Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
bmkg kalbar
BMKG Kalbar: Musim Hujan Masuk Bertahap, Puncaknya Diprediksi Desember-Januari
BMKG Kalbar: Musim Hujan Masuk Bertahap, Puncaknya Diprediksi Desember-Januari
Wednesday, 07/10/2026

KALBARONLINE.com – Musim hujan mulai memasuki sejumlah wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) pada Oktober 2026. Namun, awal musim hujan tidak terjadi secara bersamaan karena setiap wilayah memiliki waktu yang berbeda.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalbar, Erika Mardiyanti, menjelaskan wilayah bagian tengah dan utara Kalbar sudah memasuki musim hujan pada dasarian kedua Oktober. Sementara itu, beberapa wilayah lainnya diperkirakan baru memasuki musim hujan pada bulan berikutnya.

“Ada beberapa wilayah yang masuk musim penghujannya agak mundur, yaitu wilayah Ketapang bagian selatan. Itu baru masuk musim hujan di bulan November,” ujar Erika, Selasa (6/10/2026).

Perbedaan waktu juga terjadi pada puncak musim hujan. Sebagian wilayah Kalbar diperkirakan mencapai puncak musim hujan pada Desember 2026. Sedangkan Ketapang bagian selatan diprediksi baru mengalami puncak musim hujan pada Januari 2027.

“Jadi puncaknya Desember dan Januari. Karena memang untuk setiap wilayah itu masuk musim hujannya berbeda-beda,” katanya.

Menurut Erika, perbedaan tersebut terjadi karena waktu masuk musim hujan di setiap wilayah tidak sama. Kondisi musim hujan perlu dilihat berdasarkan wilayah masing-masing sehingga tidak seluruh daerah mengalami kondisi yang sama dalam waktu bersamaan.

Selain membahas musim hujan, Erika juga menjelaskan fenomena El Nino yang berpotensi memengaruhi kondisi hujan. Ia mengatakan musim kemarau dan musim hujan merupakan siklus yang terjadi setiap tahun, sedangkan El Nino merupakan dinamika yang terjadi secara global.

“Antara El Nino dengan adanya El Nino di musim kemarau tentunya menambah pengurangan air hujan yang ada di wilayah kita,” jelasnya.

Dengan demikian, musim hujan di Kalbar diperkirakan berlangsung secara bertahap. Sejumlah wilayah mulai memasuki musim hujan pada Oktober, sementara Ketapang bagian selatan menyusul pada November. Puncaknya diperkirakan terjadi pada Desember hingga Januari. (Lid)

BMKG Kalbar: Karhutla Berpotensi Berlanjut hingga September, Hujan Masih Minim
BMKG Kalbar: Karhutla Berpotensi Berlanjut hingga September, Hujan Masih Minim
Friday, 21/08/2026

KALBARONLINE.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat diperkirakan masih berpotensi terjadi hingga September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalbar memprediksi potensi hujan masih rendah sehingga risiko karhutla tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Kalbar, Soetikno, mengatakan hujan yang berpotensi turun pada 23-26 Agustus hanya terjadi di sebagian wilayah Kalbar, terutama bagian utara dan timur.

“Potensi hujan ada, terutama di wilayah utara dan timur, seperti Kapuas Hulu, Sintang, Sekadau, hingga Sanggau bagian utara. Namun intensitasnya ringan dan tidak merata,” kata Soetikno saat dihubungi Jumat (21/8/2026).

Sementara itu, sejumlah wilayah yang saat ini memiliki titik karhutla justru diprediksi memiliki peluang hujan yang sangat kecil. Di antaranya Kabupaten Kubu Raya bagian selatan, Kayong Utara, dan Ketapang.

Kondisi tersebut membuat potensi karhutla diperkirakan masih tinggi setidaknya hingga September.

“Diprediksikan bulan September itu masih rendah potensi hujannya, sehingga karhutla masih berpotensi berlanjut sampai setidaknya bulan September, bahkan hingga akhir September,” ujarnya.

Selain minim hujan, kondisi angin juga menjadi perhatian BMKG. Saat ini, angin di wilayah perairan barat Kalbar, termasuk kawasan pesisir Ketapang, terpantau cukup kencang.

Soetikno mengatakan arah angin dominan bergerak dari tenggara hingga selatan. Kondisi ini berpotensi membawa asap dari wilayah yang memiliki banyak titik karhutla menuju wilayah lain.

“Ketika di wilayah Ketapang, Kayong Utara yang di sana ada banyak titik karhutla, asapnya bisa terbawa sampai ke Bandara Supadio hingga ke Kota Pontianak,” jelas Soetikno.

BMKG juga mewaspadai kemungkinan asap karhutla terbawa hingga ke luar wilayah Indonesia atau menimbulkan asap lintas batas ke negara tetangga.

Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat tetap mewaspadai potensi karhutla dan dampak asap hingga beberapa pekan ke depan.

Soetikno menyebut kondisi curah hujan diperkirakan mulai kembali normal pada Oktober. Namun, normalisasi tersebut tidak berarti akan langsung terjadi pada 1 Oktober.

“Di bulan Oktober itu sudah akan mulai normal curah hujannya, bisa saja tanggal 2 atau mungkin tanggal 15,” pungkasnya. (Lid)