Ketapang    

Visibility Turun hingga 400 Meter, Kabut Asap Ganggu Penerbangan di Bandara Rahadi Oesman Ketapang

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Wednesday, 12 August 2026
Visibility Turun hingga 400 Meter, Kabut Asap Ganggu Penerbangan di Bandara Rahadi Oesman Ketapang
Potret Bandara Rahadi Oesman Ketapang (Foto: Adi LC/KALBARONLINE.com)
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Rahadi Oesman Ketapang, Kalimantan Barat. Dalam tiga hari terakhir, penurunan jarak pandang pada pagi hari menyebabkan sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan.

Kepala Seksi Pelayanan dan Kerja Sama Bandara Rahadi Oesman Ketapang, Donny Suryana Harris, mengatakan dampak kabut asap paling terasa pada penerbangan pagi. Pada sekitar pukul 06.00 hingga 08.00 WIB, jarak pandang di kawasan bandara dilaporkan berada pada kisaran 400 hingga 800 meter.

“3 hari ke belakang kabut asap sudah berdampak aktivitas penerbangan di Rahadi Oesman khususnya penerbangan yang pagi hari karena cenderung jarak pandang dari jam 6 - 8 WIB 400 sampai 800 meter,” kata Donny saat dikonfirmasi, Selasa (11/8/2026).

Kondisi tersebut bahkan sempat menyebabkan sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan. Dampak paling lama terjadi pada Sabtu lalu.

Penerbangan Wings Air tujuan Pontianak mengalami keterlambatan selama 90 menit. Sementara penerbangan Fly Jaya dari Halim mengalami keterlambatan sekitar 30 menit.

“Delay akibat kabut asap paling lama terjadi di hari Sabtu dimana Wings Air tujuan Pontianak delay selama 90mnt dan Fly Jaya dari Halim delay 30 mnt,” ujarnya.

Mengantisipasi kondisi tersebut, pihak Bandara Rahadi Oesman terus berkoordinasi dengan AirNav, BMKG, dan maskapai penerbangan untuk mendapatkan informasi terkini mengenai kondisi cuaca dan jarak pandang.

Donny menegaskan keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama. Maskapai diminta tidak memaksakan penerbangan apabila kondisi cuaca dan jarak pandang belum memenuhi aspek keselamatan.

“Kami terus berkoordinasi dengan pihak AirNav, BMKG, maskapai penerbangan agar terus update informasi cuaca dan apabila kabut asap semakin pekat maskapai penerbangan jangan memaksakan diri untuk terbang. Pastikan cuaca benar aman agar pesawat dapat take off dan landing dengan aman. Safety first,” tegasnya.

Selain koordinasi, Bandara Rahadi Oesman bersama BMKG juga menyediakan display informasi cuaca yang dapat diakses masyarakat. Fasilitas tersebut memuat informasi kondisi cuaca di Bandara Rahadi Oesman maupun bandara tujuan.

Donny berharap fasilitas tersebut dapat membantu calon penumpang memantau perkembangan cuaca secara langsung, termasuk memahami apabila terjadi keterlambatan maupun pembatalan penerbangan akibat kondisi cuaca.

“Dan kami pun bekerja sama dengan pihak BMKG untuk menyediakan display cuaca yang memberikan informasi tentang cuaca di Bandara Rahadi Oesman dan bandara tujuan yang bisa diakses oleh publik sehingga para pengguna transportasi udara bisa memantau secara langsung perkembangan cuaca dengan harapan mereka bisa memahami apabila ada delay maupun cancel flight yang diakibatkan cuaca yang tidak mendukung keselamatan penerbangan,” ungkapnya.

Sementara itu, Forecaster Stasiun Meteorologi Rahadi Oesman Ketapang, Sudirman, menjelaskan jarak pandang mendatar atau visibility di kawasan bandara pada pagi hari masih sangat terbatas.

Pada sekitar pukul 05.00 hingga 08.00 WIB, visibility berada pada kisaran 500 hingga 1.500 meter. Kondisi tersebut berangsur membaik setelah pukul 08.00 WIB seiring meningkatnya suhu udara dan kecepatan angin.

Menurut Sudirman, kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor. Suhu udara yang rendah membuat partikel asap terperangkap di dekat permukaan. Sementara kecepatan angin yang masih di bawah 8 knot belum cukup kuat untuk mendorong dan menyebarkan partikel asap.

Kepadatan partikel asap kemudian menyebabkan cahaya matahari mengalami hamburan atau scattering light. Kondisi ini membuat pandangan mata maupun sensor optik menjadi kabur sehingga jarak pandang efektif berkurang.

“Jarak pandang mendatar (visibility) di kawasan Bandara Rahadi Oesman pada pagi hari sekitar pukul 05.00–08.00 WIB sangat terbatas, berkisar 500 - 1.500 meter, dan berangsur membaik setelah pukul 08.00 WIB seiring naiknya suhu udara dan kecepatan angin,” jelas Sudirman.

Ia menambahkan, berdasarkan regulasi keselamatan penerbangan sipil atau CASR, visibility di bawah 1.000 meter memiliki risiko tinggi terhadap proses lepas landas maupun pendaratan.

Risiko tersebut menjadi perhatian karena Bandara Rahadi Oesman memiliki landasan pacu sepanjang 1.400 meter.

“Secara regulasi keselamatan penerbangan sipil (CASR), kondisi visibility di bawah 1.000 meter sangat berisiko untuk proses take off maupun landing, terlebih Bandara Rahadi Oesman memiliki landasan pacu terbatas sepanjang 1.400 meter,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, Sudirman menyebut penerbangan pada pagi hari masih berpotensi mengalami gangguan hingga jarak pandang kembali membaik.

“Karena itu, jadwal penerbangan pagi berpotensi terdampak hingga kondisi visibility membaik,” pungkasnya. (Adi LC)

Artikel Selanjutnya
RSUD Soedarso Waspadai Lonjakan Pneumonia di Tengah Kabut Asap Karhutla
Wednesday, 12 August 2026
Artikel Sebelumnya
Supriadi Terpilih Aklamasi Pimpin PWI Ketapang 2026-2029
Wednesday, 12 August 2026

Berita terkait