Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
sisik trenggiling
Jadi Incaran Pemburu, BKSDA Kalbar Tegaskan Sisik dan Kuku Trenggiling Tak Terbukti Berkhasiat untuk Pengobatan
Jadi Incaran Pemburu, BKSDA Kalbar Tegaskan Sisik dan Kuku Trenggiling Tak Terbukti Berkhasiat untuk Pengobatan
Thursday, 06/08/2026

KALBARONLINE.com – Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menegaskan sisik dan kuku trenggiling tidak memiliki manfaat medis yang terbukti secara ilmiah.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul pengungkapan kasus perdagangan ilegal bagian tubuh satwa dilindungi berupa sisik dan kuku trenggiling oleh Polresta Pontianak.

Murlan menyampaikan hal itu saat menghadiri konferensi pers di Mapolresta Pontianak, Kamis (6/8/2026).

Menurutnya, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bagian tubuh trenggiling memiliki khasiat untuk pengobatan.

"Kalau saya baca referensi, sebenarnya sisik trenggiling itu tidak memiliki manfaat medis yang terbukti secara ilmiah. Selama ini lebih banyak berdasarkan mitos yang berkembang di masyarakat," ujarnya.

Murlan menjelaskan, sisik trenggiling tersusun dari keratin, yaitu zat yang juga terdapat pada kuku dan rambut manusia. Karena itu, tidak ada dasar ilmiah yang membuktikan sisik trenggiling mampu menyembuhkan penyakit tertentu.

"Secara ilmiah belum ada hasil penelitian yang menunjukkan sisik trenggiling bermanfaat untuk kesehatan atau pengobatan. Jadi yang berkembang selama ini lebih kepada mitos," katanya.

Meski demikian, Murlan mengaku belum mengetahui secara pasti apakah sisik tersebut nantinya akan diolah menjadi campuran produk tertentu dalam praktik perdagangan ilegal.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengapresiasi Polresta Pontianak atas keberhasilan mengungkap kasus penyimpanan lebih dari setengah ton sisik trenggiling.

Berdasarkan referensi yang dipelajarinya, untuk memperoleh satu kilogram sisik trenggiling dibutuhkan sekitar empat hingga enam ekor trenggiling.

"Kalau dirata-ratakan lima ekor untuk satu kilogram, berarti dari barang bukti sekitar 551 kilogram itu diperkirakan berasal dari sekitar 2.600 ekor trenggiling. Ini jumlah yang sangat besar," ujarnya.

Murlan berharap pengungkapan kasus tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak lagi memperdagangkan maupun mengonsumsi bagian tubuh satwa liar yang dilindungi karena selain melanggar hukum, juga mengancam kelestarian spesies di alam. (Lid)

Polisi Gerebek Gudang Sisik Trenggiling di Pontianak, Sita Lebih dari Setengah Ton dan Amankan Dua Tersangka
Polisi Gerebek Gudang Sisik Trenggiling di Pontianak, Sita Lebih dari Setengah Ton dan Amankan Dua Tersangka
Thursday, 06/08/2026

KALBARONLINE.com – Polresta Pontianak mengungkap dugaan perdagangan ilegal bagian tubuh satwa dilindungi berupa sisik dan kuku trenggiling (Manis javanica). Dalam pengungkapan tersebut, polisi menyita 551,365 kilogram sisik trenggiling dan 42,015 kilogram kuku trenggiling yang disimpan di dalam 30 karung.

Dalam kasus ini, polisi menetapkan dua orang sebagai tersangka, yakni Bambang Sandari alias Ameng (45) dan Hui An alias Aan (54). Keduanya diduga terlibat dalam penyimpanan sekaligus rencana perdagangan bagian tubuh satwa yang dilindungi tersebut.

Kapolresta Pontianak Kombes Pol Endang Tri Purwanto mengatakan, pengungkapan kasus bermula dari informasi yang beredar di media sosial mengenai sebuah gudang di Jalan Harapan Jaya Gang Hikmah Jaya, Pontianak Selatan, yang diduga menjadi tempat penyimpanan sisik trenggiling.

“Pada saat dilakukan pengecekan, anggota menemukan tersangka Hui An alias Aan yang kedapatan menyimpan sisik dan kuku trenggiling di dalam 30 karung,” kata Endang saat konferensi pers, Rabu (5/8/2026).

Dari hasil pemeriksaan, Hui An mengaku barang tersebut merupakan milik Bambang Sandari alias Ameng. Polisi kemudian melakukan pengembangan dan berhasil menangkap Bambang beberapa jam kemudian di kawasan Purnama, Pontianak Selatan.

Menurut Endang, Bambang mengaku memperoleh sisik dan kuku trenggiling dari wilayah Sintang dan Kapuas Hulu dengan harga sekitar Rp800 ribu per kilogram. Barang tersebut rencananya akan dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.

“Barang ini dibeli seharga Rp800 ribu per kilogram dan rencananya akan diperjualbelikan kembali. Namun belum sempat dipasarkan karena lebih dulu berhasil kami ungkap,” ujarnya.

Selain ratusan kilogram sisik dan kuku trenggiling, polisi juga menyita satu unit timbangan digital yang diduga digunakan dalam aktivitas perdagangan ilegal tersebut.

Polisi menduga praktik itu telah berlangsung cukup lama. Berdasarkan pengakuan tersangka utama, sisik trenggiling tersebut dikumpulkan selama kurang lebih dua tahun.

Kasus ini masih terus dikembangkan untuk mengungkap jaringan pemasok maupun tujuan akhir penjualan bagian tubuh satwa dilindungi tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat menjelaskan bahwa satu kilogram sisik trenggiling diperkirakan berasal dari sekitar lima ekor trenggiling.

Dengan barang bukti mencapai lebih dari 551 kilogram, diperkirakan sedikitnya sekitar 2.700 ekor trenggiling menjadi korban perdagangan ilegal tersebut.

Kapolresta menyebut pengungkapan ini menjadi salah satu yang terbesar di Kalimantan Barat sekaligus menunjukkan sinergi antara Polresta Pontianak, BKSDA, dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam menjaga kelestarian satwa liar.

“Kalau kita menjaga alam, maka alam juga akan menjaga kita. Mudah-mudahan pengungkapan ini menjadi momentum agar masyarakat semakin sadar pentingnya melestarikan satwa yang dilindungi,” katanya.

Atas perbuatannya, kedua tersangka dijerat Pasal 40A ayat (1) huruf f juncto Pasal 21 ayat (2) huruf c Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Keduanya terancam pidana penjara paling singkat tiga tahun dan paling lama 15 tahun serta denda paling sedikit Rp200 juta hingga paling banyak Rp5 miliar. (Lid)