Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
dharma inti bersama
Sumur dan Parit Mengering, Warga Medan Jaya Kayong Utara Andalkan Bantuan Air Bersih
Sumur dan Parit Mengering, Warga Medan Jaya Kayong Utara Andalkan Bantuan Air Bersih
Wednesday, 21/10/2026

KALBARONLINE.com – Musim kemarau membuat warga Desa Medan Jaya, Kabupaten Kayong Utara, kesulitan mendapatkan air bersih. Sumur dan parit yang biasa menjadi sumber air mulai mengering, sehingga masyarakat harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut turut dirasakan Supari, warga setempat. Ia mengatakan, keterbatasan air membuat masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga, terutama selama sumber air belum kembali tersedia.

“Selama musim kemarau ini, ketersediaan air sangat kurang. Banyak sumur sudah tidak ada airnya,” kata Supari.

Sebelum bantuan datang, warga berupaya menghemat sisa air yang tersedia, membeli air dalam jumlah terbatas, atau memanfaatkan air gambut dari kawasan Air Rimba untuk kebutuhan tertentu.

Dalam situasi tersebut, ketersediaan air menjadi persoalan penting bagi rumah tangga. Warga tidak hanya membutuhkan air untuk minum dan memasak, tetapi juga harus mengatur persediaan agar kebutuhan lainnya tetap terpenuhi.

Bantuan air bersih pun menjadi salah satu upaya untuk meringankan beban masyarakat. Pada Kamis (15/10/2026), Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kayong Utara menyalurkan air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Desa Medan Jaya.

Sumur dan Parit Mengering, Warga Medan Jaya Kayong Utara Andalkan Bantuan Air Bersih
Warga Dusun Medan Jaya mengisi wadah penampungan dengan air bersih yang didistribusikan melalui kerjasama BPBD Kabupaten Kayong Utara dan Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP), Kamis, (15/10/2026) (Foto: KIPP For KALBARONLINE.com)​

Menurut perkiraan Supari, air yang diterima dapat mencukupi kebutuhan warga selama sekitar tiga hingga empat hari. Karena itu, ia berharap penyaluran bantuan dapat dilakukan secara berkelanjutan selama musim kemarau masih membatasi akses masyarakat terhadap air bersih.

“Kami berharap ke depannya bantuan bisa terus berlanjut. Kalau memungkinkan, seminggu dua kali karena masyarakat memang sangat membutuhkan air bersih. Kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan ini,” ujarnya.

Bagi warga yang terdampak kekeringan, bantuan air tidak hanya dibutuhkan sesaat. Kepastian pasokan secara berkala juga menjadi harapan agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi hingga sumber air kembali tersedia.

Penyaluran di Desa Medan Jaya merupakan bagian dari upaya penanganan kekeringan di Kabupaten Kayong Utara. Sejak Agustus 2026, BPBD Kabupaten Kayong Utara bersama KIPP telah menyalurkan sekitar satu juta liter air bersih ke sejumlah wilayah terdampak, meliputi Kecamatan Sukadana, Simpang Hilir, Teluk Batang, dan Pulau Maya.

Kepala BPBD Kabupaten Kayong Utara, Fathul Bahri, mengapresiasi dukungan KIPP yang terlibat sejak awal penanganan kekeringan. Kolaborasi tersebut turut mendukung distribusi air bersih, termasuk ke wilayah yang membutuhkan dukungan transportasi dan memiliki akses lebih sulit dijangkau.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada KIPP yang sejak awal terus mendampingi upaya penanganan kekeringan. Ini menunjukkan adanya tanggung jawab dan empati terhadap kondisi masyarakat. Ketika bencana terjadi, semakin banyak pihak yang terlibat tentu semakin baik,” ujar Fathul.

External Relation Manager KIPP, Sugeng Sulistiyo, mengatakan bantuan air bersih merupakan salah satu bentuk dukungan perusahaan terhadap kebutuhan masyarakat yang terdampak kekeringan.

Melalui koordinasi dengan BPBD Kabupaten Kayong Utara, KIPP berupaya membantu penyaluran air bersih agar menjangkau wilayah yang membutuhkan pasokan.

“Kami memahami ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting, terlebih ketika masyarakat menghadapi kondisi kekeringan. Karena itu, KIPP bekerja sama dengan BPBD Kabupaten Kayong Utara untuk membantu penyaluran air bersih ke wilayah yang membutuhkan. Kami berharap dukungan ini dapat meringankan kebutuhan masyarakat, khususnya untuk keperluan minum dan memasak selama musim kemarau berlangsung,” ujar Sugeng.

Bagi Supari dan warga Desa Medan Jaya, harapan mereka sederhana: bantuan air bersih dapat terus berlanjut agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi selama musim kemarau. (*)

Panen Lele di Pinggir Pantai, Harapan Baru Masyarakat Nelayan Desa Pelapis
Panen Lele di Pinggir Pantai, Harapan Baru Masyarakat Nelayan Desa Pelapis
Tuesday, 13/01/2026


KALBARONLINE.com – Setiap pagi dan sore, Suaka, warga Desa Pelapis, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara, punya rutinitas baru. Ia memberi makan ikan lele di kolam terpal di samping rumahnya yang berdiri tak jauh dari bibir pantai.

Kolam terpal tersebut merupakan bagian dari Program CSR Bidang Peningkatan Ekonomi yang digagas masyarakat Desa Pelapis bersama PT Dharma Inti Bersama (DIB), pengelola Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP).

“Waktu paling menyenangkan itu saat memberi umpan,” katanya suatu ketika. “Rasanya kalau bisa, tiap hari kasih makan terus. Senang saja melihat ikan-ikan itu berebut.”

Bagi Suaka, nelayan yang sejak kecil menggantungkan hidup dari laut, rutinitas merawat ikan air tawar awalnya terasa asing. Namun dari kebiasaan sederhana itu, perubahan perlahan tumbuh. Perubahan yang mencapai puncaknya pada Sabtu pagi, 10 Januari 2026, saat panen perdana budidaya ikan lele digelar.

Setelah dirawat bersama rekan satu kelompok selama sekitar dua bulan, panen perdana akhirnya dilakukan. Empat kolam terpal yang tersebar di tiga dusun menghasilkan sekitar 700 kilogram ikan lele. Jumlah yang mungkin biasa bagi peternak besar, namun sangat berarti bagi masyarakat pesisir yang selama puluhan tahun sepenuhnya bergantung pada laut.


Panen perdana lele di Desa Pelapis, Kayong Utara, jadi harapan baru nelayan pesisir lewat program CSR dan kepastian pasar KIPP (Foto: DIB For KALBARONLINE.com)

Panen perdana lele di Desa Pelapis, Kayong Utara, jadi harapan baru nelayan pesisir lewat program CSR dan kepastian pasar KIPP (Foto: DIB For KALBARONLINE.com)​


Bagi warga Pelapis, panen ini bukan sekadar hitungan kilogram dan rupiah. Ia menjadi bukti bahwa diversifikasi penghidupan dapat diwujudkan. Di tengah cuaca laut yang kian sulit diprediksi, kolam lele di halaman rumah menjadi simbol alternatif, bahkan harapan.

Suaka berdiri di dekat kolam dengan senyum yang sulit disembunyikan. Tangannya sesekali menunjuk ikan-ikan yang bergerak lincah.

“Terima kasih sebesar-besarnya kepada perusahaan atas masukan dan program-program untuk masyarakat Pelapis,” ujarnya. “Mudah-mudahan dengan adanya budidaya ikan air tawar di RT 3 ini bisa jadi tolok ukur bagi kawan-kawan di dua dusun lainnya.”

Perjalanan menuju panen perdana, diakuinya, tidak selalu mulus. Perubahan kualitas air, risiko penyakit, hingga kekhawatiran ikan mati sempat menghantui. Namun pendampingan rutin dari tenaga lapangan DIB menjadi penopang penting. Air kolam dipantau, pakan diatur agar tidak berlebihan, dan persoalan teknis diatasi satu per satu.

“Airnya memang harus dijaga supaya tetap bagus, kadang juga ada timbul penyakit ikan,” cerita Suaka. “Tapi alhamdulillah, di kolam yang kami kelola ini ikan yang sakit cuma satu dua.”

Camat Kepulauan Karimata, Mikrad Abdi, yang turut hadir dalam panen perdana tersebut, memahami betul tantangan mengajak nelayan tangkap beralih mencoba usaha budidaya.

“Alhamdulillah, budi daya ikan tawar di Desa Pelapis ini hasilnya bagus,” ujarnya.

Menurut Mikrad, keberhasilan panen ini membuka peluang besar. Budidaya lele dapat menjadi sumber penghasilan tambahan ketika cuaca laut tidak bersahabat. Terlebih, pasarnya sudah jelas karena Kawasan Industri Pulau Penebang siap menyerap hasil produksi.

“Kedepannya, produknya bisa diakomodir untuk konsumsi di Penebang,” jelasnya. “Ikan air tawar ini hal yang baru, tapi sekarang anak-anak sudah mau makan ikan air tawar. Produknya diambil untuk Penebang.”

Ia optimistis, jika dikelola dengan serius, usaha yang kini masih bersifat sampingan dapat berkembang menjadi sumber penghasilan utama.

“Kan tidak selalu ke laut karena cuaca,” tambahnya. “Jadi budidaya lele ini bisa jadi penghasilan tambahan. Perekonomian masyarakat bisa meningkat.”

Apresiasi juga datang dari Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kayong Utara, Hendra. Mantan Camat Kepulauan Karimata ini menilai keberhasilan panen perdana sebagai awal dari proses panjang.

“Ibarat anak baru lahir, belajar merangkak itu butuh proses. Sekali dua kali gagal itu biasa,” katanya memberi motivasi. “Yang penting, kita belajar dan terus maju.”

Ia menilai Desa Pelapis memiliki keunggulan yang tidak dimiliki semua wilayah, yakni kepastian pasar.

“Kalau kita bekerja, yang membeli sudah ada,” ujarnya merujuk pada KIPP. “Tinggal kesiapan masyarakatnya.”

Ke depan, Hendra mendorong pengembangan budidaya tidak berhenti pada pembesaran ikan, tetapi juga merambah pembibitan dan pembuatan pakan mandiri, agar rantai nilai ekonomi semakin panjang dan manfaatnya lebih besar bagi masyarakat.

Dari sisi perusahaan, Government Relation Manager DIB, Seno Ario Wibowo, menyampaikan rasa syukur dapat menyaksikan langsung panen perdana tersebut.

“Tiba saatnya kita merasakan jerih payah dalam mengembangkan budidaya lele yang alhamdulillah berhasil,” ujarnya.

Seno menjelaskan, program ini dirancang sebagai bantalan ekonomi, terutama saat musim paceklik.

“Tidak perlu khawatir ikan lele ini akan dikemanakan,” tegasnya. “Kami menjamin hasil panen akan kami serap.”

Inovasi juga disiapkan. Berdasarkan masukan tenaga ahli dari IPB, ikan lele akan dimarinasi untuk memperpanjang masa simpan, mengingat keterbatasan fasilitas penyimpanan ikan segar di pulau. Ke depan, ibu-ibu Desa Pelapis akan dilibatkan dalam proses marinasi dan pengemasan vakum, membuka peluang ekonomi baru di tingkat rumah tangga.

Pada panen perdana tersebut, Hendra menutup kegiatan dengan pantun yang disambut senyum dan tepuk tangan warga:

Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi.
Kalau sudah budi daya lele ini menguntungkan, kenapa tidak kita coba lagi.
(Ril)

Edukasi PHBS DIB Care Dukung Tumbuh Kembang dan Konsentrasi Belajar Anak Desa Pelapis
Edukasi PHBS DIB Care Dukung Tumbuh Kembang dan Konsentrasi Belajar Anak Desa Pelapis
Wednesday, 10/12/2025


KALBARONLINE.com — Upaya membangun generasi sehat dan cerdas terus dilakukan di wilayah kepulauan. Lebih dari seratus pelajar sekolah dasar di Pulau Pelapis, Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara, tampak antusias mengikuti edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang digelar PT Dharma Inti Bersama (DIB) bersama Puskesmas setempat melalui program DIB Care.

Kegiatan edukasi PHBS ini menyasar siswa SDN 02 Desa Pelapis, SDN 07 Desa Pelapis, dan SDN 06 Pulau Meledang. Fokus utama kegiatan adalah membangun kebiasaan dasar kesehatan sejak dini, khususnya cara menggosok gigi dan mencuci tangan yang baik dan benar, sebagai fondasi penting bagi tumbuh kembang anak, daya konsentrasi belajar, serta produktivitas mereka di masa depan.

Dokter perusahaan PT DIB, dr. Noni Priscilia, bersama tenaga kesehatan Puskesmas Desa Pelapis memberikan edukasi secara interaktif dan mudah dipahami anak-anak. Para siswa diajak mempraktikkan langsung langkah-langkah mencuci tangan mulai dari membasuh tangan, menggunakan sabun, menggosok seluruh permukaan tangan selama minimal 60 detik, hingga membilas dan mengeringkannya dengan benar. Metode enam langkah cuci tangan diperagakan dengan cara yang menyenangkan agar mudah diingat.

Selain itu, siswa juga diajarkan teknik menggosok gigi yang tepat. Untuk mendukung kebiasaan hidup bersih dan sehat di rumah, seluruh peserta mendapatkan paket sikat gigi dan pasta gigi khusus anak.

dr. Noni menegaskan bahwa penerapan PHBS sejak usia sekolah memiliki dampak langsung terhadap kualitas kesehatan dan kemampuan belajar anak.

“Ketika anak-anak terbiasa menjaga kebersihan diri, risiko penyakit seperti diare, cacingan, ISPA, dan karies gigi bisa ditekan. Dampaknya sangat nyata, mulai dari meningkatnya konsentrasi belajar, kehadiran di sekolah, hingga pertumbuhan fisik yang lebih optimal. Anak yang sehat akan lebih siap menyerap pelajaran,” jelasnya.

Ia menambahkan, edukasi PHBS di sekolah merupakan langkah strategis untuk membentuk perubahan perilaku jangka panjang, sehingga kebiasaan hidup bersih dan sehat dapat tertanam tidak hanya di sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Sementara itu, External Relation Manager PT Dharma Inti Bersama, Seno Ario Wibowo, menyampaikan bahwa edukasi PHBS merupakan bagian dari rangkaian program tanggung jawab sosial perusahaan melalui DIB Care yang dilaksanakan secara rutin setiap bulan. Pada pelaksanaan perdana edukasi PHBS ini, tercatat sebanyak 138 anak menerima manfaat secara langsung.

“Melalui DIB Care, kami berkomitmen mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Desa Pelapis sebagai komunitas terdekat dengan Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP). Kami ingin memastikan anak-anak di wilayah ini mendapatkan akses edukasi dan pelayanan kesehatan dasar secara gratis dan berkelanjutan,” ujarnya.

Program edukasi PHBS di sekolah-sekolah tersebut melengkapi berbagai kegiatan kesehatan lain yang telah dijalankan DIB Care, seperti pemeriksaan kesehatan rutin dan pemberian makanan tambahan. Dengan pendekatan preventif dan edukatif, PT DIB berharap dapat berkontribusi dalam menyiapkan generasi muda Desa Pelapis yang sehat, cerdas, dan produktif ke depan. (Red)