Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
bmkg
BMKG Ungkap OMC Tak Bisa Sasar Semua Wilayah Kalbar, Ini Alasannya
BMKG Ungkap OMC Tak Bisa Sasar Semua Wilayah Kalbar, Ini Alasannya
Friday, 21/08/2026

KALBARONLINE.com – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat tidak bisa dilakukan di seluruh wilayah terdampak.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalbar menyebut OMC hanya efektif jika terdapat bibit awan hujan yang dapat disemai.

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Kalbar, Soetikno, mengatakan OMC direncanakan kembali dilakukan sekitar 23-26 Agustus 2026. Namun, pelaksanaannya akan difokuskan pada wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan awan hujan.

“OMC hanya bisa dilakukan ketika memang ada potensi awan penghujannya,” kata Soetikno.

Menurutnya, wilayah utara Kalbar menjadi salah satu kawasan yang berpotensi dilakukan OMC karena masih memiliki peluang munculnya bibit awan hujan. Beberapa wilayah tersebut di antaranya Sanggau, Bengkayang, dan Sambas.

Dalam prosesnya, awan yang memiliki potensi tumbuh akan disemai agar dapat berkembang menjadi lebih besar dan menghasilkan hujan.

“Ketika ada potensi awan penghujan, kemudian akan dilakukan penyemaian awan, sehingga diharapkan awannya yang misalnya potensi tumbuhnya ukuran sedang bisa berkembang menjadi lebih besar,” ujarnya.

Namun, kondisi berbeda terjadi di wilayah selatan Kalbar, seperti Ketapang, Kayong Utara, dan Kubu Raya bagian selatan. Wilayah tersebut diprediksi memiliki potensi hujan yang sangat rendah.

Karena itu, OMC tidak diarahkan ke wilayah tersebut.

“Ketapang, Kayong, terus Kubu Raya bagian selatan yang potensi hujannya sangat kecil sekali, itu malah justru tidak dilakukan OMC ke sana, karena akan percuma saja kalau dilakukan OMC di sana, karena belum ada bibit awan penghujannya,” jelas Soetikno.

Karhutla Masih Berpotensi Berlanjut

Minimnya hujan membuat potensi karhutla di Kalbar masih tinggi. BMKG memprediksi curah hujan di Kalbar masih rendah hingga September 2026.

Soetikno menyebut kondisi tersebut membuat karhutla berpotensi terus berlangsung hingga setidaknya akhir September.

Sementara itu, wilayah yang memiliki titik karhutla seperti Ketapang dan Kayong Utara juga berada dalam kondisi angin yang cukup kencang. Arah angin dominan dari tenggara hingga selatan sehingga asap berpotensi terbawa menuju wilayah lain.

“Kalau ada karhutla kemungkinan malah akan cepat merambatnya,” katanya.

BMKG juga mewaspadai asap dari wilayah selatan Kalbar terbawa menuju Bandara Supadio dan Kota Pontianak. Asap tersebut bahkan berpotensi menimbulkan asap lintas batas ke negara tetangga.

BMKG memperkirakan kondisi curah hujan mulai kembali normal pada Oktober 2026, meski tidak serta-merta terjadi pada awal bulan tersebut. (Lid)

Kabut Asap Selimuti Ketapang, BMKG Catat 221 Titik Panas di Tengah Ancaman Karhutla
Kabut Asap Selimuti Ketapang, BMKG Catat 221 Titik Panas di Tengah Ancaman Karhutla
Monday, 03/08/2026

KALBARONLINE.com – Kabut asap mulai menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Ketapang dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan meningkatnya jumlah titik panas (hotspot) yang terdeteksi di wilayah itu saat musim kemarau.

Berdasarkan data BMKG Kalimantan Barat periode 3 Agustus 2026 pukul 00.00 WIB hingga 16.00 WIB, Kabupaten Ketapang menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak di Kalimantan Barat, yakni mencapai 221 titik.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 193 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, 26 titik tingkat kepercayaan tinggi, dan 2 titik tingkat kepercayaan rendah.

Secara keseluruhan, BMKG mencatat terdapat 607 titik panas di seluruh wilayah Kalimantan Barat pada periode yang sama.

Pantauan KalbarOnline di sejumlah kawasan Kota Ketapang pada Senin (3/8/2026) menunjukkan mulai terlihat jerebu atau abu hasil kebakaran yang menyebar di udara, disertai kabut tipis yang menyelimuti wilayah tersebut, terutama pada pagi dan sore hari.

Salah seorang warga Ketapang, Rudi (38), mengaku mulai merasakan dampak kabut asap. Ia bersama keluarganya mulai mengalami gangguan kesehatan berupa batuk.

“Sejak pagi langit terlihat berkabut. Bau asap juga mulai tercium, terutama saat keluar rumah. Mudah-mudahan tidak semakin parah seperti beberapa tahun lalu,” ujarnya.

Warga lainnya, Siti (42), mengatakan kabut asap mulai mengganggu aktivitas masyarakat di luar ruangan. Ia yang bekerja di lapangan mengaku harus menggunakan masker saat beraktivitas.

“Kalau pagi dan sore memang terasa lebih berkabut. Kami khawatir kalau kondisi ini terus berlangsung bisa berdampak pada kesehatan, terutama anak-anak,” katanya.

Meningkatnya jumlah titik panas di Ketapang terjadi seiring kondisi Kalimantan Barat yang masih berada dalam status siaga darurat bencana asap akibat meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

BMKG juga mengingatkan sebagian besar wilayah Kalimantan Barat berpotensi mengalami kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan pada awal Agustus.

Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan serta tetap mengikuti perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG. (Adi LC)

Gempa Magnitudo 4.8 Guncang Sekadau, Getaran Terasa hingga ke Sintang dan Melawi
Gempa Magnitudo 4.8 Guncang Sekadau, Getaran Terasa hingga ke Sintang dan Melawi
Friday, 23/01/2026

KALBARONLINE.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadinya gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 4.8 di 89 kilometer timur, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, Jumat (23/01/2026).

BMKG menjelaskan, gempa terjadi pada pukul 14:47:56 WIB, dengan koordinat berada di 0.10 lintang utara dan 111.78 bujur timur.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi kedalaman dangkal akibat aktivitas sesar adang.

Berdasarkan laporan masyarakat, gempa bumi ini dirasakan pula di Sintang dan Melawi, dengan intensitas III-IV MMI, di mana getaran yang dirasakan cukup kuat, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

Hingga saat ini, BMKG menyebutkan belum terdapat laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan. Hingga pukul 15:15 WIB, hasil monitoring belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock).

Kepada masyarakat di wilayah Sekadau dan sekitarnya, diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Agar menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi. (Lid)