Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
Wawako Bahasan Minta Penyuluh Agama Jadi Garda Depan Toleransi di Pontianak
Home > Berita > Politik > Wawako Bahasan Minta Penyuluh Agama Jadi...
Pontianak

Wawako Bahasan Minta Penyuluh Agama Jadi Garda Depan Toleransi di Pontianak

Redaksi KalbarOnline
Redaksi KalbarOnline
Wednesday, 26 August 2026 - 10:30 WIB
Wawako Bahasan Minta Penyuluh Agama Jadi Garda Depan Toleransi di Pontianak
Wawako Bahasan minta penyuluh agama jadi garda depan toleransi dan kerukunan di Pontianak serta meninggalkan ego agama dan suku (Foto: Prokopim For KALBARONLINE.com)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp kalbaronline.com
+ Gabung
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com - Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama para penyuluh agama, untuk terus memperkuat toleransi, kerukunan dan harmoni di tengah keberagaman Kota Pontianak.

Menurut Bahasan, masyarakat perlu meninggalkan ego agama dan ego suku yang berpotensi memicu perpecahan. Sebaliknya, setiap orang dituntut menunjukkan perilaku terbaik dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita sudah saatnya tidak ada yang namanya ego agama dan ego suku. Selaku orang beragama dan bersuku bangsa, kita dituntut untuk terus berlomba menunjukkan perilaku terbaik dalam kehidupan sehari-hari,” katanya saat membuka Dialog Kebangsaan melalui Semangat Lintas Agama di Aula Rumah Dinas Wakil Wali Kota Pontianak, Rabu (26/8/2026).

Bahasan berharap para penyuluh agama dapat menjadi garda terdepan dalam menyampaikan pesan kerukunan kepada masyarakat. Hal itu dinilai penting karena para penyuluh memiliki jaringan yang kuat hingga ke majelis dan komunitas warga.

“Saya berharap besar kepada para penyuluh agama. Jika hadir ke majelis, tolong sampaikan edukasi dan sosialisasikan pesan-pesan toleransi serta program pemerintah yang berdampak kepada masyarakat,” pesannya.

Ia menjelaskan, setiap pemeluk agama tentu meyakini agama yang dianutnya sebagai jalan terbaik. Namun, keyakinan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan atau menjelekkan agama lain.

“Agama yang kita peluk adalah yang terbaik menurut pemeluknya masing-masing, tetapi tidak dengan menjelek-jelekkan atau menghina agama orang lain,” jelasnya.

Menurut Bahasan, Pontianak merupakan kota yang dihuni masyarakat dari berbagai suku dan agama. Karena itu, edukasi mengenai toleransi harus terus dilakukan, terutama kepada generasi muda agar nilai kebersamaan tetap terpelihara.

Pontianak juga memiliki sejumlah contoh kehidupan toleran yang berlangsung selama bertahun-tahun. Salah satunya keberadaan rumah ibadah yang berdiri berdampingan dan tetap hidup rukun.

“Di Pontianak Barat, ada gereja dan masjid yang hanya berbatasan dengan satu pagar. Sampai hari ini belum pernah terjadi konflik. Ini menandakan bahwa Kota Pontianak termasuk kota toleran,” katanya.

Bahasan menegaskan bahwa toleransi tidak hanya berlaku antarumat beragama, tetapi juga di dalam umat seagama. Perbedaan pandangan, aliran maupun cara beribadah harus dipahami sebagai bagian dari keberagaman yang perlu disikapi secara bijak.

“Toleransi itu ada dua, toleransi di antara umat seagama dan toleransi di antara umat beragama. Ini juga harus dipahami dan diedukasi,” jelasnya.

Ia juga mengajak masyarakat membangun toleransi mulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Menurutnya, harmoni dalam keluarga menjadi dasar penting untuk membangun kehidupan yang rukun di tengah masyarakat, antarumat beragama hingga kehidupan berbangsa.

“Toleransi harus dimulai dari keluarga, masyarakat, lintas agama, hingga kebangsaan,” katanya. (*)