih di beberapa kabupaten/kota.

“Oleh sebab itu, ke depan saya meminta kepada Kepala Bapperida yang tadi juga hadir, tolong dibuat pengkajian bagaimana kita bisa memprogramkan satu PDAM regional yang bisa melayani beberapa kabupaten untuk menyediakan air bersih,” tegasnya.

Menurut Krisantus, kajian tersebut juga harus mencakup pola pembiayaan serta kemungkinan keterlibatan pemerintah kabupaten/kota hingga pemerintah pusat.

“Langkah konkretnya, tadi saya bilang kepada pemerintah, segera kaji bagaimana SPAM regional pemerintah provinsi. Apakah nanti kita sharing dengan kabupaten/kota atau kita perlu bantuan pemerintah pusat,” jelasnya.

Ia menyatakan siap membawa persoalan tersebut ke pemerintah pusat untuk memperjuangkan dukungan pembangunan infrastruktur air bersih di Kalimantan Barat.

“Saya siap menemui kementerian di pemerintah pusat untuk memperjuangkan bagaimana pusat juga peduli dengan bencana yang terjadi setiap tahun,” katanya.

Krisantus menilai anggaran yang selama ini dikeluarkan untuk penanganan kondisi darurat perlu diimbangi dengan investasi infrastruktur jangka panjang.

“Daripada seperti sekarang, keluar anggaran hanya sekadar untuk menangani kondisi darurat, kenapa kita tidak mencari solusi jangka panjang penyediaan air bersih, air yang tidak payau untuk masyarakat,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Krisantus juga mengapresiasi inovasi PMI Kalbar yang memanfaatkan air waduk untuk diolah menjadi air bersih melalui instalasi AP81.

“Pertama, saya mengapresiasi PMI yang sudah melakukan ekspansi. Biasanya kalau kita tahu, PMI itu pasti urusan darah, orang kekurangan darah, rumah sakit butuh darah, pasien butuh darah. Tetapi kali ini bukan hanya urusan darah, PMI juga menyediakan air bersih,” ujarnya.

Menurutnya, inovasi tersebut menjadi langkah nyata PMI dalam membantu masyarakat yang membutuhkan air bersih di tengah kondisi kekeringan.

Peninjauan kemudian dirangkaikan dengan pelepasan armada truk tangki PMI yang membawa air hasil pengolahan AP81 untuk didistribusikan kepada masyarakat.

Krisantus mengatakan air tersebut telah melalui proses pengolahan dan dapat dikonsumsi dengan catatan harus dimasak terlebih dahulu.

“Air yang sudah diolah dan sudah jernih serta layak untuk dikonsumsi, dengan catatan dimasak terlebih dahulu. Jadi, air tersebut sudah dilepas untuk masyarakat yang memerlukan air,” katanya. (Lid)

Wako Pontianak Minta Maaf soal Krisis Air Bersih, Janjikan PDAM Beri Diskon 30 Persen
Wako Pontianak Minta Maaf soal Krisis Air Bersih, Janjikan PDAM Beri Diskon 30 Persen
Monday, 14/09/2026

KALBARONLINE.com – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat terkait gangguan layanan air bersih akibat kemarau panjang dan meningkatnya kadar garam pada sumber air baku Sungai Kapuas.

Edi mengatakan, pemerintah kota memahami kondisi tersebut membuat masyarakat khawatir dan tidak nyaman karena air merupakan kebutuhan dasar sehari-hari.

“Atas nama Pemerintah Kota Pontianak, saya mohon maaf. Kita akan terus memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terlayani sampai kondisi kembali normal,” kata Edi.

Untuk mengatasi krisis tersebut, Pemkot Pontianak menyiapkan dua kebijakan utama. Pertama, memperkuat distribusi air tawar bersih ke kelurahan, kecamatan, serta sejumlah titik publik yang mudah dijangkau masyarakat.

Setiap kelurahan dan kecamatan diminta menyiapkan penampungan air. Masjid yang memiliki bak penampungan juga dapat dimanfaatkan sebagai titik pengambilan air bagi warga.

“Saat ini sekitar seribu ton air tawar per hari terus kita produksi dan salurkan. Distribusi akan kita sesuaikan dengan kebutuhan di lapangan,” ujarnya.

Kebijakan kedua yakni memberikan diskon 30 persen bagi pelanggan rumah tangga Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa.

Selain itu, Pemkot Pontianak mempercepat perbaikan pipa dari Penepat sekaligus menambah sumber air baku tawar. Pemerintah kota juga berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Kapuas Kementerian Pekerjaan Umum untuk memperkuat sistem penyediaan air baku.

Untuk jangka panjang, Pemkot Pontianak mendorong penambahan jaringan pipa dan pembangunan bendung karet di kawasan Penepat melalui koordinasi bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.

Edi memastikan pemerintah kota akan terus berupaya memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat selama kondisi belum kembali normal.

“Saya memahami kondisi ini tidak mudah bagi warga,” katanya. (Lid)

Air PDAM Asin hingga Harga Bapok Naik, Warga Pontianak Minta Pemerintah Turun Tangan
Air PDAM Asin hingga Harga Bapok Naik, Warga Pontianak Minta Pemerintah Turun Tangan
Friday, 11/09/2026

KALBARONLINE.com - Di tengah kabut asap dan kondisi cuaca yang belum membaik, warga Pontianak kembali dihadapkan pada persoalan air bersih yang terasa asin. Pada saat yang sama, kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok turut menambah beban rumah tangga.

Kondisi tersebut dikeluhkan Melati, warga Pontianak. Menurutnya, persoalan air bersih menjadi salah satu hal yang paling dikhawatirkan masyarakat saat ini, terlebih ketika harga kebutuhan sehari-hari juga semakin mahal.

“Air bersih terus. Kemudian, sekarang harga-harga juga semakin mahal. Otomatis kita merasa keberatan untuk kebutuhan rumah tangga,” ujarnya, Jumat (11/9/26).

Menurut Melati, air yang kembali terasa asin membuat warga harus mencari sumber air bersih lainnya. Ia berharap pemerintah menyediakan titik pembagian air bersih yang lebih dekat dengan permukiman warga sehingga masyarakat tidak perlu pergi jauh untuk mendapatkannya.

“Harapannya, kita ingin ada air bersih yang dekat dengan rumah dan terjangkau. Jadi, kita tidak perlu jauh-jauh kalau mau mengambil air,” katanya.

Tak hanya air bersih, Melati juga menyoroti kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok, terutama cabai dan sayuran. Menurutnya, kondisi tersebut semakin memberatkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Sekarang kebutuhan pokok juga mahal, seperti cabai dan sayur-sayuran. Semuanya mahal karena kondisi seperti ini,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap pemerintah tidak hanya melakukan pemantauan harga, tetapi turun langsung ke pasar untuk memastikan kebutuhan pokok tetap tersedia dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat.

“Kami berharap pemerintah turun langsung ke pasar, supaya kebutuhan pokok harganya bisa lebih murah,” katanya.

Melati juga berharap pemerintah memberikan bantuan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat di tengah kondisi saat ini, mulai dari air bersih, masker hingga kebutuhan pokok.

“Harapan saya, mewakili ibu-ibu semua, dengan keadaan seperti ini berharap banyak bantuan dari pemerintah, seperti air bersih, masker, juga kebutuhan-kebutuhan pokok yang harganya jelas tidak mahal dan tetap terjangkau,” pungkasnya.

Air PDAM Makin Asin, Warga Pontianak Terpaksa Antre Air Bersih
Air PDAM Makin Asin, Warga Pontianak Terpaksa Antre Air Bersih
Tuesday, 08/09/2026

KALBARONLINE.com – Warga Kota Pontianak mulai merasakan dampak krisis air bersih akibat kemarau panjang. Salah satunya Fera, yang mengaku terpaksa mengambil dan mengantre air bersih karena air PDAM di rumahnya sudah tidak dapat digunakan untuk sejumlah kebutuhan sehari-hari.

Fera mengatakan air PDAM di rumahnya semakin asin hingga terasa pahit dalam tiga hari terakhir. Ia pun terpaksa mengambil air bersih yang dibagikan untuk memenuhi kebutuhan memasak hingga mandi.

“Saya mengambil air bersih karena di rumah airnya sudah payau, bahkan sudah sampai asin. Jadi, kami sedang membutuhkan air bersih untuk bilas badan. Kalau tidak, badan terasa gatal-gatal sekali,” ujar Fera.

Fera mengatakan sebelumnya air PDAM memang sudah tidak sepenuhnya tawar. Namun, kondisi dalam tiga hari terakhir semakin parah hingga tidak dapat digunakan untuk mandi maupun mencuci pakaian.

“Kalau sebelumnya memang sudah tidak pernah tawar, tetapi dalam tiga hari ini rasanya sudah sangat asin sampai pahit. Jadi, benar-benar sudah tidak bisa dipakai,” tuturnya.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar, Fera menggunakan air bantuan secara terbatas. Air tersebut diprioritaskan untuk memasak, mencuci sayur, dan membilas badan.

“Untuk masak dan bilas badan. Intinya kami pakai sesuai kebutuhan. Tidak semuanya langsung menggunakan air ini. Untuk mencuci-cuci tetap menggunakan air asin,” ujarnya.

Ia menyebut keluarganya cukup besar. Dalam satu rumah terdapat sekitar 10 orang sehingga kebutuhan air bersih setiap hari cukup banyak.

“Kalau memang bisa mengambil lebih banyak, kami ambil karena benar-benar untuk dipakai sendiri, bukan dijual. Keluarga kami cukup besar. Dalam satu rumah ada sekitar 10 orang,” katanya.

Fera menambahkan, sebelumnya warga juga sempat mendapatkan bantuan air bersih dari Brimob. Air tersebut diambil dari sungai dan melalui proses penyaringan sebelum dibagikan kepada masyarakat.

“Kemarin, minggu lalu, ada dari Brimob. Mereka mengambil air dari sungai, kemudian langsung difilter. Kami juga sempat mengambil air di sana,” ucapnya.

Kini, Fera berharap pasokan air bersih bagi warga terus tersedia selama air PDAM belum kembali normal.

“Air tampungan juga sudah mulai habis,” pungkasnya. (Lid)