Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
lcc 4 pilar
Ocha dan Tim LCC SMAN 1 Pontianak Dapat Beasiswa ke China, Masih Pertimbangkan Tawaran
Ocha dan Tim LCC SMAN 1 Pontianak Dapat Beasiswa ke China, Masih Pertimbangkan Tawaran
Friday, 26/06/2026

KALBARONLINE.com – Josepha Alexandra atau Ocha, siswi SMAN 1 Pontianak yang sempat menjadi sorotan usai tampil pada final Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat, mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke China. Kesempatan tersebut juga diberikan kepada seluruh anggota Tim LCC 4 Pilar SMAN 1 Pontianak.

Program beasiswa itu diserahkan dalam rangkaian penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kerja sama pendidikan antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Yangzhou Polytechnic Institute, Tiongkok, dan PT Semen Conch Indonesia di Aula SMAN 1 Pontianak, Kamis (25/6/2026).

Selain kesempatan menempuh pendidikan di China, program tersebut juga menawarkan peluang bekerja melalui jaringan industri yang bekerja sama dengan kampus tersebut.

Meski demikian, Ocha mengaku belum memutuskan apakah akan menerima tawaran beasiswa tersebut. Ia mengatakan, pihak penyelenggara masih memberikan waktu kepada seluruh penerima beasiswa untuk berdiskusi dan mempertimbangkan pilihan bersama keluarga.

"Kami mengucapkan terima kasih dan sangat bersyukur sekali atas dukungan yang diberikan kepada kami, terutama Pak Rifki selaku Ketua Komisi II DPR RI dan inisiator beasiswa ini, sehingga dapat menghantarkan kami mendapatkan peluang besar untuk pendidikan kami," kata Ocha.

Ia menegaskan keputusan terkait beasiswa akan dipikirkan secara matang.

"Untuk pengambilan beasiswa ini akan kami putuskan nanti. Kami diberikan waktu untuk memilih sesuai jalan kami masing-masing. Jadi jawabannya nanti," ujarnya.

Menurut Ocha, kedua orang tuanya memberikan dukungan penuh terhadap keputusan apa pun yang nantinya akan diambil.

"Orang tua kami sangat mendukung sekali, apa pun keputusan kami," ucapnya.

Hal senada disampaikan anggota Tim LCC lainnya, Almira Khairunnisa. Ia mengaku bersyukur atas kesempatan yang diberikan dan menyampaikan apresiasi kepada Ketua Komisi II DPR RI, Rifqinizamy Karsayuda, yang juga merupakan alumni SMAN 1 Pontianak sekaligus penggagas program beasiswa tersebut.

"Kami berterima kasih kepada Bang Rifki yang juga alumni SMANSA. Beasiswa ini akan kami manfaatkan sebaik mungkin. Namun, pilihan itu tetap dikembalikan kepada kami, sehingga nanti akan kami koordinasikan lagi sebelum mengambil keputusan," kata Almira.

Menurut Almira, salah satu alasan beasiswa tersebut menarik karena Yangzhou Polytechnic Institute memiliki kerja sama dengan berbagai perusahaan di China maupun Indonesia sehingga membuka peluang karier setelah lulus.

"Kami tertarik dengan beasiswa ini karena Yangzhou memiliki kerja sama dengan berbagai industri di China bahkan Indonesia. Jurusan yang ada di kampus itu juga sesuai dengan hobi dan minat saya. Itu yang akan kami pertimbangkan bersama orang tua sebelum mengambil keputusan," tuturnya. (Lid)

Pemprov Kalbar Teken MoU Beasiswa ke China, 10 Siswa Tim LCC SMAN 1 Pontianak Dapat Kuliah Gratis
Pemprov Kalbar Teken MoU Beasiswa ke China, 10 Siswa Tim LCC SMAN 1 Pontianak Dapat Kuliah Gratis
Thursday, 25/06/2026

KALBARONLINE.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) program beasiswa pendidikan ke China bagi 10 siswa Tim Lomba Cerdas Cermat (LCC) SMAN 1 Pontianak. Program ini merupakan hasil kerja sama antara Pemprov Kalbar, Yangzhou Polytechnic Institute, dan PT Semen Conch Indonesia.

Penandatanganan MoU sekaligus penyerahan simbolis beasiswa berlangsung di Aula SMAN 1 Pontianak, Kamis (25/6/2026). Program tersebut tidak hanya mencakup pembiayaan pendidikan, tetapi juga memberikan kesempatan bekerja setelah para penerima menyelesaikan studi.

MoU ditandatangani oleh Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, Kepala Yangzhou Polytechnic Institute, Ni Yong Hong, serta Direktur PT Semen Conch Indonesia, Wang Hai Wing.

Kegiatan itu turut disaksikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, Ketua Komisi II DPR RI Rifqinizamy Karsayuda selaku penggagas program beasiswa, Duta Besar China untuk Indonesia Wang Lutong, perwakilan Kementerian Luar Negeri, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar Syarif Indahmawan Alkadri, serta jajaran guru dan siswa.

Dalam sambutannya, Ria Norsan mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam terwujudnya program tersebut. Menurutnya, beasiswa ini menjadi peluang besar bagi generasi muda Kalimantan Barat untuk memperoleh pendidikan bertaraf internasional.

"Melalui MoU antara Yangzhou Polytechnic Institute, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, dan PT Semen Conch Indonesia, terbuka jalan baru bagi putra-putri Kalbar untuk memperoleh akses pendidikan bertaraf internasional dengan dukungan dunia usaha dan mitra global," kata Norsan.

Ia menilai kerja sama tersebut bukan hanya membuka akses pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari diplomasi pendidikan yang mempererat hubungan Indonesia dan China.

Norsan juga memberikan apresiasi kepada Rifqinizamy Karsayuda, alumni SMAN 1 Pontianak yang menjadi inisiator lahirnya program beasiswa tersebut.

"Kami berharap semakin banyak alumni yang mengikuti jejak Pak Rifqi dalam memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah, khususnya di bidang pendidikan," ujarnya.

Kepada para penerima beasiswa, Norsan berpesan agar kesempatan tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menimba ilmu dan pengalaman sebelum kembali membangun Kalimantan Barat.

Adapun 10 siswa penerima beasiswa tersebut adalah Josepha Alexander, Almira, Khasandra, Ahmad, Louisa, Ansella, Khansa, Rajiq, Naurah, dan Zerlinda.

Program beasiswa ini bermula dari polemik LCC Empat Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang sempat menjadi perhatian publik. Saat itu, Tim Grup C SMAN 1 Pontianak memprotes keputusan dewan juri terkait penilaian salah satu jawaban pada babak final.

Dalam momen tersebut, Josepha Alexander atau Ocha menyampaikan keberatan secara santun kepada dewan juri. Sikapnya kemudian mendapat apresiasi luas, termasuk dari Rifqinizamy Karsayuda yang saat itu berjanji memberikan beasiswa kepada para siswa.

Polemik tersebut kini telah berakhir setelah SMAN 1 Sambas ditetapkan sebagai wakil Kalimantan Barat pada LCC Empat Pilar tingkat nasional 2026. Sementara itu, SMAN 1 Pontianak menerima hasil perlombaan dan menegaskan bahwa tujuan utama mereka adalah memperoleh penjelasan atas proses penilaian, bukan membatalkan hasil kompetisi.

SMAN 1 Pontianak juga menyatakan menolak opsi pertandingan ulang dan memberikan dukungan penuh kepada SMAN 1 Sambas untuk mewakili Kalimantan Barat di tingkat nasional. (Lid)

Tak Hanya Ocha, Seluruh Tim LCC 4 Pilar SMAN 1 Pontianak Dapat Beasiswa Kuliah ke China
Tak Hanya Ocha, Seluruh Tim LCC 4 Pilar SMAN 1 Pontianak Dapat Beasiswa Kuliah ke China
Thursday, 25/06/2026

KALBARONLINE.com – Ketua Komisi II DPR RI, Rifqinizamy Karsayuda, merealisasikan janjinya untuk memberikan beasiswa kuliah ke China kepada Josepha Alexandra atau Ocha, siswi SMAN 1 Pontianak yang sempat menjadi sorotan publik saat mengikuti Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat.

Namun, beasiswa tersebut tidak hanya diberikan kepada Ocha. Seluruh anggota Tim LCC 4 Pilar SMAN 1 Pontianak juga mendapat kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan di Tiongkok.

Komitmen itu diwujudkan melalui penyerahan program beasiswa yang dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kerja sama pendidikan antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Yangzhou Polytechnic Institute, Tiongkok, dan PT Semen Conch Indonesia di Aula SMAN 1 Pontianak, Kamis (25/6/2026).

Dalam sambutannya, Rifqinizamy mengungkapkan bahwa awalnya beasiswa tersebut diberikan secara spontan kepada Ocha setelah momen yang viral di media sosial saat Final LCC 4 Pilar MPR RI tingkat Kalbar.

"Terjadi dinamika pada saat final Lomba Cerdas Cermat MPR RI tingkat Provinsi Kalbar. Saat itu, karena dorongan media sosial yang sangat viral, saya secara spontan menawarkan beasiswa kepada salah satu peserta untuk belajar ke negeri China," ujarnya.

Namun setelah dipertimbangkan kembali, ia menilai kesempatan tersebut akan lebih adil jika diberikan kepada seluruh anggota tim.

"Belakangan saya pikir-pikir, kalau cuma satu orang tidak adil. Tidak mungkin mereka bisa sampai ke lomba itu tanpa kerja keras secara kolektif. Karena itu, ketika saya ke China, saya melakukan negosiasi dengan pemerintah China dan hari ini kita memberikan 10 beasiswa kepada anak-anak," katanya.

Rifqinizamy menjelaskan, program tersebut merupakan bagian dari kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Tiongkok yang setiap tahun menyediakan sekitar 1.000 kuota beasiswa. Kalimantan Barat juga akan memperoleh alokasi tersendiri di luar kuota khusus yang diberikan kepada 10 siswa Tim LCC SMAN 1 Pontianak.

"Ini adalah realisasi dari komitmen kami sebelumnya untuk memberikan beasiswa kepada adik-adik SMA Negeri 1 Pontianak, terutama yang kemarin menjadi finalis Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI," ujarnya.

Ia menjelaskan, terdapat dua skema beasiswa yang ditawarkan. Pertama, beasiswa pendidikan penuh yang mencakup biaya kuliah dan biaya hidup selama menempuh pendidikan di China. Kedua, beasiswa ikatan kerja yang memberikan kesempatan kepada penerima untuk bekerja di perusahaan-perusahaan China yang beroperasi di Indonesia setelah lulus.

"Ada 10 orang yang akan mendapatkan beasiswa yang terdiri dari dua skema. Pertama beasiswa studi penuh, termasuk biaya hidup selama sekolah di China. Kedua, mereka juga diberikan beasiswa ikatan kerja oleh perusahaan-perusahaan China yang ada di Indonesia," jelasnya.

Menurut Rifqinizamy, program tersebut diharapkan menjadi awal kerja sama pendidikan yang lebih luas antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, dan mitra internasional.

"Mudah-mudahan ini bermanfaat dan menjadi pembuka bagi kerja sama yang lebih baik. Kami tentu akan berkoordinasi dengan pemerintah, khususnya Kemendikdasmen dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat," katanya.

Tak berhenti di SMAN 1 Pontianak, Rifqinizamy juga berencana memperluas program beasiswa bagi siswa berprestasi dari sekolah lain di Kalimantan Barat mulai tahun ajaran 2027.

"Kami akan berkoordinasi dengan Pak Gubernur untuk memberikan beasiswa kepada sekolah-sekolah lain di Kalimantan Barat. Insya Allah akan mulai kita launching bersama pada tahun ajaran 2027," ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan para siswa masih memiliki waktu untuk mempertimbangkan tawaran tersebut. Keputusan akhir akan ditentukan sekitar enam bulan sebelum kelulusan setelah seluruh informasi mengenai program studi dan persyaratan disampaikan.

"Karena tidak ada beasiswa yang bebas dari syarat. Jika mereka berkenan dengan syarat-syarat tersebut, kita lanjutkan. Kalau tidak, tidak ada paksaan. Kuota yang tidak diambil nantinya akan diberikan kepada siswa berprestasi lainnya di Kalimantan Barat," tutupnya. (Lid)

Polemik LCC 4 Pilar Berakhir, MPR RI Pastikan SMAN 1 Sambas Wakili Kalbar ke Nasional
Polemik LCC 4 Pilar Berakhir, MPR RI Pastikan SMAN 1 Sambas Wakili Kalbar ke Nasional
Tuesday, 19/05/2026

KALBARONLINE.com – Polemik final Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar tingkat Kalimantan Barat akhirnya menemui titik terang. Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) memastikan SMAN 1 Sambas akan menjadi wakil Kalbar pada ajang LCC 4 Pilar tingkat nasional di Jakarta.

Kepastian itu disampaikan Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Abraham Liyanto saat mengunjungi SMAN 1 Pontianak dalam rangka memenuhi kunjungan balik pihak sekolah sekaligus melakukan sosialisasi terkait LCC 4 Pilar, Selasa (19/5/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Abraham mendengarkan langsung aspirasi dari kedua sekolah, yakni SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas terkait polemik yang sempat ramai diperbincangkan publik.

Menurut Abraham, MPR RI menghormati keputusan kedua sekolah yang sama-sama menolak digelarnya ulang partai final LCC 4 Pilar tingkat Kalbar.

“Kami MPR menerima masukan dari dua sekolah ini. Mereka (SMAN 1 Pontianak) mendukung SMAN 1 Sambas untuk mewakili Kalbar,” ungkap Abraham.

Ia memastikan, keputusan akhir menetapkan SMAN 1 Sambas akan berangkat ke Jakarta untuk mengikuti LCC 4 Pilar tingkat nasional sebagai perwakilan Kalimantan Barat.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Pontianak, Indang Maryati turut menyampaikan dukungan penuh kepada SMAN 1 Sambas agar dapat membawa nama baik Kalbar di tingkat nasional.

“Kami menyatakan siap mendukung SMA Negeri 1 Sambas untuk maju ke tingkat nasional tahun 2026 di ajang LCC mewakili Kalimantan Barat,” tegasnya.

Dengan keputusan tersebut, polemik LCC 4 Pilar Kalbar yang sebelumnya ramai menjadi perhatian publik dan media sosial kini resmi berakhir. Dukungan kedua sekolah diharapkan menjadi energi positif bagi para siswa untuk tampil maksimal di tingkat nasional. (Lid)

Sempat Dihujat Netizen, SMAN 1 Sambas Tetap Maju Wakili Kalbar di LCC MPR RI Nasional
Sempat Dihujat Netizen, SMAN 1 Sambas Tetap Maju Wakili Kalbar di LCC MPR RI Nasional
Tuesday, 19/05/2026

KALBARONLINE.com – SMAN 1 Sambas memastikan tetap maju sebagai perwakilan Kalimantan Barat pada ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) tingkat nasional.

Keputusan tersebut disampaikan Kepala SMAN 1 Sambas, Syafarudin, saat bertemu Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Abraham Liyanto, dan Sekjen MPR RI, Siti Fauziah, di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat, Selasa (19/5/2026).

Syafarudin mengungkapkan, pihak sekolah sempat mengalami keraguan usai polemik final LCC antara SMAN 1 Sambas dan SMAN 1 Pontianak ramai diperbincangkan di media sosial. Bahkan, banyak komentar negatif yang menyerang siswa maupun guru.

“Kita itu ada perasaan senang dan sedih. Setelah membawa pulang piala, banyak komentar di internet yang meminta kami mengembalikan piala. Akun pribadi murid dan guru juga banyak mendapat hujatan, itu yang membuat ragu untuk maju,” ujarnya.

Menurutnya, tekanan dari media sosial sempat memengaruhi kondisi psikologis para siswa peserta LCC. Mereka bahkan memilih menghindari komentar-komentar di internet untuk sementara waktu.

“Kami sempat vakum selama empat hari,” katanya.

Meski begitu, setelah melakukan komunikasi dengan pihak MPR RI dan Dinas Pendidikan Kalbar, pihak sekolah kembali membangun semangat para siswa untuk tetap melanjutkan perjuangan ke tingkat nasional.

“Sebelum berangkat ke Pontianak ini saya tanyakan lagi kepada anak-anak apakah yakin untuk maju, dan anak-anak yakin,” ungkapnya.

Syafarudin menegaskan, keputusan tetap maju juga dilandasi keinginan menjaga nama baik Kalimantan Barat di tingkat nasional. Terlebih, SMAN 1 Pontianak sebelumnya telah menolak opsi pertandingan ulang dan mendukung SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalbar.

“Kalau kami tidak maju sementara SMAN 1 Pontianak juga sudah menolak maju dan mendukung kami, lalu bagaimana dengan Kalbar? Itu yang kami pikirkan,” jelasnya.

Ia menyebut kondisi para siswa saat ini mulai membaik dan kembali fokus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi nasional yang akan digelar di Jakarta.

“Alhamdulillah anak-anak masih tegar, sudah mulai semangat lagi, dan orang tua mereka juga tetap mendukung,” tuturnya. (Lid)

Pengamat Pendidikan Usul LCC 4 Pilar Kalbar Dianulir, Demi Keadilan dan Psikologis Siswa
Pengamat Pendidikan Usul LCC 4 Pilar Kalbar Dianulir, Demi Keadilan dan Psikologis Siswa
Wednesday, 13/05/2026

KALBARONLINE.com – Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat terus menuai perhatian dari berbagai pihak. Kali ini, pengamat pendidikan Samion menilai persoalan tersebut seharusnya bisa diselesaikan secara objektif dengan melakukan evaluasi ulang terhadap proses penilaian dewan juri.

Menurut Samion, keberatan yang disampaikan peserta menunjukkan adanya persoalan teknis yang perlu disikapi secara bijak agar tidak menimbulkan dampak psikologis terhadap siswa.

“Intinya sebenarnya permasalahan itu ketika diprotes oleh siswa, juri harus memastikan dulu sebelum acara selesai. Sekarang semuanya sudah serba elektronik, ada video yang bisa diputar ulang untuk memastikan jawaban peserta,” ujarnya saat dihubungi.

Ia menegaskan, kecermatan dan objektivitas dewan juri dalam ajang LCC 4 Pilar MPR RI sangat penting agar tidak memunculkan kesan ketidakadilan di tengah peserta maupun publik.

Selain itu, Samion juga menyoroti persoalan teknis audio yang dinilai menjadi salah satu penyebab munculnya perbedaan pemahaman terhadap jawaban peserta.

“Ke depan ini jadi evaluasi. Selain MC menggunakan headset, dewan juri juga sebaiknya menggunakan headset supaya tidak ada lagi masalah artikulasi atau kesalahan pendengaran,” katanya.

Menurutnya, apabila masih terdapat keraguan dalam proses penilaian, maka langkah paling netral adalah menganulir hasil perlombaan.

“Kalau saya simpel saja, dianulir sehingga netral. Kita menghargai pendapat regu dari Pontianak, begitu juga pihak lainnya tidak dirugikan. Bahkan dari MPR RI juga meminta diulang,” jelasnya.

Samion menilai keputusan anulir bukan untuk mencari siapa yang menang atau kalah, melainkan sebagai upaya menjernihkan persoalan sekaligus menjaga semangat peserta.

“Bahasanya seri, tidak ada yang menang dan kalah. Pendapat siswa dihargai, psikologis mereka juga bisa kembali terangkat,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa polemik yang terjadi bukan karena adanya keberpihakan dewan juri kepada salah satu tim peserta, melainkan lebih kepada persoalan teknis dan kekeliruan dalam proses penilaian.

“Tidak ada niat dari dewan juri berpihak kepada siapa pun. Ini lebih kepada kesalahan teknis atau kekhilafan,” katanya.

Di sisi lain, Samion turut mengapresiasi langkah dewan juri yang telah menyampaikan permintaan maaf, termasuk perhatian dari anggota DPR RI dan MPR RI terhadap polemik yang terjadi dalam LCC Empat Pilar Kalbar tersebut.

“Kita apresiasi dewan juri yang sudah meminta maaf. Akan lebih baik lagi kalau dianulir sehingga pendapat siswa diakui dan persoalan selesai,” pungkasnya. (Jau)

Berani Protes Keputusan Juri LCC 4 Pilar, Siswi SMAN 1 Pontianak Ditawari Beasiswa ke China
Berani Protes Keputusan Juri LCC 4 Pilar, Siswi SMAN 1 Pontianak Ditawari Beasiswa ke China
Tuesday, 12/05/2026

KALBARONLINE.com – Keberanian siswi SMA Negeri 1 Pontianak, Josepha Alexandra dalam menyuarakan protes terhadap keputusan juri pada Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Kalimantan Barat akhirnya mendapat perhatian luas.

Tak tanggung-tanggung, Josepha mendapat tawaran beasiswa kuliah S1 gratis ke China lengkap dengan peluang ikatan kerja setelah lulus kuliah.

Tawaran tersebut disampaikan langsung Ketua Komisi II DPR RI, Muhammad Rifqinizamy Karsayuda melalui panggilan video pada Selasa (12/5/2026) siang.

“Kalau Josepha berkenan, abang mau kasih beasiswa kuliah gratis ke China. Nanti tolong kasih tau orang tua kalau mau. Nanti begitu selesai SMA, Josepha akan diberikan beasiswa sekolah kuliah gratis di China dan nanti akan ada pemberian pekerjaan langsung dari berbagai perusahaan multinasional untuk Josepha kalau sudah lulus dari China,” ujar Rifqi dalam sambungan video tersebut.

Nama Josepha sebelumnya menjadi sorotan publik usai videonya mempertanyakan keputusan juri dalam Final LCC Empat Pilar MPR RI viral di media sosial.

Dalam video itu, Josepha dinilai berani menyampaikan keberatan terhadap penilaian juri yang dianggap tidak adil. Sikapnya tersebut kemudian menuai simpati luas dari masyarakat, termasuk tokoh publik dan pejabat nasional.

Selain mendapatkan tawaran beasiswa ke China, Josepha juga mendapat undangan khusus dari pihak Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia untuk berangkat ke Jakarta.

Dalam perjalanan tersebut, Josepha didampingi Kepala Sekolah SMAN 1 Pontianak, Indah. Turut mendampingi pula Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Rio serta guru pembimbing, Heni. (Lid)

MPR RI Minta Maaf soal Polemik LCC 4 Pilar Kalbar, Juri dan MC Resmi Dinonaktifkan
MPR RI Minta Maaf soal Polemik LCC 4 Pilar Kalbar, Juri dan MC Resmi Dinonaktifkan
Tuesday, 12/05/2026

KALBARONLINE.com – Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat akhirnya mendapat respons langsung dari Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia.

Melalui Sekretariat Jenderal, MPR RI menyampaikan permohonan maaf atas polemik yang mencuat dalam pelaksanaan lomba tersebut. Pernyataan resmi itu diunggah melalui akun Instagram resmi MPR RI pada Selasa (12/5/2026), setelah kritik publik ramai bermunculan di media sosial.

Dalam klarifikasinya, MPR RI mengakui adanya kelalaian dari Dewan Juri yang memicu kontroversi dalam penilaian jawaban peserta.

“MPR RI melalui Sekretariat Jenderal MPR RI menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian Dewan Juri yang menyebabkan polemik terkait pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI di Provinsi Kalimantan Barat,” tulis pernyataan resmi tersebut.

Sebagai langkah tindak lanjut, panitia pelaksana dari Sekretariat Jenderal MPR RI memutuskan menonaktifkan Dewan Juri dan Master of Ceremony (MC) yang bertugas dalam kegiatan LCC 4 Pilar Kalbar itu.

Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk evaluasi sekaligus upaya menjaga kredibilitas pelaksanaan kegiatan pendidikan kebangsaan.

MPR RI juga menegaskan bahwa LCC Empat Pilar seharusnya menjunjung tinggi nilai sportivitas, objektivitas, keadilan, dan semangat pembelajaran yang sehat bagi generasi muda.

MPR RI Minta Maaf soal Polemik LCC 4 Pilar Kalbar, Juri dan MC Resmi Dinonaktifkan
​

Tak hanya itu, evaluasi menyeluruh juga akan dilakukan terhadap aspek teknis perlombaan. Mulai dari mekanisme penilaian, sistem verifikasi jawaban peserta, hingga tata kelola penyampaian keberatan dalam lomba akan dibenahi.

Langkah tersebut disebut penting agar pelaksanaan LCC Empat Pilar di masa mendatang dapat berjalan lebih transparan, akuntabel, dan tidak lagi memunculkan polemik serupa.

Dalam pernyataannya, MPR RI turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, guru pendamping, panitia daerah, hingga masyarakat yang ikut memberikan perhatian terhadap pendidikan kebangsaan.

“Masukan publik akan menjadi bahan evaluasi penting demi menjaga kualitas kegiatan dan kepercayaan masyarakat terhadap proses pembelajaran kebangsaan yang inklusif, edukatif, dan berintegritas,” lanjut pernyataan tersebut.

Sebelumnya, polemik LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Kalbar viral di media sosial setelah tim dari SMAN 1 Pontianak melayangkan protes terhadap keputusan juri.

Dalam video yang beredar luas, peserta mempertanyakan penilaian juri yang menyatakan jawaban mereka salah, meskipun dianggap memiliki substansi yang benar. Polemik itu kemudian memicu gelombang kritik dari masyarakat hingga sejumlah tokoh di Kalimantan Barat. (Lid)

Sutarmidji Turut Soroti Polemik LCC 4 Pilar, Sebut Juri Tidak Kompeten
Sutarmidji Turut Soroti Polemik LCC 4 Pilar, Sebut Juri Tidak Kompeten
Tuesday, 12/05/2026

KALBARONLINE.com – Polemik hasil Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI di Kalimantan Barat terus memantik perhatian berbagai pihak. Kali ini, mantan Gubernur Kalbar periode 2018–2023, Sutarmidji, ikut angkat bicara terkait kontroversi penilaian dewan juri dalam perlombaan tersebut.

Melalui laman Instagram pribadinya, @bang.midji, Sutarmidji menyampaikan apresiasi kepada tim SMA Negeri 1 Pontianak (Smansa) yang dinilai berani menyuarakan keberatan terhadap keputusan juri.

“Saya apresiasi yang setinggi-tingginya kepada tim SMAN 1 Pontianak atas keberaniannya dalam mengoreksi tim juri yang tidak berintegritas,” tulisnya.

Tak hanya itu, Sutarmidji juga secara tegas menilai dewan juri dalam ajang LCC 4 Pilar tersebut tidak menunjukkan kompetensi yang memadai saat memberikan penilaian kepada peserta.

“Kelihatan juri memang tidak kompeten, apalagi buat alasan artikulasi segala,” lanjutnya.

Pernyataan Sutarmidji menambah panjang sorotan terhadap pelaksanaan LCC 4 Pilar MPR RI di Kalbar yang sebelumnya juga menuai kritik dari sejumlah pihak. Polemik mencuat setelah keputusan juri dianggap merugikan peserta dari Smansa Pontianak.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah Kalbar, Harisson, juga menyoroti cara penilaian dewan juri yang dinilai menimbulkan tanda tanya. Ia bahkan menyebut juri terkesan belum sepenuhnya memahami materi yang diperlombakan.

Kontroversi ini pun ramai diperbincangkan publik di media sosial. Banyak warganet menilai kompetisi yang membawa nama nilai-nilai kebangsaan seharusnya dijalankan secara objektif, profesional, dan menjunjung tinggi rasa keadilan bagi seluruh peserta.

Ajang LCC 4 Pilar sendiri merupakan perlombaan yang mengangkat materi tentang Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai bagian dari penguatan wawasan kebangsaan generasi muda. (*)

Polemik LCC 4 Pilar Memanas, Sekda Kalbar Nilai Juri Gagal Paham Materi
Polemik LCC 4 Pilar Memanas, Sekda Kalbar Nilai Juri Gagal Paham Materi
Monday, 11/05/2026

KALBARONLINE.com – Polemik hasil Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar di Kalimantan Barat masih terus menjadi perhatian publik. Kali ini, Sekretaris Daerah Kalbar, Harisson, ikut menyoroti proses penilaian dewan juri yang dinilai memunculkan tanda tanya.

Ditemui awak media pada Senin (11/5/2026), Harisson menilai terdapat kejanggalan dalam cara juri menilai jawaban peserta saat perlombaan berlangsung. Ia bahkan menyebut juri terkesan belum sepenuhnya menguasai materi yang diperlombakan.

“Juri itu terkesan tidak paham dengan materi yang ditanyakan. Sehingga dia harus baca jawaban yang ada di tab-nya, lalu dia berusaha sandingkan dengan jawaban anak-anak ini. Makanya jadi gagal paham,” ujarnya.

Menurut Harisson, seorang juri seharusnya memiliki pemahaman kuat terhadap materi lomba, sehingga dapat langsung memahami jawaban peserta tanpa harus terlalu bergantung pada catatan atau perangkat pendukung.

“Beda kalau kita sudah paham dengan materi yang ditanyakan. Tidak perlu lihat tab, dengar saja apa jawaban anak-anak ini, kita langsung paham dan bisa langsung kasih nilai,” tegasnya.

Tak hanya soal substansi penilaian, Harisson juga menyinggung bahasa tubuh dan ekspresi juri saat proses lomba berlangsung. Ia menilai hal tersebut menunjukkan adanya keraguan dalam mengambil keputusan.

“Coba perhatikan bahasa tubuh dan raut wajah jurinya,” tambahnya.

Lebih lanjut, Harisson meminta agar ada rasa keadilan yang benar-benar dirasakan para peserta, terutama siswa SMA Negeri 1 Pontianak (Smansa) yang ikut dalam kompetisi tersebut.

Menurutnya, pengalaman dalam ajang seperti LCC 4 Pilar bisa membekas bagi para pelajar, sehingga proses penilaian harus dilakukan secara objektif dan profesional.

“Saya minta ada rasa keadilan yang harus diterima oleh anak-anak Smansa. Jangan biarkan rasa ketidakadilan itu membekas di diri mereka,” pesannya.

Ia menegaskan, LCC 4 Pilar bukan sekadar lomba biasa, melainkan kompetisi yang membawa nilai-nilai penting kebangsaan seperti Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Apalagi kita sedang berbicara tentang Empat Pilar MPR RI, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika,” tutupnya. (*)