Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
rsud soedarso
RSUD Soedarso Catat 66 Kasus ISPA dan 127 Pneumonia Selama Enam Pekan, Diare Akut Mulai Meningkat
RSUD Soedarso Catat 66 Kasus ISPA dan 127 Pneumonia Selama Enam Pekan, Diare Akut Mulai Meningkat
Monday, 28/09/2026

KALBARONLINE.com – RSUD dr Soedarso Pontianak mencatat sejumlah kasus penyakit yang menjadi perhatian di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla dan kemarau panjang dalam beberapa pekan terakhir.

Direktur RSUD dr Soedarso, drg Hary Agung Tjahyadi, mengatakan berdasarkan pemantauan selama enam pekan, mulai minggu ke-32 pada 9 Agustus hingga minggu ke-37, belum terlihat lonjakan signifikan pada kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), pneumonia maupun diare akut.

“Dari data kita lihat penyakit ISPA tidak begitu menunjukkan jumlah yang banyak ditangani di RS. Awalnya ada 19 kasus pada minggu ke-32, kemudian fluktuatif turun di minggu ke-37,” ujarnya.

Selama periode tersebut, RSUD dr Soedarso menangani sebanyak 66 kasus ISPA. Jumlah kasus per minggu berada pada kisaran dua hingga 19 kasus.

Menurut Hary, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa gangguan kesehatan akibat kualitas udara tidak terjadi. Sebab, terdapat kecenderungan pergeseran diagnosis dari ISPA ringan ke infeksi saluran pernapasan yang lebih berat, seperti pneumonia.

“Kalau kita lihat catatan epidemiologi, penurunan angka pencatatan ISPA mulai fase ISPU berbahaya sering dipengaruhi pergeseran diagnosis ke infeksi lebih berat, ke pneumonia,” jelasnya.

Sementara itu, kasus pneumonia yang ditangani RSUD dr Soedarso selama minggu ke-32 hingga minggu ke-37 mencapai sekitar 127 kasus. Jumlah tersebut berfluktuasi antara 17 hingga 25 kasus per minggu.

Hary menegaskan, tidak seluruh kasus pneumonia tersebut dapat dipastikan sebagai dampak langsung paparan polutan udara akibat karhutla. Namun, kondisi kualitas udara yang tidak sehat tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai.

“Tidak semua pneumonia dipastikan itu dampak infeksi lanjut, misalnya karena polutan udara tidak sehat,” katanya.

Di sisi lain, RSUD dr Soedarso mulai mewaspadai peningkatan kasus diare akut yang dinilai berkaitan dengan terganggunya ketersediaan air bersih selama kemarau panjang.

Dalam periode yang sama, tercatat sekitar 138 kasus diare akut. Kasus tersebut menunjukkan kecenderungan meningkat pada minggu ke-36 hingga minggu ke-37.

“Ini harus menjadi kewaspadaan kasus diare akut. Karena asap dan kemarau panjang memicu kelangkaan pasokan air bersih pada masyarakat, dan air yang terkontaminasi bisa berujung pada lonjakan kasus diare akut,” ujarnya.

Hary mengatakan, persoalan kesehatan masyarakat saat ini tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara yang tidak sehat dan berbahaya, tetapi juga terganggunya akses terhadap air bersih.

Meski demikian, secara umum kondisi tiga penyakit tersebut masih dalam batas yang dapat ditangani RSUD dr Soedarso. Belum terdapat lonjakan kasus yang menyebabkan rumah sakit perlu menambah kapasitas tempat tidur khusus untuk menangani dampak karhutla maupun kemarau panjang.

“Kita belum melihat lonjakan kasus, sehingga belum ada tambahan bed dampak kasus karhutla dan kemarau. Dengan bed yang tersedia saat ini masih bisa memberikan pelayanan maksimal,” katanya.

Ia menambahkan, pasien dengan ISPA, pneumonia maupun diare yang membutuhkan rawat inap masih dapat ditangani dengan kapasitas yang tersedia. Sementara pasien pneumonia tertentu membutuhkan ruang isolasi karena termasuk penyakit infeksi.

Hary juga mengimbau masyarakat tetap menjaga kesehatan selama kualitas udara masih berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.

Kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta dan sensitif terhadap kualitas udara, seperti asma dan penyakit jantung, diminta lebih waspada.

“Selama udara masih kategori tidak sehat dan berbahaya, saran untuk masyarakat terutama kelompok rentan untuk menjaga kesehatan,” ujarnya.

Masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah serta menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat.

RSUD dr Soedarso, lanjut Hary, tetap meningkatkan kewaspadaan dan memastikan kesiapan pelayanan apabila terjadi peningkatan jumlah pasien akibat kondisi udara maupun gangguan ketersediaan air bersih. (Lid)

Mobil Masuk Jurang, Sopir Ambulans RSUD Soedarso Meninggal Dunia Saat Antar Jenazah ke Melawi
Mobil Masuk Jurang, Sopir Ambulans RSUD Soedarso Meninggal Dunia Saat Antar Jenazah ke Melawi
Monday, 17/08/2026

KALBARONLINE.com – Seorang sopir ambulans RSUD dr. Soedarso Pontianak, Septian Rony, meninggal dunia setelah ambulans yang dikemudikannya tergelincir masuk jurang saat dalam perjalanan mengantar jenazah ke Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.

Septian merupakan tenaga BLUD RSUD dr. Soedarso yang bertugas sebagai sopir ambulans. Ia juga telah mengikuti pelatihan dan memiliki sertifikasi sebagai pengemudi ambulans.

Direktur RSUD dr. Soedarso Pontianak, Hary Agung Tjahyadi, mengatakan sebelum berangkat, Rony dalam kondisi sehat dan tidak mengeluhkan sakit apa pun.

"Beliau berangkat sekitar pukul 09.00 WIB dalam kondisi tidak ada keluhan sakit. Sebelum berangkat, beliau sempat makan dan minum bersama pengemudi ambulans lainnya," kata Hary.

Rony kemudian berangkat menuju Melawi setelah mendapat izin dari koordinator layanan ambulans. Dalam perjalanan, ambulans tersebut membawa jenazah bersama keluarga yang mendampingi.

Namun, saat melintasi jalan menanjak di wilayah Melawi, kondisi Rony tiba-tiba memburuk. Ia sempat mengeluhkan sakit perut dan mengalami keringat dingin.

"Di perjalanan, ketika jalan menanjak, beliau merasa sakit perut dan keringat dingin. Kemudian beliau tidak sadarkan diri," ujar Hary.

Kondisi tersebut membuat ambulans yang dikemudikan Rony kehilangan kendali. Kendaraan kemudian bergerak mundur dan tergelincir hingga masuk ke jurang.

Rony meninggal dunia dalam insiden tersebut. Sementara jenazah yang sedang diantar tetap berada di dalam ambulans bersama keluarga yang mendampinginya.

Hary mengatakan pihak rumah sakit masih menunggu hasil pemeriksaan untuk memastikan faktor yang menyebabkan Rony kehilangan kesadaran hingga akhirnya meninggal dunia.

"Jenazah saat ini dilakukan pemeriksaan visum luar oleh dokter forensik RSUD dr. Soedarso untuk mengetahui faktor-faktor yang kemungkinan menyebabkan beliau tidak sadarkan diri dan meninggal," katanya.

Rony diketahui merupakan sopir ambulans yang telah mendapatkan pelatihan khusus dan sertifikasi sebagai pengemudi ambulans.

Pihak rumah sakit juga menyampaikan duka cita atas meninggalnya Rony. Jenazah rencananya dimakamkan pada Selasa (18/8/2026) sekitar pukul 09.00 WIB dari rumah duka. (Lid)

RSUD Soedarso Pastikan Siap Hadapi Lonjakan Pasien Gangguan Pernapasan Akibat Kabut Asap
RSUD Soedarso Pastikan Siap Hadapi Lonjakan Pasien Gangguan Pernapasan Akibat Kabut Asap
Friday, 14/08/2026

KALBARONLINE.com – RSUD Dr. Soedarso Pontianak memastikan kesiapan menghadapi potensi lonjakan pasien gangguan pernapasan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat.

Rumah sakit rujukan milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat itu memastikan stok oksigen, ruang perawatan hingga tenaga kesehatan dalam kondisi siap.

Direktur RSUD Dr. Soedarso, drg. Harry Agung Tjahyadi, mengatakan hingga saat ini jumlah pasien ISPA yang dirawat di rumah sakit belum mengalami peningkatan signifikan. Namun, rumah sakit tetap bersiaga karena kualitas udara yang memburuk berpotensi memicu bertambahnya kasus penyakit pernapasan.

“ISPA memang masih bisa ditangani di puskesmas, klinik, atau rumah sakit tipe C dan D. Kalau infeksinya berlanjut menjadi pneumonia atau infeksi akut lainnya, baru dirujuk ke RSUD Soedarso sebagai rumah sakit tipe A,” kata Harry.

Ia mengatakan, dalam lima pekan terakhir, kasus ISPA di RSUD Soedarso masih relatif normal. Meski demikian, pihaknya melihat adanya kecenderungan peningkatan kasus pneumonia yang merupakan infeksi lanjutan dari ISPA.

Menurut Harry, pasien yang memiliki riwayat penyakit pernapasan merupakan kelompok yang paling rentan terdampak kabut asap. Karena itu, mereka diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk.

“Kalau kualitas udara tidak baik, sebaiknya menghindari aktivitas di luar rumah agar infeksi tidak berkembang menjadi lebih berat,” ujarnya.

Harry memastikan RSUD Soedarso telah menyiapkan ruang rawat infeksius bagi pasien pneumonia. Kapasitas tempat tidur juga masih mencukupi sehingga belum diperlukan penambahan ruang perawatan.

Selain itu, ketersediaan oksigen dipastikan aman. Menurutnya, sebagai rumah sakit rujukan, RSUD Soedarso memang harus menjaga pasokan oksigen selama 24 jam untuk menangani pasien dengan gangguan pernapasan.

“Kalau pun nanti terjadi lonjakan pasien, kami sudah mengantisipasi. Kesiapan oksigen, pelayanan darurat, hingga ruang perawatan sudah kami siapkan,” katanya.

Harry menambahkan, pemantauan terhadap perkembangan kasus akan terus dilakukan selama kualitas udara di Kalimantan Barat masih berada pada kategori sedang hingga tidak sehat. (Lid)

ISPA Masih Terkendali, Kasus Pneumonia di RSUD Soedarso Cenderung Naik di Tengah Kabut Asap
ISPA Masih Terkendali, Kasus Pneumonia di RSUD Soedarso Cenderung Naik di Tengah Kabut Asap
Friday, 14/08/2026

KALBARONLINE.com – Direktur RSUD Dr. Soedarso, Harry Agung Tjahyadi, mengungkapkan jumlah pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih relatif stabil. Namun, kasus pneumonia di rumah sakit tersebut menunjukkan kecenderungan meningkat.

Harry mengatakan kualitas udara yang tidak sehat memang berpotensi meningkatkan kasus gangguan pernapasan, termasuk ISPA. Namun, sebagian besar kasus ISPA masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas dan klinik.

“Kalau infeksinya berlanjut menjadi akut atau kronis hingga pneumonia, baru dirujuk ke rumah sakit tipe A seperti RSUD Soedarso,” kata Harry.

Ia menjelaskan, berdasarkan pemantauan selama lima minggu terakhir, belum terjadi lonjakan pasien ISPA yang dirawat di RSUD Soedarso. Namun, kasus pneumonia menunjukkan kecenderungan meningkat.

Menurutnya, peningkatan tersebut juga bergantung pada pola rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rumah sakit rujukan.

Harry mengatakan seluruh fasilitas kesehatan harus memastikan kesiapan dalam menangani pasien gangguan pernapasan, mulai dari ketersediaan obat-obatan, oksigen hingga sarana penanganan kondisi darurat.

“Yang penting semuanya harus siap memberikan penanganan yang baik, termasuk kesiapan oksigen dan peralatan untuk kedaruratan pernapasan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pneumonia merupakan infeksi lanjutan yang dapat berkembang dari ISPA, terutama pada kelompok yang memiliki penyakit penyerta atau gangguan saluran pernapasan. Kondisi tersebut dapat dipicu oleh paparan kualitas udara yang buruk, termasuk kabut asap.

Karena itu, masyarakat yang memiliki risiko tinggi terhadap penyakit pernapasan diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk.

“Biasanya pasien yang memang rentan sudah mempersiapkan diri dengan menghindari keluar rumah pada saat kualitas udara sedang tidak baik,” katanya.

Harry memastikan RSUD Soedarso memiliki ruang rawat inap infeksius untuk menangani pasien pneumonia. Hingga saat ini, kapasitas tempat tidur masih mencukupi dan belum diperlukan penambahan.

“Kalau pasien hanya membutuhkan bantuan oksigen dan kondisinya membaik, bisa dipulangkan. Jadi sejauh ini masih aman dan terkendali,” ujarnya.

Ia juga memastikan stok oksigen di RSUD Soedarso dalam kondisi aman. Menurutnya, rumah sakit telah menyiapkan layanan oksigen selama 24 jam sebagai bagian dari pelayanan kegawatdaruratan dan siap menghadapi kemungkinan lonjakan pasien akibat dampak kabut asap. (Lid)

RSUD Soedarso Waspadai Lonjakan Pneumonia di Tengah Kabut Asap Karhutla
RSUD Soedarso Waspadai Lonjakan Pneumonia di Tengah Kabut Asap Karhutla
Wednesday, 12/08/2026

KALBARONLINE.com – RSUD dr. Soedarso Pontianak meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi lonjakan penyakit pernapasan, khususnya pneumonia, di tengah memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.

Direktur RSUD dr. Soedarso Pontianak, drg. Hary Agung Tjahyadi, mengatakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di rumah sakit rujukan kelas A tersebut masih relatif stabil dalam lima minggu terakhir.

Namun, kewaspadaan tetap ditingkatkan menyusul adanya tren peningkatan kasus pneumonia.

“Kasus ISPA cukup stabil di RSUD dr. Soedarso dalam lima minggu terakhir, tidak ada peningkatan kasus. Meski secara umum di Kalbar tercatat peningkatan kasus ISPA dalam dua minggu terakhir, kami tetap akan meningkatkan kewaspadaan,” ujar Hary.

Hingga minggu epidemiologi (ME) 31, kasus pneumonia di RSUD dr. Soedarso tercatat meningkat dari 16 kasus pada ME 27 menjadi 29 kasus.

Menurut Hary, kondisi tersebut menjadi perhatian karena paparan asap karhutla dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan. Partikel halus seperti PM2.5 dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan memicu iritasi serta mengganggu mekanisme pertahanan tubuh.

Meski demikian, ia menegaskan paparan asap tidak serta-merta menyebabkan pneumonia.

“Asap dapat meningkatkan kerentanan terhadap gangguan maupun infeksi saluran pernapasan, terutama pada kelompok rentan,” katanya.

Hary menyebut diperlukan analisis lebih mendalam untuk memastikan faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus pneumonia.

“Tim surveilans perlu melakukan analisis secara berkesinambungan dan lebih mendalam untuk memastikan apakah pneumonia berkaitan dengan ISPA sebelumnya, eksaserbasi asma, paparan asap, komorbid, atau etiologi infeksi lain,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, RSUD dr. Soedarso memperkuat surveilans epidemiologi klinis sekaligus memastikan ketersediaan oksigen, obat-obatan, peralatan medis, dan ruang perawatan.

Pasien dengan keluhan pernapasan yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) akan menjalani proses triase untuk mengetahui kondisi oksigenasi dan menentukan penanganan sesuai kondisi klinis.

Stabilisasi oksigenasi, terapi inhalasi maupun nebulisasi akan diberikan sesuai indikasi. Rumah sakit juga memastikan kesiapan bronkodilator, nebulizer, kanul oksigen hingga alat bantu napas seperti ventilator untuk menangani pasien dengan gangguan pernapasan berat.

“Kami tetap akan meningkatkan kewaspadaan melalui monitoring surveilans epidemiologi klinis RS dan kesiapan terkait ketersediaan oksigen dan obat-obatan apabila terjadi rujukan terhadap infeksi pernapasan yang berlanjut dan pneumonia,” kata Hary.

Kapasitas ruang perawatan paru dan ruang isolasi respirasi juga dipantau secara berkala. Hingga ME 31, RSUD dr. Soedarso belum memerlukan penambahan tempat tidur karena jumlah pasien masih dapat ditangani dengan kapasitas yang tersedia.

“Belum diperlukan penambahan tempat tidur karena kasus masih dapat tertangani dengan baik. Namun, kapasitas perlu dievaluasi secara berkala apabila terjadi peningkatan kasus lebih lanjut,” ujarnya.

Sementara itu, data Kalimantan Barat hingga ME 31 menunjukkan kasus ISPA meningkat dari 5.269 menjadi 5.837 kasus. Kasus pneumonia juga naik dari 202 menjadi 250 kasus.

Hary mengatakan peningkatan tersebut perlu dianalisis secara komprehensif dan tidak langsung dikaitkan dengan paparan asap karhutla.

Analisis akan mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari riwayat ISPA, eksaserbasi asma, penyakit penyerta, paparan asap hingga kemungkinan penyebab infeksi lainnya.

Sebagai rumah sakit rujukan tertinggi di Kalimantan Barat, RSUD dr. Soedarso lebih banyak menangani pasien yang membutuhkan pelayanan lanjutan. Sementara kasus ISPA ringan umumnya ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun rumah sakit kelas C dan D.

Karena itu, Hary menegaskan kesiapsiagaan dilakukan sejak tren peningkatan penyakit mulai terdeteksi.

“Kami tidak ingin menunggu sampai terjadi lonjakan kasus baru kemudian melakukan persiapan,” tegasnya.

Pemantauan tren penyakit, kesiapan tenaga medis, ketersediaan oksigen dan obat-obatan, peralatan bantu napas, ruang perawatan hingga pelayanan IGD terus diperkuat untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan kasus pneumonia maupun penyakit pernapasan lainnya di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk akibat karhutla. (Lid)

Masih Banyak Warga Kalbar Berobat ke Malaysia, RSUD Soedarso Akui Tantangan Pelayanan dan Dokter Spesialis
Masih Banyak Warga Kalbar Berobat ke Malaysia, RSUD Soedarso Akui Tantangan Pelayanan dan Dokter Spesialis
Friday, 12/06/2026

KALBARONLINE.com – Meski fasilitas kesehatan di Kalimantan Barat terus berkembang, masih banyak masyarakat yang memilih berobat ke luar negeri, khususnya ke rumah sakit swasta di Kuching dan Kuala Lumpur, Malaysia.

Fenomena tersebut diakui Direktur RSUD Soedarso Pontianak, Harry Agung. Menurutnya, kondisi itu menjadi tantangan sekaligus dorongan bagi rumah sakit daerah untuk terus meningkatkan kualitas layanan kesehatan agar mampu bersaing dan memenuhi harapan masyarakat.

Harry menilai, upaya peningkatan layanan tidak hanya berfokus pada teknologi maupun fasilitas kesehatan, tetapi juga menyangkut kualitas pelayanan kepada pasien. Keramahan petugas serta kecepatan pelayanan dinilai menjadi faktor penting yang perlu terus diperbaiki.

“Yang perlu terus dioptimalkan bukan hanya kualitas teknologinya, tetapi bagaimana memanage hospitality atau keramahannya kepada pasien dan juga kecepatan pelayanan. Ini yang memang masih menjadi tantangan rumah sakit daerah,” katanya.

Selain pelayanan, ketersediaan dokter spesialis juga masih menjadi pekerjaan rumah bagi sektor kesehatan di daerah. Harry mengakui jumlah dokter spesialis di Kalimantan Barat masih terbatas dan penyebarannya belum merata.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah daerah bersama institusi pendidikan terus mendorong pengembangan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Kalimantan Barat.

Ia mengungkapkan, Universitas Tanjungpura (Untan) saat ini telah membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi dan telah mengantongi izin operasional. Tak hanya itu, RSUD Soedarso bersama Untan juga berencana membuka pendidikan spesialis jantung pada tahun ini, disusul pendidikan spesialis bedah pada tahun depan.

Menurut Harry, langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di berbagai daerah yang masih mengalami kekurangan tenaga medis.

“Ini salah satu langkah untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di wilayah-wilayah yang masih kekurangan dan belum merata,” ujarnya.

Di sisi lain, RSUD Soedarso masih menjadi salah satu rumah sakit rujukan utama bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau BPJS Kesehatan di Kalimantan Barat. Bahkan, lebih dari 90 persen pasien yang mendapatkan layanan di rumah sakit daerah merupakan peserta BPJS Kesehatan.

Tingginya jumlah pasien menjadi tantangan tersendiri dalam menghadirkan pelayanan yang cepat dan optimal. Setiap harinya, jumlah pasien rawat jalan di RSUD Soedarso mencapai 800 hingga 1.000 orang. Sementara pasien yang masuk melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) berkisar antara 80 hingga 120 orang per hari.

“Ini menjadi tantangan rumah sakit daerah untuk memberikan pelayanan lebih cepat. Karena itu perlu penambahan sarana-prasarana dan juga sumber daya manusia,” jelasnya.

Selain peningkatan layanan dan fasilitas, Harry juga menekankan pentingnya penguatan kapasitas tenaga kesehatan, terutama dokter spesialis. Menurutnya, kualitas tenaga medis Indonesia masih sering dibandingkan dengan tenaga medis dari luar negeri sehingga peningkatan kompetensi harus terus dilakukan.

“Intinya kami ingin memberikan motivasi agar tenaga kesehatan terus meningkatkan pengetahuannya, tidak hanya melalui pendidikan di dalam negeri tetapi juga di luar negeri,” tutupnya. (*)

Gubernur Kalbar Resmikan Gedung Rawat Inap Baru RSUD dr. Soedarso
Gubernur Kalbar Resmikan Gedung Rawat Inap Baru RSUD dr. Soedarso
Wednesday, 28/01/2026

KALBARONLINE.com - Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan meresmikan Gedung Rawat Inap Kelas Rawat Inap Standar (Kris) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soedarso Pontianak, pada Rabu (28/01/2026).

Penambahan gedung ini dilakukan untuk mengoptimalkan pelayanan bagi masyarakat Kalimantan Barat seiring dengan meningkatnya jumlah kunjungan ke RSUD dr. Soedarso setiap tahunnya, sekaligus guna memenuhi standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

"Jadi pelayanan, kemudian kualitas kesehatan di Kalbar ini, dengan banyaknya RS, kita bisa memberikan pelayanan ke masyarakat, dan masyarakat terlayani. Harapan kita, masyarakat bisa banyak pilihan, mau RS swasta atau daerah, jadi tidak terpaku pada satu pilihan, kita kan sudah banyak RS di Kalbar khususnya di Pontianak ini," kata Ria Norsan.

Lebih lanjut Direktur RSUD dr. Soedarso Pontianak, Hary Agung Tjahyadi mengatakan, bahwa pembangunan gedung rawat inap standar tersebut memiliki dua tujuan utama. Pertama untuk menambah daya tampung kamar rawat inap yang sering kali tidak seimbang dengan peningkatan pasien.

“Karena itu, penambahan daya tampung menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda,” ujar Hary.

Tujuan kedua, yakni menyesuaikan layanan rawat inap dengan ketentuan pemerintah, khususnya Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri Kesehatan terkait persyaratan kamar rawat inap standar bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau BPJS Kesehatan.

“Sesuai aturan Kemenkes, ada 12 kriteria kamar rawat inap standar. Salah satu kriteria utamanya adalah dalam satu kamar maksimal terdapat empat tempat tidur. Gedung baru ini sepenuhnya telah disesuaikan dengan 12 kriteria tersebut,” jelasnya.

Dengan hadirnya gedung rawat inap standar ini, Hary berharap, pelayanan kepada pasien dapat semakin optimal. Selain meningkatkan kenyamanan pasien, penambahan jumlah tempat tidur juga diharapkan dapat mempercepat waktu tunggu pasien rujukan, baik dari fasilitas kesehatan luar maupun dari Instalasi Gawat Darurat (IGD).

“Mudah-mudahan dengan penambahan daya tampung ini, waktu tunggu pasien dari rujukan luar atau dari IGD menuju kamar rawat inap bisa semakin cepat,” pungkasnya. (Lid)