Kayong Utara    

Panen Lele di Pinggir Pantai, Harapan Baru Masyarakat Nelayan Desa Pelapis

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Selasa, 13 Januari 2026
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar


KALBARONLINE.com – Setiap pagi dan sore, Suaka, warga Desa Pelapis, Kecamatan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara, punya rutinitas baru. Ia memberi makan ikan lele di kolam terpal di samping rumahnya yang berdiri tak jauh dari bibir pantai.

Kolam terpal tersebut merupakan bagian dari Program CSR Bidang Peningkatan Ekonomi yang digagas masyarakat Desa Pelapis bersama PT Dharma Inti Bersama (DIB), pengelola Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP).

“Waktu paling menyenangkan itu saat memberi umpan,” katanya suatu ketika. “Rasanya kalau bisa, tiap hari kasih makan terus. Senang saja melihat ikan-ikan itu berebut.”

Bagi Suaka, nelayan yang sejak kecil menggantungkan hidup dari laut, rutinitas merawat ikan air tawar awalnya terasa asing. Namun dari kebiasaan sederhana itu, perubahan perlahan tumbuh. Perubahan yang mencapai puncaknya pada Sabtu pagi, 10 Januari 2026, saat panen perdana budidaya ikan lele digelar.

Setelah dirawat bersama rekan satu kelompok selama sekitar dua bulan, panen perdana akhirnya dilakukan. Empat kolam terpal yang tersebar di tiga dusun menghasilkan sekitar 700 kilogram ikan lele. Jumlah yang mungkin biasa bagi peternak besar, namun sangat berarti bagi masyarakat pesisir yang selama puluhan tahun sepenuhnya bergantung pada laut.


Panen perdana lele di Desa Pelapis, Kayong Utara, jadi harapan baru nelayan pesisir lewat program CSR dan kepastian pasar KIPP (Foto: DIB For KALBARONLINE.com)

Panen perdana lele di Desa Pelapis, Kayong Utara, jadi harapan baru nelayan pesisir lewat program CSR dan kepastian pasar KIPP (Foto: DIB For KALBARONLINE.com)


Bagi warga Pelapis, panen ini bukan sekadar hitungan kilogram dan rupiah. Ia menjadi bukti bahwa diversifikasi penghidupan dapat diwujudkan. Di tengah cuaca laut yang kian sulit diprediksi, kolam lele di halaman rumah menjadi simbol alternatif, bahkan harapan.

Suaka berdiri di dekat kolam dengan senyum yang sulit disembunyikan. Tangannya sesekali menunjuk ikan-ikan yang bergerak lincah.

“Terima kasih sebesar-besarnya kepada perusahaan atas masukan dan program-program untuk masyarakat Pelapis,” ujarnya. “Mudah-mudahan dengan adanya budidaya ikan air tawar di RT 3 ini bisa jadi tolok ukur bagi kawan-kawan di dua dusun lainnya.”

Perjalanan menuju panen perdana, diakuinya, tidak selalu mulus. Perubahan kualitas air, risiko penyakit, hingga kekhawatiran ikan mati sempat menghantui. Namun pendampingan rutin dari tenaga lapangan DIB menjadi penopang penting. Air kolam dipantau, pakan diatur agar tidak berlebihan, dan persoalan teknis diatasi satu per satu.

“Airnya memang harus dijaga supaya tetap bagus, kadang juga ada timbul penyakit ikan,” cerita Suaka. “Tapi alhamdulillah, di kolam yang kami kelola ini ikan yang sakit cuma satu dua.”

Camat Kepulauan Karimata, Mikrad Abdi, yang turut hadir dalam panen perdana tersebut, memahami betul tantangan mengajak nelayan tangkap beralih mencoba usaha budidaya.

“Alhamdulillah, budi daya ikan tawar di Desa Pelapis ini hasilnya bagus,” ujarnya.

Menurut Mikrad, keberhasilan panen ini membuka peluang besar. Budidaya lele dapat menjadi sumber penghasilan tambahan ketika cuaca laut tidak bersahabat. Terlebih, pasarnya sudah jelas karena Kawasan Industri Pulau Penebang siap menyerap hasil produksi.

“Kedepannya, produknya bisa diakomodir untuk konsumsi di Penebang,” jelasnya. “Ikan air tawar ini hal yang baru, tapi sekarang anak-anak sudah mau makan ikan air tawar. Produknya diambil untuk Penebang.”

Ia optimistis, jika dikelola dengan serius, usaha yang kini masih bersifat sampingan dapat berkembang menjadi sumber penghasilan utama.

“Kan tidak selalu ke laut karena cuaca,” tambahnya. “Jadi budidaya lele ini bisa jadi penghasilan tambahan. Perekonomian masyarakat bisa meningkat.”

Apresiasi juga datang dari Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kayong Utara, Hendra. Mantan Camat Kepulauan Karimata ini menilai keberhasilan panen perdana sebagai awal dari proses panjang.

“Ibarat anak baru lahir, belajar merangkak itu butuh proses. Sekali dua kali gagal itu biasa,” katanya memberi motivasi. “Yang penting, kita belajar dan terus maju.”

Ia menilai Desa Pelapis memiliki keunggulan yang tidak dimiliki semua wilayah, yakni kepastian pasar.

“Kalau kita bekerja, yang membeli sudah ada,” ujarnya merujuk pada KIPP. “Tinggal kesiapan masyarakatnya.”

Ke depan, Hendra mendorong pengembangan budidaya tidak berhenti pada pembesaran ikan, tetapi juga merambah pembibitan dan pembuatan pakan mandiri, agar rantai nilai ekonomi semakin panjang dan manfaatnya lebih besar bagi masyarakat.

Dari sisi perusahaan, Government Relation Manager DIB, Seno Ario Wibowo, menyampaikan rasa syukur dapat menyaksikan langsung panen perdana tersebut.

“Tiba saatnya kita merasakan jerih payah dalam mengembangkan budidaya lele yang alhamdulillah berhasil,” ujarnya.

Seno menjelaskan, program ini dirancang sebagai bantalan ekonomi, terutama saat musim paceklik.

“Tidak perlu khawatir ikan lele ini akan dikemanakan,” tegasnya. “Kami menjamin hasil panen akan kami serap.”

Inovasi juga disiapkan. Berdasarkan masukan tenaga ahli dari IPB, ikan lele akan dimarinasi untuk memperpanjang masa simpan, mengingat keterbatasan fasilitas penyimpanan ikan segar di pulau. Ke depan, ibu-ibu Desa Pelapis akan dilibatkan dalam proses marinasi dan pengemasan vakum, membuka peluang ekonomi baru di tingkat rumah tangga.

Pada panen perdana tersebut, Hendra menutup kegiatan dengan pantun yang disambut senyum dan tepuk tangan warga:

Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi.
Kalau sudah budi daya lele ini menguntungkan, kenapa tidak kita coba lagi.
(Ril)

Artikel Selanjutnya
Dandim Putussibau Tinjau Progres Pembangunan Gedung KDKMP di Sibau Hulu
Selasa, 13 Januari 2026
Artikel Sebelumnya
Pisah Sambut Kapolresta Pontianak, Wali Kota Harap Sinergi Terus Menguat
Selasa, 13 Januari 2026

Berita terkait