Pontianak    

Kabut Asap Ganggu Penyeberangan Sampan Pontianak, Penumpang dan Pendapatan Turun

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Saturday, 22 August 2026
Kabut Asap Ganggu Penyeberangan Sampan Pontianak, Penumpang dan Pendapatan Turun
Kabut asap karhutla mengganggu penyeberangan sampan Pontianak. Penumpang berkurang, jarak pandang terbatas dan pendapatan turun (Foto: Lid/KALBARONLINE.com)
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com – Kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu aktivitas penyeberangan sampan di sejumlah titik di Pontianak, Kalimantan Barat, salah satunya rute Waterfront Pontianak menuju Bardan-Siantan.

Selain jumlah penumpang yang berkurang, jarak pandang yang terbatas membuat para penambang harus mengurangi kecepatan demi menjaga keselamatan penumpang.

Salah seorang penambang sampan, Ajiman, mengatakan kabut asap cukup berdampak terhadap aktivitasnya. Menurutnya, warga kini lebih banyak memilih berada di rumah sehingga jumlah penumpang ikut menurun.

“Lumayan ganggu. Pertama, tidak ada penumpang karena orang lebih banyak diam di rumah. Kedua, pandangan kabur, tidak nampak sekali jarak jauh,” kata Ajiman.

Kondisi paling parah, kata dia, terjadi pada pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB. Saat itu, jarak pandang sangat terbatas sehingga ia harus mengandalkan insting dan membawa sampan dengan kecepatan rendah.

“Kalau jam 6 pagi, tidak nampak sekali. Harus pakai insting, jadi bawa pelan-pelan. Kalau menabrak bahaya,” ujarnya.

Dalam kondisi normal, Ajiman bisa membawa sekitar 15 penumpang dalam sekali perjalanan. Namun, sejak kabut asap muncul, jumlah penumpang yang diangkut hanya sekitar 5 hingga 10 orang.

Penurunan jumlah penumpang turut berdampak pada pendapatannya. Sebelum kabut asap, ia bisa memperoleh sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari. Kini, pendapatannya turun menjadi sekitar Rp200 ribu.

“Yang menyeberang ini rata-rata cuma pekerja. Kalau wisatawan berkurang semenjak kabut asap. Biasanya sore ramai, tapi sekarang kabut, tidak bisa jalan-jalan, tidak ada sunset, tidak ada yang bisa dipandang,” katanya.

Ajiman biasanya mulai menambang sejak pukul 06.00 hingga 10.00 WIB. Ia berharap pemerintah dapat melakukan penanganan yang lebih efektif agar persoalan kabut asap tidak terus berulang setiap tahun.

“Harapannya untuk pemerintah, kabut ini kan tiap tahun. Harapannya diatasi supaya tidak terulang lagi tahun depan. Ini bencana tahunan, masa tidak bisa,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan Jamaludin, penambang sampan yang telah menjalani pekerjaan tersebut selama sekitar enam tahun. Ia menyebut kabut asap tidak hanya mengganggu pendapatan, tetapi juga kesehatan dan keselamatan saat menyeberang.

“Masalah kesehatan juga terganggu. Untuk penyeberangan cukup terganggu, terutama untuk penglihatan bagi yang bolak-balik,” kata Jamaludin.

Menurutnya, jumlah penumpang juga menurun karena sebagian masyarakat memilih mengurangi aktivitas di luar rumah.

Jamaludin biasanya menambang mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Sementara pada sore hingga malam hari, aktivitas penyeberangan masih berlangsung hingga sekitar pukul 18.00 WIB.

Ia mengatakan kabut asap biasanya mulai tebal sejak sekitar pukul 06.00 WIB hingga siang hari. Kondisi serupa kembali terjadi pada sore hari.

“Kalau untuk wisata juga berkurang banget. Biasanya pendapatan kita Rp200 ribu, sekarang sampai Rp50 ribu itu susah banget,” ujarnya.

Untuk menjaga keselamatan, Jamaludin mengaku harus mengurangi kecepatan sampan ketika jarak pandang terbatas.

“Terutama untuk keselamatan penumpang, kita kurangi kecepatan,” katanya.

Ia berharap upaya penanggulangan karhutla dapat terus diperkuat. Menurutnya, kabut asap hampir selalu terjadi setiap tahun, namun penanganannya dinilai masih belum efektif.

“Setiap tahun kabut ini selalu ada, selalu seperti ini, tetapi penanggulangannya kurang efektif. Mungkin pemerintah kita sudah berupaya maksimal, cuma kesadaran masyarakat kita untuk tidak bakar lahan,” pungkasnya. (Lid)

Artikel Selanjutnya
Bupati Melawi Imbau Warga Waspada Karhutla dan Gunakan Masker
Friday, 21 August 2026
Artikel Sebelumnya
Bupati Melawi Imbau Warga Waspada Karhutla dan Gunakan Masker
Friday, 21 August 2026

Berita terkait