Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
hari berkabung daerah
Hari Berkabung Daerah Kalbar, Cucu Korban Tragedi Mandor Kenang Sosok Saliman Sastro Loekito
Hari Berkabung Daerah Kalbar, Cucu Korban Tragedi Mandor Kenang Sosok Saliman Sastro Loekito
Monday, 29/06/2026

KALBARONLINE.com – Suasana haru menyelimuti peringatan Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat yang digelar di Taman Makam Juang Mandor, Kabupaten Landak, Minggu (28/6/2026). Momen tersebut menjadi pengingat akan salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah Kalimantan Barat.

Di antara para peziarah, Hermawan Soewono bersama adiknya, Heru Soewono, hadir untuk mengenang sang kakek, Saliman Sastro Loekito, yang menjadi salah satu korban Tragedi Mandor.

Berdiri di antara deretan makam para tokoh masyarakat, tokoh politik, cendekiawan, bangsawan, dan masyarakat umum yang menjadi korban kekejaman penjajahan Jepang, Hermawan tampak larut dalam suasana penuh khidmat.

Baginya, kehadiran di lokasi bersejarah tersebut bukan sekadar mengikuti seremoni tahunan, melainkan menjadi momen untuk mengenang sejarah sekaligus luka yang pernah dialami keluarganya.

"Ini rasa yang campur aduk. Sedih, bangga, sekaligus berterima kasih. Melihat langsung tempat para pejuang gugur, salah satunya adalah kakek kami bernama Saliman Sastro Loekito yang merupakan salah satu kepala sekolah di SDN Kota Singkawang sekaligus tokoh masyarakat, rasanya seperti dipanggil untuk tidak melupakan," ungkap Hermawan dengan suara bergetar.

Saliman Sastro Loekito dikenal sebagai salah satu kepala sekolah di SDN Kota Singkawang sekaligus tokoh masyarakat yang turut menjadi korban dalam Tragedi Mandor.

Tragedi Mandor yang terjadi pada 1943–1944 tercatat merenggut sekitar 21.037 jiwa, termasuk tokoh masyarakat, cendekiawan, bangsawan, pemimpin daerah, hingga rakyat biasa. Untuk mengenang para korban, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menetapkan setiap 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah melalui Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2007.

Peringatan Hari Berkabung Daerah menjadi momentum untuk mengenang jasa para korban sekaligus mengingatkan generasi penerus agar tidak melupakan sejarah kelam yang pernah terjadi di Kalimantan Barat. (Lid)

Peringatan Hari Berkabung Daerah Kalbar, Mengenang Tragedi Mandor yang Merenggut 21 Ribu Korban Jiwa
Peringatan Hari Berkabung Daerah Kalbar, Mengenang Tragedi Mandor yang Merenggut 21 Ribu Korban Jiwa
Monday, 29/06/2026

KALBARONLINE.com – Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat diperingati setiap 28 Juni sebagai momentum untuk mengenang salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah daerah. Peringatan ini menjadi bentuk penghormatan kepada para tokoh dan masyarakat Kalimantan Barat yang menjadi korban kekejaman pendudukan Jepang pada masa Perang Dunia II.

Peringatan tersebut menjadi pengingat atas besarnya pengorbanan para pendahulu sekaligus mengajak generasi saat ini untuk menjaga nilai-nilai perjuangan, persatuan, dan semangat kebangsaan.

Tragedi bermula saat pasukan Jepang mendarat dan membombardir Pontianak pada 19 Desember 1941. Sejak saat itu, pendudukan militer Jepang membawa penderitaan yang mendalam bagi masyarakat Kalimantan Barat akibat berbagai tindakan represif yang dilakukan terhadap warga.

Berdasarkan data resmi Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, pembantaian massal tersebut merenggut 21.037 korban jiwa. Peristiwa berdarah itu kemudian diumumkan kepada publik pada 1 Juli 1944 melalui surat kabar Borneo Shinbun, yang menyebut Jepang telah menghukum mati sejumlah orang yang dituduh berkonspirasi.

Kekejaman penjajah pada masa itu tidak hanya merenggut ribuan nyawa, tetapi juga meninggalkan luka sosial, politik, dan trauma kolektif yang mendalam bagi masyarakat Kalimantan Barat. Karena itu, setiap 28 Juni diperingati sebagai Hari Berkabung Daerah sebagai bentuk penghormatan kepada para korban sekaligus menjaga memori sejarah agar tidak pernah dilupakan oleh generasi penerus.

Sebelumnya, dalam rangka memperingati Hari Berkabung Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2026, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Kapuas Hulu menggelar upacara dan ziarah rombongan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Manalo Marajuang, Kecamatan Putussibau Utara, Senin (29/6/2026).

Prajurit Kodim 1206/Putussibau turut mengikuti kegiatan tersebut yang dipimpin Kasdim 1206/Putussibau Mayor Inf Eriyadi Esnurdin mewakili Dandim 1206/Putussibau.

Upacara dihadiri Sekretaris Daerah Kapuas Hulu Ambrosius Saddau, Wakil Ketua II DPRD Kapuas Hulu Topan Ali Akbar, Danyonif TP 927/UK Letkol Inf Jamrizal, Wakapolres Kapuas Hulu Kompol Muslimin, Wadanyonif 644/Wls Mayor Inf Eriek Septa, perwakilan Kejaksaan Negeri Kapuas Hulu, perwakilan Pengadilan Negeri Putussibau, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), serta tamu undangan lainnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penghormatan kepada arwah para pahlawan, dilanjutkan mengheningkan cipta, doa bersama, serta prosesi tabur bunga yang diikuti seluruh peserta ziarah.

Kasdim 1206/Putussibau Mayor Inf Eriyadi Esnurdin mengatakan kemerdekaan yang dinikmati saat ini merupakan hasil perjuangan dan pengorbanan besar para tokoh serta rakyat Kalimantan Barat.

"Kemerdekaan yang kita rasakan saat ini tidaklah datang begitu saja. Namun memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa yang ditunjukkan oleh para pejuang, tokoh, dan rakyat Kalimantan Barat," ujarnya.

Ia mengajak generasi muda untuk terus menghargai jasa para pahlawan dengan mengisi kemerdekaan melalui karya dan pengabdian kepada bangsa.

"Oleh karena itu, sebagai generasi penerus kita harus menghargai dan menghormati jasa-jasa mereka. Tanpa peran para pejuang, masyarakat Kalimantan Barat tidak akan dapat menikmati kemerdekaan seperti saat ini," pungkasnya. (Haq)

Peringati Hari Berkabung Daerah, Forkopimda Kapuas Hulu Gelar Upacara dan Ziarah di TMP Manalo Marajuang
Peringati Hari Berkabung Daerah, Forkopimda Kapuas Hulu Gelar Upacara dan Ziarah di TMP Manalo Marajuang
Monday, 29/06/2026

KALBARONLINE.com – Dalam rangka memperingati Hari Berkabung Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2026, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Kapuas Hulu menggelar upacara dan ziarah rombongan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Manalo Marajuang, Kecamatan Putussibau Utara, Senin (29/6/2026).

Prajurit Kodim 1206/Putussibau turut mengikuti kegiatan tersebut yang dipimpin Kasdim 1206/Putussibau Mayor Inf Eriyadi Esnurdin mewakili Dandim 1206/Putussibau.

Upacara dihadiri Sekretaris Daerah Kapuas Hulu Ambrosius Saddau, Wakil Ketua II DPRD Kapuas Hulu Topan Ali Akbar, Danyonif TP 927/UK Letkol Inf Jamrizal, Wakapolres Kapuas Hulu Kompol Muslimin, Wadanyonif 644/Wls Mayor Inf Eriek Septa, perwakilan Kejaksaan Negeri Kapuas Hulu, perwakilan Pengadilan Negeri Putussibau, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), serta tamu undangan lainnya.

Kegiatan ziarah dan tabur bunga tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus penghargaan kepada para tokoh dan rakyat Kalimantan Barat yang gugur pada masa pendudukan Jepang. Peristiwa kelam itu kemudian dikenang setiap 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah Provinsi Kalimantan Barat.

Tragedi tersebut bermula saat Jepang mendarat dan membombardir Pontianak pada 19 Desember 1941. Pendudukan militer Jepang membawa penderitaan besar bagi masyarakat Kalimantan Barat akibat berbagai tindakan represif yang dilakukan terhadap warga.

Berdasarkan data resmi Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, tragedi pembantaian massal tersebut menewaskan 21.037 orang. Peristiwa itu kemudian diumumkan kepada publik pada 1 Juli 1944 melalui surat kabar Borneo Shinbun yang menyebut Jepang telah menghukum mati sejumlah orang yang dituduh berkonspirasi.

Peristiwa berdarah tersebut tidak hanya merenggut ribuan nyawa, tetapi juga meninggalkan luka sejarah dan trauma mendalam bagi masyarakat Kalimantan Barat. Karena itu, Hari Berkabung Daerah terus diperingati sebagai bentuk penghormatan kepada para korban sekaligus upaya menjaga memori sejarah bagi generasi penerus.

Rangkaian upacara diawali dengan penghormatan kepada arwah para pahlawan yang dipimpin Sekretaris Daerah Kapuas Hulu Ambrosius Saddau selaku inspektur upacara, dilanjutkan mengheningkan cipta, doa bersama, serta prosesi tabur bunga yang diikuti seluruh peserta ziarah.

Kasdim 1206/Putussibau Mayor Inf Eriyadi Esnurdin mengatakan, kemerdekaan yang dinikmati saat ini merupakan hasil perjuangan dan pengorbanan besar para tokoh serta rakyat Kalimantan Barat.

"Kemerdekaan yang kita rasakan saat ini tidaklah datang begitu saja. Namun memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa yang ditunjukkan oleh para pejuang, tokoh, dan rakyat Kalimantan Barat," ujarnya.

Ia mengajak generasi muda untuk terus menghargai jasa para pahlawan dengan mengisi kemerdekaan melalui karya dan pengabdian kepada bangsa.

"Oleh karena itu, sebagai generasi penerus kita harus menghargai dan menghormati jasa-jasa mereka. Tanpa peran para pejuang, masyarakat Kalimantan Barat tidak akan dapat menikmati kemerdekaan seperti saat ini," pungkasnya. (Haq)

Peringati Hari Berkabung Daerah, Edi Kamtono Ajak ASN Teladani Semangat Juang Para Pahlawan Kalbar
Peringati Hari Berkabung Daerah, Edi Kamtono Ajak ASN Teladani Semangat Juang Para Pahlawan Kalbar
Monday, 29/06/2026

KALBARONLINE.com – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengajak seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Pontianak untuk meneladani semangat perjuangan para pendahulu dalam momentum Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat Tahun 2026.

Ajakan tersebut disampaikan Edi usai memimpin Upacara Peringatan Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat yang diperingati setiap 28 Juni. Peringatan ini menjadi momen mengenang kekejaman penjajahan Jepang terhadap masyarakat Kalimantan Barat, termasuk tragedi Mandor yang menewaskan banyak tokoh, cendekiawan, pemimpin daerah, hingga masyarakat sipil.

Menurut Edi, masih banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang belum memahami secara utuh sejarah Hari Berkabung Daerah. Karena itu, peringatan tersebut tidak boleh hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenang pengorbanan para pejuang dan korban kekejaman penjajah.

"Tentunya masih banyak yang saya yakin belum paham dan belum mengetahui yang sebenar-benarnya peristiwa tersebut. Kita tahunya ada pembantaian di Mandor, bahkan ribuan orang," ujarnya di halaman Kantor Wali Kota Pontianak, Senin (29/6/2026).

Edi menjelaskan, pada masa pendudukan Jepang tahun 1941 hingga 1945, banyak tokoh Kalimantan Barat ditangkap, dibawa ke Mandor, dan dieksekusi. Peristiwa itu menjadi bagian kelam sejarah daerah yang harus terus dikenalkan kepada generasi penerus.

"Banyak tokoh Kalbar, cendekiawan, pemimpin daerah ditangkap dan dibawa ke Mandor. Ada yang dipancung, ditembak, intinya dibunuh," katanya.

Ia mengaku pernah mengunjungi kawasan Mandor dan melihat langsung sejumlah makam massal yang menjadi saksi bisu tragedi tersebut. Pengalaman itu, menurutnya, semakin menguatkan keyakinan bahwa sejarah itu harus terus dijaga agar tidak terlupakan.

"Saya tahun kemarin hadir di sana, melihat beberapa makam massal di Mandor," ungkapnya.

Edi menilai perlu adanya upaya bersama untuk menggali, mendokumentasikan, serta merawat sejarah para korban. Terlebih, hingga kini masih banyak keluarga dan keturunan para tokoh yang menjadi korban tragedi tersebut.

"Tentu ini perlu juga kita lakukan upaya-upaya, khususnya para tokoh di Kota Pontianak. Karena anak keturunannya masih ada," jelasnya.

Ia juga mendorong organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk berperan aktif dalam penelusuran sejarah, pendataan, dokumentasi, hingga meningkatkan literasi publik mengenai Hari Berkabung Daerah agar nilai-nilai sejarah tetap hidup di tengah masyarakat.

Edi menggambarkan kondisi Pontianak pada masa pendudukan Jepang yang masih memiliki jumlah penduduk relatif sedikit dengan infrastruktur yang terbatas. Situasi itu membuat para tokoh masyarakat lebih mudah dikenali dan menjadi sasaran penjajah.

"Kita bayangkan tahun 1941 Kota Pontianak seperti apa. Penduduknya mungkin belum sampai 100 ribu, jalan juga masih banyak jalan tanah. Jadi mencari orang waktu itu lebih mudah," tuturnya.

Menurutnya, memperingati Hari Berkabung Daerah bukan hanya mengenang sejarah, tetapi juga mengambil nilai perjuangan, keberanian, persatuan, dan pengorbanan yang diwariskan para pendahulu untuk diterapkan dalam kehidupan saat ini.

Edi menegaskan, perjuangan masa kini tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, melainkan melalui kerja nyata dalam mengisi kemerdekaan. ASN, perangkat daerah, dan seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat berkontribusi mengatasi berbagai persoalan, mulai dari kemiskinan, pengangguran, pendidikan, kesehatan, hingga masalah sosial lainnya.

"Semangat para pahlawan harus menggugah hati kita untuk berpartisipasi menghadapi berbagai persoalan masyarakat," katanya.

Ia pun mengajak seluruh jajaran Pemerintah Kota Pontianak untuk terus menjaga persatuan, memperkuat semangat gotong royong, serta tidak mudah terprovokasi demi mendukung pembangunan daerah.

"Mari kita rapatkan barisan untuk membangun daerah, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mendukung program pemerintah melalui sinergitas yang kuat," pungkasnya. (*)