Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Monday, 02 November 2026 |
KALBARONLINE.com – Pemerintah Kota Pontianak mendorong siswa membiasakan diri menabung sekaligus memilah sampah sejak dini. Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi program Simpanan Pelajar (SimPel) dan bank sampah mini di lingkungan sekolah.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengatakan program SimPel sebenarnya telah lama disosialisasikan. Namun, pemerintah kota kembali mengingatkan pentingnya program tersebut melalui kegiatan di SMP Negeri 22 dan SD Negeri 15 Pontianak.
Menurut Edi, kegiatan tersebut tidak hanya berupa sosialisasi, tetapi juga praktik yang melibatkan kepala sekolah dan guru.
“Tujuannya untuk meningkatkan akses keuangan daerah, karena menabung merupakan hal yang positif,” kata Edi, Senin (2/11/2026).
Ia berharap semakin banyak sekolah yang berpartisipasi dalam program tersebut, tidak hanya sekolah negeri, tetapi juga sekolah swasta, madrasah, hingga pondok pesantren.
Salah satu upaya yang dilakukan dengan menghubungkan kegiatan bank sampah mini dengan tabungan SimPel. Siswa dapat membawa sampah dari rumah untuk kemudian dipilah, ditimbang, dan dinilai. Hasil penjualannya akan dimasukkan ke dalam tabungan siswa.
“Disiplin menabung itu sangat penting. Selain itu, anak-anak juga harus cerdas menggunakan uang untuk keperluan yang memang dibutuhkan dan untuk masa depan,” pesannya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Syarif Usmulyono, menjelaskan program bank sampah mini disinkronkan dengan SimPel agar siswa tidak hanya belajar menabung, tetapi juga memahami cara mengelola sampah.
Pada tahap awal, siswa dibiasakan memilah sampah dari rumah sebelum membawanya ke sekolah. Sampah yang terkumpul nantinya akan dibeli oleh pihak bank sampah, kemudian hasil penjualannya dimasukkan ke tabungan SimPel masing-masing siswa.
“Jadi, anak-anak kita ajarkan sejak sekarang untuk memilah sampah dan membawanya ke sekolah. Sampah itu kemudian dibeli, dan hasilnya dimasukkan ke dalam tabungan SimPel mereka,” jelas Syarif.
Saat ini terdapat 141 sekolah Adiwiyata di Pontianak. Namun, baru 35 sekolah yang telah memiliki bank sampah mini.
Program tersebut akan terus dikembangkan ke sekolah-sekolah lain, termasuk SD Negeri 15 Pontianak yang mulai menerapkannya.
Untuk sampah plastik, harga pembelian saat ini sekitar Rp4.000 per kilogram. Sampah yang dibawa siswa akan ditimbang sebelum dibeli oleh pihak bank sampah.
Syarif berharap ke depannya Pontianak memiliki fasilitas pengolahan plastik sehingga sampah yang telah dipilah dapat diolah menjadi barang yang memiliki nilai guna, seperti meja dan batako.
Menurutnya, pembiasaan memilah sampah sejak dini juga diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sementara.
“Anak-anak sejak usia dini sudah mulai sadar terhadap sampahnya. Jadi, sampah ini bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi sesuatu yang memiliki nilai tambah. Kalau mereka memilah sampah, sampah tersebut bisa menghasilkan uang,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SD Negeri 15 Pontianak, Lisma Samosir, mengatakan pihaknya akan mulai merealisasikan program bank sampah mini di lingkungan sekolah.
Sebagai langkah awal, sekolah akan menyiapkan tempat sampah terpisah untuk sampah organik dan nonorganik. Siswa juga diperbolehkan membawa sampah yang sudah dipilah dari rumah.
Guru nantinya akan membantu proses pemilahan sebelum sampah terkumpul dalam jumlah tertentu. Setelah itu, pihak sekolah akan menghubungi bank sampah untuk mengambil, menimbang, dan membeli sampah tersebut.
Hasil penjualan sampah kemudian akan dimasukkan ke tabungan SimPel siswa.
Lisma mengatakan selama ini sekolah telah menyediakan tempat sampah di dalam kelas maupun di sejumlah area lainnya. Siswa juga terus diingatkan untuk membuang sampah pada tempatnya.
Namun, sekolah belum menerapkan sistem penghargaan maupun sanksi bagi siswa terkait kebersihan lingkungan.
“Belum ada. Namun, ke depannya kami berencana membuat program seperti itu,” kata Lisma. (Lid)
KALBARONLINE.com – Pemerintah Kota Pontianak mendorong siswa membiasakan diri menabung sekaligus memilah sampah sejak dini. Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi program Simpanan Pelajar (SimPel) dan bank sampah mini di lingkungan sekolah.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengatakan program SimPel sebenarnya telah lama disosialisasikan. Namun, pemerintah kota kembali mengingatkan pentingnya program tersebut melalui kegiatan di SMP Negeri 22 dan SD Negeri 15 Pontianak.
Menurut Edi, kegiatan tersebut tidak hanya berupa sosialisasi, tetapi juga praktik yang melibatkan kepala sekolah dan guru.
“Tujuannya untuk meningkatkan akses keuangan daerah, karena menabung merupakan hal yang positif,” kata Edi, Senin (2/11/2026).
Ia berharap semakin banyak sekolah yang berpartisipasi dalam program tersebut, tidak hanya sekolah negeri, tetapi juga sekolah swasta, madrasah, hingga pondok pesantren.
Salah satu upaya yang dilakukan dengan menghubungkan kegiatan bank sampah mini dengan tabungan SimPel. Siswa dapat membawa sampah dari rumah untuk kemudian dipilah, ditimbang, dan dinilai. Hasil penjualannya akan dimasukkan ke dalam tabungan siswa.
“Disiplin menabung itu sangat penting. Selain itu, anak-anak juga harus cerdas menggunakan uang untuk keperluan yang memang dibutuhkan dan untuk masa depan,” pesannya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Syarif Usmulyono, menjelaskan program bank sampah mini disinkronkan dengan SimPel agar siswa tidak hanya belajar menabung, tetapi juga memahami cara mengelola sampah.
Pada tahap awal, siswa dibiasakan memilah sampah dari rumah sebelum membawanya ke sekolah. Sampah yang terkumpul nantinya akan dibeli oleh pihak bank sampah, kemudian hasil penjualannya dimasukkan ke tabungan SimPel masing-masing siswa.
“Jadi, anak-anak kita ajarkan sejak sekarang untuk memilah sampah dan membawanya ke sekolah. Sampah itu kemudian dibeli, dan hasilnya dimasukkan ke dalam tabungan SimPel mereka,” jelas Syarif.
Saat ini terdapat 141 sekolah Adiwiyata di Pontianak. Namun, baru 35 sekolah yang telah memiliki bank sampah mini.
Program tersebut akan terus dikembangkan ke sekolah-sekolah lain, termasuk SD Negeri 15 Pontianak yang mulai menerapkannya.
Untuk sampah plastik, harga pembelian saat ini sekitar Rp4.000 per kilogram. Sampah yang dibawa siswa akan ditimbang sebelum dibeli oleh pihak bank sampah.
Syarif berharap ke depannya Pontianak memiliki fasilitas pengolahan plastik sehingga sampah yang telah dipilah dapat diolah menjadi barang yang memiliki nilai guna, seperti meja dan batako.
Menurutnya, pembiasaan memilah sampah sejak dini juga diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sementara.
“Anak-anak sejak usia dini sudah mulai sadar terhadap sampahnya. Jadi, sampah ini bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi sesuatu yang memiliki nilai tambah. Kalau mereka memilah sampah, sampah tersebut bisa menghasilkan uang,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SD Negeri 15 Pontianak, Lisma Samosir, mengatakan pihaknya akan mulai merealisasikan program bank sampah mini di lingkungan sekolah.
Sebagai langkah awal, sekolah akan menyiapkan tempat sampah terpisah untuk sampah organik dan nonorganik. Siswa juga diperbolehkan membawa sampah yang sudah dipilah dari rumah.
Guru nantinya akan membantu proses pemilahan sebelum sampah terkumpul dalam jumlah tertentu. Setelah itu, pihak sekolah akan menghubungi bank sampah untuk mengambil, menimbang, dan membeli sampah tersebut.
Hasil penjualan sampah kemudian akan dimasukkan ke tabungan SimPel siswa.
Lisma mengatakan selama ini sekolah telah menyediakan tempat sampah di dalam kelas maupun di sejumlah area lainnya. Siswa juga terus diingatkan untuk membuang sampah pada tempatnya.
Namun, sekolah belum menerapkan sistem penghargaan maupun sanksi bagi siswa terkait kebersihan lingkungan.
“Belum ada. Namun, ke depannya kami berencana membuat program seperti itu,” kata Lisma. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini