Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
rintik sedu
Rintik Sedu: Penulis Harus Siap Dikritik, Jangan Takut Ada yang Tak Suka
Rintik Sedu: Penulis Harus Siap Dikritik, Jangan Takut Ada yang Tak Suka
Saturday, 01/08/2026

KALBARONLINE.com – Penulis novel Nadhifa Allya Tsana atau yang lebih dikenal dengan nama pena Rintik Sedu, membagikan pesan kepada para penulis muda agar tidak takut menghadapi kritik saat berkarya.

Pesan tersebut disampaikan Tsana saat menggelar meet and greet sekaligus memperkenalkan buku terbarunya berjudul “Musim yang Tak Sempat Kita Miliki” di Gramedia Gaia Bumi Raya City, Pontianak, Sabtu (1/8/2026).

Menurut Tsana, kritik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan seorang penulis. Ia menilai sebuah karya tidak harus selalu disukai oleh semua orang.

“Kalau kita menulis atau kita berkarya, harus ada yang enggak suka, harus ada yang kritik, harus ada yang bilang itu jelek,” ujarnya.

Perempuan yang akrab disapa Paus itu mengaku selalu menantikan berbagai tanggapan dari pembaca setiap kali menerbitkan karya baru.

Baginya, kritik menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas tulisan dan menghasilkan karya yang lebih baik ke depannya.

“Aku selalu menunggu itu, dari satu buku ke buku berikutnya,” katanya.

Tsana juga menceritakan pengalaman ketika dirinya membutuhkan waktu cukup lama untuk menyelesaikan buku kelimanya.

Saat itu, ia mengaku terlalu banyak membaca ulasan negatif hingga membuatnya mulai meragukan kualitas tulisannya sendiri.

“Ke buku nomor lima aku ada jeda yang cukup jauh karena kelamaan baca review jelek. Sampai mikir, ‘oh iya ya, memang jelek banget ya’,” tuturnya sambil tertawa.

Namun, pengalaman tersebut justru menjadi pembelajaran bagi Tsana agar tidak menghindari kritik.

“Kalau teman-teman berkarya, jangan menghindari kritik. Harus menghadapi, karena dari situ kita belajar juga,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, penulis yang telah melahirkan sejumlah novel populer itu juga mendorong para calon penulis agar berani menunjukkan karya mereka kepada publik.

Menurutnya, tulisan yang baik bukanlah tulisan yang harus sempurna, melainkan tulisan yang selesai dan memiliki kesempatan untuk dibaca orang lain.

“Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai, disampaikan, dan ditunjukkan ke orang. Selama tulisan itu cuma ada di laptop atau buku, tulisan itu belum hidup,” pungkasnya. (Lid)

Tsana Ungkap Alasan Pilih Nama Pena Rintik Sedu: Ingin Pembaca Fokus pada Tulisan
Tsana Ungkap Alasan Pilih Nama Pena Rintik Sedu: Ingin Pembaca Fokus pada Tulisan
Saturday, 01/08/2026

KALBARONLINE.com – Penulis novel Nadhifa Allya Tsana atau yang akrab disapa Paus, mengungkap alasan di balik pemilihan nama pena Rintik Sedu saat bertemu para pembaca di Gramedia Gaia Bumi Raya City, Pontianak, Sabtu (1/8/2026).

Menurut Tsana, penggunaan nama pena tersebut berawal dari keinginannya agar pembaca lebih mengenal karya yang ia tulis, bukan berfokus pada sosok penulisnya.

“Aku pengin orang fokus dengan apa yang aku tulis, bukan siapa orang di baliknya. Aku ingin membuat ruang baru tanpa orang tahu siapa yang menulis,” ujarnya.

Ia menjelaskan, nama Rintik dipilih karena menggambarkan hujan yang memberikan kesan menenangkan dan hadir tanpa mengganggu.

Sementara kata Sedu dipilih karena sebagian besar karya yang ditulisnya banyak mengangkat tema emosi dan kesedihan yang terkadang sulit disampaikan banyak orang.

“Rintik itu menenangkan dan cepat berlalu. Sedu karena aku tahu apa yang aku tulis arahnya memang ke hal-hal sedih yang orang susah sampaikan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, penulis novel “Musim yang Tak Sempat Kita Miliki” itu juga membagikan kisah perjalanan hingga akhirnya dikenal sebagai penulis.

Tsana mengaku sejak kecil sudah memiliki kebiasaan menulis di berbagai media. Namun, saat itu ia belum menyadari bahwa aktivitas tersebut kelak menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

“Aku menemukan perasaan lengkap lewat menulis. Sampai sekarang pun susah menjelaskan kenapa, tapi menulis selalu jadi tempat aku pulang,” ungkapnya.

Ia menceritakan, buku pertamanya terbit pada 2017 setelah tulisannya mulai dikenal melalui blog, Instagram, hingga platform Wattpad.

Menurut Tsana, perjalanan menjadi penulis tidak pernah direncanakan sebelumnya karena sejak kecil dirinya justru diarahkan keluarga untuk menjadi seorang dokter.

Tsana juga berpesan kepada para penulis muda agar tidak takut menerima kritik.

Menurutnya, kritik merupakan bagian penting dalam proses berkembang dan memperbaiki kualitas karya.

“Kalau kita menulis atau berkarya, harus ada yang enggak suka, harus ada yang mengkritik. Dari situ kita belajar,” tuturnya.

Saat ini, Tsana mengaku banyak mendapatkan inspirasi dari berbagai fenomena yang ramai diperbincangkan di media sosial.

Ia rutin membaca komentar warganet untuk memahami berbagai keresahan yang sedang dirasakan banyak orang.

“Menurut aku, sensitif terhadap isu yang dekat dengan pembaca itu sangat penting buat menulis buku,” katanya.

Di akhir sesi, Tsana juga mengingatkan calon penulis agar tidak terlalu lama menyimpan karya mereka.

Menurutnya, sebuah tulisan baru dapat memberikan makna ketika dibagikan dan mendapat respons dari pembaca.

“Tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai, lalu disampaikan kepada orang. Selama hanya disimpan di laptop atau buku, tulisan itu belum hidup,” pungkasnya. (Lid)

Sapa Penggemar di Pontianak, Tsana ‘Rintik Sedu’ Ungkap Awal Mula Jadi Penulis
Sapa Penggemar di Pontianak, Tsana ‘Rintik Sedu’ Ungkap Awal Mula Jadi Penulis
Saturday, 01/08/2026

KALBARONLINE.com – Penulis Rintik Sedu, Nadhifa Allya Tsana atau yang akrab disapa Paus, menyapa para pembacanya dalam acara meet and greet di Gramedia Gaia Bumi Raya City, Pontianak, Sabtu (1/8/2026).

Pontianak menjadi salah satu kota dalam rangkaian tur peluncuran novel terbarunya berjudul “Musim yang Tak Sempat Kita Miliki”.

Sebelum hadir di Pontianak, Tsana telah menyambangi sejumlah kota seperti Bandung, Yogyakarta, Pekanbaru, dan Makassar dalam rangkaian promosi karya terbarunya.

Dalam sesi tanya jawab, Tsana menceritakan alasan di balik penggunaan nama pena Rintik Sedu yang selama ini dikenal oleh para pembacanya.

Menurutnya, sejak awal ia ingin pembaca lebih mengenal karya yang ditulis dibandingkan sosok penulisnya.

“Awalnya saya ingin orang fokus pada apa yang saya tulis, bukan siapa yang menulisnya. Saya ingin membuat ruang baru tanpa orang melihat siapa penulisnya,” ujar Tsana.

Ia menjelaskan, kata Rintik dipilih karena memiliki kesan menenangkan, sementara Sedu menggambarkan tema kesedihan yang sering hadir dalam karya-karyanya.

Selain membahas nama pena, Tsana juga membagikan perjalanan panjangnya hingga dikenal sebagai penulis.

Ia mengaku tidak pernah memiliki cita-cita menjadi seorang penulis karena sejak kecil justru diarahkan untuk menempuh profesi sebagai dokter.

Namun, kebiasaan menulis sejak remaja perlahan membawanya dikenal luas melalui blog dan platform Wattpad hingga akhirnya mendapatkan kesempatan menerbitkan buku.

Kepada para penulis muda, Tsana berpesan agar tidak takut menghadapi kritik ketika mulai berkarya.

“Kalau kita berkarya, pasti akan ada yang tidak suka, ada yang mengkritik. Justru dari situ kita belajar menjadi lebih baik,” katanya.

Menurutnya, sebuah tulisan tidak harus menunggu sempurna untuk dibagikan kepada pembaca.

“Selama tulisan itu hanya disimpan di laptop atau buku catatan, tulisan itu belum hidup. Tulisan harus disampaikan supaya mendapat respons dan masukan,” ujarnya.

Tsana juga mengungkapkan bahwa saat ini dirinya banyak mencari inspirasi dari berbagai isu yang ramai diperbincangkan di media sosial.

Baginya, seorang penulis harus memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan pembaca.

Selain sesi diskusi, acara yang digelar Gramedia tersebut juga menghadirkan sesi foto bersama dan penandatanganan buku.

Kesempatan tersebut diberikan kepada 100 pembaca pertama yang membeli novel “Musim yang Tak Sempat Kita Miliki”.

Kegiatan meet and greet yang berlangsung gratis dan terbuka untuk umum tersebut mendapat sambutan antusias dari ratusan penggemar yang memadati lokasi acara. (Lid)