Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
banjir
Pemkot Pontianak Genjot Normalisasi Parit, Ekskavator Amfibi Diterjunkan Atasi Banjir
Pemkot Pontianak Genjot Normalisasi Parit, Ekskavator Amfibi Diterjunkan Atasi Banjir
Thursday, 18/06/2026

KALBARONLINE.com – Pemerintah Kota Pontianak terus mengintensifkan upaya penanganan banjir dan genangan yang terjadi di sejumlah wilayah, terutama saat hujan deras bersamaan dengan fenomena pasang air sungai atau rob.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, persoalan banjir di Kota Pontianak tidak terlepas dari kondisi topografi kota yang relatif datar. Karakteristik tersebut menyebabkan air membutuhkan waktu lebih lama untuk surut, khususnya saat curah hujan tinggi terjadi dalam durasi yang cukup panjang.

“Banjir di Kota Pontianak ini memang kita sudah berupaya. Kota Pontianak topografinya flat. Kemarin hujan lebih dari tiga jam dengan curah hujan yang besar, berdasarkan data yang saya dapatkan dari BMKG,” ujarnya, Kamis (18/6/2026).

Selain curah hujan yang tinggi, Edi menjelaskan bahwa pasang air sungai atau rob juga menjadi faktor yang memperparah genangan di sejumlah kawasan. Hingga 19 Juni 2026, ketinggian pasang rob diperkirakan mencapai sekitar dua meter dengan puncak pasang terjadi pada malam hari.

“Sekarang ini sampai tanggal 19 air pasang rob sampai dua meter. Jam puncaknya sekitar jam 9 atau 10 malam. Karena hujannya besar, kawasan yang rendah menjadi tergenang,” katanya.

Untuk mengurangi dampak banjir di Pontianak, Pemkot terus melakukan berbagai langkah penanganan. Salah satunya melalui peningkatan fungsi saluran drainase dan parit dengan melakukan pengerukan, penurapan, serta pembenahan saluran air berukuran besar agar aliran air lebih lancar.

“Upaya kita tetap meningkatkan fungsi parit-parit yang ada, dengan pengerukan dan penurapan, termasuk parit-parit besar,” jelas Edi.

Selain normalisasi saluran, Pemerintah Kota Pontianak juga menjalankan program pompanisasi dengan menambah dua unit pompa air guna mempercepat proses pengaliran air di kawasan yang rawan tergenang.

Pemkot juga berencana mengganti sejumlah jembatan yang dinilai menghambat aliran air menuju Sungai Kapuas. Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Parit Tokaya yang memiliki daerah tangkapan air atau catchment area cukup luas.

“Kita akan mengganti jembatan-jembatan yang selama ini menghambat percepatan air menuju Sungai Kapuas. Salah satu contoh Parit Tokaya, karena catchment area-nya luas. Ini akan kita koneksikan antara parit dengan parit,” paparnya.

Edi menambahkan, Pemerintah Kota Pontianak telah memiliki master plan penanganan banjir sebagai panduan dalam menjalankan berbagai program pengendalian genangan dan banjir secara bertahap.

Menurutnya, penanganan banjir di Kota Pontianak tidak bisa dilakukan secara sendiri oleh pemerintah kota. Diperlukan kolaborasi dengan berbagai pihak karena persoalan air berkaitan dengan wilayah yang lebih luas.

“Kita sudah punya master plan dan sudah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Kalimantan I, Kementerian PU, dan Pemerintah Provinsi. Karena bicara banjir Kota Pontianak ini juga menyangkut masalah wilayah,” katanya.

Ia menegaskan, penanganan banjir akan terus dilakukan melalui perbaikan drainase, normalisasi saluran, pompanisasi, penataan infrastruktur, serta sinergi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.

“Tidak bisa menyelesaikan hanya di kota saja, tetapi juga melibatkan provinsi dan Kementerian PU,” pungkasnya. (*)

Warga Pontianak Bersuara Lewat Photovoice, Realitas Banjir Rob Didorong Jadi Dasar Kebijakan Publik
Warga Pontianak Bersuara Lewat Photovoice, Realitas Banjir Rob Didorong Jadi Dasar Kebijakan Publik
Thursday, 15/01/2026


KALBARONLINE.com – Pengalaman warga Kota Pontianak yang selama ini hidup berdampingan dengan banjir rob diangkat melalui program Photovoice yang digelar Yayasan Kolase di Rumah Budaya Gang Hj Salmah, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kamis (15/1/2026).

Program ini menjadi ruang refleksi bersama untuk merekam realitas banjir dari sudut pandang warga, sekaligus mendorong lahirnya kebijakan publik yang lebih inklusif dan berpihak pada masyarakat terdampak banjir di Pontianak.

Ketua Yayasan Kolase, Andi Fahrizal, menjelaskan bahwa Photovoice merupakan metode partisipatif yang memberi ruang bagi warga untuk menyampaikan pengalaman hidup mereka melalui foto dan narasi.

“Photovoice tidak menempatkan masyarakat sebagai objek penelitian, tetapi sebagai subjek aktif. Warga memotret realitas yang mereka hadapi dan menceritakannya dengan bahasa mereka sendiri,” ujarnya.

Menurut Andi, pendekatan ini penting agar persoalan banjir tidak semata dipahami melalui data dan angka, tetapi juga dari pengalaman sehari-hari warga yang selama ini kerap terpinggirkan dalam proses perumusan kebijakan.

“Foto-foto ini bukan sekadar visual. Di dalamnya ada cerita, ingatan, dan pengalaman hidup warga yang berhadapan langsung dengan banjir,” katanya.

Program Photovoice Banjir Pontianak merupakan mandat dari FinCAPES dan telah dilaksanakan sejak Oktober 2025. Sebanyak 30 fotografer warga dilibatkan untuk mendokumentasikan kondisi banjir di delapan kawasan rawan yang mencakup 21 kelurahan di Kota Pontianak.

Penentuan wilayah rawan tersebut merujuk pada hasil studi Incapes Project melalui Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, yang menyimpulkan bahwa Pontianak rentan banjir akibat kondisi geografis dataran rendah serta tekanan pembangunan.

“Pontianak berada di wilayah rawa gambut pesisir dengan laju urbanisasi tinggi. Ruang resapan air terus berkurang dan ini menjadi tantangan serius ke depan,” jelas Andi.

Ia juga menyinggung banjir besar pada 8–9 Desember 2025 lalu sebagai peringatan penting. Saat itu, permukaan air laut mencapai sekitar 1,9 meter dan air masuk hingga ke kolong Rumah Budaya.

“Ini bukan lagi kejadian rutin tahunan, tetapi sinyal bahwa risiko banjir semakin meningkat,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan Photovoice Banjir Pontianak meliputi sesi refleksi, pameran fotografi karya warga, serta publikasi melalui podcast. Pameran foto digelar sebagai ruang dialog antara warga, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Pameran ini kami hadirkan bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk memahami persoalan banjir dari berbagai sudut pandang,” kata Andi.

Sebanyak 30 karya fotografi warga dipamerkan di halaman Rumah Budaya Pontianak dengan nuansa yang menghidupkan kembali ingatan kolektif Pontianak era 1980-an. Kegiatan Nongkrong Senja di Pontianak turut digelar sebagai bagian dari rangkaian acara.

“Kami sengaja memakai pendekatan budaya agar isu banjir bisa dibicarakan dengan cara yang lebih membumi dan dekat dengan warga,” tambahnya.

Kegiatan ini dibuka oleh Wali Kota Pontianak yang diwakili Kepala Bapperida Kota Pontianak, Sidig Handanu, dan dihadiri perwakilan OPD, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga mitra internasional.

Sidig menegaskan bahwa banjir tidak lagi bisa dipandang sebagai persoalan musiman, melainkan tantangan struktural yang berkaitan dengan perubahan iklim, pola pembangunan, dan perilaku masyarakat.

“Isu banjir sudah masuk dalam isu strategis Kota Pontianak. Dalam perencanaan jangka pendek, menengah, hingga panjang, aspek ketahanan kota dan risiko bencana sudah kami masukkan,” ujarnya.

Ia menilai Photovoice menjadi ruang penting untuk menangkap cara pandang masyarakat terhadap banjir. Menurutnya, warga adalah pihak yang paling merasakan dampak sehingga perspektif mereka harus menjadi dasar kebijakan.

“Melalui kegiatan ini kita bisa melihat bagaimana masyarakat memaknai banjir, dan semua pandangan itu penting untuk didengar,” katanya.

Sidig juga menekankan pentingnya penguatan sistem peringatan dini serta kolaborasi lintas daerah, mengingat persoalan banjir di Pontianak turut dipengaruhi perubahan tata guna lahan di wilayah hulu.

“Ini masalah bersama. Pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pemangku kepentingan harus bekerja sama,” tegasnya.

Akademisi Universitas Waterloo, Kanada, Prof. Stefan Steiner, menegaskan bahwa risiko banjir tidak dapat dipahami hanya melalui peta dan model ilmiah, tetapi juga harus dilihat dari pengalaman hidup warga.

“Risiko banjir dialami di rumah, di jalan, di sekolah, dan dalam kecemasan setiap kali hujan turun,” ujarnya.

Di bawah program FinCAPES, Universitas Waterloo mendukung berbagai kajian risiko banjir di Pontianak, termasuk studi aktuaria, penguatan sistem peringatan dini, dan pendekatan penceritaan visual seperti Photovoice.

“Warga Pontianak memahami kotanya lebih baik dari siapa pun. Pengetahuan lokal mereka sangat penting dalam merumuskan strategi adaptasi perubahan iklim,” katanya.

Ia menegaskan bahwa foto-foto dan narasi warga berfungsi sebagai dokumen sosial yang menerjemahkan temuan ilmiah ke dalam pengalaman manusia.

“Dengan cara ini, risiko banjir menjadi lebih terlihat dan tidak bisa lagi dianggap hal biasa,” tutup Prof. Steiner. (Red)

Air Setinggi Dada, Warga dan Polisi Terpaksa Panggul Peti Jenazah Lewati Banjir di Beduai
Air Setinggi Dada, Warga dan Polisi Terpaksa Panggul Peti Jenazah Lewati Banjir di Beduai
Monday, 12/01/2026


KALBARONLINE.com – Banjir setinggi dada orang dewasa yang merendam wilayah Kecamatan Beduai, Kabupaten Sanggau, menghambat akses pemulangan dua jenazah warga Entikong, Minggu (11/01/2026). Kondisi tersebut membuat warga bersama aparat kepolisian terpaksa memanggul peti jenazah melewati genangan air demi memastikan pemulangan tetap terlaksana.

Proses evakuasi dipimpin langsung oleh Kapolsek Beduai, AKP Heri Triyana, didampingi Danramil Beduai Letda Resbondi, Kepala Desa Bereng Berkawat Agus Rahmaddani, unsur BPBD, personel Polsek Beduai, Koramil Beduai, serta dibantu masyarakat setempat.

Dalam proses evakuasi, tim harus melewati sedikitnya empat titik banjir dengan ketinggian air berkisar antara satu hingga satu setengah meter. Kondisi ini membuat jalur evakuasi tidak dapat dilalui kendaraan roda dua, roda empat, maupun kendaraan berat.

“Dengan kondisi air setinggi ini, kendaraan tidak bisa melintas sama sekali. Satu-satunya cara adalah dengan evakuasi manual,” ungkap Kapolsek Beduai, AKP Heri Triyana.

Dua jenazah dievakuasi secara bertahap menggunakan perahu karet, rakit darurat, serta digotong secara manual oleh tim gabungan. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan proses pemulangan tetap berjalan aman dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan.

“Kami berupaya maksimal agar pemulangan jenazah dapat terlaksana dengan baik, meskipun harus menghadapi medan yang cukup berat akibat banjir,” ujarnya.

Setelah berhasil melewati seluruh titik genangan, kedua jenazah selanjutnya dipindahkan ke kendaraan ambulans dan armada pemadam kebakaran Kecamatan Beduai untuk diteruskan menuju rumah duka di Dusun Punti Kayan, Desa Nekan, Kecamatan Entikong.

AKP Heri Triyana menegaskan, keselamatan personel serta penghormatan terhadap jenazah menjadi perhatian utama selama proses evakuasi berlangsung.

“Kami memastikan setiap tahapan evakuasi dilakukan secara hati-hati, aman, dan tetap menjunjung tinggi rasa kemanusiaan,” tegasnya.

Diketahui, kedua jenazah merupakan warga Dusun Punti Kayan, Desa Nekan, Kecamatan Entikong, yang meninggal dunia akibat sakit saat menjalani perawatan medis di RSUD M.Th. Djaman, Kabupaten Sanggau.

Pemulangan jenazah sempat tertunda akibat jalan utama di wilayah Kecamatan Beduai terendam banjir, sehingga diperlukan koordinasi lintas sektor untuk memastikan proses evakuasi tetap dapat dilaksanakan. (Lid)

Banjir Terjang Dua Kecamatan di Sekadau, Ribuan Warga Terdampak
Banjir Terjang Dua Kecamatan di Sekadau, Ribuan Warga Terdampak
Friday, 09/01/2026


KALBARONLINE.com – Banjir melanda Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, pada 7–8 Januari 2026. Peristiwa ini berdampak pada tiga desa yang tersebar di dua kecamatan, dengan ribuan warga harus menghadapi kondisi terdampak banjir.

Koordinator Harian Pusdalops Penanggulangan Bencana (PB) Provinsi Kalbar, Daniel, menyampaikan bahwa desa pertama yang terdampak banjir adalah Desa Melati, Kecamatan Nanga Taman. Di wilayah ini, tercatat sebanyak 459 kepala keluarga (KK) atau 902 jiwa terdampak.

Banjir kemudian merendam Desa Mongko dengan jumlah warga terdampak mencapai 537 KK atau 1.921 jiwa. Sementara itu, di Desa Lembah Beringin, Kecamatan Nanga Mahap, sebanyak 417 KK atau 902 jiwa juga dilaporkan terdampak akibat genangan air.

Daniel menjelaskan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sekadau saat ini tengah melakukan kaji cepat di lokasi bencana. Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan upaya evakuasi dan penyelamatan warga terdampak banjir di sejumlah titik.

“Hasil kaji cepat ini nantinya akan menjadi dasar bagi pemerintah daerah setempat untuk melakukan penanggulangan bencana secara lebih masif,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat di wilayah terdampak banjir agar tetap bersabar serta mengikuti arahan petugas di lapangan demi menghindari risiko dan hal-hal yang tidak diinginkan. (Lid)

Jatuh Tercebur Saat Ambil Jambu, Bocah 10 Tahun di Pontianak Tewas Tenggelam Saat Banjir Rob
Jatuh Tercebur Saat Ambil Jambu, Bocah 10 Tahun di Pontianak Tewas Tenggelam Saat Banjir Rob
Tuesday, 09/12/2025


KALBARONLINE.com – Musibah tragis terjadi di tengah banjir rob yang kembali melanda Kota Pontianak. Seorang bocah berusia 10 tahun bernama Bayanaka Patal Ramlan ditemukan meninggal dunia oleh tim SAR gabungan pada Selasa (09/12/2025) pagi, setelah sebelumnya dilaporkan hilang pada Senin (08/12/2025).

Korban yang merupakan warga Jalan Tanjungpura, Kecamatan Pontianak Selatan tersebut diketahui hilang ketika sedang bermain di sekitar Parit Tokaya, salah satu titik wilayah terdampak banjir rob.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Pontianak, I Made Junetra, menjelaskan bahwa sebelum kejadian, korban sempat pamit bermain di sekitar parit pada kondisi air sedang tinggi.

“Sekitar pukul 10.00 WIB, korban pamit bermain di sekitar Parit Tokaya ketika banjir rob terjadi. Hingga malam hari korban belum kembali ke rumah,” jelas Junetra.

Laporan hilangnya Bayanaka disampaikan ibu korban, Nuwaira, pada pukul 18.40 WIB. Mendapat laporan tersebut, tim SAR gabungan langsung bergerak ke lokasi dan melakukan pencarian hingga tengah malam dengan bantuan peralatan seperti eco maps. Namun, pada hari pertama pencarian belum membuahkan hasil.

Pencarian dilanjutkan pada hari kedua. Korban akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, berjarak sekitar 21 meter dari titik awal diduga tenggelam.

“Korban ditemukan pada pagi hari berjarak sekitar 21 meter ke arah hulu dari titik awal diduga tenggelam. Selanjutnya korban dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarga,” kata Junetra.

Peristiwa ini menjadi pengingat agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika banjir rob melanda wilayah yang dekat dengan parit dan bantaran sungai. (Red)

Wako Edi Kamtono Pastikan Kesiapsiagaan Penanganan Banjir Rob
Wako Edi Kamtono Pastikan Kesiapsiagaan Penanganan Banjir Rob
Tuesday, 09/12/2025


KALBARONLINE.com – Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan bersama Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono meninjau permukiman warga yang terdampak banjir rob di Jalan Alpokat Indah Komplek YUKA, Kelurahan Sungai Beliung, Kecamatan Pontianak Barat, Selasa (9/12/2025). Usai dari lokasi tersebut, Edi juga meninjau kawasan terdampak lainnya di Kelurahan Tambelan Sampit, Kecamatan Pontianak Timur.

Peninjauan dilakukan pada hari kedua setelah hujan intensitas tinggi bertemu pasang air Sungai Kapuas dan menyebabkan banjir rob meluas, merendam permukiman warga. Dalam kunjungan itu, Pemprov Kalbar dan Pemkot Pontianak menyalurkan bantuan pangan untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi.

“Upaya yang kami lakukan tetap fokus pada mitigasi, menjaga kewaspadaan dan antisipasi. Yang paling penting adalah penyelamatan warga terdampak agar tidak jatuh sakit,” ujar Edi Kamtono.

Edi menambahkan, setelah air surut, tim gabungan akan melakukan pengecekan lanjutan terhadap kondisi warga maupun kerusakan lingkungan. Sementara ini, enam warga masih mengungsi di Aula Kantor Camat Pontianak Barat, sedangkan 16 lainnya sudah kembali ke rumah.

Terkait dampak kerusakan, ia menyebut pendataan masih berlangsung. “Kemungkinan yang terdampak jalan dan beberapa rumah warga. Datanya sedang kami kumpulkan,” jelasnya.

Gubernur Kalbar Ria Norsan menyampaikan bahwa sejumlah rumah di bantaran sungai turut terendam, namun kondisi air pada hari peninjauan sudah mulai menurun. “Hari ini kondisi air sudah menurun. Mudah-mudahan tidak turun hujan lagi, dan air laut juga semakin surut sehingga situasinya bisa segera pulih,” tuturnya.

Ia memastikan, pemerintah menyiagakan bantuan kesehatan untuk warga terdampak guna mencegah risiko penyakit pascabanjir, termasuk diare dan gatal-gatal. Dalam kunjungan itu, ia didampingi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar serta perwakilan Dinas Kesehatan Kota Pontianak.

“Jika memang dibutuhkan, kita siap membuka posko kesehatan di lokasi banjir, agar masyarakat dapat segera mendapatkan layanan,” tegas Norsan.

Pemerintah berharap situasi cepat kembali normal dan masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa. Penanganan pascabanjir akan dipastikan berjalan cepat dan tepat sasaran. (Red)

Bocah Tenggelam di Parit Tokaya, Wali Kota Edi Kamtono Sampaikan Duka Mendalam
Bocah Tenggelam di Parit Tokaya, Wali Kota Edi Kamtono Sampaikan Duka Mendalam
Tuesday, 09/12/2025


KALBARONLINE.com – Suasana duka menyelimuti rumah keluarga Bayanaka Patal Ramlan (10), bocah yang meninggal akibat tenggelam di Parit Tokaya, Kecamatan Pontianak Selatan. Bayanaka ditemukan dalam kondisi tak bernyawa oleh Tim Basarnas setelah sebelumnya dinyatakan hilang.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono datang langsung bertakziah ke rumah duka di Gang Pagar Alam, Jalan Tanjungpura, untuk menyampaikan dukacita dan memberikan penguatan kepada keluarga korban.

“Saya atas nama pribadi dan Pemerintah Kota Pontianak turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya ananda Bayanaka. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ucap Edi, Selasa (9/12/2025).

Berdasarkan informasi yang disampaikan Edi, peristiwa nahas itu terjadi ketika korban bermain bersama teman-temannya di sekitar parit. Mereka sedang mengambil jambu yang jatuh ke parit sebelum Bayanaka terpeleset dan tercebur.

“Dicari-cari tidak ketemu. Baru tadi pagi sekitar pukul 05.00 WIB jasadnya ditemukan terapung di sekitar parit tersebut,” jelasnya.

Edi menegaskan pentingnya kewaspadaan di tengah kondisi banjir rob, di mana air pasang membuat batas antara jalan dan parit sulit terlihat.

“Para orang tua harus benar-benar waspada. Pada kondisi seperti ini permukaan jalan dan parit tidak terlihat karena tertutup air. Jadi harus selalu hati-hati,” pesannya.

Ia kembali mengimbau keluarga untuk memperketat pengawasan terhadap anak-anak, terutama pada musim penghujan dan pasang tinggi.

“Jangan sampai anak-anak mandi di parit yang dalam, dan harus selalu diawasi,” pungkasnya. (Red)

Banjir Rob di Pontianak Makan Korban, Edi Kamtono Imbau Orang Tua Awasi Anak
Banjir Rob di Pontianak Makan Korban, Edi Kamtono Imbau Orang Tua Awasi Anak
Tuesday, 09/12/2025


KALBARONLINE.com – Banjir rob yang melanda Kota Pontianak membawa kabar duka. Seorang bocah berusia 10 tahun bernama Bayanaka ditemukan meninggal dunia setelah sebelumnya dilaporkan hilang di kawasan Parit Tokaya, Kecamatan Pontianak Selatan.

Menanggapi kejadian tersebut, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengimbau para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, terutama saat kondisi banjir rob yang membuat area parit dan jalan tidak terlihat jelas.

Imbauan itu disampaikan Edi saat mendampingi Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, meninjau sejumlah lokasi terdampak banjir rob di Kota Pontianak, Selasa (09/12/2025).

“Para keluarga kita minta hati-hati terutama anak-anak yang tidak pandai berenang. Para orang tua menjaga anaknya supaya jangan mandi di tempat yang dalam paritnya dan tetap diawasi,” ujarnya.

Sebelum meninjau lokasi banjir rob, Edi Kamtono turut bertakziah ke rumah duka korban di Gang Pagar Alam, Jalan Tanjungpura, Pontianak.

Berdasarkan informasi yang diterima, korban sebelumnya terlihat bermain bersama teman-temannya di sekitar parit. Saat sedang mengambil jambu yang jatuh ke parit, korban diduga terpeleset hingga tercebur. Setelah dilakukan pencarian, korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia terapung di sekitar Parit Tokaya.

“Sudah dicari tidak ketemu, baru tadi pagi ditemukan mayatnya terapung di sekitar parit Tokaya,” ungkap Edi.

Ia kembali meminta masyarakat untuk tetap waspada mengingat ketinggian air pasang rob membuat batas antara jalan dan parit sulit dikenali.

“Kita berharap orang tua waspada, melihat dan mengawasi anaknya. Air pasang tinggi ini membuat jalan sama parit sudah tidak kelihatan, jadi harus hati-hati,” tegasnya. (Lid)

Pemprov Kalbar Siapkan Bantuan Kesehatan Pasca Banjir Rob
Pemprov Kalbar Siapkan Bantuan Kesehatan Pasca Banjir Rob
Tuesday, 09/12/2025


KALBARONLINE.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat memastikan kesiapan layanan kesehatan bagi warga terdampak banjir rob yang melanda sejumlah wilayah, termasuk Pontianak Barat. Hal ini disampaikan Gubernur Kalbar Ria Norsan usai meninjau lokasi banjir di ruas Jalan Alpukat Indah atau kawasan Yuka, Kelurahan Sungai Beliung, Selasa (09/12/2025).

“Kita meninjau ini untuk melihat setelah pasca banjir, seandainya ada masyarakat yang memerlukan bantuan untuk pengobatan atau timbul penyakit diare, gatal-gatal, kita siap bantu. Kalau ada apa-apa kita buka posko kesehatan di sini,” ujar Norsan di hadapan warga.

Selain memantau kondisi keselamatan warga, Pemprov Kalbar juga menyalurkan bantuan logistik berupa sembako, mie instan, selimut, dan kebutuhan pokok lainnya untuk membantu pemenuhan gizi dan kebutuhan harian masyarakat selama banjir rob berlangsung.

“Banjir rob ini memang kerap terjadi pada akhir tahun saat air sungai dan air laut sama-sama naik,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar Erna Yulianti menegaskan bahwa pihaknya telah menginstruksikan Dinas Kesehatan Kota Pontianak untuk mengerahkan puskesmas di wilayah terdampak.

“Untuk posko kesehatan tidak disiapkan secara khusus. Masyarakat dapat langsung mendatangi puskesmas. Nantinya puskesmas yang akan turun ke lapangan jika ada warga yang memerlukan perhatian khusus,” pungkasnya. (Lid)

Banjir Rob Rendam Sejumlah Ruas Jalan di Ketapang, Aktivitas Warga Terganggu
Banjir Rob Rendam Sejumlah Ruas Jalan di Ketapang, Aktivitas Warga Terganggu
Monday, 08/12/2025


KALBARONLINE.com – Sejumlah ruas jalan di wilayah pesisir Sungai Pawan dan kawasan Pantai Kabupaten Ketapang terendam banjir rob akibat fenomena pasang air laut yang berbarengan dengan hujan deras, Senin (8/12/2025). Genangan air dengan ketinggian 30 sentimeter hingga satu meter membuat puluhan kendaraan milik warga mogok dan menghambat mobilitas masyarakat.

Dian, warga Kecamatan Delta Pawan, mengaku banjir kali ini jauh lebih tinggi dibanding hari-hari sebelumnya. Kondisi tersebut membuat warga kesulitan beraktivitas, terutama saat berangkat kerja.

“Kami mau kerja terkendala karena motor kami mogok di Jalan Pawan Satu. Alhamdulillah tadi dibantu pihak BPBD dan Satlantas Polres Ketapang untuk dorong motor saya,” ujarnya.

Dian menyebutkan bahwa genangan kali ini lebih parah dibanding banjir pada Sabtu dan Minggu (6–7/12/2025) lalu, yang hanya mencapai 15–30 sentimeter.

“Jalan ini lebih dalam dari hari sebelumnya, akibatnya banyak motor mogok terutama kendaraan roda dua metik,” ungkapnya.

Kondisi serupa dialami Agus, warga Kelurahan Mulia Kerta, Kecamatan Benua Kayong, yang hendak menuju pusat Kota Ketapang melalui Jembatan Pawan V.

“Jalur menuju Ketapang makin dalam. Banyak motor mogok termasuk motor saya, Bang,” katanya sambil mendorong kendaraannya ke bengkel.

Sebelumnya, BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sepadio telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi banjir rob di wilayah pesisir Kalimantan Barat, termasuk Ketapang. Dalam rilis resminya, BMKG memperkirakan ketinggian pasang air laut dapat mencapai 1,9 meter pada 8–9 Desember 2025, disertai hujan intensitas sedang hingga lebat.

BMKG juga menyampaikan adanya potensi kenaikan tinggi gelombang di kawasan perairan Ketapang, Kayong Utara, dan Selat Karimata, yang diperkirakan mencapai 1,25 hingga 2,5 meter.

“Untuk potensi banjir rob, warga diimbau meningkatkan kewaspadaan, khususnya pada periode pasang maksimum,” tulis BMKG.

Masyarakat diminta terus memantau informasi resmi dari BMKG maupun pemerintah daerah untuk mengantisipasi potensi dampak lanjutan, terutama pada wilayah pesisir dan dataran rendah yang berisiko terdampak langsung. (Adi LC)