Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
ibu melahirkan di perahu
Nakes Pedalaman Ketapang Tempuh Jalur Sungai Antar Pasien, Dinkes Siapkan Penghargaan
Nakes Pedalaman Ketapang Tempuh Jalur Sungai Antar Pasien, Dinkes Siapkan Penghargaan
Thursday, 01/10/2026

KALBARONLINE.com – Pengabdian tenaga kesehatan di wilayah pedalaman Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, mendapat perhatian dari Dinas Kesehatan setempat.

Di tengah keterbatasan akses dan kondisi geografis yang sulit, para tenaga kesehatan tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat, termasuk melakukan rujukan pasien yang harus ditempuh melalui jalur sungai.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, dr. Feria Kowira, mengapresiasi dedikasi para tenaga kesehatan yang bertugas di desa-desa dan wilayah perhuluan.

Menurutnya, kehadiran tenaga kesehatan di daerah yang sulit dijangkau menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat tetap memperoleh hak atas pelayanan kesehatan.

“Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh tenaga kesehatan yang bertugas di daerah pedalaman atau yang bertugas di desa-desa. Di tengah keterbatasan akses dan berbagai tantangan di lapangan, mereka tetap hadir memberikan pelayanan dan memastikan masyarakat mendapatkan haknya atas pelayanan kesehatan,” kata dr. Feria, Kamis (30/9/2026).

Ia menilai tugas tenaga kesehatan di wilayah pedalaman tidak mudah. Kondisi geografis serta keterbatasan akses transportasi menjadi tantangan tersendiri dalam memberikan pelayanan kesehatan.

“Pengabdian para tenaga kesehatan di pedalaman tentu tidak mudah. Karena itu, kami berharap semangat dan dedikasi mereka terus terjaga, sebab kehadiran mereka sangat berarti bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau,” tuturnya.

Sebagai bentuk penghargaan, Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang saat ini tengah melakukan seleksi tenaga kesehatan yang dinilai memiliki pengabdian di wilayah pedalaman.

Feria menjelaskan, penghargaan tersebut secara khusus diperuntukkan bagi tenaga kesehatan yang bertugas di desa-desa dan daerah perhuluan.

“Untuk nakes-nakes hebat yang bertugas di desa-desa dan daerah perhuluan, saat ini kami juga sedang melakukan seleksi untuk memberikan penghargaan. Penghargaan ini khusus bagi nakes yang bertugas di desa-desa, bukan di wilayah perkotaan,” katanya.

Gambaran mengenai beratnya akses pelayanan kesehatan dapat ditemukan di Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang.

Bagian Pelayanan Bidang Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, Evi Yuspitasari, mengatakan sejumlah wilayah di kecamatan tersebut masih mengandalkan jalur sungai untuk proses rujukan pasien.

“Wilayah tersebut cukup istimewa, sampai saat ini untuk membawa pasien rujukan dari Puskesmas Pembantu (Pustu) ke puskesmas induk memang kebanyakan harus menggunakan jalur sungai,” ujar Evi.

Menurutnya, tenaga kesehatan biasanya memanfaatkan perahu bermesin milik warga maupun desa untuk membawa pasien dari Pustu menuju puskesmas induk.

“Biasanya untuk rujukan menggunakan perahu mesin milik warga atau desa,” katanya.

Evi menjelaskan, pasien yang membutuhkan rujukan dari Pustu menuju puskesmas induk di Desa Menyumbung, Kecamatan Hulu Sungai, harus menempuh perjalanan melalui jalur sungai.

Jika pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut yang tidak dapat dilakukan di puskesmas induk, proses rujukan dilanjutkan menuju RS Sandai di Kecamatan Sandai melalui jalur darat.

“Untuk rujukan dari pustu menuju puskesmas induk yang ada di Desa Menyumbung menggunakan jalur sungai, dan apabila di puskesmas induk tidak dapat menangani maka rujukan selanjutnya ke RS Sandai yang berada di Kecamatan Sandai dengan menggunakan jalur darat,” jelasnya.

Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran tantangan pelayanan kesehatan di wilayah pedalaman Ketapang.

Meski harus menghadapi keterbatasan akses dan medan yang tidak mudah, para tenaga kesehatan tetap berupaya hadir dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang berharap dedikasi tersebut terus terjaga sehingga masyarakat di wilayah terpencil tetap memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.

Sebagai informasi, sebelumnya juga diberitakan seorang ibu hamil di wilayah pedalaman Ketapang terpaksa melahirkan di atas perahu saat dalam perjalanan menuju Puskesmas Hulu Sungai. Pasien tersebut dirujuk menggunakan perahu dari Pustu karena keterbatasan fasilitas dan sulitnya akses darat. Beruntung, ibu dan bayinya selamat hingga tiba di fasilitas kesehatan. (Adi LC)


Melahirkan di Atas Perahu, Perjuangan Bidan Antar Ibu Hamil di Pedalaman Ketapang
Melahirkan di Atas Perahu, Perjuangan Bidan Antar Ibu Hamil di Pedalaman Ketapang
Thursday, 01/10/2026

KALBARONLINE.com – Perjuangan tenaga kesehatan memberikan pelayanan kepada masyarakat di wilayah pedalaman Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kembali menjadi sorotan.

Sebuah video yang memperlihatkan seorang bidan membawa pasien rujukan menggunakan perahu mesin menyusuri sungai viral di media sosial Threads.

Video tersebut ternyata bukan kejadian baru. Rekaman itu dibuat pada 2025 lalu saat Susanti masih bertugas sebagai tenaga kesehatan di Desa Sungai Bengaras, Kecamatan Hulu Sungai, Kabupaten Ketapang.

Susanti mengatakan, saat itu dirinya harus merujuk seorang ibu hamil dari Puskesmas Pembantu (Pustu) menuju Puskesmas Hulu Sungai yang merupakan fasilitas kesehatan induk.

Pasien tersebut memiliki usia kehamilan yang belum cukup bulan. Namun, karena keterbatasan fasilitas di Pustu, pasien harus segera mendapatkan penanganan lebih lanjut.

“Pada saat itu saya membawa pasien ibu hamil dengan usia kehamilan belum cukup bulan. Karena fasilitas di Pustu tidak lengkap, saya membawa pasien ke Puskesmas Hulu Sungai (Puskesmas Induk),” kata Susanti, Kamis (30/9/2026).

Perjalanan menuju fasilitas kesehatan tersebut dilakukan melalui jalur sungai menggunakan perahu. Namun, kondisi darurat terjadi di tengah perjalanan. Saat perahu berada di sekitar kawasan Riam Besar, pasien tiba-tiba melahirkan.

“Di tengah perjalanan pasien melahirkan di dekat Riam Besar. Alhamdulillah bayi dan ibu selamat dan sampai ke Puskesmas,” ujarnya.

Setelah proses persalinan berlangsung di perjalanan, Susanti bersama tim kemudian melanjutkan perjalanan membawa ibu dan bayinya hingga tiba di Puskesmas Hulu Sungai untuk mendapatkan penanganan medis.

Menurut Susanti, penggunaan jalur sungai saat itu menjadi pilihan karena akses darat dari lokasi tempatnya bertugas cukup sulit.

Jika menggunakan jalur darat, perjalanan diperkirakan membutuhkan waktu sekitar empat jam. Selain itu, akses tersebut harus melewati jalan perusahaan dan pada saat kejadian tidak tersedia kendaraan yang dapat digunakan untuk membawa pasien.

“Untuk alternatif lain ada, kalau lewat jalan itu sekitar empat jam. Itu pun lewat jalan perusahaan dan waktu itu tidak ada mobil untuk lewat jalur darat,” jelasnya.

Pengalaman tersebut, kata Susanti, menjadi gambaran tantangan yang masih dihadapi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman.

Keterbatasan akses transportasi dan fasilitas kesehatan membuat tenaga kesehatan harus menyesuaikan kondisi di lapangan, termasuk ketika menghadapi situasi darurat.

Susanti berharap pemerintah dapat terus meningkatkan perhatian terhadap fasilitas kesehatan sekaligus memperkuat ketersediaan tenaga kesehatan di wilayah pedesaan dan pedalaman.

Menurutnya, jumlah tenaga kesehatan di sejumlah desa masih sangat terbatas. Bahkan, dalam satu desa terkadang hanya terdapat satu hingga dua tenaga kesehatan.

“Harapan saya untuk pemerintah lebih diperhatikan lagi fasilitas dan nakes perlu diperbanyak untuk setiap daerah pedesaan. Karena di sana untuk satu desa saja susah ada nakesnya, itu pun hanya beberapa nakes saja yang ada, paling hanya satu sampai dua orang saja,” pungkasnya. (Adi LC)