Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
festival bakcang pontianak
Festival Bakcang 2026 Perdana Digelar MABT Indonesia di Pontianak, Warga Nikmati Susur Kapuas hingga Perang Air
Festival Bakcang 2026 Perdana Digelar MABT Indonesia di Pontianak, Warga Nikmati Susur Kapuas hingga Perang Air
Friday, 19/06/2026

KALBARONLINE.com – Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Indonesia untuk pertama kalinya menggelar Festival Bakcang 2026 di kawasan Waterfront Seng Hie, Pontianak, Jumat (19/6/2026). Festival budaya ini berlangsung meriah dengan menghadirkan berbagai kegiatan menarik, mulai dari makan bakcang bersama di atas kapal wisata saat menyusuri Sungai Kapuas hingga tradisi perang air yang menjadi daya tarik utama.

Ratusan warga memadati lokasi kegiatan untuk merasakan langsung kemeriahan Festival Bakcang yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa yang diperingati setiap tanggal 5 bulan 5 dalam kalender lunar.

Festival ini dihadiri Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan, Ketua Umum MABT Indonesia Suyanto Tanjung, anggota DPD RI sekaligus Ketua KONI Kalbar Daud Yordan, tokoh masyarakat Tionghoa, serta jajaran Forkopimda Provinsi Kalimantan Barat dan Kota Pontianak.

Rangkaian acara dibuka secara simbolis melalui pemotongan pohon bakcang. Setelah itu, para tamu undangan mengikuti susur Sungai Kapuas menggunakan kapal wisata sambil menikmati bakcang bersama.

Festival Bakcang digelar untuk mengenang Qu Yuan, tokoh yang dikenal karena pengorbanannya demi rakyat. Tradisi ini terus dilestarikan dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Tionghoa.

Dalam sambutannya, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengapresiasi seluruh pihak yang terus menjaga dan melestarikan tradisi budaya tersebut.

“Festival Bakcang merupakan salah satu wujud nyata dari kekayaan budaya, tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Tionghoa. Ini tidak hanya menjadi perayaan budaya semata tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap nilai-nilai kehidupan, kebersamaan keluarga,” ujarnya.

Norsan juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga warisan budaya sekaligus merawat keharmonisan dalam keberagaman.

"Mari kita bersatu membangun Kalimantan Barat yang kita cintai. Semoga Kalimantan Barat selalu harmonis dalam keberagaman," tuturnya.

Sementara itu, Ketua Umum MABT Indonesia, Suyanto Tanjung, berharap Festival Bakcang dapat berkembang menjadi agenda budaya tahunan yang mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah maupun mancanegara.

"Mudah-mudahan festival ini bisa menjadi tradisi yang dirayakan terus-menerus dan mengundang wisatawan dari luar daerah maupun mancanegara. Harapan kami, kegiatan ini terus berkembang dan menjadi destinasi wisata bagi seluruh masyarakat Indonesia," katanya.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga toleransi, kebersamaan, dan keberagaman sebagai fondasi membangun Kalimantan Barat yang harmonis.

Ketua Panitia Festival Bakcang 2026 sekaligus Ketua Wanita Tionghoa MABT Indonesia, Monica Wiwik, menjelaskan panitia menyiapkan 1.500 bakcang dan 1.500 kicang untuk dibagikan kepada masyarakat yang hadir.

"Kicang tidak berisi daging, sedangkan bakcang yang kami sediakan berisi daging dan dipastikan halal karena acara ini terbuka untuk seluruh masyarakat," ujarnya.

Monica menambahkan, tradisi perang air yang turut digelar dalam festival memiliki makna sebagai simbol pembersihan diri dari energi negatif dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa.

Selain itu, Festival Bakcang 2026 juga menghadirkan sembilan kapal wisata yang mengajak peserta menyusuri Sungai Kapuas sambil menikmati bakcang bersama. Sebanyak 500 tiket disediakan dan dibuka untuk masyarakat umum.

"Biasanya peserta harus memiliki kapal atau berasal dari organisasi tertentu. Tapi kali ini, melalui dukungan sponsor dan MABT Indonesia, masyarakat umum bisa ikut merasakan dan menikmati budaya ini," katanya.

Festival Bakcang 2026 menjadi penanda lahirnya agenda budaya baru di Kalimantan Barat yang tidak hanya berfokus pada pelestarian tradisi masyarakat Tionghoa, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dalam semangat toleransi dan keberagaman. (Lid)

Perang Air Meriahkan Festival Bakcang Pontianak, Ribuan Warga Tumpah Ruah di Tepi Kapuas
Perang Air Meriahkan Festival Bakcang Pontianak, Ribuan Warga Tumpah Ruah di Tepi Kapuas
Friday, 19/06/2026

KALBARONLINE.com – Festival Bakcang 2026 di Kota Pontianak berlangsung meriah, Jumat (19/6/2026). Selain menjadi ajang pelestarian budaya masyarakat Tionghoa, festival yang digelar di kawasan tepi Sungai Kapuas itu juga diramaikan perang air yang mengundang antusiasme ribuan warga.

Semburan air dari sembilan unit mobil pemadam kebakaran membuat suasana festival semakin semarak. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa tampak berbaur menikmati permainan air sambil merayakan kebersamaan dalam suasana penuh kegembiraan.

Festival Bakcang yang diselenggarakan Komunitas Budaya Tionghoa Pontianak (KBTP) dan didukung Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Pontianak ini juga membagikan 1.000 bakcang gratis kepada masyarakat.

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengatakan Festival Bakcang telah menjadi salah satu agenda budaya yang memberikan dampak positif, tidak hanya bagi pelestarian tradisi, tetapi juga bagi perekonomian masyarakat.

"Festival Bakcang di Pontianak diselenggarakan oleh masyarakat Tionghoa sebagai tradisi budaya makan bakcang di pinggiran Sungai Kapuas. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda budaya yang dapat memberikan dampak positif bagi sektor kuliner dan UMKM di Kota Pontianak," kata Edi.

Menurutnya, bakcang bukan sekadar makanan khas, tetapi juga memiliki nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

"Bakcang merupakan salah satu jenis makanan berbahan dasar ketan yang di dalamnya berisi ayam, kacang, dan berbagai bahan makanan lainnya. Bakcang juga merupakan bagian dari budaya luhur masyarakat Tionghoa yang terus dilestarikan di Kota Pontianak," ujarnya.

Ketua KBTP, Hendry Pangestu Lim, menjelaskan Festival Bakcang telah digelar selama lima tahun berturut-turut dan seluruh rangkaian kegiatan selalu terbuka untuk masyarakat tanpa dipungut biaya.

"Festival Bakcang yang diselenggarakan KBTP sudah berjalan selama lima tahun dan selama itu tidak pernah ada pungutan biaya. Ini merupakan adat dan tradisi yang wajib kami laksanakan dan persembahkan kepada masyarakat, khususnya masyarakat Kota Pontianak," ujarnya.

Ia menyebut, Festival Bakcang 2026 terasa lebih spesial karena bertepatan dengan Tahun Kuda Api. Selain pembagian bakcang gratis, panitia juga menghadirkan perayaan Songkran yang menjadi salah satu daya tarik utama bagi pengunjung.

Untuk mendukung perang air tersebut, panitia menyiapkan sembilan unit mobil pemadam kebakaran. Masyarakat juga turut membawa pistol air dan berbagai perlengkapan lainnya untuk menambah kemeriahan acara.

Hendry mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Pontianak yang dinilai menjadi penyemangat agar festival budaya ini terus berkembang dan semakin dikenal luas.

Dalam kesempatan tersebut, KBTP juga menerima piagam penghargaan dari UPT Museum Kalimantan Barat dan Pemerintah Kota Pontianak atas inisiatif pembagian 1.000 bakcang gratis kepada masyarakat.

Festival Bakcang tahun ini juga dihadiri peserta dan pengunjung dari berbagai negara, seperti Taiwan, Hong Kong, Tiongkok, dan Malaysia. Antusiasme masyarakat terlihat dari ramainya kawasan festival sejak pagi hingga sore hari.

Selain menjadi ajang budaya, Festival Bakcang 2026 turut memberikan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Panitia menyediakan 15 stan khusus untuk membantu promosi dan penjualan produk lokal.

"Pesan dari Bapak Wali Kota, setiap kegiatan harus memberikan dampak nyata bagi UMKM. Karena itu kami melibatkan pelaku usaha agar kegiatan ini juga dapat membantu perekonomian masyarakat," tutup Hendry. (Lid)

Edi Kamtono Dorong Bakcang Jadi Ikon Kuliner Pontianak, Tak Hanya Hadir Saat Festival
Edi Kamtono Dorong Bakcang Jadi Ikon Kuliner Pontianak, Tak Hanya Hadir Saat Festival
Friday, 19/06/2026

KALBARONLINE.com – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mendorong bakcang menjadi salah satu ikon kuliner khas Kota Pontianak. Menurutnya, bakcang tidak hanya memiliki nilai kuliner, tetapi juga mengandung filosofi keberagaman, kebersamaan, dan persatuan yang selaras dengan karakter masyarakat Pontianak.

Hal itu disampaikan Edi saat membuka Festival 1000 Bakcang Tahun 2026 di Taman Alun Kapuas, Jumat (19/6/2026).

“Filosofi bakcang ini menunjukkan adanya keberagaman dan kebersamaan untuk kita bersatu, sama-sama membangun kota kita,” ujarnya.

Edi menjelaskan, makanan berbahan dasar ketan yang berisi ayam, daging, telur asin, dan berbagai bahan lainnya tersebut mencerminkan semangat persatuan di tengah keberagaman masyarakat.

Menurutnya, Festival 1000 Bakcang merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat Tionghoa yang turut memperkuat identitas Pontianak sebagai kota budaya.

“Pontianak sekarang ini merupakan salah satu kota budaya, karena penduduknya terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang ada di Indonesia, bahkan dari mancanegara,” katanya.

Ia menilai keberagaman yang dimiliki Kota Pontianak merupakan kekuatan yang harus terus dijaga dan dirawat bersama. Karena itu, berbagai kegiatan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat perlu mendapat dukungan agar memberikan dampak positif bagi keharmonisan dan toleransi antarwarga.

Edi juga menyoroti pentingnya Sungai Kapuas sebagai urat nadi kehidupan masyarakat sekaligus bagian dari sejarah perkembangan Kota Pontianak. Oleh sebab itu, kegiatan budaya yang digelar di kawasan tepian Sungai Kapuas dinilai memiliki nilai historis dan sosial yang kuat.

“Kegiatan budaya seperti ini patut kita dukung dan kolaborasikan menjadi bagian dari kegiatan yang memberi dampak positif untuk keharmonisan dan toleransi warga,” jelasnya.

Lebih lanjut, Edi mengajak panitia dan masyarakat Tionghoa menjadikan Festival 1000 Bakcang sebagai momentum mempererat silaturahmi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku UMKM kuliner.

Menurutnya, bakcang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu kuliner unggulan Kota Pontianak yang dapat dinikmati masyarakat maupun wisatawan sepanjang tahun.

“Bisa juga nanti bakcang ini menjadi salah satu ciri khas makanan Kota Pontianak. Kalau ada tamu dari luar, bakcang ini ada di Kota Pontianak, tidak hanya saat festival, tetapi setiap hari,” ungkapnya.

Edi menambahkan, Pontianak saat ini semakin dikenal sebagai salah satu destinasi wisata kuliner di Indonesia. Banyak wisatawan maupun tamu dari luar daerah yang kembali berkunjung karena tertarik dengan ragam kuliner khas yang dimiliki kota ini.

“Teman-teman yang datang dari luar kota atau dari daerah ke Pontianak selalu rindu dengan kulinernya. Mereka datang ke Pontianak hanya ingin menikmati kuliner-kuliner yang ada,” tuturnya.

Karena itu, ia berharap keberagaman kuliner yang dimiliki Kota Pontianak terus diperkuat dan dipromosikan. Festival 1000 Bakcang diharapkan tidak hanya menjadi perayaan budaya tahunan, tetapi juga menjadi sarana promosi kuliner dan ekonomi kreatif yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Ini yang perlu kita tingkatkan di tengah keberagaman jenis makanan yang ada di Kota Pontianak,” pungkasnya. (*)