Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
diabetes
Penderita Diabetes Wajib Tahu, Pemantauan Gula Darah Mandiri Bisa Cegah Komplikasi Serius
Penderita Diabetes Wajib Tahu, Pemantauan Gula Darah Mandiri Bisa Cegah Komplikasi Serius
Friday, 05/06/2026

KALBARONLINE.com – Bagi penderita Diabetes Melitus (DM), menjaga kadar gula darah tetap terkendali bukan sekadar anjuran, melainkan kebutuhan. Salah satu cara yang dinilai efektif untuk mendukung pengelolaan diabetes adalah melalui Pemantauan Gula Darah Mandiri (PGDM) yang dilakukan secara rutin.

Perawat RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Pontianak, Siti Rahima Harahap, S.Kep.Ners, menjelaskan bahwa PGDM menjadi salah satu pilar penting dalam penatalaksanaan diabetes karena membantu penderita mengetahui kondisi gula darahnya dari waktu ke waktu.

Menurut Rahima, kadar gula darah dapat berubah sewaktu-waktu akibat berbagai faktor, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, penggunaan obat-obatan, stres, hingga kondisi kesehatan lainnya.

“Dengan melakukan pemeriksaan secara teratur, penderita diabetes dapat mengetahui apakah pengobatan yang dijalani sudah efektif atau perlu dilakukan penyesuaian sesuai anjuran tenaga kesehatan,” ujarnya saat memberikan edukasi kepada komunitas diabetes di RSUD SSMA Kota Pontianak, Jumat (5/6/2026).

Ia menerangkan, pemantauan gula darah mandiri tidak hanya membantu mengontrol kadar gula darah, tetapi juga berperan penting dalam mencegah berbagai komplikasi diabetes yang dapat muncul dalam jangka panjang.

Kadar gula darah yang tidak terkontrol berisiko meningkatkan gangguan kesehatan pada jantung, ginjal, mata, saraf, hingga pembuluh darah. Karena itu, hasil pemantauan yang dilakukan secara rutin dapat menjadi dasar bagi pasien dan tenaga kesehatan dalam menentukan langkah pengelolaan diabetes yang tepat.

“Agar hasil pemantauan dapat dimanfaatkan secara optimal, setiap hasil pemeriksaan perlu dicatat. Saat ini terdapat dua cara pencatatan hasil PGDM, yaitu secara manual dan menggunakan aplikasi digital,” jelas Rahima.

Ia menuturkan, pencatatan manual umumnya dilakukan dengan menulis hasil pemeriksaan pada buku harian atau lembar pemantauan. Cara ini dinilai mudah diterapkan karena tidak membutuhkan perangkat elektronik dan dapat digunakan oleh semua kelompok usia.

Namun demikian, metode manual juga memiliki sejumlah keterbatasan, seperti risiko kehilangan catatan, kesulitan menganalisis data dalam jangka panjang, hingga kemungkinan lupa mencatat hasil pemeriksaan.

Di sisi lain, penggunaan aplikasi digital kini semakin diminati karena menawarkan kemudahan dalam menyimpan data serta memantau perkembangan kadar gula darah melalui grafik dan riwayat pemeriksaan.

Beberapa aplikasi bahkan telah dilengkapi fitur pengingat untuk melakukan pemeriksaan gula darah, minum obat, hingga jadwal kontrol ke fasilitas kesehatan.

Meski demikian, metode digital juga memiliki tantangan tersendiri karena memerlukan telepon pintar, sumber daya listrik untuk pengisian baterai, serta kemampuan dasar dalam mengoperasikan teknologi.

“Baik pencatatan manual maupun aplikasi memiliki manfaat yang sama, yaitu membantu penderita diabetes memantau kondisi kesehatannya secara lebih teratur. Pilihan metode pencatatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan, dan kenyamanan masing-masing individu,” ungkapnya.

Rahima mengajak seluruh penderita diabetes untuk menjadikan Pemantauan Gula Darah Mandiri sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari. Menurutnya, gula darah yang terkontrol dengan baik merupakan langkah penting untuk menjalani hidup yang lebih sehat, aktif, dan produktif.

“Gula darah yang terpantau dengan baik adalah langkah menuju hidup yang lebih sehat, aktif, dan produktif,” pungkasnya. (*)

Kenali Tanda Bahaya Saat Diabetesi Berpuasa
Kenali Tanda Bahaya Saat Diabetesi Berpuasa
Friday, 09/01/2026


KALBARONLINE.com – Penyandang diabetes atau diabetesi tetap dapat menjalankan ibadah puasa, namun perlu kehati-hatian ekstra. Perubahan pola makan serta waktu konsumsi obat saat puasa dapat memengaruhi kadar gula darah, sehingga penting bagi diabetesi untuk mengenali tanda-tanda bahaya sejak dini.

Hal tersebut disampaikan Edukator Kesehatan RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, Mardiana, S.Tr.Kep, saat memberikan edukasi kepada komunitas diabetes RSUD SSMA, Jumat (9/1/2026).

“Bagi diabetesi, mengenali tanda bahaya saat berpuasa sangat penting agar terhindar dari komplikasi serius,” ujar Mardiana.

Ia menjelaskan, selama berpuasa tubuh tidak mendapat asupan makanan dan minuman dalam waktu yang cukup panjang. Kondisi ini dapat menyebabkan gula darah turun terlalu rendah atau hipoglikemia, maupun meningkat terlalu tinggi atau hiperglikemia. Keduanya sama-sama berbahaya jika tidak segera ditangani.

Mardiana menyebut, puasa harus segera dibatalkan apabila diabetesi mengalami gejala seperti tubuh lemas, gemetar, keringat dingin, pusing, sakit kepala, pandangan kabur, jantung berdebar cepat, serta kadar gula darah kurang dari 70 mg/dl.

“Segera konsumsi makanan atau minuman manis untuk menaikkan kadar gula darah,” terangnya.

Selain hipoglikemia, diabetesi juga berisiko mengalami hiperglikemia atau gula darah tinggi selama berpuasa, yakni apabila kadar gula darah mencapai lebih dari 300 mg/dl. Kondisi ini, jika tidak ditangani, dapat berkembang menjadi keadaan gawat darurat seperti ketoasidosis diabetes.

“Jika gula darah sangat tinggi, puasa sebaiknya dihentikan dan segera mencari pertolongan medis,” jelas Mardiana.

Tanda bahaya lain saat diabetesi berpuasa, lanjutnya, antara lain dehidrasi berat, nyeri dada atau sesak napas, serta penurunan kesadaran.

Dalam kunjungan kerjanya, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono turut mengapresiasi kegiatan edukasi kesehatan rutin yang diberikan kepada masyarakat, khususnya bagi penyandang penyakit kronis seperti diabetes.

Menutup edukasi, Mardiana menegaskan bahwa dengan mengenali tanda bahaya sejak dini, diabetesi dapat menjalani puasa dengan lebih aman dan bijak. (Red)