Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
bumi uncak kapuas
Jelang HUT ke-81 RI, Ini Bukan Fiksi, Tapi Fakta Sejarah dari Bumi Uncak Kapuas
Jelang HUT ke-81 RI, Ini Bukan Fiksi, Tapi Fakta Sejarah dari Bumi Uncak Kapuas
Sunday, 16/08/2026

KALBARONLINE.com – Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 yang jatuh pada 17 Agustus 2026, penting untuk kembali mengenang para cendekiawan, tokoh pejuang dan pahlawan kemerdekaan dari Bumi Uncak Kapuas, Kabupaten Kapuas Hulu.

Tulisan ini menjadi bagian dari edukasi agar seluruh komponen bangsa mengenal dan mengetahui nama-nama tokoh pejuang serta pahlawan kemerdekaan dari Kabupaten Kapuas Hulu. Jasa dan perjuangan mereka menjadi bagian dari sejarah yang patut dihargai dan dihormati.

Ini bukan fiksi, melainkan catatan sejarah yang perlu dikenang oleh generasi penerus sebagai bagian dari upaya menjaga semangat dan cita-cita para pejuang kemerdekaan.

Berikut nama-nama tokoh pejuang dan pahlawan kemerdekaan dari Kabupaten Kapuas Hulu, Bumi Uncak Kapuas:

  1. Jeranding Abdurrahman, yang berhasil lolos dari pencarian tentara Jepang.
  2. Nasran Landung, pembawa bendera Merah Putih yang disembunyikan di balik bajunya dan dibawa dari Benua Martinus hingga ke Kerangan Siset, Kampung Prajurit, Kelurahan Hilir Kantor, Putussibau. Ia berhasil lolos dari pencarian tentara Jepang.
  3. J.C. Oevang Oeray, tokoh pejuang, politikus serta guru.
  4. Ahmad Dogom Siregar, Demang yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang di Mandor.
  5. Dr. Achmad Diponegoro, Kepala Rumah Sakit Putussibau yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang di Mandor.
  6. Sunarjo Martowardoyo, pegawai rumah sakit yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang di Mandor.
  7. J. David, mantan Kapten KNIL yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang di Mandor.
  8. Speek Spieder, mantan Sersan Mayor KNIL yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang di Mandor.
  9. Burger, pegawai yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang di Mandor.
  10. Cortleven, mantan Kontrolir yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang di Mandor.
  11. H.C. Van Der Woerd, mantan Kontrolir yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang di Mandor.
  12. Kamerling, mantan anggota KNIL yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang di Mandor.
  13. Raden Roro, ibu rumah tangga yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang di Mandor.
  14. Raden Ajое, ibu rumah tangga yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang di Mandor.

Selain nama-nama tokoh tersebut, sejumlah peninggalan sejarah dari masa kolonial Belanda juga masih terdapat di Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu.

Beberapa di antaranya yakni:

  1. Rumah Dinas Jabatan Bupati Kabupaten Kapuas Hulu.
  2. Lapangan Ahmad Yani yang kini menjadi kawasan Waterfront Putussibau.
  3. SDN 1 Putussibau.
  4. Dua buah meriam bertuliskan VOC.

Berbagai nama tokoh dan peninggalan sejarah tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Kabupaten Kapuas Hulu. Mengenang sejarah bukan sekadar melihat masa lalu, tetapi juga menjadi cara untuk menghargai perjuangan para pendahulu dan meneruskan semangat mereka kepada generasi berikutnya. (Haq)

Mengenang Jejak Perjuangan Kemerdekaan dari Bumi Uncak Kapuas, Mengenalkan Tokoh Pejuang Kapuas Hulu
Mengenang Jejak Perjuangan Kemerdekaan dari Bumi Uncak Kapuas, Mengenalkan Tokoh Pejuang Kapuas Hulu
Tuesday, 04/08/2026

KALBARONLINE.com – Sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Kapuas Hulu menjadi bagian penting yang perlu terus dikenalkan kepada generasi penerus bangsa.

Dari Bumi Uncak Kapuas, sejumlah tokoh tercatat memiliki peran dalam perjuangan melawan kolonial Belanda maupun tentara Jepang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Catatan sejarah ini menjadi edukasi dan literasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar mengenal kembali tokoh-tokoh pejuang asal Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Tokoh pejuang kemerdekaan RI dari Putussibau yang dikenal dalam sejarah perjuangan tersebut adalah Jeranding Abdurrahman dan J.C. Oevaang Oeray.

Selain tokoh perjuangan tersebut, terdapat pula sejumlah nama pejuang asal Putussibau yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang dalam tragedi Mandor.

Mereka adalah Ahmad Dogom (Demang), Achmad Diponegoro (Kepala Rumah Sakit Putussibau), Sunarjo Martowardoyo (Pegawai Rumah Sakit), J. David (Eks Kapten KNIL), Speek Spieder (Eks Sersan Mayor KNIL), Burger (Pegawai), Cortleven (Eks Kontrolir), H.C. Van der Woerd (Eks Kontrolir), Kamerling (Eks KNIL), Raden Roro (Ibu rumah tangga), dan Raden Ajoe (Ibu rumah tangga).

Selain kisah perjuangan para tokoh, jejak sejarah kolonial juga masih dapat ditemukan di Putussibau.

Beberapa peninggalan masa kolonial Belanda yang masih dikenal hingga saat ini antara lain, rumah jabatan dinas Bupati Kabupaten Kapuas Hulu, lapangan Ahmad Yani yang kini menjadi kawasan Waterfront Putussibau, dua buah meriam bertuliskan VOC yang berada di Kantor Bupati Kapuas Hulu Gedung Satap, dan bangunan SD Negeri 01 Putussibau.

Peninggalan sejarah tersebut menjadi pengingat perjalanan panjang Kapuas Hulu dalam dinamika perjuangan bangsa Indonesia.

Melalui pengenalan sejarah lokal, generasi muda diharapkan tidak hanya mengetahui sejarah nasional, tetapi juga memahami bahwa daerah mereka memiliki tokoh dan peristiwa penting dalam perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia. (Haq)