Sanggau    

Wabup Sanggau Terima Kunjungan Duta Besar Prancis di Desa Tae, Ini yang Dibahas

Oleh : Jauhari Fatria
Minggu, 05 Mei 2019
Wabup Sanggau Terima Kunjungan Duta Besar Prancis di Desa Tae, Ini yang Dibahas
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KalbarOnline, Sanggau

Wakil Bupati Sanggau, Yohanes Ontot beserta jajaran dan Institut

Dayakologi menerima Kunjungan dari Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Mr. Jean

Charles Berthonet bersama Direktur Agency France For Development (AFD), Mr.

Emmanuel Baudran di Ketemenggungan Tae, Desa Tae, Kecamatan Balai, Kabupaten

Sanggau, Sabtu (4/5/2019).

Turut hadir pada pertemuan itu, Pierre Vincent selaku Sekretaris

Utama Kedutaan dan Direktur CCFD  - TS,

Komite Katolik untuk Penanggulangan Kemiskinan dan Pembangunan yang diwakili

oleh Mr. Nicolaas Heeren.

Dalam Kunjungan Duta Besar Prancis ini guna meninjau studi

dampak program pemberdayaan holistik kepada masyarakat yang sudah berlangsung

selama tiga tahun terakhir ini, di antaranya pengakuan hak-hak masyarakat adat

dari pemerintah pusat yaitu hutan adat yang merupakan hasil kerja sama Institut

Dayakologi yang dipimpin Kriss Gunui dan tim yang bekerjasama dengan Pemda

Sanggau yang didukung oleh CCFD dan AFD.

Atas nama lembaga Pemerintah Kabupaten Sanggau, Wabup

Sanggau berterima kasih kepada Institut Dayakologi bersama CCFD dan AFD dari

Prancis yang telah mendampingi masyarakat dalam pengembalian hak-hak adat

sebagai masyarakat adat dari negara untuk mengelola dan menentukan kehidupan

yang layak di atas tanah dan hutan adat masyarakat itu sendiri.

“Dalam hal ini, yang mencuri perhatian Kedutaan Besar

Prancis untuk mengunjungi dan meninjau Ketemenggungan Tae ini adalah karena

Kabupaten Sanggau sebagai penerima hak milik hutan adat di Indonesia yang

merupakan salah satu hutan adat terluas di Indonesia. Tugas kita selanjutnya

bagaimana memperkuat, melestarikan dan mengelola hutan adat, budaya lokal sesuai

kearifan lokal,” tukasnya.

Dalam kegiatan yang bertemakan ‘Bersolidaritas selamatkan

bumi dan kemanusiaan melalui pemberdayaan holistik untuk masyarakat adat

Kabupaten Sanggau’ ini, Direktur AFD Emmanuel Baudran menyampaikan bahwa sejak

AFD masuk ke Indonesia selama 10 tahun terakhir ini, AFD sudah sering membantu

masyarakat dalam pemberdayaan dan pembangunan infrastruktur.

Ia menerangkan bahwa ciri khas AFD selalu melibatkan pemerintah

daerah maupun pemerintah pusat dalam menjalankan program kerjanya.

Emmanuel Baudran menambahkan bahwa maksud tujuan rombongan

kedutaan Prancis untuk Indonesia datang ke Desa Tae adalah untuk berdiskusi

langsung dengan masyarakat adat Tae, tentang bagaimana kondisi setelah mendapat

pengkuan dari pemerintah pusat, bagaimana kegiatan yang dilakukan masyarakat

untuk melestarikan adat dan budaya.

Sementara itu, Direktur Insitut Dayakologi, Krissusandi

Gunui menyampaikan, selama tiga tahun terakhir telah berhasil menjadikan

Ketemenggungan Desa Tae, Kecamatan Balai dan Kampung Segumon, Kecamatan Sekayam

sebagai percontohan atau model pemberdayaan holistik, di mana didalamnya

memperkuat lembaga dan hukum adat.

Di antaranya menghasilkan hukum adat baru tentang pelarangan

penjualan tanah-tanah adat ke pihak luar dan memastikan pengelolaan wilayah

adat sesuai kearifan lokal yang dikontrol oleh lembaga dan hukum adat setempat.

Pada kesempatan itu juga, Wakil Bupati Sanggau menyerahkan

hasil musyawarah adat besar Tiong Kandang yang dipusatkan di Ketemenggungan Tae

pada awal Maret 2019 lalu kepada Duta Besar Prancis tentang kesepakatan masyarakat

adat dalam melestarikan dan mengelola hutan adat, budaya lokal sesuai kearifan

lokal untuk menindaklanjuti pengakuan hak-hak atas keberadaan masyarakat adat, tanah

dan hutan adat dari pemerintah pusat kepada masyarakat adat Desa Tae. (WWP)

Artikel Selanjutnya
Umat Muslim Sekadau Antusias di Tarawih Malam Pertama Ramadhan
Minggu, 05 Mei 2019
Artikel Sebelumnya
Sambut Ramadhan, Ribuan Masyarakat Sanggau Pawai Obor Kelilingi Kota Sanggau
Minggu, 05 Mei 2019

Berita terkait