Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
patih jaga pati cup 2026
Patih Jaga Pati Cup 2026 Ditutup, Alexander Wilyo Ajak Masyarakat Rawat Tradisi dan Persatuan
Patih Jaga Pati Cup 2026 Ditutup, Alexander Wilyo Ajak Masyarakat Rawat Tradisi dan Persatuan
Wednesday, 19/08/2026

KALBARONLINE.com – Kejuaraan Menyumpit Patih Jaga Pati Cup 2026 resmi berakhir. Bupati Ketapang Alexander Wilyo menutup kegiatan tersebut di Halaman Kepatihan Jaga Pati, Senin (17/8/2026).

Penutupan kejuaraan yang digelar dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu ditandai dengan penyumpitan balon merah putih oleh Bupati Alexander Wilyo bersama Wakil Bupati Ketapang Jamhuri Amir, Sekretaris Daerah, Ketua DPRD, unsur Forkopimda dan Ketua KORMI.

Dalam sambutannya, Alexander Wilyo yang juga Patih Jaga Pati Laman Sembilan Domong Sepuluh Kerajaan Hulu Aik bergelar Raden Cendaga Pintu Bumi Jaga Banua mengatakan, Patih Jaga Pati Cup tidak sekadar menjadi ajang perlombaan.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk menjaga keberlangsungan tradisi leluhur sekaligus memperkuat persatuan masyarakat.

Ia menilai olahraga dan permainan tradisional seperti menyumpit, panjat pinang, balap karung hingga tarik tambang merupakan bagian dari identitas bangsa yang harus terus dikenalkan kepada generasi muda.

“Kita boleh bermain ke Singapura, berfoto di depan patung singa, tetapi kebahagiaannya berbeda. Melihat masyarakat tertawa dan bergembira dalam panjat pinang, inilah Indonesia,” tegas Alexander.

Ia juga mengajak masyarakat Ketapang tidak mudah terpecah akibat perbedaan pandangan maupun dinamika yang berkembang. Menurutnya, kritik dan perbedaan pendapat merupakan bagian dari demokrasi, namun persaudaraan tetap harus menjadi prioritas.

“Ketapang adalah rumah besar kita. Mari kita jaga, kita rawat dan kita bangun bersama-sama,” pesannya.

Selain pelestarian olahraga tradisional, Alexander turut menyoroti keberadaan Sanggar Kepatihan sebagai ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan bakat dan kreativitas di bidang seni budaya.

Ia menyebut Sanggar Kepatihan telah menunjukkan prestasi, salah satunya meraih juara I lomba tari tingkat Kalimantan Barat pada Pekan Seni Budaya Dayak.

“Energi anak-anak muda harus kita arahkan kepada hal-hal positif. Bakat dan kreativitas mereka bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga dapat mengharumkan nama Ketapang,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati Ketapang juga memberikan apresiasi kepada 27 anggota Paskibraka Kabupaten Ketapang, termasuk para pelatih dan pembina, yang telah menjalankan tugas pada upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Alexander kemudian mengingatkan seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan kondusivitas daerah. Ia juga mengajak masyarakat menghadapi berbagai tantangan yang masih dihadapi Ketapang, termasuk bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Ketapang harus kita jaga agar tetap aman, nyaman, rukun dan kondusif. Berbagai persoalan daerah harus kita hadapi bersama,” katanya.

Setelah prosesi penutupan, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian hadiah kepada para pemenang Patih Jaga Pati Cup 2026. Rangkaian acara juga dirangkaikan dengan peringatan ulang tahun ke-3 Sanggar Kepatihan yang ditandai pemotongan tumpeng.

Patih Jaga Pati Cup 2026 pun berakhir dengan pesan untuk terus menjaga tradisi, memperkuat persatuan serta membangun Ketapang secara bersama-sama. (Adi LC)

Patih Jaga Pati Cup 2026 Jadi Wadah Pelestarian Tradisi dan Semangat Kemerdekaan
Patih Jaga Pati Cup 2026 Jadi Wadah Pelestarian Tradisi dan Semangat Kemerdekaan
Sunday, 16/08/2026

KALBARONLINE.com – Kejuaraan Menyumpit Patih Jaga Pati Cup 2026 digelar di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus Anniversary Sanggar Kepatihan.

Kegiatan yang mengusung tema “Melestarikan Warisan, Menyatukan Semangat Kemerdekaan, Patih Jaga Pati Cup dalam Harmoni Anniversary Sanggar Kepatihan” tersebut berlangsung selama tiga hari, 15-17 Agustus 2026.

Selain kejuaraan menyumpit, kegiatan juga diisi berbagai perlombaan tradisional dan hiburan, baik secara individu maupun kelompok. Di antaranya lomba gasing, tarik tambang, panjat pinang, remi box, gaplek, catur, bola dangdut, karaoke dan sejumlah perlombaan lainnya.

Ketua Panitia, Merlin Ayen, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga menjadi sarana untuk mewariskan dan memperkenalkan tradisi kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

“Ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tapi juga menjadi ruang pewarisan dan pengenalan tradisi bagi masyarakat yang harus kita jaga dan kita kembangkan,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan dapat membuat generasi muda semakin mengenal, mencintai dan ikut melestarikan olahraga maupun budaya daerah.

Ia berharap Patih Jaga Pati Cup dapat terus diselenggarakan dan berkembang menjadi salah satu agenda budaya yang mampu mempertemukan masyarakat sekaligus memperkuat kecintaan generasi muda terhadap warisan daerah.

Sementara itu, Patih Jaga Pati Alexander Wilyo yang juga Bupati Ketapang mengatakan, menyumpit merupakan bagian dari olahraga sekaligus budaya yang telah berkembang dan dikenal hingga tingkat internasional.

“Menyumpit ini olahraga dan budaya yang sudah diakui dan diselenggarakan sampai tingkat internasional,” katanya.

Menurut Alexander, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk menyemarakkan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Ia menilai kegiatan yang melibatkan masyarakat dan generasi muda dapat menjadi salah satu sarana untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air.

“Semoga nasionalisme serta rasa cinta tanah air ini bisa kita pupuk dan terus tumbuh,” tuturnya.

Usai seremoni pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan aksi menyumpit bersama. Alexander Wilyo selaku Patih Jaga Pati sekaligus Pembina Sanggar Kepatihan turut ambil bagian bersama jajaran Forkopimda, kepala OPD dan para tamu undangan.

Aksi tersebut menjadi simbol kebersamaan dalam menjaga tradisi sekaligus merayakan semangat kemerdekaan.

Melalui Patih Jaga Pati Cup 2026, tradisi menyumpit diharapkan tidak hanya menjadi sebuah perlombaan, tetapi juga terus hidup sebagai bagian dari identitas budaya yang dapat diwariskan kepada generasi penerus. (Adi LC)