Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
pneumonia
RSUD Soedarso Catat 66 Kasus ISPA dan 127 Pneumonia Selama Enam Pekan, Diare Akut Mulai Meningkat
RSUD Soedarso Catat 66 Kasus ISPA dan 127 Pneumonia Selama Enam Pekan, Diare Akut Mulai Meningkat
Monday, 28/09/2026

KALBARONLINE.com – RSUD dr Soedarso Pontianak mencatat sejumlah kasus penyakit yang menjadi perhatian di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla dan kemarau panjang dalam beberapa pekan terakhir.

Direktur RSUD dr Soedarso, drg Hary Agung Tjahyadi, mengatakan berdasarkan pemantauan selama enam pekan, mulai minggu ke-32 pada 9 Agustus hingga minggu ke-37, belum terlihat lonjakan signifikan pada kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), pneumonia maupun diare akut.

“Dari data kita lihat penyakit ISPA tidak begitu menunjukkan jumlah yang banyak ditangani di RS. Awalnya ada 19 kasus pada minggu ke-32, kemudian fluktuatif turun di minggu ke-37,” ujarnya.

Selama periode tersebut, RSUD dr Soedarso menangani sebanyak 66 kasus ISPA. Jumlah kasus per minggu berada pada kisaran dua hingga 19 kasus.

Menurut Hary, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa gangguan kesehatan akibat kualitas udara tidak terjadi. Sebab, terdapat kecenderungan pergeseran diagnosis dari ISPA ringan ke infeksi saluran pernapasan yang lebih berat, seperti pneumonia.

“Kalau kita lihat catatan epidemiologi, penurunan angka pencatatan ISPA mulai fase ISPU berbahaya sering dipengaruhi pergeseran diagnosis ke infeksi lebih berat, ke pneumonia,” jelasnya.

Sementara itu, kasus pneumonia yang ditangani RSUD dr Soedarso selama minggu ke-32 hingga minggu ke-37 mencapai sekitar 127 kasus. Jumlah tersebut berfluktuasi antara 17 hingga 25 kasus per minggu.

Hary menegaskan, tidak seluruh kasus pneumonia tersebut dapat dipastikan sebagai dampak langsung paparan polutan udara akibat karhutla. Namun, kondisi kualitas udara yang tidak sehat tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai.

“Tidak semua pneumonia dipastikan itu dampak infeksi lanjut, misalnya karena polutan udara tidak sehat,” katanya.

Di sisi lain, RSUD dr Soedarso mulai mewaspadai peningkatan kasus diare akut yang dinilai berkaitan dengan terganggunya ketersediaan air bersih selama kemarau panjang.

Dalam periode yang sama, tercatat sekitar 138 kasus diare akut. Kasus tersebut menunjukkan kecenderungan meningkat pada minggu ke-36 hingga minggu ke-37.

“Ini harus menjadi kewaspadaan kasus diare akut. Karena asap dan kemarau panjang memicu kelangkaan pasokan air bersih pada masyarakat, dan air yang terkontaminasi bisa berujung pada lonjakan kasus diare akut,” ujarnya.

Hary mengatakan, persoalan kesehatan masyarakat saat ini tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara yang tidak sehat dan berbahaya, tetapi juga terganggunya akses terhadap air bersih.

Meski demikian, secara umum kondisi tiga penyakit tersebut masih dalam batas yang dapat ditangani RSUD dr Soedarso. Belum terdapat lonjakan kasus yang menyebabkan rumah sakit perlu menambah kapasitas tempat tidur khusus untuk menangani dampak karhutla maupun kemarau panjang.

“Kita belum melihat lonjakan kasus, sehingga belum ada tambahan bed dampak kasus karhutla dan kemarau. Dengan bed yang tersedia saat ini masih bisa memberikan pelayanan maksimal,” katanya.

Ia menambahkan, pasien dengan ISPA, pneumonia maupun diare yang membutuhkan rawat inap masih dapat ditangani dengan kapasitas yang tersedia. Sementara pasien pneumonia tertentu membutuhkan ruang isolasi karena termasuk penyakit infeksi.

Hary juga mengimbau masyarakat tetap menjaga kesehatan selama kualitas udara masih berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.

Kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta dan sensitif terhadap kualitas udara, seperti asma dan penyakit jantung, diminta lebih waspada.

“Selama udara masih kategori tidak sehat dan berbahaya, saran untuk masyarakat terutama kelompok rentan untuk menjaga kesehatan,” ujarnya.

Masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah serta menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat.

RSUD dr Soedarso, lanjut Hary, tetap meningkatkan kewaspadaan dan memastikan kesiapan pelayanan apabila terjadi peningkatan jumlah pasien akibat kondisi udara maupun gangguan ketersediaan air bersih. (Lid)

RSUD Soedarso Pastikan Siap Hadapi Lonjakan Pasien Gangguan Pernapasan Akibat Kabut Asap
RSUD Soedarso Pastikan Siap Hadapi Lonjakan Pasien Gangguan Pernapasan Akibat Kabut Asap
Friday, 14/08/2026

KALBARONLINE.com – RSUD Dr. Soedarso Pontianak memastikan kesiapan menghadapi potensi lonjakan pasien gangguan pernapasan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat.

Rumah sakit rujukan milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat itu memastikan stok oksigen, ruang perawatan hingga tenaga kesehatan dalam kondisi siap.

Direktur RSUD Dr. Soedarso, drg. Harry Agung Tjahyadi, mengatakan hingga saat ini jumlah pasien ISPA yang dirawat di rumah sakit belum mengalami peningkatan signifikan. Namun, rumah sakit tetap bersiaga karena kualitas udara yang memburuk berpotensi memicu bertambahnya kasus penyakit pernapasan.

“ISPA memang masih bisa ditangani di puskesmas, klinik, atau rumah sakit tipe C dan D. Kalau infeksinya berlanjut menjadi pneumonia atau infeksi akut lainnya, baru dirujuk ke RSUD Soedarso sebagai rumah sakit tipe A,” kata Harry.

Ia mengatakan, dalam lima pekan terakhir, kasus ISPA di RSUD Soedarso masih relatif normal. Meski demikian, pihaknya melihat adanya kecenderungan peningkatan kasus pneumonia yang merupakan infeksi lanjutan dari ISPA.

Menurut Harry, pasien yang memiliki riwayat penyakit pernapasan merupakan kelompok yang paling rentan terdampak kabut asap. Karena itu, mereka diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk.

“Kalau kualitas udara tidak baik, sebaiknya menghindari aktivitas di luar rumah agar infeksi tidak berkembang menjadi lebih berat,” ujarnya.

Harry memastikan RSUD Soedarso telah menyiapkan ruang rawat infeksius bagi pasien pneumonia. Kapasitas tempat tidur juga masih mencukupi sehingga belum diperlukan penambahan ruang perawatan.

Selain itu, ketersediaan oksigen dipastikan aman. Menurutnya, sebagai rumah sakit rujukan, RSUD Soedarso memang harus menjaga pasokan oksigen selama 24 jam untuk menangani pasien dengan gangguan pernapasan.

“Kalau pun nanti terjadi lonjakan pasien, kami sudah mengantisipasi. Kesiapan oksigen, pelayanan darurat, hingga ruang perawatan sudah kami siapkan,” katanya.

Harry menambahkan, pemantauan terhadap perkembangan kasus akan terus dilakukan selama kualitas udara di Kalimantan Barat masih berada pada kategori sedang hingga tidak sehat. (Lid)

ISPA Masih Terkendali, Kasus Pneumonia di RSUD Soedarso Cenderung Naik di Tengah Kabut Asap
ISPA Masih Terkendali, Kasus Pneumonia di RSUD Soedarso Cenderung Naik di Tengah Kabut Asap
Friday, 14/08/2026

KALBARONLINE.com – Direktur RSUD Dr. Soedarso, Harry Agung Tjahyadi, mengungkapkan jumlah pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih relatif stabil. Namun, kasus pneumonia di rumah sakit tersebut menunjukkan kecenderungan meningkat.

Harry mengatakan kualitas udara yang tidak sehat memang berpotensi meningkatkan kasus gangguan pernapasan, termasuk ISPA. Namun, sebagian besar kasus ISPA masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas dan klinik.

“Kalau infeksinya berlanjut menjadi akut atau kronis hingga pneumonia, baru dirujuk ke rumah sakit tipe A seperti RSUD Soedarso,” kata Harry.

Ia menjelaskan, berdasarkan pemantauan selama lima minggu terakhir, belum terjadi lonjakan pasien ISPA yang dirawat di RSUD Soedarso. Namun, kasus pneumonia menunjukkan kecenderungan meningkat.

Menurutnya, peningkatan tersebut juga bergantung pada pola rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rumah sakit rujukan.

Harry mengatakan seluruh fasilitas kesehatan harus memastikan kesiapan dalam menangani pasien gangguan pernapasan, mulai dari ketersediaan obat-obatan, oksigen hingga sarana penanganan kondisi darurat.

“Yang penting semuanya harus siap memberikan penanganan yang baik, termasuk kesiapan oksigen dan peralatan untuk kedaruratan pernapasan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pneumonia merupakan infeksi lanjutan yang dapat berkembang dari ISPA, terutama pada kelompok yang memiliki penyakit penyerta atau gangguan saluran pernapasan. Kondisi tersebut dapat dipicu oleh paparan kualitas udara yang buruk, termasuk kabut asap.

Karena itu, masyarakat yang memiliki risiko tinggi terhadap penyakit pernapasan diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk.

“Biasanya pasien yang memang rentan sudah mempersiapkan diri dengan menghindari keluar rumah pada saat kualitas udara sedang tidak baik,” katanya.

Harry memastikan RSUD Soedarso memiliki ruang rawat inap infeksius untuk menangani pasien pneumonia. Hingga saat ini, kapasitas tempat tidur masih mencukupi dan belum diperlukan penambahan.

“Kalau pasien hanya membutuhkan bantuan oksigen dan kondisinya membaik, bisa dipulangkan. Jadi sejauh ini masih aman dan terkendali,” ujarnya.

Ia juga memastikan stok oksigen di RSUD Soedarso dalam kondisi aman. Menurutnya, rumah sakit telah menyiapkan layanan oksigen selama 24 jam sebagai bagian dari pelayanan kegawatdaruratan dan siap menghadapi kemungkinan lonjakan pasien akibat dampak kabut asap. (Lid)

RSUD Soedarso Waspadai Lonjakan Pneumonia di Tengah Kabut Asap Karhutla
RSUD Soedarso Waspadai Lonjakan Pneumonia di Tengah Kabut Asap Karhutla
Wednesday, 12/08/2026

KALBARONLINE.com – RSUD dr. Soedarso Pontianak meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi lonjakan penyakit pernapasan, khususnya pneumonia, di tengah memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.

Direktur RSUD dr. Soedarso Pontianak, drg. Hary Agung Tjahyadi, mengatakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di rumah sakit rujukan kelas A tersebut masih relatif stabil dalam lima minggu terakhir.

Namun, kewaspadaan tetap ditingkatkan menyusul adanya tren peningkatan kasus pneumonia.

“Kasus ISPA cukup stabil di RSUD dr. Soedarso dalam lima minggu terakhir, tidak ada peningkatan kasus. Meski secara umum di Kalbar tercatat peningkatan kasus ISPA dalam dua minggu terakhir, kami tetap akan meningkatkan kewaspadaan,” ujar Hary.

Hingga minggu epidemiologi (ME) 31, kasus pneumonia di RSUD dr. Soedarso tercatat meningkat dari 16 kasus pada ME 27 menjadi 29 kasus.

Menurut Hary, kondisi tersebut menjadi perhatian karena paparan asap karhutla dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan. Partikel halus seperti PM2.5 dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan memicu iritasi serta mengganggu mekanisme pertahanan tubuh.

Meski demikian, ia menegaskan paparan asap tidak serta-merta menyebabkan pneumonia.

“Asap dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan maupun infeksi saluran pernapasan, terutama pada kelompok rentan,” katanya.

Hary menyebut diperlukan analisis lebih mendalam untuk memastikan faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus pneumonia.

“Tim surveilans perlu melakukan analisis secara berkesinambungan dan lebih mendalam untuk memastikan apakah pneumonia berkaitan dengan ISPA sebelumnya, eksaserbasi asma, paparan asap, komorbid, atau etiologi infeksi lain,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, RSUD dr. Soedarso memperkuat surveilans epidemiologi klinis sekaligus memastikan ketersediaan oksigen, obat-obatan, peralatan medis, dan ruang perawatan.

Pasien dengan keluhan pernapasan yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) akan menjalani proses triase untuk mengetahui kondisi oksigenasi dan menentukan penanganan sesuai kondisi klinis.

Stabilisasi oksigenasi, terapi inhalasi maupun nebulisasi akan diberikan sesuai indikasi. Rumah sakit juga memastikan kesiapan bronkodilator, nebulizer, kanul oksigen hingga alat bantu napas seperti ventilator untuk menangani pasien dengan gangguan pernapasan berat.

“Kami tetap akan meningkatkan kewaspadaan melalui monitoring surveilans epidemiologi klinis RS dan kesiapan terkait ketersediaan oksigen dan obat-obatan apabila terjadi rujukan terhadap infeksi pernapasan yang berlanjut dan pneumonia,” kata Hary.

Kapasitas ruang perawatan paru dan ruang isolasi respirasi juga dipantau secara berkala. Hingga ME 31, RSUD dr. Soedarso belum memerlukan penambahan tempat tidur karena jumlah pasien masih dapat ditangani dengan kapasitas yang tersedia.

“Belum diperlukan penambahan tempat tidur karena kasus masih dapat tertangani dengan baik. Namun, kapasitas perlu dievaluasi secara berkala apabila terjadi peningkatan kasus lebih lanjut,” ujarnya.

Sementara itu, data Kalimantan Barat hingga ME 31 menunjukkan kasus ISPA meningkat dari 5.269 menjadi 5.837 kasus. Kasus pneumonia juga naik dari 202 menjadi 250 kasus.

Hary mengatakan peningkatan tersebut perlu dianalisis secara komprehensif dan tidak langsung dikaitkan dengan paparan asap karhutla.

Analisis akan mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari riwayat ISPA, eksaserbasi asma, penyakit penyerta, paparan asap hingga kemungkinan penyebab infeksi lainnya.

Sebagai rumah sakit rujukan tertinggi di Kalimantan Barat, RSUD dr. Soedarso lebih banyak menangani pasien yang membutuhkan pelayanan lanjutan. Sementara kasus ISPA ringan umumnya ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun rumah sakit kelas C dan D.

Karena itu, Hary menegaskan kesiapsiagaan dilakukan sejak tren peningkatan penyakit mulai terdeteksi.

“Kami tidak ingin menunggu sampai terjadi lonjakan kasus baru kemudian melakukan persiapan,” tegasnya.

Pemantauan tren penyakit, kesiapan tenaga medis, ketersediaan oksigen dan obat-obatan, peralatan bantu napas, ruang perawatan hingga pelayanan IGD terus diperkuat untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan kasus pneumonia maupun penyakit pernapasan lainnya di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk akibat karhutla. (Lid)