Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
sungai kapuas
Sungai Kapuas Makin Asin, Pontianak Andalkan Waduk Penepat untuk Amankan Air Baku
Sungai Kapuas Makin Asin, Pontianak Andalkan Waduk Penepat untuk Amankan Air Baku
Thursday, 27/08/2026

KALBARONLINE.com – Intrusi air laut membuat kadar garam Sungai Kapuas meningkat hingga lebih dari 5.000 miligram per liter. Kondisi ini membuat Pemerintah Kota Pontianak mengandalkan Waduk Penepat di Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya, sebagai sumber air baku cadangan untuk menjaga pelayanan air bersih selama musim kemarau.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan tingginya kadar garam di Sungai Kapuas menjadi tantangan serius bagi penyediaan air bersih di Kota Pontianak. Sebab, sungai tersebut selama ini menjadi salah satu sumber utama air baku yang diolah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Kadar garamnya sudah sampai 5.000 miligram per liter lebih. Sementara yang disyaratkan berdasarkan ketentuan kesehatan maksimum 600 miligram per liter, itu pun untuk kebutuhan mandi. Untuk air minum harus di bawah 300 miligram per liter,” ujar Edi saat meninjau Waduk Penepat, Kamis (27/8/2026).

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Waduk Penepat disiapkan sebagai sumber air tawar cadangan. Waduk ini terhubung dengan instalasi pengolahan air di Imam Bonjol melalui jaringan pipa sepanjang sekitar 30 kilometer.

Jika seluruh sistem berfungsi optimal, kapasitas pasokan dari Penepat direncanakan dapat mencapai sekitar 1.000 liter per detik. Namun, kondisi saat ini belum memungkinkan kapasitas tersebut dimanfaatkan secara penuh karena infrastruktur waduk dan jaringan pendukung masih dalam proses perbaikan.

Dari kebutuhan produksi air bersih Kota Pontianak yang mencapai sekitar 2.000 liter per detik dari empat intake, yakni Imam Bonjol, Nipah Kuning, Selat Panjang dan Parit Mayor, pasokan dari Waduk Penepat saat ini baru sekitar 200 liter per detik.

“Yang sekarang sedang dipompa ke Imam Bonjol hanya mampu 200 liter per detik karena masih belum optimal,” jelas Edi.

Cakupan pelayanan air bersih di Kota Pontianak saat ini telah mencapai sekitar 90,6 persen. Karena itu, gangguan pada ketersediaan air baku berpotensi berdampak luas terhadap pelayanan kepada masyarakat.

Waduk Penepat sendiri memiliki luas sekitar 6,6 hektare. Sementara lahan milik Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa di kawasan tersebut mencapai sekitar 9 hektare.

Saat ini, sejumlah infrastruktur pendukung waduk, termasuk saluran inlet dan outlet, sedang dibenahi oleh Balai Wilayah Sungai Kapuas menggunakan anggaran APBN.

“Infrastruktur outlet maupun inlet sedang dikerjakan perbaikannya oleh Balai Wilayah Sungai Kapuas menggunakan APBN tahun ini sekitar Rp16,6 miliar,” ungkap Edi.

Edi menegaskan, persoalan utama yang dihadapi Pontianak saat ini adalah ketersediaan air baku. Ia menyebut berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air yang telah diperbarui dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023, penyediaan air baku menjadi tanggung jawab pemerintah pusat atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya.

“Air baku ini menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, atau daerah dalam hal ini provinsi,” katanya.

Di sisi lain, Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa setiap tahun membayar retribusi air permukaan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Pada 2025, nilai retribusi yang dibayarkan mencapai lebih dari Rp2,4 miliar.

“Kita setiap tahun membayar retribusi air permukaan ke provinsi. Tahun 2025 saja Rp2,4 miliar lebih. Artinya kita membeli air, kita bayar, lalu kita olah dan distribusikan ke masyarakat,” jelasnya.

Edi berharap pembenahan Waduk Penepat dapat segera diselesaikan agar fungsinya sebagai sumber air baku bisa lebih optimal, terutama dalam kondisi darurat seperti kemarau panjang.

“Dalam kondisi darurat ini kita berharap bisa cepat selesai dan dievaluasi supaya waduknya berfungsi. Pipa-pipa yang bocor menuju Pontianak juga harus diperbaiki,” ujarnya.

Untuk jangka panjang, Edi berharap Kementerian PU dapat membantu menambah satu jalur pipa dengan diameter 800 milimeter. Tambahan jalur tersebut dinilai penting untuk memperkuat pasokan air baku Pontianak ketika sumber air utama mengalami gangguan.

“Ke depan kita berharap bisa diperjuangkan untuk menambah satu track lagi, 800 milimeter. Ini untuk jangka panjang, supaya kalau darurat seperti ini kita tidak kesulitan,” katanya.

Selain mengandalkan Waduk Penepat, Edi juga mendorong adanya solusi lain, seperti pembangunan bendung karet atau infrastruktur pengendali air di kawasan Sungai Penepat.

Menurutnya, sumber air baku tersebut tidak hanya penting bagi Kota Pontianak, tetapi juga bagi Kabupaten Kubu Raya dan wilayah di sekitarnya.

Perwakilan Balai Wilayah Sungai Kalimantan I, Novizar Ardiyansyah, mengatakan pihaknya saat ini tengah melakukan peningkatan kapasitas Waduk Penepat.

Menurutnya, kapasitas sambungan seharusnya dapat mencapai 1.000 liter per detik. Namun, saat ini pasokan yang dapat dimanfaatkan baru sekitar 500 liter per detik karena masih dalam tahap perbaikan.

“Saat ini kami masih menunggu bahan dari Jakarta, untuk perbaikan dua pipa. Dalam waktu dekat akan selesai,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin menyatakan pihaknya siap mengawal upaya Pemkot Pontianak untuk mendapatkan dukungan pemerintah pusat dalam mengoptimalkan penyediaan air baku.

Menurutnya, dukungan pemerintah pusat penting untuk menjaga keberlanjutan pelayanan air bersih, terutama saat musim kemarau dan ketika kadar garam sumber air baku meningkat.

DPRD Kota Pontianak juga akan berkoordinasi dengan Komisi V DPR RI untuk memperkuat dukungan terhadap penanganan infrastruktur air baku.

“Kita minta nanti untuk Komisi V, saya akan bicara dengan Ketua Komisi V dan juga Ketua DPP PDI Perjuangan untuk membantu yang ada di Penepat ini,” ujarnya.

Satarudin mengatakan pembenahan kawasan sumber air baku Penepat saat ini sudah berjalan, tetapi dukungan yang tersedia masih perlu diperkuat. Ia menyebut Pemkot Pontianak dapat menyiapkan proposal kebutuhan teknis untuk kemudian dibawa bersama ke pemerintah pusat.

Menurutnya, penyediaan air baku merupakan persoalan strategis yang tidak bisa hanya ditangani pemerintah kota. Apalagi, berdasarkan ketentuan perundang-undangan, air baku menjadi bagian dari kewenangan pemerintah pusat.

“Ini pasti berlanjut. Kami akan kawal bersama Pemerintah Kota Pontianak agar penyediaan air bersih untuk masyarakat bisa lebih aman dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Layanan Air Tawar Gratis Disiapkan

Di tengah kondisi air baku yang terdampak intrusi air laut, Pemkot Pontianak juga menyiapkan langkah darurat untuk memenuhi kebutuhan air tawar masyarakat.

Edi mengatakan Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa telah menyiapkan layanan air tawar gratis di sejumlah titik. Di antaranya Kantor Perumda Tirta Khatulistiwa dan booster di Perumnas III, serta beberapa titik lain yang akan disiapkan sesuai kebutuhan.

“Kalau masyarakat perlu air tawar untuk minum, ini gratis. Bisa membawa galon atau wadah lainnya. Tapi tidak untuk komersil,” ujarnya.

Edi juga memerintahkan Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa menyiapkan dukungan distribusi air bersih menggunakan mobil tangki, khususnya ke wilayah yang rawan terdampak.

Pemkot Pontianak akan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Kapuas, Dinas PUPR Provinsi, serta bidang sumber daya air untuk mendukung distribusi tersebut.

“Saya perintahkan PDAM, dan mudah-mudahan dibantu Balai Wilayah Sungai, Dinas PU Provinsi, untuk menyiapkan mobil tangki mendrop air tawar ke daerah-daerah rawan, khususnya untuk air minum. Gratis,” pungkasnya. (*)

Sungai Kapuas Terintrusi Air Laut, Pontianak Andalkan Cadangan Air dari Waduk Penepat
Sungai Kapuas Terintrusi Air Laut, Pontianak Andalkan Cadangan Air dari Waduk Penepat
Thursday, 27/08/2026

KALBARONLINE.com - Intrusi air laut membuat kadar garam di Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, mencapai lebih dari 5.000 miligram per liter. Kondisi ini membuat Pemerintah Kota Pontianak mengandalkan Waduk Penepat di Kabupaten Kubu Raya sebagai sumber air tawar cadangan.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan tingginya kadar garam di Sungai Kapuas menjadi persoalan bagi penyediaan air baku masyarakat, terutama saat musim kemarau.

“Sekarang ini Sungai Kapuas sudah terintrusi air laut. Kadar garamnya sudah sampai 5.000 ke atas miligram per liter,” kata Edi saat meninjau Waduk Penepat, Kamis (27/8/2026).

Selama ini, air Sungai Kapuas menjadi sumber air baku yang diolah melalui empat instalasi pengolahan air di Kota Pontianak, yakni di Imam Bonjol, Lipah Kuning, Selat Panjang, dan Pal Lima.

Total produksi dari empat instalasi tersebut mencapai sekitar 2.050 liter per detik dengan tingkat pelayanan air bersih kepada masyarakat sekitar 90,6 persen.

Namun, tingginya kadar garam Sungai Kapuas membuat kondisi tersebut menjadi tantangan bagi penyediaan air baku. Edi menjelaskan, kadar garam untuk air bersih harus jauh lebih rendah dibandingkan kondisi Sungai Kapuas saat ini.

Untuk kebutuhan tertentu, batas kadar garam maksimal sekitar 600 miligram per liter. Sementara air yang masih memungkinkan untuk diminum harus memiliki kadar garam di bawah 300 miligram per liter.

“Karena itu, pada saat musim kemarau sekarang kita mengandalkan Waduk Penepat ini,” ujarnya.

Kepala Seksi Balai Wilayah Sungai Kalimantan I Novizar Aldiansyah mengatakan pemerintah tengah meningkatkan kapasitas Waduk Penepat untuk mendukung kebutuhan air baku Kota Pontianak.

Menurutnya, waduk tersebut ditargetkan mampu menyuplai sekitar 1.000 liter air per detik. Namun, untuk saat ini pasokan yang dapat dialirkan baru sekitar 500 liter per detik.

“Untuk kapasitas kurang lebih 1.000 liter per detik akan kami suplai. Tapi mungkin untuk saat ini kami bisa suplai dari Penepat ini baru sekitar 500 liter per detik,” kata Novizar.

Waduk Penepat memiliki luas sekitar 6,6 hektare. Perbaikan waduk dilakukan menggunakan anggaran APBN sebesar Rp16,6 miliar tahun ini.

Novizar mengatakan perbaikan tersebut ditargetkan rampung dalam sekitar satu minggu. Setelah itu, cadangan air tawar dari Waduk Penepat diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mengurangi dampak intrusi air laut terhadap pasokan air baku di Kota Pontianak. (Lid)

Keseruan Lomba Sampan Bidar di Kampung Yuka Pontianak, 24 Tim Adu Cepat di Sungai Kapuas
Keseruan Lomba Sampan Bidar di Kampung Yuka Pontianak, 24 Tim Adu Cepat di Sungai Kapuas
Saturday, 15/08/2026

KALBARONLINE.com – Terik matahari tak menyurutkan antusiasme warga menyaksikan lomba sampan bidar tradisional di Kampung Yuka, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak, Sabtu (15/8/2026).

Deretan sampan dengan delapan pendayung berpacu di atas Sungai Kapuas. Sorak warga pun terdengar setiap kali sampan mulai melaju mengejar garis finis.

Lomba ini menjadi bagian dari rangkaian Festival Budaya Robo-Robo 2026 sekaligus memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Kegiatan tersebut digelar Organisasi Putera Kapuas.

Ketua Panitia, Onie Burhan, mengatakan tahun ini lomba diikuti sekitar 24 tim. Pesertanya tak hanya berasal dari Kota Pontianak, tetapi juga sejumlah daerah di Kalimantan Barat.

“Ada dari Kabupaten Sambas, Sekadau, Kubu Raya, dan Kota Pontianak. Kita memang mengadakan event ini untuk se-Kalimantan Barat,” kata Onie.

Setiap tim terdiri dari 10 orang, yakni delapan pendayung dan dua orang cadangan. Mereka harus menaklukkan lintasan sepanjang sekitar 1.200 meter.

Pemenang ditentukan berdasarkan tim yang lebih dulu mencapai garis finis. Seluruh peserta bertanding dalam satu kategori.

Menurut Onie, lomba sampan bidar bukan sekadar perlombaan. Tradisi tersebut menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat yang ingin terus mereka hidupkan.

“Sampan bidar ini boleh dikatakan warisan dari nenek moyang kita. Bukan hanya orang Bugis, tetapi semua kalangan, baik Melayu, Bugis, dan lainnya,” ujarnya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi upaya menghidupkan kembali tradisi yang sempat vakum selama beberapa tahun. Organisasi Putera Kapuas sebenarnya rutin menggelar kegiatan tersebut sejak berdiri pada 2011.

Namun, kegiatan sempat terhenti setelah terakhir digelar pada 2018. Rencana pelaksanaan berikutnya terkendala pandemi COVID-19 hingga akhirnya lomba kembali digelar tahun ini.

“Sayang kalau tidak kita hidupkan kembali. Ini salah satu momen yang berada di Kota Pontianak yang mengadakan festival budaya sekaligus sampan bidar,” tutur Onie.

Tahun ini, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian agenda besar yang digelar Putera Kapuas. Selain Festival Budaya Robo-Robo dan peringatan HUT ke-81 RI, rangkaian kegiatan juga disiapkan bertepatan dengan momentum Maulid Nabi.

Onie berharap kembalinya lomba sampan bidar dapat membuat tradisi tersebut semakin dikenal sekaligus menarik lebih banyak peserta dari berbagai daerah pada tahun-tahun berikutnya.

“Kita ingin tradisi ini terus hidup dan bisa menjadi salah satu agenda budaya yang ditunggu masyarakat setiap tahun,” pungkasnya. (Lid)

Pertamina Ungkap Penyebab Antrean BBM di SPBU Pontianak, Dipicu Surutnya Sungai Kapuas
Pertamina Ungkap Penyebab Antrean BBM di SPBU Pontianak, Dipicu Surutnya Sungai Kapuas
Monday, 27/07/2026

KALBARONLINE.com – Antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Pontianak dan sekitarnya dipicu keterlambatan distribusi bahan bakar minyak (BBM) akibat surutnya debit air Sungai Kapuas.

Kondisi tersebut menyebabkan kapal pengangkut BBM menuju Depo Siantan tidak dapat langsung melintas dan harus menunggu air pasang sebelum memasuki alur Sungai Kapuas. Akibatnya, pasokan BBM ke sejumlah SPBU sempat mengalami keterlambatan.

Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga Wilayah Kalimantan Barat, Widhi Tri Adhi Hidayat, menjelaskan kapal pengangkut BBM sempat tertahan pada malam hari karena kondisi sungai yang tidak memungkinkan untuk dilalui.

"Antrean terjadi karena ada keterlambatan kapal masuk ke alur Sungai Kapuas tadi malam. Kapal harus menunggu air pasang terlebih dahulu. Namun, tadi pagi kapal sudah sandar di Depo Siantan dan BBM sudah mulai disalurkan," ujar Widhi.

Menurutnya, setelah kapal bersandar di Depo Siantan pada Senin pagi, distribusi BBM ke seluruh SPBU langsung dilakukan sehingga pasokan mulai kembali normal.

Meski demikian, Pertamina masih melakukan evaluasi terhadap penyebab antrean yang terjadi di sejumlah SPBU. Selain dipengaruhi faktor distribusi akibat surutnya Sungai Kapuas, antrean juga diduga dipicu meningkatnya konsumsi BBM subsidi.

"Stok BBM masih aman dan mencukupi. Kami pastikan penyaluran BBM akan berjalan dengan baik," kata Widhi.

Pertamina memastikan ketersediaan BBM di Kalimantan Barat tetap dalam kondisi aman. Masyarakat juga diimbau tidak melakukan pembelian secara berlebihan agar distribusi berjalan lancar dan antrean di SPBU dapat segera terurai.

Dengan distribusi yang kembali normal sejak Senin pagi, Pertamina optimistis pasokan BBM ke seluruh SPBU di wilayah Pontianak dan sekitarnya akan kembali stabil. (Lid)

Pria Asal Sanggau Diduga Tenggelam di Sungai Kapuas, Tim SAR Gabungan Lakukan Pencarian
Pria Asal Sanggau Diduga Tenggelam di Sungai Kapuas, Tim SAR Gabungan Lakukan Pencarian
Sunday, 28/06/2026

KALBARONLINE.com – Tim SAR Gabungan melakukan pencarian terhadap seorang pria yang dilaporkan terjatuh ke Sungai Kapuas dari kapal motor tambang di Desa Penyelimau, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, Sabtu (27/6/2026).

Korban diketahui bernama Lorensius Oskar (40), warga Dusun Sungai Kodang, Desa Sungai Alan, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Pontianak, I Made Junetra, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait insiden tersebut dan langsung memberangkatkan tim rescue menuju lokasi kejadian.

"Korban diketahui menyeberangi Sungai Kapuas menggunakan kapal motor tambang dari Dusun Sungai Tapang menuju Desa Penyelimau. Sekitar 50 meter sebelum tiba di Dermaga Penyelimau, korban tiba-tiba mengalami kejang dan terjatuh ke sungai. Hingga laporan diterima, korban masih belum ditemukan," ujar I Made Junetra.

Berdasarkan kronologi kejadian, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.30 WIB. Setelah korban terjatuh ke sungai, warga setempat langsung melakukan pencarian dengan menyisir permukaan sungai di sekitar lokasi. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.

Menindaklanjuti laporan itu, Kantor SAR Pontianak mengerahkan satu tim rescue menggunakan kendaraan operasional Rescue Car D-Max yang dilengkapi rubber boat, peralatan selam, peralatan navigasi, peralatan evakuasi, peralatan medis, serta peralatan komunikasi untuk mendukung operasi pencarian.

"Kami telah mengerahkan satu tim rescue lengkap dengan peralatan pendukung untuk melaksanakan operasi pencarian. Tim SAR Gabungan akan melakukan penyisiran di sekitar lokasi kejadian dan berupaya semaksimal mungkin agar korban dapat segera ditemukan," tambah I Made Junetra.

Hingga berita ini diterbitkan, Tim SAR Gabungan bersama unsur terkait dan masyarakat masih terus melakukan pencarian terhadap Lorensius Oskar di perairan Sungai Kapuas, Desa Penyelimau, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau. (*)