Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
dokter spesialis
Kalbar Masih Kekurangan Dokter Spesialis, Pemprov Dorong Program Hospital Base dan Spesialis Untan
Kalbar Masih Kekurangan Dokter Spesialis, Pemprov Dorong Program Hospital Base dan Spesialis Untan
Thursday, 11/06/2026

KALBARONLINE.com – Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, mengakui pemerataan dokter spesialis di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Barat masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya terselesaikan. Keterbatasan jumlah tenaga medis spesialis hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah dalam upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan di berbagai daerah.

Hal itu disampaikan Norsan usai membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVI Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA) se-Indonesia di Pontianak, Kamis (11/6/2026).

Menurut Norsan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terus berupaya mencari solusi agar kebutuhan dokter spesialis di daerah dapat terpenuhi secara lebih merata. Meski berbagai langkah telah dilakukan, kebutuhan tenaga dokter spesialis masih cukup tinggi.

“Ini yang masih kita carikan jalan keluar. Memang untuk pemerataannya kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun kita masih kurang dokter spesialis,” ujarnya.

Sebagai salah satu solusi, Pemprov Kalbar telah menjalankan program hospital base atau pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit. Program ini diharapkan mampu mempercepat penambahan jumlah dokter spesialis yang nantinya dapat ditempatkan di berbagai wilayah yang masih kekurangan tenaga medis.

“Kita untuk menanggulangi itu juga sudah melaksanakan hospital base. Itu mengambil spesialis di rumah sakit,” katanya.

Selain menjalankan program hospital base, Pemprov Kalbar juga terus memperkuat kerja sama dengan Universitas Tanjungpura (Untan) dalam pengembangan pendidikan dokter spesialis di Kalimantan Barat.

Saat ini, program pendidikan dokter spesialis anestesi telah berjalan. Ke depan, program tersebut direncanakan akan diperluas ke sejumlah bidang spesialis lain yang juga sangat dibutuhkan masyarakat.

“Kemudian juga sudah membuka di Universitas Tanjungpura, itu dokter spesialis anestesi. Nanti juga akan melanjut ke yang lainnya. Mudah-mudahan nanti ke bedah, jantung,” tuturnya.

Norsan berharap langkah-langkah yang dilakukan pemerintah daerah bersama perguruan tinggi dapat membantu mengatasi kekurangan dokter spesialis di Kalbar. Dengan bertambahnya tenaga medis spesialis, kualitas layanan kesehatan di rumah sakit daerah maupun fasilitas kesehatan lainnya diharapkan semakin meningkat, terutama di wilayah yang selama ini masih mengalami keterbatasan tenaga dokter spesialis.

Menurutnya, pemerataan layanan kesehatan menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan masyarakat di seluruh wilayah Kalimantan Barat mendapatkan akses pelayanan medis yang berkualitas tanpa harus dirujuk jauh ke daerah lain. (Lid)

Resmikan PPDS FK Untan, Wamendikti Fauzan Minta Dokter Spesialis Kembali Mengabdi ke Daerah
Resmikan PPDS FK Untan, Wamendikti Fauzan Minta Dokter Spesialis Kembali Mengabdi ke Daerah
Tuesday, 19/05/2026

KALBARONLINE.com – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) RI, Fauzan, berharap Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (Untan) mampu membantu menjawab kebutuhan dokter spesialis di daerah, khususnya di Kalimantan Barat yang hingga kini masih kekurangan tenaga kesehatan di sejumlah bidang.

Harapan itu disampaikan Fauzan saat meresmikan Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Program Spesialis serta Program Studi Ilmu Farmasi Program Magister di Fakultas Kedokteran Untan.

Menurut Fauzan, percepatan pendidikan dokter spesialis dan subspesialis menjadi bagian dari program nasional yang digagas Presiden RI untuk memperkuat layanan kesehatan di berbagai daerah di Indonesia.

“Jadi akselerasi program pendidikan dokter spesialis dan subspesialis adalah program nasional yang digagas oleh presiden. Kebetulan di Untan hari ini yang sudah dinyatakan lolos itu program anestesiologi dan program magister farmasi,” katanya.

Ia menjelaskan, pembukaan program spesialis di berbagai daerah disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah, terutama untuk mengatasi kekurangan dokter spesialis yang masih menjadi persoalan di sejumlah daerah.

Fauzan mengungkapkan, kebutuhan dokter anestesi di Pontianak saat ini baru terpenuhi sekitar sepertiga dari total kebutuhan layanan kesehatan yang ada.

“Anestesi di Pontianak baru sepertiga dipenuhi, padahal kebutuhannya masih banyak,” ujarnya.

Karena itu, ia berharap peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) nantinya dapat kembali ke daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan agar pelayanan kesehatan di daerah semakin kuat dan merata.

Menurutnya, percepatan pemenuhan dokter spesialis tidak bisa berjalan sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan perguruan tinggi.

“Maka ini adalah salah satu ekosistem yang memang merupakan suatu keharusan dalam rangka mempercepat hadirnya dokter spesialis dari berbagai bidang, termasuk program spesialis anestesiologi di Untan,” jelasnya.

Fauzan juga menyebut pemerintah telah mengatur mekanisme rekomendasi daerah bagi peserta PPDS. Langkah itu dilakukan agar distribusi dokter spesialis di Indonesia bisa lebih merata dan tidak terpusat di kota besar saja.

“Mereka yang mengikuti program spesialis ini diharapkan memperoleh rekomendasi dari daerah, nanti kalau sudah selesai kembali ke daerah,” katanya.

Ia menilai, program PPDS bukan hanya bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang kesehatan, tetapi juga menjadi solusi atas persoalan distribusi dokter di Indonesia.

“Sehingga ke depan tidak ada lagi kasus-kasus dokter hanya praktik setahun dua tahun setelah itu minta pindah. Jadi program ini selain peningkatan mutu SDM kesehatan dokter, juga untuk mengatasi problem distribusi,” pungkasnya. (Lid)

Wamendikti Saintek Resmikan Prodi Spesialis Anestesiologi dan Magister Farmasi FK Untan
Wamendikti Saintek Resmikan Prodi Spesialis Anestesiologi dan Magister Farmasi FK Untan
Tuesday, 19/05/2026

KALBARONLINE.com – Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (Untan) resmi menambah dua program studi baru, yakni Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Program Spesialis serta Program Studi Ilmu Farmasi Program Magister.

Peluncuran dua prodi baru tersebut dilakukan langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Fauzan, di Hotel Mercure Pontianak, Selasa (19/5/2026).

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Fauzan mengatakan, percepatan pendidikan dokter spesialis dan subspesialis menjadi bagian dari program nasional yang digagas pemerintah untuk menjawab kebutuhan tenaga kesehatan di berbagai daerah, termasuk Kalimantan Barat.

“Di Untan hari ini yang sudah dinyatakan lolos adalah program spesialis anestesi dan program magister farmasi,” ujar Fauzan.

Menurutnya, pembukaan Program Studi Anestesiologi dan Program Magister Farmasi di FK Untan disesuaikan dengan kebutuhan daerah, khususnya dalam memperkuat sumber daya manusia bidang kesehatan di Kalbar yang hingga kini masih kekurangan tenaga dokter spesialis.

Fauzan berharap peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) nantinya dapat kembali mengabdi di daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan.

“Tentu ini tidak bisa dijalankan tanpa kolaborasi pemerintah daerah tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan kampus. Ini menjadi ekosistem yang harus dibangun untuk mempercepat pemenuhan dokter spesialis,” katanya.

Ia mengungkapkan, kebutuhan dokter anestesi di Pontianak maupun Kalimantan Barat saat ini masih cukup tinggi. Bahkan, jumlah tenaga anestesi yang tersedia baru mampu memenuhi sekitar sepertiga kebutuhan layanan kesehatan.

Karena itu, pemerintah juga mengatur agar peserta PPDS mendapatkan rekomendasi dari daerah masing-masing, dengan harapan mereka kembali bertugas setelah lulus pendidikan.

“Program ini bukan hanya meningkatkan mutu SDM kesehatan, tetapi juga mengatasi persoalan distribusi dokter spesialis,” jelas Fauzan.

Sementara itu, Rektor Universitas Tanjungpura, Garuda Wiko mengatakan, pembukaan prodi spesialis anestesi menjadi langkah awal Untan dalam menyelenggarakan pendidikan dokter spesialis.

“Kami mendapat mandat dari kementerian untuk menyelenggarakan beberapa program spesialis, dan yang pertama diluncurkan adalah anestesi,” ujar Garuda.

Ia berharap kehadiran prodi baru tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan dokter spesialis anestesi di Kalbar sekaligus meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat.

Untuk mendukung pengembangan program spesialis itu, Untan juga menjalin kerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) sebagai fakultas pembina.

Garuda menambahkan, sejak awal Fakultas Kedokteran Untan memang dibangun untuk membantu memenuhi kebutuhan dokter di daerah. Karena itu, kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan kota terus diperkuat, termasuk dalam pengiriman dokter mengikuti pendidikan spesialis.

“Dokter yang dikirim daerah nantinya harus kembali bertugas di daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan,” tegasnya.

Di sisi lain, Dekan Fakultas Kedokteran Untan, Ita Armayanti mengatakan, kuota penerimaan mahasiswa untuk Program Studi Spesialis Anestesiologi masih terbatas, yakni maksimal lima orang per tahun karena status program yang masih baru.

Untan menargetkan proses penerimaan mahasiswa dimulai dalam enam bulan ke depan untuk tahun ajaran 2026 melalui tahapan seleksi berkas hingga wawancara.

Menurut Ita, prodi anestesi dipilih karena menjadi kebutuhan prioritas di Kalimantan Barat. Bahkan, beberapa daerah seperti Kapuas Hulu hingga kini masih belum memiliki dokter anestesi tetap.

“Kalau tindakan bedah tidak ada anestesi, maka layanan itu tidak bisa diklaim BPJS. Itu sebabnya kebutuhan SDM anestesi masih menjadi pekerjaan rumah besar,” ungkapnya.

Selain membuka Prodi Spesialis Anestesiologi dan Magister Farmasi, FK Untan juga berbagi peran dengan RSUD Dokter Soedarso yang saat ini tengah mengembangkan program pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit, termasuk spesialis jantung dan pembuluh darah serta bedah. (Lid)

Kalbar Masih Kekurangan Dokter Spesialis, FK Untan Resmikan Prodi Anestesiologi dan Magister Farmasi
Kalbar Masih Kekurangan Dokter Spesialis, FK Untan Resmikan Prodi Anestesiologi dan Magister Farmasi
Tuesday, 19/05/2026

KALBARONLINE.com – Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (Untan) resmi membuka dua program studi baru, yakni Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Program Spesialis serta Program Studi Ilmu Farmasi Program Magister.

Peluncuran dua prodi baru tersebut diresmikan langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Fauzan, di Hotel Mercure Pontianak, Selasa (19/5/2026).

Rektor Universitas Tanjungpura, Garuda Wiko mengatakan, pembukaan Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif menjadi bagian dari upaya Untan membantu memenuhi kebutuhan dokter spesialis di Kalimantan Barat yang hingga kini masih terbatas.

Menurutnya, Untan mendapat kepercayaan sekaligus penugasan dari kementerian untuk menyelenggarakan pendidikan dokter spesialis di daerah.

“Kita mendapat kepercayaan dan penugasan dari kementerian untuk menyelenggarakan program spesialis. Yang pertama kita launching adalah anestesiologi dan terapi intensif,” ujar Garuda Wiko.

Ia mengungkapkan, jumlah dokter spesialis anestesi di Kalbar saat ini masih belum mencukupi kebutuhan layanan kesehatan masyarakat. Karena itu, kehadiran program spesialis baru ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Kalimantan Barat.

“Mudah-mudahan ini dapat menjawab kebutuhan dokter spesialis anestesi di Kalbar dan mempertinggi layanan kesehatan di Kalbar,” katanya.

Dalam penyelenggaraannya, Fakultas Kedokteran Untan juga bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) sebagai institusi pembina. Kerja sama tersebut dilakukan untuk mendukung kualitas pendidikan serta transfer pengalaman dalam pengelolaan program spesialis.

“Mereka akan menjadi pembina kami karena pengalaman mereka akan dibagikan kepada Untan,” jelasnya.

Garuda menambahkan, peserta program spesialis nantinya diprioritaskan berasal dari daerah yang memiliki komitmen mengirimkan dokter untuk menempuh pendidikan spesialis. Setelah menyelesaikan pendidikan, para dokter diharapkan kembali bertugas di daerah asal masing-masing.

“Dokter yang dikirim daerah nantinya harus kembali lagi ke kabupaten atau kota yang mengirimkannya,” tegasnya.

Selain membuka dua program studi baru, Untan saat ini juga masih mengajukan sejumlah program studi lain yang sedang dalam tahap rekomendasi dan evaluasi kementerian.

Garuda menegaskan, sejak awal Fakultas Kedokteran Untan memang dibangun untuk membantu memenuhi kebutuhan tenaga medis di Kalimantan Barat, termasuk dokter spesialis yang hingga kini masih menjadi tantangan di sejumlah daerah.

“Sejak awal Fakultas Kedokteran Untan memang dibangun untuk memenuhi kebutuhan tenaga dokter di daerah. Karena itu, kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan kota di Kalbar terus diperkuat, termasuk dalam program pendidikan dokter spesialis,” pungkasnya. (Lid)