Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
operasi modifikasi cuaca
Ketapang Ajukan OMC ke Pusat, Hujan Buatan Terkendala Bibit Awan
Ketapang Ajukan OMC ke Pusat, Hujan Buatan Terkendala Bibit Awan
Sunday, 06/09/2026

KALBARONLINE.com – Pemerintah Kabupaten Ketapang telah mengajukan permintaan kepada pemerintah pusat untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai upaya mengatasi kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Namun, hingga saat ini OMC belum dapat dilaksanakan di wilayah Ketapang. Kendalanya, kondisi atmosfer belum mendukung karena tidak terdapat bibit awan yang cukup untuk dilakukan penyemaian.

Bupati Ketapang Alexander Wilyo mengatakan, pihaknya telah menyurati Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dapat melakukan OMC atau hujan buatan.

“Saya juga sudah menyurati kepada BNPB dan meminta pemerintah pusat, termasuk gubernur kita, melakukan operasi modifikasi cuaca atau OMC, hujan buatan,” kata Alexander saat rapat daring bersama jajarannya se-Kabupaten Ketapang, Jumat (4/9/2026).

Menurutnya, pelaksanaan OMC membutuhkan keberadaan bibit awan sebagai salah satu syarat utama.

“Namun syarat hujan buatan itu adanya bibit-bibit awan,” ujarnya.

Alexander menjelaskan, kondisi angin yang saat ini bertiup dari arah selatan menuju utara turut memengaruhi keberadaan awan di wilayah Ketapang.

Angin kencang tersebut menyebabkan awan maupun bibit awan yang terbentuk bergerak ke wilayah utara.

“Karena tadi angin bertiup kencang dari selatan ke utara, awan dan bibit-bibit yang ada juga bergeser ke utara,” katanya.

Akibat kondisi tersebut, wilayah Ketapang bagian selatan hampir tidak memiliki awan yang dapat mendukung pelaksanaan OMC.

“Sehingga di Ketapang ini tidak ada bibit awan,” tegasnya.

Hujan Hanya Terjadi di Simpang Hulu

Alexander mengatakan kondisi tersebut juga menjadi salah satu alasan mengapa hujan masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, sementara sebagian besar wilayah Ketapang masih dilanda kemarau.

Ia menyebut hujan terjadi di sejumlah daerah seperti Pontianak, Sambas, Kapuas Hulu dan Bengkayang. Sementara di Kabupaten Ketapang, hujan masih terbatas di wilayah Simpang Hulu.

“Kenapa di Pontianak ada hujan, di Sambas ada hujan, di Kapuas Hulu ada hujan, di Bengkayang ada hujan dan di Ketapang itu hujannya hanya di wilayah Simpang Hulu,” katanya.

Menurut Alexander, posisi Simpang Hulu yang berada di bagian utara Kabupaten Ketapang membuat wilayah tersebut masih memiliki tutupan awan.

“Simpang Hulu itu adalah wilayah utara, masih ada awan di sana. Kalau di wilayah selatan ini hampir tidak ada awan,” ujarnya.

Ia meminta kondisi tersebut disampaikan kepada masyarakat agar tidak muncul anggapan bahwa pemerintah tidak berupaya melakukan hujan buatan untuk mengatasi kemarau dan Karhutla.

“Ini mohon dimaklumi dan disampaikan kepada masyarakat. Kenapa tidak ada hujan buatan? Karena tidak ada bibit awan,” katanya.

Alexander menegaskan, informasi mengenai kondisi awan tersebut berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Data BMKG, bukan data saya, sampai hari ini tidak ada bibit awan di Ketapang. Jadi, tidak bisa dilakukan operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan,” tegasnya.

Di sisi lain, Alexander menyebut kondisi kualitas udara dan jarak pandang terburuk justru terjadi di wilayah utara Kalimantan Barat.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa asap akibat Karhutla dari wilayah Ketapang terbawa angin menuju utara.

Ia pun menilai arah pergerakan angin perlu menjadi perhatian dalam penanganan dampak Karhutla dan kabut asap di wilayah Kalimantan Barat. (Adi LC)

BMKG Ungkap OMC Tak Bisa Sasar Semua Wilayah Kalbar, Ini Alasannya
BMKG Ungkap OMC Tak Bisa Sasar Semua Wilayah Kalbar, Ini Alasannya
Friday, 21/08/2026

KALBARONLINE.com – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat tidak bisa dilakukan di seluruh wilayah terdampak.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalbar menyebut OMC hanya efektif jika terdapat bibit awan hujan yang dapat disemai.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Kalbar, Soetikno, mengatakan OMC direncanakan kembali dilakukan sekitar 23-26 Agustus 2026. Namun, pelaksanaannya akan difokuskan pada wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan awan hujan.

“OMC hanya bisa dilakukan ketika memang ada potensi awan penghujannya,” kata Soetikno.

Menurutnya, wilayah utara Kalbar menjadi salah satu kawasan yang berpotensi dilakukan OMC karena masih memiliki peluang munculnya bibit awan hujan. Beberapa wilayah tersebut di antaranya Sanggau, Bengkayang, dan Sambas.

Dalam prosesnya, awan yang memiliki potensi tumbuh akan disemai agar dapat berkembang menjadi lebih besar dan menghasilkan hujan.

“Ketika ada potensi awan penghujan, kemudian akan dilakukan penyemaian awan, sehingga diharapkan awannya yang misalnya potensi tumbuhnya ukuran sedang bisa berkembang menjadi lebih besar,” ujarnya.

Namun, kondisi berbeda terjadi di wilayah selatan Kalbar, seperti Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya bagian selatan. Wilayah tersebut diprediksi memiliki potensi hujan yang sangat rendah.

Karena itu, OMC tidak diarahkan ke wilayah tersebut.

“Ketapang, Kayong, terus Kubu Raya bagian selatan yang potensi hujannya sangat kecil sekali, itu malah justru tidak dilakukan OMC ke sana, karena akan percuma saja kalau dilakukan OMC di sana, karena belum ada bibit awan penghujannya,” jelas Soetikno.

Karhutla Masih Berpotensi Berlanjut

Minimnya hujan membuat potensi karhutla di Kalbar masih tinggi. BMKG memprediksi curah hujan di Kalbar masih rendah hingga September 2026.

Soetikno menyebut kondisi tersebut membuat karhutla berpotensi terus berlangsung hingga setidaknya akhir September.

Sementara itu, wilayah yang memiliki titik karhutla seperti Ketapang dan Kayong Utara juga berada dalam kondisi angin yang cukup kencang. Arah angin dominan dari tenggara hingga selatan sehingga asap berpotensi terbawa menuju wilayah lain.

“Kalau ada karhutla kemungkinan malah akan cepat merambatnya,” katanya.

BMKG juga mewaspadai asap dari wilayah selatan Kalbar terbawa menuju Bandara Supadio dan Kota Pontianak. Asap tersebut bahkan berpotensi menimbulkan asap lintas batas ke negara tetangga.

BMKG memperkirakan kondisi curah hujan mulai kembali normal pada Oktober 2026, meski tidak serta-merta terjadi pada awal bulan tersebut. (Lid)