Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Monday, 03 August 2026 |
KALBARONLINE.com – Terik matahari tak menyurutkan semangat Deddy (47) berdiri di pinggir Jalan Ali Anyang, Pontianak. Perantau asal Bandung itu kembali datang ke Kota Khatulistiwa untuk menjalani rutinitas yang telah dilakoninya selama lebih dari satu dekade, yakni menjual bendera Merah Putih dan berbagai pernak-pernik kemerdekaan.
Bagi Deddy, bulan Agustus bukan hanya menjadi momentum memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi juga kesempatan untuk mencari rezeki dari usaha musiman yang setiap tahun dijalaninya.
Selama berada di Pontianak, Deddy menumpang tinggal di Asrama Hidayat TNI milik kerabatnya.
“Setahun sekali saya ke Pontianak jualan bendera. Kalau di Bandung saya juga jualan di pasar, tapi khusus bendera ini memang musiman. Sekalian ikut meramaikan Hari Kemerdekaan. Kalau tidak jualan begini, mana mungkin saya bisa ke Pontianak setiap tahun. Hitung-hitung jualan sambil jalan-jalan,” ujarnya saat ditemui, Minggu (2/8/2026).
Deddy mengatakan, tahun ini menjadi tahun ke-11 dirinya berjualan bendera di Pontianak. Ia memilih lokasi yang sama setiap tahunnya karena sudah memiliki pelanggan yang mengenal lapaknya.
Di tempat sederhana tersebut, ia menjajakan berbagai ukuran bendera Merah Putih, umbul-umbul, hingga aksesori bernuansa kemerdekaan.
Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp20 ribu hingga Rp300 ribu. Seluruh barang dagangan tersebut didatangkan langsung dari Jawa Barat.
Namun, menjalani usaha musiman bukanlah hal mudah. Deddy mengaku penjualan tahun ini masih belum seramai yang diharapkan. Dalam sehari, ia baru melayani sekitar dua hingga tiga pembeli.
“Yang penting sabar. Sekarang yang jualan sudah banyak, jadi harus bersaing. Dari siang sampai malam panas, kalau hujan juga tetap harus bertahan. Minggu ini baru ada dua sampai tiga pembeli per hari, belum terlalu ramai,” katanya.
Deddy juga mengaku tahun ini terlambat membuka lapak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, ia sudah mulai berjualan sejak akhir Juli agar dapat menjangkau lebih banyak pembeli menjelang puncak perayaan HUT RI.
Meski kondisi penjualan belum sesuai harapan, ia tetap optimistis. Baginya, berjualan bendera bukan hanya tentang mencari penghasilan, tetapi juga ikut mengambil bagian dalam memeriahkan kemerdekaan Indonesia.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang membeli dan mengibarkan bendera Merah Putih sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan.
“Harapan saya semoga masyarakat banyak yang beli. Namanya juga jualan bendera, setahun sekali. Harus meriah, harus semangat memeriahkan kemerdekaan,” tuturnya. (Lid)
KALBARONLINE.com – Terik matahari tak menyurutkan semangat Deddy (47) berdiri di pinggir Jalan Ali Anyang, Pontianak. Perantau asal Bandung itu kembali datang ke Kota Khatulistiwa untuk menjalani rutinitas yang telah dilakoninya selama lebih dari satu dekade, yakni menjual bendera Merah Putih dan berbagai pernak-pernik kemerdekaan.
Bagi Deddy, bulan Agustus bukan hanya menjadi momentum memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi juga kesempatan untuk mencari rezeki dari usaha musiman yang setiap tahun dijalaninya.
Selama berada di Pontianak, Deddy menumpang tinggal di Asrama Hidayat TNI milik kerabatnya.
“Setahun sekali saya ke Pontianak jualan bendera. Kalau di Bandung saya juga jualan di pasar, tapi khusus bendera ini memang musiman. Sekalian ikut meramaikan Hari Kemerdekaan. Kalau tidak jualan begini, mana mungkin saya bisa ke Pontianak setiap tahun. Hitung-hitung jualan sambil jalan-jalan,” ujarnya saat ditemui, Minggu (2/8/2026).
Deddy mengatakan, tahun ini menjadi tahun ke-11 dirinya berjualan bendera di Pontianak. Ia memilih lokasi yang sama setiap tahunnya karena sudah memiliki pelanggan yang mengenal lapaknya.
Di tempat sederhana tersebut, ia menjajakan berbagai ukuran bendera Merah Putih, umbul-umbul, hingga aksesori bernuansa kemerdekaan.
Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp20 ribu hingga Rp300 ribu. Seluruh barang dagangan tersebut didatangkan langsung dari Jawa Barat.
Namun, menjalani usaha musiman bukanlah hal mudah. Deddy mengaku penjualan tahun ini masih belum seramai yang diharapkan. Dalam sehari, ia baru melayani sekitar dua hingga tiga pembeli.
“Yang penting sabar. Sekarang yang jualan sudah banyak, jadi harus bersaing. Dari siang sampai malam panas, kalau hujan juga tetap harus bertahan. Minggu ini baru ada dua sampai tiga pembeli per hari, belum terlalu ramai,” katanya.
Deddy juga mengaku tahun ini terlambat membuka lapak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, ia sudah mulai berjualan sejak akhir Juli agar dapat menjangkau lebih banyak pembeli menjelang puncak perayaan HUT RI.
Meski kondisi penjualan belum sesuai harapan, ia tetap optimistis. Baginya, berjualan bendera bukan hanya tentang mencari penghasilan, tetapi juga ikut mengambil bagian dalam memeriahkan kemerdekaan Indonesia.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang membeli dan mengibarkan bendera Merah Putih sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan.
“Harapan saya semoga masyarakat banyak yang beli. Namanya juga jualan bendera, setahun sekali. Harus meriah, harus semangat memeriahkan kemerdekaan,” tuturnya. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini