Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Senin, 29 Desember 2025 |
KALBARONLINE.com – Jejak dakwah ulama kharismatik Kalimantan Barat, almarhum K.H. Mas’udi, kini resmi diabadikan dalam sebuah buku berjudul “Napak Tilas Dakwah K.H. Mas’udi, Santri K.H. Hasyim Asy’ari di Kalimantan Barat (1954–2000)” karya Eno Sanusi. Buku ini diluncurkan di Masjid Hidayatush Shalihin, Pontianak, Minggu (28/12/2025), dan dihadiri keluarga besar KH Mas’udi, para santri, serta tokoh masyarakat.
Penulis buku, Eno Sanusi, mengungkapkan bahwa karya ini berawal dari tesis yang ia susun pada tahun 2012. Atas permintaan keluarga—khususnya putri almarhum, Lailial Muhtifah—tesis tersebut kemudian dikembangkan menjadi buku agar kiprah dan perjuangan dakwah KH Mas’udi terdokumentasi dengan utuh dan bisa menjadi jejak sejarah bagi generasi mendatang.
Proses penulisan buku ini tidak sederhana. Mengingat KH Mas’udi dikenal luas di Pontianak dan Kalimantan Barat, Eno melakukan penelusuran langsung ke berbagai wilayah dakwah sang ulama, seperti Punggur, Rasau, Pematang Tujuh, Sungai Ambawang, Ambawang, hingga Sambora, Kabupaten Pontianak. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat data lapangan sekaligus menggambarkan secara nyata perjalanan dakwah beliau.
Di setiap daerah yang beliau sambangi, KH Mas’udi tidak hanya fokus menyampaikan ajaran agama, tetapi juga memperhatikan kondisi pendidikan masyarakat. Salah satu hal penting yang dikupas dalam buku ini adalah bagaimana beliau memastikan keberadaan lembaga pendidikan seperti madrasah atau sekolah, serta sarana ibadah seperti surau dan masjid. Di wilayah yang belum memiliki lembaga pendidikan, KH Mas’udi bahkan mendorong agar didirikan lembaga yang memiliki legalitas hukum, agar dipercaya pemerintah, mendapat pendampingan, dan bisa berjalan berkelanjutan.
KH Mas’udi dikenal sebagai sosok ulama alim dengan penguasaan ilmu falak dan dunia pendidikan. Ia merupakan santri langsung KH Hasyim Asy’ari selama lima tahun di Jombang, serta berguru kepada Umar Abdur Jabar (ulama asal Makkah) dan Abdurrahman Sakob sebagai guru bahasa Arab. Dalam aktivitas keilmuan, ia juga kerap berkolaborasi dengan Ridho Yahya. Keilmuannya yang luas membuatnya dijuluki “kamus berjalan”, sementara kepribadiannya yang ikhlas, tawadhu, dan berdedikasi tinggi menjadikannya panutan banyak orang.
Menurut Eno, selama ini penelusuran mengenai peninggalan dakwah KH Mas’udi memang sudah dilakukan, namun belum terdokumentasi secara menyeluruh. Masih banyak warisan dakwah beliau yang tersebar, salah satunya di wilayah Pematang Tujuh.
Melalui buku ini, Eno berharap generasi muda dapat belajar bahwa dakwah bukan hanya sebatas menyampaikan ajaran agama, tetapi juga membangun peradaban melalui ilmu dan lembaga pendidikan yang bisa terus dilanjutkan oleh generasi setelahnya.
Buku perdana ini dicetak terbatas sebanyak 30 eksemplar dan dapat dibeli oleh para santri maupun masyarakat yang ingin mengetahui secara lebih lengkap perjalanan dakwah dan kontribusi besar KH Mas’udi bagi Kalimantan Barat. (Lid)
KALBARONLINE.com – Jejak dakwah ulama kharismatik Kalimantan Barat, almarhum K.H. Mas’udi, kini resmi diabadikan dalam sebuah buku berjudul “Napak Tilas Dakwah K.H. Mas’udi, Santri K.H. Hasyim Asy’ari di Kalimantan Barat (1954–2000)” karya Eno Sanusi. Buku ini diluncurkan di Masjid Hidayatush Shalihin, Pontianak, Minggu (28/12/2025), dan dihadiri keluarga besar KH Mas’udi, para santri, serta tokoh masyarakat.
Penulis buku, Eno Sanusi, mengungkapkan bahwa karya ini berawal dari tesis yang ia susun pada tahun 2012. Atas permintaan keluarga—khususnya putri almarhum, Lailial Muhtifah—tesis tersebut kemudian dikembangkan menjadi buku agar kiprah dan perjuangan dakwah KH Mas’udi terdokumentasi dengan utuh dan bisa menjadi jejak sejarah bagi generasi mendatang.
Proses penulisan buku ini tidak sederhana. Mengingat KH Mas’udi dikenal luas di Pontianak dan Kalimantan Barat, Eno melakukan penelusuran langsung ke berbagai wilayah dakwah sang ulama, seperti Punggur, Rasau, Pematang Tujuh, Sungai Ambawang, Ambawang, hingga Sambora, Kabupaten Pontianak. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat data lapangan sekaligus menggambarkan secara nyata perjalanan dakwah beliau.
Di setiap daerah yang beliau sambangi, KH Mas’udi tidak hanya fokus menyampaikan ajaran agama, tetapi juga memperhatikan kondisi pendidikan masyarakat. Salah satu hal penting yang dikupas dalam buku ini adalah bagaimana beliau memastikan keberadaan lembaga pendidikan seperti madrasah atau sekolah, serta sarana ibadah seperti surau dan masjid. Di wilayah yang belum memiliki lembaga pendidikan, KH Mas’udi bahkan mendorong agar didirikan lembaga yang memiliki legalitas hukum, agar dipercaya pemerintah, mendapat pendampingan, dan bisa berjalan berkelanjutan.
KH Mas’udi dikenal sebagai sosok ulama alim dengan penguasaan ilmu falak dan dunia pendidikan. Ia merupakan santri langsung KH Hasyim Asy’ari selama lima tahun di Jombang, serta berguru kepada Umar Abdur Jabar (ulama asal Makkah) dan Abdurrahman Sakob sebagai guru bahasa Arab. Dalam aktivitas keilmuan, ia juga kerap berkolaborasi dengan Ridho Yahya. Keilmuannya yang luas membuatnya dijuluki “kamus berjalan”, sementara kepribadiannya yang ikhlas, tawadhu, dan berdedikasi tinggi menjadikannya panutan banyak orang.
Menurut Eno, selama ini penelusuran mengenai peninggalan dakwah KH Mas’udi memang sudah dilakukan, namun belum terdokumentasi secara menyeluruh. Masih banyak warisan dakwah beliau yang tersebar, salah satunya di wilayah Pematang Tujuh.
Melalui buku ini, Eno berharap generasi muda dapat belajar bahwa dakwah bukan hanya sebatas menyampaikan ajaran agama, tetapi juga membangun peradaban melalui ilmu dan lembaga pendidikan yang bisa terus dilanjutkan oleh generasi setelahnya.
Buku perdana ini dicetak terbatas sebanyak 30 eksemplar dan dapat dibeli oleh para santri maupun masyarakat yang ingin mengetahui secara lebih lengkap perjalanan dakwah dan kontribusi besar KH Mas’udi bagi Kalimantan Barat. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini