Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
harga melonjak
Harga Sayur di Pontianak Melonjak, Kangkung Tembus Rp40 Ribu per Kg
Harga Sayur di Pontianak Melonjak, Kangkung Tembus Rp40 Ribu per Kg
Monday, 21/09/2026

KALBARONLINE.com – Harga sejumlah sayuran di Pasar Flamboyan Pontianak, Kalimantan Barat, melonjak di tengah kemarau panjang yang berdampak terhadap pasokan bahan pangan. Kondisi tersebut membuat pedagang dan pembeli harus menghadapi kenaikan harga berbagai kebutuhan sayur-mayur.

Salah satu pedagang, Maryanto, mengatakan kenaikan paling terasa pada sejumlah jenis sayuran. Harga kangkung yang biasanya relatif murah kini mencapai sekitar Rp40 ribu per kilogram.

“Semua harga bahan pokok melonjak naik sampai para pembeli itu mengeluh. Harganya ada yang tidak terjangkau oleh masyarakat kecil yang ingin biasa makan sayur,” kata Maryanto saat ditemui, Senin (21/9/2026).

Selain kangkung, harga sawi kini berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram. Kacang panjang bahkan mencapai Rp55 ribu per kilogram, dari harga normal yang biasanya hanya sekitar Rp8 ribu hingga Rp15 ribu.

Harga tauge juga mengalami kenaikan cukup tinggi. Komoditas tersebut yang sebelumnya berada di kisaran Rp10 ribu per kilogram kini bisa mencapai Rp35 ribu hingga Rp40 ribu.

“Semua sayur melonjak, timun juga naik. Kacang panjang Rp55 ribu, padahal sebelumnya tidak pernah sampai harga segitu,” ujarnya.

Menurut Maryanto, kenaikan harga turut dipengaruhi kondisi cuaca dan sulitnya mendapatkan pasokan sayuran dari daerah sekitar Pontianak.

Kemarau yang berlangsung sekitar dua bulan membuat ketersediaan air menjadi kendala bagi petani. Kondisi air yang disebut asin juga membuat tanaman sayuran sulit tumbuh dan berkembang.

“Sejak dua bulan ini, sejak kemarau juga pengaruh air dan asap. Jadi sayur itu susah tumbuh, susah berkembang. Kadang bunganya jatuh, tidak bisa tumbuh,” katanya.

Untuk sejumlah komoditas, pedagang terbantu dengan pasokan dari Pulau Jawa. Wortel dan kentang, misalnya, disebut relatif stabil karena sebagian besar didatangkan dari Jawa.

“Kalau wortel dan kentang harganya stabil karena datang dari Jawa. Kalau di Pontianak ini rata-rata barangnya naik semua,” kata Maryanto.

Sementara itu, harga timun yang sebelumnya sempat mencapai Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram kini mulai turun setelah pasokan dari Jawa masuk. Harganya berada di kisaran Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram.

Namun, pasokan dari Jawa belum datang setiap hari. Menurut Maryanto, barang biasanya tiba setiap tiga sampai empat hari sekali.

Selain sayuran, harga cabai juga mengalami kenaikan. Dari sebelumnya sekitar Rp65 ribu per kilogram, kini harganya bisa mencapai Rp120 ribu per kilogram.

Maryanto berharap pemerintah memperhatikan kelancaran pasokan bahan pangan dari luar daerah agar ketersediaan komoditas tetap terjaga dan harga di pasar dapat lebih terkendali.

“Harapan pedagang, kalau bisa diperhatikan barang-barang yang datang dari luar. Jadi ada pengaturannya, harganya stabil. Itu harapan pedagang,” pungkasnya. (Lid)

Warga Pontianak Mulai Berhemat Belanja di Pasar Imbas Harga Sayur Melonjak
Warga Pontianak Mulai Berhemat Belanja di Pasar Imbas Harga Sayur Melonjak
Monday, 21/09/2026

KALBARONLINE.com – Kenaikan harga kebutuhan pokok yang terjadi di tengah kemarau panjang mulai dirasakan masyarakat Kota Pontianak. Kondisi tersebut membuat warga mengurangi jumlah belanja dan lebih ketat mengatur pengeluaran.

Salah satu pembeli di Pasar Flamboyan, Yanti, mengatakan hampir semua kebutuhan mengalami kenaikan, mulai dari sayuran hingga bahan untuk membuat kue.

“Iya, sembako itu naik semua. Jadi, kita harus menyesuaikan. Kita kurangi porsi. Kita harus pandai-pandai mengatur bagaimana caranya supaya cukup,” kata Yanti saat ditemui di Pasar Flamboyan, Senin (21/9/2026).

Menurutnya, kenaikan harga cukup mengejutkan karena sejumlah komoditas yang biasanya dibeli dengan harga normal kini mengalami kenaikan cukup tinggi.

“Biasanya harga normal, tahu-tahu bisa melonjak naik semuanya. Dari bahan untuk kue sampai sayuran. Jadi, untuk rakyat kecil ini harus pandai-pandai mengatur keuangan dan belanja,” ujarnya.

Salah satu komoditas yang mengalami kenaikan cukup tinggi menurut Yanti adalah kacang panjang. Harga yang sebelumnya sekitar Rp20 ribu kini mencapai Rp40 ribu.

“Misalnya kacang panjang, biasanya Rp20 ribu, sekarang Rp40 ribu. Kaget juga,” katanya.

Kenaikan harga tersebut membuat Yanti mengurangi jumlah belanja. Ia kini memilih membeli sayuran sedikit-sedikit, sekitar Rp5 ribu untuk satu kantong kecil.

“Rp5 ribu saja, sedikit-sedikit. Rp5 ribu cukup untuk satu kantong kecil,” tuturnya.

Yanti yang juga berjualan dari rumah mengatakan kenaikan harga turut menambah modal yang harus dikeluarkan. Jika sebelumnya uang Rp200 ribu sudah cukup untuk membeli kebutuhan makan sekaligus bahan dagangan, kini ia harus menambah sekitar Rp100 ribu.

“Biasanya Rp200 ribu sudah cukup, sekarang harus tambah lagi Rp100 ribu. Jadi, beban pengeluaran bertambah,” ucapnya.

Tak hanya harga pangan, Yanti juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan air bersih. Ia mengatakan warga harus mengantre sejak pagi untuk memperoleh air bersih.

“Semuanya naik, dari sayur, bahan kue, semuanya naik. Apalagi air bersih ini kurang. Pagi-pagi sudah antre air bersih. Pokoknya rakyat kecil yang merasakan semuanya,” katanya.

Yanti berharap pemerintah dapat menjaga harga kebutuhan pokok agar tidak semakin tinggi dan tetap terjangkau masyarakat.

“Untuk pemerintah, kita sebagai rakyat bawah ini mengikuti saja. Tapi jangan sampai berlipat-lipat mahalnya. Kalau bisa, sebagai warga, maunya harga normal,” pungkasnya. (Lid)