Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
buaya
13 Buaya Hasil Konflik Ditampung di Pontianak, KKP Siapkan Skema Pemanfaatan
13 Buaya Hasil Konflik Ditampung di Pontianak, KKP Siapkan Skema Pemanfaatan
Monday, 10/08/2026

KALBARONLINE.com – Sebanyak 13 ekor buaya hasil konflik dengan masyarakat kini ditampung di Balai Pengelolaan Kelautan (BPK) Pontianak. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah menyiapkan regulasi agar buaya hasil evakuasi tersebut dapat dimanfaatkan secara legal tanpa mengganggu keseimbangan populasi di alam.

Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie, mengatakan kewenangan penanganan buaya kini berada di bawah KKP setelah terbitnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 yang merevisi aturan sebelumnya.

“Jadi terkait aktivitas buaya, baik konflik dengan masyarakat maupun pemanfaatannya, sekarang sudah menjadi kewenangan Kementerian Kelautan dan Perikanan,” katanya.

Menurut Iwan, konflik antara buaya dan masyarakat masih cukup tinggi. Di Kalimantan Timur, sebanyak 84 ekor buaya hasil konflik telah dititipkan di sebuah penangkaran di Balikpapan. Sementara di Kalimantan Barat, BPK Pontianak saat ini menampung 13 ekor buaya yang dievakuasi dari sejumlah daerah.

Buaya-buaya tersebut berasal dari Kubu Raya, Sambas, Mempawah, dan Singkawang sejak 2024. Salah satunya merupakan buaya muara berukuran 4,5 meter yang baru-baru ini dievakuasi setelah terlibat konflik dengan warga.

Iwan mengatakan, selama ini buaya hasil konflik umumnya dilepasliarkan kembali. Namun, cara tersebut dinilai berisiko karena satwa tersebut berpotensi kembali memasuki permukiman dan memicu konflik baru.

Karena itu, KKP sedang menyusun regulasi agar buaya hasil konflik dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha yang memiliki izin resmi.

“Kita sedang membuat regulasi sehingga buaya hasil konflik ini tidak kita lepas begitu saja, tetapi bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha yang memiliki izin,” ujarnya.

Menurutnya, hingga kini belum ada pelaku usaha di Kalimantan Barat yang mengantongi izin pemanfaatan buaya. Padahal, pemanfaatan satwa tersebut berpotensi memberikan nilai ekonomi, terutama dari kulit buaya yang banyak digunakan sebagai bahan baku produk fesyen.

KKP, kata Iwan, juga akan melakukan survei populasi buaya di sejumlah wilayah yang memiliki tingkat konflik tinggi. Hasil kajian tersebut nantinya menjadi dasar dalam menentukan kuota pemanfaatan buaya dari alam.

“Ketika kita sudah mengetahui potensi populasinya, baru bisa ditentukan batas maksimal yang boleh dimanfaatkan. Jadi keseimbangan alam tetap terjaga, tetapi ada nilai ekonomi yang bisa diperoleh secara legal,” katanya.

Berdasarkan data sementara, Kabupaten Kubu Raya dan Sambas menjadi dua daerah dengan tingkat konflik manusia dan buaya tertinggi di Kalimantan Barat. Dari hasil identifikasi sementara, seluruh konflik tersebut melibatkan buaya muara.

Meski demikian, penyebab pasti meningkatnya konflik masih akan diteliti lebih lanjut. KKP menduga alih fungsi habitat menjadi perkebunan serta meningkatnya populasi buaya menjadi faktor yang mendorong satwa tersebut keluar dari habitatnya.

Di sisi lain, Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak juga masih menghadapi keterbatasan fasilitas penampungan. Saat ini, pihaknya mengusulkan pembangunan kandang yang lebih representatif agar buaya hasil evakuasi dapat ditampung dengan lebih baik sebelum nantinya dimanfaatkan sesuai regulasi yang sedang disusun. (Lid)

Pencarian Korban Diduga Diterkam Buaya di Batu Ampar Resmi Dihentikan, Tim SAR: Akan Dibuka Lagi Jika Ada Petunjuk
Pencarian Korban Diduga Diterkam Buaya di Batu Ampar Resmi Dihentikan, Tim SAR: Akan Dibuka Lagi Jika Ada Petunjuk
Tuesday, 30/06/2026

KALBARONLINE.com – Tim SAR Gabungan resmi menghentikan operasi pencarian terhadap Sulyadi (41), korban yang diduga diterkam buaya di Sungai Karawang, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Senin (30/6/2026).

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Pontianak I Made Junetra mengatakan, pada hari ketujuh operasi, Tim SAR Gabungan kembali melakukan pencarian sejak pukul 06.00 WIB. Pencarian dilakukan dengan menyisir permukaan sungai hingga radius enam mil laut dari lokasi kejadian.

"Selama tujuh hari pelaksanaan operasi, tim telah berupaya maksimal melakukan pencarian di sekitar lokasi kejadian, namun korban belum berhasil ditemukan," ujar I Made Junetra.

Setelah dilakukan koordinasi dan evaluasi bersama pihak keluarga serta seluruh unsur SAR yang terlibat, pada pukul 16.00 WIB disepakati untuk menghentikan operasi pencarian. Hingga operasi ditutup, korban belum ditemukan dan dinyatakan hilang.

"Apabila di kemudian hari terdapat informasi atau tanda-tanda keberadaan korban, maka Operasi SAR akan dibuka kembali," tambahnya.

Selanjutnya, pada pukul 16.30 WIB, Search Mission Coordinator (SMC) mengusulkan penutupan Operasi SAR. Seluruh personel dari unsur SAR yang terlibat kemudian dikembalikan ke satuan masing-masing.

Meski operasi resmi dihentikan, Kantor Pencarian dan Pertolongan Pontianak memastikan akan kembali membuka operasi SAR apabila di kemudian hari muncul informasi atau petunjuk baru terkait keberadaan korban. (*)

Masuk Hari Keenam, Tim SAR Perluas Area Pencarian Korban Diduga Diterkam Buaya di Batu Ampar
Masuk Hari Keenam, Tim SAR Perluas Area Pencarian Korban Diduga Diterkam Buaya di Batu Ampar
Sunday, 28/06/2026

KALBARONLINE.com – Tim SAR Gabungan terus melanjutkan upaya pencarian terhadap korban yang diduga diterkam buaya di Sungai Karawang, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya. Memasuki hari keenam operasi pencarian, Minggu (28/6/2026), area penyisiran kembali diperluas untuk meningkatkan peluang menemukan korban.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Pontianak, I Made Junetra, menjelaskan bahwa pada hari kelima operasi pencarian, Sabtu (27/6/2026), Tim SAR Gabungan telah melakukan penyisiran permukaan Sungai Karawang hingga radius 4 nautical mile (Nm) dari lokasi kejadian.

"Seluruh unsur SAR gabungan terus berupaya maksimal melakukan pencarian dengan menyisir aliran Sungai Karawang dan sejumlah titik yang dinilai berpotensi menjadi lokasi keberadaan korban. Kami berharap korban dapat segera ditemukan sehingga dapat memberikan kepastian bagi pihak keluarga," ujar I Made Junetra.

Namun hingga pukul 17.30 WIB, korban masih belum ditemukan. Operasi SAR hari kelima kemudian dihentikan sementara dengan hasil nihil dan dilanjutkan dengan pemantauan serta koordinasi bersama seluruh unsur yang terlibat.

Memasuki hari keenam, Tim SAR Gabungan kembali melanjutkan operasi pencarian sejak pukul 06.00 WIB. Untuk mengoptimalkan pencarian, area penyisiran diperluas hingga radius 5 nautical mile (Nm) dari lokasi kejadian.

"Pada hari keenam ini, area pencarian kami perluas hingga radius 5 nautical mile dari lokasi kejadian. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan pergerakan korban mengikuti arus sungai sehingga peluang penemuan dapat semakin ditingkatkan," tambah I Made Junetra.

Hingga berita ini diterbitkan, Tim SAR Gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap korban yang diduga diterkam buaya di Sungai Karawang, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya.


Hari Keempat, Tim SAR Gabungan Masih Cari Korban Diduga Diterkam Buaya di Batu Ampar
Hari Keempat, Tim SAR Gabungan Masih Cari Korban Diduga Diterkam Buaya di Batu Ampar
Saturday, 27/06/2026

KALBARONLINE.com – Tim SAR Gabungan kembali melanjutkan operasi pencarian terhadap Sulyadi (41), korban yang diduga diterkam buaya di Sungai Karawang, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, pada hari keempat operasi pencarian, Jumat (26/6/2026).

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Pontianak, I Made Junetra, mengatakan sejak pukul 06.00 WIB, Tim SAR Gabungan kembali melakukan penyisiran permukaan Sungai Karawang hingga radius 4 nautical mile (Nm) dari lokasi kejadian.

"Tim SAR Gabungan telah melakukan penyisiran di sejumlah titik yang dianggap berpotensi menjadi lokasi keberadaan korban. Namun hingga pukul 17.30 WIB, korban masih belum ditemukan," ujar I Made Junetra.

Setelah seharian melakukan pencarian, operasi SAR sementara dihentikan pada pukul 17.30 WIB dengan hasil nihil. Selanjutnya, tim melakukan pemantauan dan koordinasi untuk mempersiapkan operasi pencarian hari berikutnya.

I Made Junetra menjelaskan, operasi SAR akan kembali dilanjutkan pada Sabtu (27/6/2026) mulai pukul 06.00 WIB. Pada hari kelima pencarian, Tim SAR Gabungan akan kembali menyisir permukaan Sungai Karawang hingga radius 4 Nm dari lokasi kejadian.

Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya warga yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar sungai, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan buaya.

"Kami mengimbau masyarakat yang tinggal di bantaran sungai maupun yang sering beraktivitas di sungai untuk selalu berhati-hati, terutama di wilayah yang kerap muncul buaya. Jika terjadi kondisi yang membahayakan manusia, segera hubungi layanan darurat SAR di nomor 115," pungkasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, Tim SAR Gabungan masih terus berupaya menemukan Sulyadi yang dilaporkan hilang setelah diduga diterkam buaya di Sungai Karawang, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya. (*)

Hari Ketiga, Tim SAR Gabungan Intensif Cari Korban Diterkam Buaya di Sungai Karawang Kubu Raya
Hari Ketiga, Tim SAR Gabungan Intensif Cari Korban Diterkam Buaya di Sungai Karawang Kubu Raya
Friday, 26/06/2026

KALBARONLINE.com – Tim SAR Gabungan kembali melanjutkan pencarian terhadap korban yang diduga diterkam buaya di Sungai Karawang, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, pada hari ketiga operasi pencarian, Kamis (25/6/2026).

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Pontianak, I Made Junetra, mengatakan, sejak pukul 06.00 WIB, tim kembali melakukan penyisiran permukaan di sekitar lokasi kejadian dengan radius pencarian mencapai 3 Nautical Mile (NM).

Korban yang hingga kini masih dalam pencarian diketahui bernama Sulyadi (41), yang diduga menjadi korban serangan buaya saat berada di perairan Sungai Karawang.

I Made Junetra menjelaskan, proses pencarian menghadapi sejumlah tantangan di lapangan. Salah satunya adalah keberadaan buaya yang diduga masih berada di sekitar lokasi kejadian.

"Buaya sering tidak langsung meninggalkan lokasi serangan dan berpotensi menyerang kembali tim SAR maupun masyarakat yang ikut melakukan pencarian. Oleh karena itu, seluruh personel diwajibkan selalu waspada serta menggunakan alat pelindung diri dan pengamanan ekstra," ujarnya.

Selain ancaman buaya, perilaku satwa tersebut yang kerap menyembunyikan mangsanya juga menjadi kendala dalam proses pencarian. Buaya biasanya menyimpan mangsa di bawah akar pohon, semak rawa, lubang tebing sungai, hingga tumpukan kayu, sehingga korban tidak selalu dapat ditemukan dalam waktu singkat.

"Pencarian difokuskan pada titik-titik yang berpotensi menjadi lokasi buaya menyimpan mangsa," tambahnya.

Tantangan lainnya datang dari kondisi air Sungai Karawang yang keruh dengan tingkat visibilitas sangat rendah. Karakteristik sungai di wilayah Kalimantan yang berwarna coklat pekat membuat jarak pandang penyelam kerap kurang dari 50 sentimeter.

Di sisi lain, arus sungai yang cukup deras juga berpotensi membawa korban menjauh dari titik awal kejadian. Kondisi tersebut membuat Tim SAR harus melakukan perhitungan drift sekaligus memperluas area pencarian agar peluang menemukan korban semakin besar.

Hingga berita ini diterbitkan, Tim SAR Gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap Sulyadi dengan tetap mengutamakan keselamatan seluruh personel yang bertugas di lapangan. (*)

Warga Kubu Raya Hilang Diduga Diterkam Buaya Saat Memancing, Tim Gabungan Lakukan Pencarian
Warga Kubu Raya Hilang Diduga Diterkam Buaya Saat Memancing, Tim Gabungan Lakukan Pencarian
Tuesday, 23/06/2026

KALBARONLINE.com – Seorang warga bernama Sulyadi (41) dilaporkan hilang setelah diduga diterkam dan diseret buaya muara saat memancing di perairan Dusun Karang Anyar, Desa Batu Ampar, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Senin (22/6/2026).

Peristiwa tersebut terjadi menjelang waktu magrib. Hingga kini, tim gabungan masih melakukan pencarian untuk menemukan keberadaan korban di sekitar lokasi kejadian.

Kapolsek Batu Ampar IPTU Fahrizal melalui Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya, Aiptu Ade, membenarkan adanya insiden tersebut. Berdasarkan keterangan saksi di lapangan, korban diduga diterkam buaya saat berada di atas sampan miliknya.

Ade menjelaskan, peristiwa bermula sekitar pukul 16.00 WIB ketika Abdul Wahab berangkat menggunakan Sampan Robin dari Desa Sungai Kerawang menuju Tanjung Bakau untuk mengantarkan minyak dan rokok kepada korban.

Saat tiba di lokasi, korban terlihat berada seorang diri di atas Sampan Robin. Jarak antara Abdul Wahab dan korban saat itu diperkirakan hanya sekitar 20 meter. Di sekitar lokasi juga terdapat seorang warga bernama Pitung yang menggunakan sampan berbeda.

"Di lokasi kejadian, korban terlihat sedang berada di atas Sampan Robin seorang diri. Jarak antara Abdul Wahab dan korban saat itu sangat dekat, hanya berkisar kurang lebih 20 meter. Selain itu, di sekitar lokasi juga terdapat Pitung yang menggunakan Sampan Robin berbeda," ungkap Ade, Selasa (23/6/2026).

Sekitar pukul 17.00 WIB, suasana yang semula tenang berubah menjadi kepanikan. Seekor buaya berukuran besar tiba-tiba muncul di antara posisi sampan korban dan sampan milik saksi.

"Tiba-tiba, di antara posisi Sampan Robin milik korban dan Sampan Robin Pitung, muncul seekor buaya berukuran besar. Tanpa ampun, predator tersebut langsung menerkam dan menyambar tubuh korban. Dalam sekejap mata, korban langsung diseret masuk ke dalam kedalaman air," ujar Ade.

Melihat kejadian itu, Abdul Wahab dan Pitung sempat berupaya melakukan pencarian di sekitar lokasi terkaman. Namun, korban tidak berhasil ditemukan.

Karena kondisi mulai gelap dan mempertimbangkan faktor keselamatan, keduanya memutuskan kembali ke Desa Sungai Kerawang untuk melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian serta meminta bantuan warga.

Mendapat laporan itu, personel Polsek Batu Ampar bersama Polairud langsung menuju lokasi dan melakukan upaya pencarian.

"Hingga saat ini, korban memang belum berhasil ditemukan. Namun, kami pastikan upaya pencarian terus dilakukan secara masif dan maksimal," kata Ade.

Kepolisian juga mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan warga yang beraktivitas di kawasan perairan Dusun Karang Anyar, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kemunculan buaya, terutama saat beraktivitas seorang diri atau menjelang malam hari. (Lid)