Friday, 23 October 2026 | 23 October 2026
kalbaronline
universitas tanjungpura
Lewat PKM, Dosen dan Mahasiswa Ikom Untan Dampingi Siswa SLB Dharma Asih Sebagai Bentuk Komunikasi Inklusif
Lewat PKM, Dosen dan Mahasiswa Ikom Untan Dampingi Siswa SLB Dharma Asih Sebagai Bentuk Komunikasi Inklusif
Saturday, 01/08/2026

KALBARONLINE.com – Dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura (Untan) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di SLB Dharma Asih Pontianak, Jumat (31/7/2026).

Kegiatan tersebut bertujuan membangun komunikasi inklusif sekaligus melatih kemampuan motorik siswa tunagrahita melalui berbagai aktivitas kreatif.

Mengusung tema “Pendampingan Komunikasi Inklusif Melalui Interaksi Kreatif antara Mahasiswa dan Anak Tunagrahita di SLB C Dharma Asih”, kegiatan ini diikuti 16 siswa tingkat SMP.

Para siswa didampingi sembilan mahasiswa yang terdiri dari delapan mahasiswa Ilmu Komunikasi dan satu mahasiswa Administrasi Perkantoran.

Tim PKM tersebut terdiri dari Dr. Lina Sunyata, Dea Varanida, Pricilla Pascadeany Frelians, dan Agung Nugraha.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa diajak mengikuti berbagai aktivitas kreatif, seperti membuat kerajinan sederhana, menggunting pola buah-buahan, hingga membuat origami.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Untan mendampingi setiap siswa mulai dari memberikan arahan, membantu proses praktik, hingga memberikan apresiasi terhadap hasil karya yang dibuat.

Dosen Ilmu Komunikasi Untan, Agung Nugraha, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi siswa SLB, tetapi juga menjadi pengalaman pembelajaran bagi mahasiswa dalam memahami pola komunikasi dengan anak tunagrahita.

“Tujuan kami adalah melibatkan mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk berinteraksi langsung dengan siswa-siswa di sekolah luar biasa. Mereka bisa memahami bentuk interaksi dan tantangan saat berkomunikasi dengan anak-anak tunagrahita sehingga muncul wawasan baru tentang komunikasi inklusif,” katanya.

Menurut Agung, pengalaman langsung di lapangan menjadi bagian penting dalam memperluas pemahaman mahasiswa mengenai komunikasi yang adaptif dan inklusif.

Sementara itu, dosen Ilmu Komunikasi Untan, Pricilla Pascadeany Frelians, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.

Lewat PKM, Dosen dan Mahasiswa Ikom Untan Dampingi Siswa SLB Dharma Asih Sebagai Bentuk Komunikasi Inklusiff
Dosen dan mahasiswa Ikom Untan dampingi siswa SLB Dharma Asih melalui PKM untuk membangun komunikasi inklusif (Foto: Lid/KALBARONLINE.com)​

“Kami mengajak siswa membuat kerajinan sederhana untuk melatih motorik mereka. Selama kegiatan, mahasiswa mendampingi, memberikan arahan, instruksi, hingga pujian atas hasil karya anak-anak,” ujarnya.

Pricilla menjelaskan, kegiatan PKM merupakan bentuk implementasi keilmuan dosen kepada masyarakat agar hasil pembelajaran dan penelitian tidak hanya berhenti di lingkungan akademik.

“Harapannya, ilmu yang kami ajarkan di kelas dan hasil penelitian dapat diimplementasikan melalui kegiatan pengabdian sehingga memberikan manfaat langsung kepada masyarakat,” katanya.

Kepala SLB Dharma Asih, Danang Isnawan, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai para siswa terlihat antusias dan senang mengikuti kegiatan bersama mahasiswa.

“Saya lihat tadi anak-anak sangat senang. Harapan saya kegiatan seperti ini terus dilanjutkan ke depan. Kami sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin melakukan kegiatan bersama anak-anak di sini,” ujarnya.

Danang berharap semakin banyak perguruan tinggi maupun instansi lain yang menggelar kegiatan serupa.

Menurutnya, interaksi dengan masyarakat luar memiliki peran penting dalam meningkatkan rasa percaya diri serta kemampuan sosial siswa berkebutuhan khusus.

“Kalau anak-anak terus dikunjungi dan diajak beraktivitas bersama, mereka senang sekali. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini semakin sering dilakukan,” pungkasnya. (Lid)

Fotografer Minta Untan Kaji Ulang Tarif Foto Komersial, Khawatir Bebani Wisudawan
Fotografer Minta Untan Kaji Ulang Tarif Foto Komersial, Khawatir Bebani Wisudawan
Saturday, 25/07/2026

KALBARONLINE.com – Kebijakan baru Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak yang mewajibkan fotografer komersial membayar tarif Rp50 ribu untuk menggunakan area kampus sebagai lokasi usaha menuai tanggapan dari kalangan fotografer. Mereka menilai aturan tersebut dapat dipahami, namun khawatir biaya tambahan itu pada akhirnya akan dibebankan kepada mahasiswa yang menggunakan jasa foto wisuda.

Fotografer sekaligus alumni Untan, Fitra (27), mengatakan sebelum kebijakan tersebut diberlakukan, sesi foto wisuda di lingkungan kampus dapat dilakukan tanpa biaya tambahan. Mahasiswa hanya membayar jasa fotografi sesuai paket yang dipilih.

Saat ini, Fitra mematok tarif foto wisuda mulai dari Rp300 ribu hingga Rp450 ribu.

"Sebelum ada aturan ini, biaya yang dibayarkan mahasiswa memang murni untuk jasa fotografi, tanpa ada biaya tambahan terkait penggunaan lokasi," ujarnya, Sabtu (25/7/2026).

Sebagai alumni Untan, Fitra mengaku memahami kemungkinan tujuan kebijakan tersebut, yakni untuk menjaga kebersihan, ketertiban, dan fasilitas kampus. Ia pun mendukung apabila dana yang diperoleh benar-benar digunakan untuk kepentingan lingkungan kampus.

Meski demikian, ia menilai dampak terbesar justru akan dirasakan mahasiswa sebagai pengguna jasa fotografi. Menurutnya, biaya membership akan masuk ke dalam komponen biaya operasional yang pada akhirnya memengaruhi harga paket foto.

"Kalau ditanya apakah fotografer akan menanggung biaya Rp50 ribu itu, jawabannya kemungkinan tidak. Dalam dunia jasa, setiap ada biaya operasional baru pasti akan diperhitungkan. Artinya, biaya tersebut pada akhirnya akan menjadi bagian dari biaya yang dibayarkan klien, yaitu mahasiswa yang ingin mengabadikan momen wisudanya," jelasnya.

Fitra berharap Untan dapat memberikan kebijakan khusus bagi mahasiswa maupun alumni yang ingin melakukan foto wisuda di kampus tempat mereka menempuh pendidikan.

"Mahasiswa juga sudah menjadi bagian dari Untan selama bertahun-tahun dan telah memberikan kontribusi selama masa perkuliahan. Jadi akan sangat baik jika kebijakan ini juga mempertimbangkan kepentingan mereka," katanya.

Pandangan serupa disampaikan fotografer lainnya, Prasetyo (30). Menurutnya, tarif Rp50 ribu untuk durasi empat jam tergolong memberatkan, terlebih apabila waktu pemotretan melebihi batas tersebut sehingga dikenakan biaya tambahan.

Ia menilai mahasiswa Untan yang telah membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) serta biaya wisuda seharusnya tidak lagi dibebani biaya tambahan untuk melakukan sesi foto di lingkungan kampus.

"Kalau admin bilang bukan wisudawan yang bayar, tapi fotografer, tetap saja pada akhirnya fotografer akan membebankan biaya itu ke klien. Tidak mungkin kami yang menanggung sendiri," ujarnya.

Prasetyo mengaku kebijakan tersebut memaksanya menyesuaikan harga paket foto yang ditawarkan kepada calon klien. Bahkan, menurutnya, beberapa mahasiswa memilih berpindah lokasi pemotretan ke museum maupun kafe setelah mengetahui adanya tarif penggunaan area kampus.

"Ada beberapa klien yang akhirnya pindah tempat lain seperti ke museum atau ke kafe akibat kebijakan Untan yang mendadak ini," katanya.

Selain persoalan tarif, Prasetyo juga menyoroti mekanisme pendaftaran yang dinilai cukup rumit. Fotografer diwajibkan mengisi formulir secara daring, mengunggah data diri, melakukan pembayaran melalui QRIS, kemudian masih harus mengambil kartu identitas ke kampus sebelum dapat melakukan pemotretan.

Menurutnya, prosedur tersebut cukup menyulitkan, terutama pada hari wisuda ketika jadwal pemotretan sangat padat.

Prasetyo berharap Untan dapat mengkaji ulang kebijakan tersebut. Menurutnya, apabila tujuan utama adalah menjaga fasilitas kampus, pengelola dapat menerapkan pembatasan di area tertentu atau memasang rambu larangan menginjak rumput tanpa harus membebankan tarif kepada fotografer.

"Harapan saya kebijakan ini dikaji lagi. Kalau memang ada area yang tidak boleh digunakan untuk pemotretan atau rumput yang tidak boleh diinjak, silakan diatur. Tapi jangan solusinya dengan mengenakan tarif seperti ini," tutupnya. (Lid)

Fotografer Komersial Kini Wajib Bayar Membership di Untan, Segini Tarifnya
Fotografer Komersial Kini Wajib Bayar Membership di Untan, Segini Tarifnya
Saturday, 25/07/2026

KALBARONLINE.com – Bagi fotografer yang kerap menjadikan kawasan Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak sebagai lokasi pemotretan komersial, kini harus bersiap mengeluarkan biaya tambahan. Untan resmi menerapkan sistem membership bagi aktivitas fotografi komersial di lingkungan kampus.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Keputusan Rektor Universitas Tanjungpura Nomor 1599/DST/UN22/KU.04.02/2026 tentang Tarif Sewa Pemakaian Gedung dan Ruangan di Lingkungan Universitas Tanjungpura.

Informasi itu diumumkan melalui akun Instagram resmi UPA PKK Media Untan. Dalam pengumuman tersebut dijelaskan, fotografer yang melakukan pemotretan komersial di kawasan gedung maupun halaman kampus dengan menggunakan kamera atau properti profesional diwajibkan mengikuti program Membership Fotografer Untan.

Biaya membership ditetapkan sebesar Rp50 ribu untuk durasi penggunaan selama empat jam. Apabila kegiatan berlangsung lebih dari empat jam, akan dikenakan biaya tambahan sebesar 10 persen per jam.

Melalui kebijakan ini, Untan menyatakan program membership diterapkan sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan lingkungan kampus, melindungi taman serta ruang terbuka hijau, sekaligus menciptakan suasana kampus yang tertib, nyaman, dan indah bagi seluruh sivitas akademika.

"Mari bersama-sama menjaga fasilitas kampus dan mematuhi ketentuan yang berlaku," tulis Untan dalam pengumuman resminya.

Untan juga menegaskan bahwa aturan tersebut hanya berlaku bagi aktivitas fotografi yang bersifat komersial sebagai bagian dari penataan penggunaan fasilitas kampus dan pelestarian lingkungan universitas. (Lid)

ACC Dorong Literasi Keuangan dan Kesiapan Karier Mahasiswa Untan Lewat Educlass dan Campus Hiring
ACC Dorong Literasi Keuangan dan Kesiapan Karier Mahasiswa Untan Lewat Educlass dan Campus Hiring
Wednesday, 10/06/2026

KALBARONLINE.com – Astra Credit Companies (ACC) memperkuat komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan generasi muda melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk Educlass – Literasi Keuangan, Career Preparation & Campus Hiring di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tanjungpura (Untan), 12 Mei 2026.

Kegiatan ini dihadiri Chief Executive Officer ACC Hendry Christian Wong, Chief Human Capital Officer ACC Fredericus Radix Wikanto, Corporate Strategic, Communication & ESR Division Head ACC Riadi Prasodjo, Regional Retail Business Head Area Kalimantan ACC Willy Winardi, Branch Manager ACC Pontianak Benny Luck, serta Dekan FEB Untan Dr. Barkah, S.E., M.Si dan Ketua Jurusan Manajemen FEB Untan Heriyadi, S.E., M.E., Ph.D.

Program tersebut merupakan bagian dari pilar CSR Pendidikan ACC yang bertujuan meningkatkan literasi keuangan mahasiswa sekaligus membekali mereka dengan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan yang bijak dan bertanggung jawab.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diperkenalkan pada peran dan fungsi industri jasa keuangan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pentingnya memahami risiko dan membuat keputusan finansial yang tepat sejak usia muda.

Materi literasi keuangan disampaikan langsung oleh Corporate Strategic Management Head ACC, Ashry Rizka Imani.

Chief Executive Officer ACC, Hendry Christian Wong, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk dukungan ACC terhadap program peningkatan literasi keuangan yang terus digencarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Kami percaya edukasi keuangan perlu diperkenalkan sejak dini agar generasi muda memiliki pemahaman yang baik mengenai pengelolaan keuangan, perencanaan masa depan, serta pentingnya perlindungan terhadap risiko. Sejalan dengan program OJK, ACC berharap dapat turut mendorong terciptanya generasi yang cerdas finansial,” ujarnya.

Selain membahas literasi keuangan, ACC juga menghadirkan sesi Career Preparation yang memberikan pembekalan kepada mahasiswa terkait persiapan memasuki dunia kerja.

Materi yang diberikan mencakup penyusunan curriculum vitae (CV), teknik menghadapi wawancara kerja, hingga strategi membangun personal branding yang relevan dengan kebutuhan dunia profesional saat ini.

Melalui sesi tersebut, mahasiswa diharapkan memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai dunia kerja sekaligus meningkatkan kesiapan diri dalam menghadapi persaingan karier setelah lulus dari perguruan tinggi.

Tak hanya itu, ACC juga menggelar Campus Hiring yang memberikan kesempatan bagi para alumni untuk bergabung dan berkarier di industri jasa keuangan bersama ACC.

Kegiatan Educlass, Career Preparation, dan Campus Hiring ini diikuti oleh 165 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Manajemen Universitas Tanjungpura sebagai bagian dari upaya mendorong peningkatan kompetensi, literasi keuangan, serta kesiapan karier generasi muda di Kalimantan Barat. (*)

Wamendikti Saintek Resmikan Prodi Spesialis Anestesiologi dan Magister Farmasi FK Untan
Wamendikti Saintek Resmikan Prodi Spesialis Anestesiologi dan Magister Farmasi FK Untan
Tuesday, 19/05/2026

KALBARONLINE.com – Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (Untan) resmi menambah dua program studi baru, yakni Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Program Spesialis serta Program Studi Ilmu Farmasi Program Magister.

Peluncuran dua prodi baru tersebut dilakukan langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Fauzan, di Hotel Mercure Pontianak, Selasa (19/5/2026).

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Fauzan mengatakan, percepatan pendidikan dokter spesialis dan subspesialis menjadi bagian dari program nasional yang digagas pemerintah untuk menjawab kebutuhan tenaga kesehatan di berbagai daerah, termasuk Kalimantan Barat.

“Di Untan hari ini yang sudah dinyatakan lolos adalah program spesialis anestesi dan program magister farmasi,” ujar Fauzan.

Menurutnya, pembukaan Program Studi Anestesiologi dan Program Magister Farmasi di FK Untan disesuaikan dengan kebutuhan daerah, khususnya dalam memperkuat sumber daya manusia bidang kesehatan di Kalbar yang hingga kini masih kekurangan tenaga dokter spesialis.

Fauzan berharap peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) nantinya dapat kembali mengabdi di daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan.

“Tentu ini tidak bisa dijalankan tanpa kolaborasi pemerintah daerah tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan kampus. Ini menjadi ekosistem yang harus dibangun untuk mempercepat pemenuhan dokter spesialis,” katanya.

Ia mengungkapkan, kebutuhan dokter anestesi di Pontianak maupun Kalimantan Barat saat ini masih cukup tinggi. Bahkan, jumlah tenaga anestesi yang tersedia baru mampu memenuhi sekitar sepertiga kebutuhan layanan kesehatan.

Karena itu, pemerintah juga mengatur agar peserta PPDS mendapatkan rekomendasi dari daerah masing-masing, dengan harapan mereka kembali bertugas setelah lulus pendidikan.

“Program ini bukan hanya meningkatkan mutu SDM kesehatan, tetapi juga mengatasi persoalan distribusi dokter spesialis,” jelas Fauzan.

Sementara itu, Rektor Universitas Tanjungpura, Garuda Wiko mengatakan, pembukaan prodi spesialis anestesi menjadi langkah awal Untan dalam menyelenggarakan pendidikan dokter spesialis.

“Kami mendapat mandat dari kementerian untuk menyelenggarakan beberapa program spesialis, dan yang pertama diluncurkan adalah anestesi,” ujar Garuda.

Ia berharap kehadiran prodi baru tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan dokter spesialis anestesi di Kalbar sekaligus meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat.

Untuk mendukung pengembangan program spesialis itu, Untan juga menjalin kerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) sebagai fakultas pembina.

Garuda menambahkan, sejak awal Fakultas Kedokteran Untan memang dibangun untuk membantu memenuhi kebutuhan dokter di daerah. Karena itu, kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan kota terus diperkuat, termasuk dalam pengiriman dokter mengikuti pendidikan spesialis.

“Dokter yang dikirim daerah nantinya harus kembali bertugas di daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan,” tegasnya.

Di sisi lain, Dekan Fakultas Kedokteran Untan, Ita Armayanti mengatakan, kuota penerimaan mahasiswa untuk Program Studi Spesialis Anestesiologi masih terbatas, yakni maksimal lima orang per tahun karena status program yang masih baru.

Untan menargetkan proses penerimaan mahasiswa dimulai dalam enam bulan ke depan untuk tahun ajaran 2026 melalui tahapan seleksi berkas hingga wawancara.

Menurut Ita, prodi anestesi dipilih karena menjadi kebutuhan prioritas di Kalimantan Barat. Bahkan, beberapa daerah seperti Kapuas Hulu hingga kini masih belum memiliki dokter anestesi tetap.

“Kalau tindakan bedah tidak ada anestesi, maka layanan itu tidak bisa diklaim BPJS. Itu sebabnya kebutuhan SDM anestesi masih menjadi pekerjaan rumah besar,” ungkapnya.

Selain membuka Prodi Spesialis Anestesiologi dan Magister Farmasi, FK Untan juga berbagi peran dengan RSUD Dokter Soedarso yang saat ini tengah mengembangkan program pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit, termasuk spesialis jantung dan pembuluh darah serta bedah. (Lid)

Kalbar Masih Kekurangan Dokter Spesialis, FK Untan Resmikan Prodi Anestesiologi dan Magister Farmasi
Kalbar Masih Kekurangan Dokter Spesialis, FK Untan Resmikan Prodi Anestesiologi dan Magister Farmasi
Tuesday, 19/05/2026

KALBARONLINE.com – Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura (Untan) resmi membuka dua program studi baru, yakni Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Program Spesialis serta Program Studi Ilmu Farmasi Program Magister.

Peluncuran dua prodi baru tersebut diresmikan langsung oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Fauzan, di Hotel Mercure Pontianak, Selasa (19/5/2026).

Rektor Universitas Tanjungpura, Garuda Wiko mengatakan, pembukaan Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif menjadi bagian dari upaya Untan membantu memenuhi kebutuhan dokter spesialis di Kalimantan Barat yang hingga kini masih terbatas.

Menurutnya, Untan mendapat kepercayaan sekaligus penugasan dari kementerian untuk menyelenggarakan pendidikan dokter spesialis di daerah.

“Kita mendapat kepercayaan dan penugasan dari kementerian untuk menyelenggarakan program spesialis. Yang pertama kita launching adalah anestesiologi dan terapi intensif,” ujar Garuda Wiko.

Ia mengungkapkan, jumlah dokter spesialis anestesi di Kalbar saat ini masih belum mencukupi kebutuhan layanan kesehatan masyarakat. Karena itu, kehadiran program spesialis baru ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Kalimantan Barat.

“Mudah-mudahan ini dapat menjawab kebutuhan dokter spesialis anestesi di Kalbar dan mempertinggi layanan kesehatan di Kalbar,” katanya.

Dalam penyelenggaraannya, Fakultas Kedokteran Untan juga bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) sebagai institusi pembina. Kerja sama tersebut dilakukan untuk mendukung kualitas pendidikan serta transfer pengalaman dalam pengelolaan program spesialis.

“Mereka akan menjadi pembina kami karena pengalaman mereka akan dibagikan kepada Untan,” jelasnya.

Garuda menambahkan, peserta program spesialis nantinya diprioritaskan berasal dari daerah yang memiliki komitmen mengirimkan dokter untuk menempuh pendidikan spesialis. Setelah menyelesaikan pendidikan, para dokter diharapkan kembali bertugas di daerah asal masing-masing.

“Dokter yang dikirim daerah nantinya harus kembali lagi ke kabupaten atau kota yang mengirimkannya,” tegasnya.

Selain membuka dua program studi baru, Untan saat ini juga masih mengajukan sejumlah program studi lain yang sedang dalam tahap rekomendasi dan evaluasi kementerian.

Garuda menegaskan, sejak awal Fakultas Kedokteran Untan memang dibangun untuk membantu memenuhi kebutuhan tenaga medis di Kalimantan Barat, termasuk dokter spesialis yang hingga kini masih menjadi tantangan di sejumlah daerah.

“Sejak awal Fakultas Kedokteran Untan memang dibangun untuk memenuhi kebutuhan tenaga dokter di daerah. Karena itu, kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan kota di Kalbar terus diperkuat, termasuk dalam program pendidikan dokter spesialis,” pungkasnya. (Lid)

Kemenekraf RI Dorong Mahasiswa Untan Asah Kreativitas Hadapi Dunia Kerja 2030
Kemenekraf RI Dorong Mahasiswa Untan Asah Kreativitas Hadapi Dunia Kerja 2030
Tuesday, 12/05/2026

KALBARONLINE.com – Dunia kerja terus berubah seiring pesatnya perkembangan teknologi dan industri kreatif. Karena itu, mahasiswa dituntut tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu berpikir kreatif dan adaptif agar tetap relevan di masa depan.

Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Cecep Rukendi saat menjadi narasumber dalam kuliah umum bertema “Masa Depan Ekonomi Kreatif Sejahtera dari Ide Kreatif” di Universitas Tanjungpura, Senin (11/5/2026).

Kegiatan yang digelar Pascasarjana Untan bersama UPA Pengembangan Karir dan Kewirausahaan itu diikuti lebih dari 100 peserta dari berbagai fakultas serta instansi pemerintah daerah.

Dalam pemaparannya, Cecep menegaskan bahwa ekonomi kreatif memiliki potensi besar dalam mendorong kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat pembangunan daerah.

“Bagaimana ide dan kreativitas itu bisa membangun kesejahteraan bagi masyarakat lokal maupun pemerintah daerah,” kata Cecep.

Menurutnya, kreativitas tidak hanya penting bagi mahasiswa jurusan industri kreatif seperti arsitektur atau desain, tetapi juga relevan bagi mahasiswa dari bidang ekonomi, sosial, hingga sains.

Ia menilai banyak tokoh sukses di industri kreatif justru berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda dengan profesi yang mereka jalani saat ini.

“Banyak produser atau sutradara hebat bukan lulusan jurusan film. Mereka bisa berasal dari jurusan lain, tetapi mampu mengembangkan kreativitasnya,” ujarnya.

Cecep juga menyoroti pentingnya kemampuan berpikir analitis, sistematis, dan kreatif sebagai keterampilan utama menghadapi dunia kerja tahun 2030.

Menurut dia, kreativitas kini menjadi nilai tambah hampir di semua profesi, termasuk di sektor pendidikan.

“Dosen yang mengajar dengan kreativitas tentu akan memberikan pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan dengan yang mengajar secara biasa,” katanya.

Ia berharap mahasiswa Untan terus mengasah kreativitas dan tidak takut mengeksplorasi potensi diri, meski nantinya berkarier di luar bidang studi yang dipelajari.

“Bisa jadi seseorang bekerja sesuai jurusannya, tetapi bisa juga meniti karier di luar bidang studinya dengan mengembangkan kreativitas,” tutupnya.

Sementara itu, Rektor Untan, Garuda Wiko yang diwakili Direktur Pascasarjana Untan, Nurmainah menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diharapkan membuka perspektif baru bagi mahasiswa terkait potensi ekonomi kreatif di Indonesia, khususnya Kalimantan Barat.

Menurutnya, Kalbar memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal yang sangat potensial dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif berdaya saing nasional hingga global.

“Potensi tersebut harus kita dorong agar mampu berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang berdaya saing nasional maupun global,” ujarnya.

Nurmainah menambahkan, kuliah umum itu juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa dari jenjang Diploma, Strata 1, Strata 2, hingga perangkat pemerintah daerah yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Ia menegaskan bahwa ekonomi masa depan tidak lagi hanya bergantung pada sumber daya alam, tetapi juga pada kekuatan ide, inovasi, dan kreativitas.

“Kuliah umum ini membuka wawasan mahasiswa dan perangkat pemerintah bahwa kreativitas dan ide dapat menjadi sumber kekuatan ekonomi baru serta menghasilkan income di masa mendatang,” pungkasnya. (Lid)