Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
orang utan
Empat Tahun Dilepasliarkan, Orang Utan Kumbang Kembali Ditemukan di Tengah Karhutla Kayong Utara
Empat Tahun Dilepasliarkan, Orang Utan Kumbang Kembali Ditemukan di Tengah Karhutla Kayong Utara
Monday, 14/09/2026

KALBARONLINE.com – Orang utan jantan bernama Kumbang kembali ditemukan setelah empat tahun dilepasliarkan di kawasan hutan Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Kumbang dievakuasi setelah masuk ke kebun warga yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kondisinya juga memerlukan penanganan medis setelah tim menemukan gangguan pernapasan, sejumlah luka, hingga benda asing yang diduga merupakan peluru tertanam di tubuhnya.

Kumbang diselamatkan tim gabungan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Yayasan Palung, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Penjalaan, LPHD Padu Banjar, serta masyarakat, Sabtu (12/9/2026).

Tim menindaklanjuti laporan warga mengenai kemunculan orang utan jantan di Desa Padu Banjar. Kumbang kemudian dievakuasi menggunakan senapan bius untuk menjalani pemeriksaan medis.

Saat pemeriksaan, tim menemukan microchip pada tubuh orang utan tersebut. Microchip itu mengungkap identitas Kumbang yang sebelumnya pernah dievakuasi dari kawasan hutan yang sama pada 2022.

Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, mengatakan Kumbang telah dilepasliarkan kembali setelah menjalani proses evakuasi pada 2022.

“Selama ini kondisi habitat cukup aman untuk orang utan tersebut. Namun karena kebakaran yang meluas, mendorong orang utan ini masuk di wilayah kampung dan di kebun masyarakat,” kata Argitoe, Senin (14/9/2026).

Pemeriksaan medis menemukan adanya suara abnormal pada bagian paru-paru kanan Kumbang. Sebelumnya, tim menerima informasi bahwa orang utan tersebut sempat terdengar batuk.

Kondisi itu diduga berkaitan dengan paparan asap Karhutla. Saat proses evakuasi berlangsung, kawasan kebun tempat Kumbang ditemukan dipenuhi kabut asap cukup tebal.

Tim medis kemudian memberikan cairan infus dan dukungan oksigen untuk membantu menstabilkan kondisi Kumbang.

Selain gangguan pernapasan, dokter hewan menemukan sejumlah luka dan bekas cedera pada tubuhnya. Di antaranya bekas luka cukup panjang pada punggung kanan dan sejumlah bekas luka pada kaki.

“Tim juga menemukan satu luka yang berdasarkan pemeriksaan awal diduga merupakan bekas abses atau cedera akibat proyektil,” kata Argitoe.

Benda asing yang diduga merupakan peluru turut ditemukan tertanam di bagian tangan kanan Kumbang. Selain itu, terdapat bekas jerat pada tubuhnya.

Argitoe mengatakan kondisi Kumbang menunjukkan dampak Karhutla terhadap satwa liar mulai terlihat secara langsung. Kebakaran yang meluas membuat habitat dan sumber pakan orang utan terganggu.

“Evakuasi ini menjadi semakin mendesak karena dampak karhutla terhadap satwa liar sudah mulai terlihat secara langsung,” katanya.

Kumbang kini menjalani pemantauan dan penanganan lebih lanjut di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI, Ketapang. Pemeriksaan lanjutan dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatannya sekaligus menentukan penanganan yang tepat.

Karhutla di Kayong Utara, Mama Penja Ditemukan Kurus, Dehidrasi hingga Luka Bakar
Karhutla di Kayong Utara, Mama Penja Ditemukan Kurus, Dehidrasi hingga Luka Bakar
Monday, 14/09/2026

KALBARONLINE.com – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, tak hanya membakar lahan. Kebakaran juga membuat satwa liar kehilangan habitat dan sumber makanan.

Salah satu korbannya ialah Mama Penja, orang utan betina yang ditemukan dalam kondisi memprihatinkan. Tubuhnya kurus, mengalami dehidrasi berat, anemia berat, hingga luka bakar di kedua kakinya.

Mama Penja diselamatkan tim gabungan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Yayasan Palung, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Penjalaan, LPHD Padu Banjar, dan masyarakat, Sabtu (12/9/2026).

Mama Penja ditemukan bersama anaknya di salah satu kebun sawit milik warga transmigrasi di Desa Penjalaan. Lokasi tersebut berada di sekitar kawasan hutan yang terdampak kebakaran hebat.

Dokter hewan satwa liar sekaligus Direktur Utama YIARI, Dr Karmele Llano Sanchez, mengatakan kondisi Mama Penja saat ditemukan sangat memprihatinkan.

Tubuhnya kurus dan lemas. Bahkan, Mama Penja nyaris tidak bergerak dari sarangnya meski banyak orang berada di sekitar lokasi.

“Saat kami tiba di lokasi, kami melihat induk orang utan dan anaknya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Keduanya terlihat sangat kurus dan lemas, dan hampir tidak bergerak dari sarangnya,” kata Karmele, Senin (14/9/2026).

Tim kemudian membius Mama Penja dan anaknya menggunakan blow dart agar proses evakuasi dapat dilakukan dengan aman. Setelah dievakuasi, tim medis langsung memberikan pertolongan berupa cairan infus dan oksigen.

Keduanya kemudian dibawa ke Pusat Rehabilitasi YIARI untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan kondisi Mama Penja jauh lebih buruk dari yang terlihat saat pertama kali ditemukan.

Karhutla di Kayong Utara, Mama Penja Ditemukan Kurus, Dehidrasi hingga Luka Bakar
Mama Penja, orang utan korban Karhutla Kayong Utara, ditemukan kurus, dehidrasi, anemia berat, dan mengalami luka bakar (Dok. YIARI)​

Mama Penja mengalami dehidrasi berat dan tampak pucat. Tim juga menemukan luka bakar pada kedua kakinya hingga menyebabkan kulit terkelupas.

“Luka tersebut kemungkinan terjadi karena orang utan berjalan di atas tanah gambut yang terbakar,” ujar Karmele.

Tak hanya luka di kaki, kondisi gigi Mama Penja juga memprihatinkan. Banyak bagian giginya mengalami pengikisan. Karmele menduga kondisi tersebut berkaitan dengan terbatasnya sumber makanan akibat kebakaran.

Mama Penja kemungkinan terpaksa mengonsumsi kulit pohon atau jenis makanan lain yang tidak sesuai secara terus-menerus karena kesulitan mendapatkan pakan. Kondisi kelaparan itu bahkan terlihat ketika Mama Penja mulai sadar setelah dibius.

“Yang paling menyedihkan bagi saya adalah ketika orang utan mulai terbangun dari pembiusan. Ia tidak menunjukkan perilaku agresif atau berusaha melawan. Ia hanya mencari makanan,” tuturnya.

“Bahkan seolah-olah yang ada dalam pikirannya hanya satu: mencari sesuatu untuk dimakan. Itu menunjukkan betapa laparnya ia,” sambung Karmele.

Pemeriksaan dokter hewan dan hasil laboratorium setelah Mama Penja tiba di klinik juga menunjukkan dia mengalami anemia berat. Karmele mengaku tim hampir tidak percaya Mama Penja masih mampu bertahan hidup dengan kondisi tubuh seperti itu.

“Kami menduga kondisi kekurangan makanan yang berkepanjangan, kemungkinan selama berminggu-minggu sejak kebakaran mulai di areanya pada dua bulan lalu, telah menyebabkan kondisi tubuhnya semakin memburuk hingga mengalami anemia berat,” jelasnya.

Menurut Karmele, kebakaran yang berlangsung di habitat Mama Penja membuat akses terhadap makanan semakin terbatas. Kondisi itu diduga berlangsung dalam waktu cukup lama hingga akhirnya berdampak serius terhadap kesehatan orang utan tersebut.

Kini, Mama Penja masih menjalani perawatan intensif di Pusat Rehabilitasi YIARI. Tim medis berfokus menstabilkan kondisinya, memberikan nutrisi, serta merawat luka-luka yang dialaminya.

“Kami masih berharap ia dapat bertahan hidup. Semoga keduanya masih memiliki kesempatan untuk pulih dan suatu hari nanti kembali hidup di alam,” pungkas Karmele.

Si Mungil “Jani” Terpisah dari Induknya di Kebun Sawit Ketapang, Diselamatkan BKSDA Kalbar
Si Mungil “Jani” Terpisah dari Induknya di Kebun Sawit Ketapang, Diselamatkan BKSDA Kalbar
Friday, 23/01/2026

KALBARONLINE.com - Satu bayi orang utan betina ditemukan tanpa induk di kebun sawit milik warga di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, pada Minggu (18/02/2026).

Penyelamatan dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI).

Orang utan tersebut bernama Jani. Nama ini diberikan oleh warga desa setempat. Saat ini usia Jani memasuki 5 tahun.

“Di usia 5 tahun, Jani seharusnya masih bersama induknya. Namun setelah berapa hari dipantau sampai dengan penyelamatan,” kata Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, dalam publikasi tertulis, Kamis (22/01/2026).

Mulan menyebutkan, ketika ditemukan, Jani terpantau tidak banyak bergerak dan kebingungan menunggu induknya.

Tim sempat juga berupaya mencari induknya tapi hasilnya nihil. Untuk menghindari potensi konflik dengan warga sekaligus menjaga keselamatan satwa, tim verifikasi memutuskan untuk berjaga dan bermalam di lokasi sambil menunggu kedatangan tim penyelamat.

Proses penyelamatan dilakukan tanpa menggunakan senjata atau sumpit bius. Keputusan ini diambil mengingat usia orangutan yang masih sangat muda, sehingga penggunaan anestesi dinilai berisiko. Penanganan dilakukan secara langsung oleh dokter hewan dan animal keeper berpengalaman.

“Secara fisik, Jani tergolong masih sangat muda. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan obat bius justru dapat meningkatkan risiko,” jelas Komara, dokter hewan YIARI yang terlibat langsung dalam proses penyelamatan.

“Penanganan manual menjadi pilihan paling aman, dengan tetap memperhatikan tingkat stres dan kondisi fisiologis satwa,” tambahnya.

Hasil pemeriksaan awal menunjukkan, bahwa Jani diperkirakan berusia sekitar 5 tahun. Pada usia tersebut, bayi orang utan seharusnya masih hidup bersama induknya.

“Di alam liar, anak orang utan sangat bergantung pada induknya hingga usia 6 - 8 tahun, baik untuk perlindungan, asupan nutrisi, maupun pembelajaran perilaku bertahan hidup,” terang Komara.

“Terpisah dari induknya pada usia ini sangat berisiko dan dapat mengancam keselamatan individunya,” lanjut dia.

Saat ini, Jani ditempatkan di ruang karantina YIARI dan akan menjalani serangkaian pemeriksaan medis lanjutan dalam beberapa hari ke depan, sambil menunggu kondisi stresnya stabil.

Ketua YIARI, Silverius Oscar Unggul mengatakan, bahwa kasus Jani mencerminkan tekanan yang terus meningkat terhadap habitat satwa liar akibat landskap yang terfragmentasi. YIARI dan BKSDA akan terus memantau kondisi di sekitar perkebunan guna mencari keberadaan induk Jani.

“Apabila induknya berhasil ditemukan, akan diupayakan proses pengembalian bayi orangutan ini kepada induknya sekaligus memindahkannya ke lokasi yang lebih aman. Namun, jika induknya tidak dapat ditemukan, Jani akan menjalani proses rehabilitasi hingga usianya mencukupi dan siap untuk dilepasliarkan ke habitat yang lebih layak,” pungkasnya. (Lid)