Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Friday, 21 August 2026 |
KALBARONLINE.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu aktivitas transportasi air di Pontianak, Kalimantan Barat. Kondisi ini membuat awak kapal meningkatkan kewaspadaan, terutama saat berlayar pada malam hari.
Sejumlah kapal angkutan barang di Pelabuhan Seng Hie, Pontianak, bahkan mengurangi kecepatan untuk mengantisipasi risiko kecelakaan akibat jarak pandang yang terbatas.
Aran, awak kapal pengangkut sembako, mengatakan kabut asap cukup mengganggu jarak pandang, khususnya pada malam hari.
“Kalau pagi tidak terlalu, kecuali malam. Kalau siang masih nampak. Kalau malam itu cukup mengganggu. Walaupun begitu kita tetap berlayar, cuma mengurangi kecepatan,” kata Aran saat ditemui Jumat (21/8/2026).
Hal serupa disampaikan Umar, awak kapal KM Bapake. Ia menyebut jarak pandang pada siang hari masih berada di kisaran 50 hingga 100 meter. Namun, kondisi pada malam hari dinilai lebih mengkhawatirkan.
“Jarak pandang 100 meter masih kelihatan. Mengganggu itu malam. Kami berangkat dari jam 9-10 pagi,” ujarnya.
Umar mengatakan KM Bapake melayani rute Pontianak menuju Telok Batang dan Seponti dengan membawa barang kebutuhan pokok.
Dalam kondisi kabut asap, pihaknya tetap berlayar. Namun, kecepatan kapal diturunkan untuk menyesuaikan kondisi jarak pandang.
“Kalau keadaan begini masih kelihatan 100 meter, 50 meter kalau siang. Kalau malam kita tidak menjamin, jadinya memperlambat kecepatan,” katanya.
Menurut Umar, perjalanan menuju tujuan dapat memakan waktu hingga 24 jam. Karena itu, kondisi jarak pandang menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan awak kapal selama perjalanan.
“Kalau dibilang mengganggu tidak juga, cuma agak waspada,” pungkasnya. (Lid)
KALBARONLINE.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu aktivitas transportasi air di Pontianak, Kalimantan Barat. Kondisi ini membuat awak kapal meningkatkan kewaspadaan, terutama saat berlayar pada malam hari.
Sejumlah kapal angkutan barang di Pelabuhan Seng Hie, Pontianak, bahkan mengurangi kecepatan untuk mengantisipasi risiko kecelakaan akibat jarak pandang yang terbatas.
Aran, awak kapal pengangkut sembako, mengatakan kabut asap cukup mengganggu jarak pandang, khususnya pada malam hari.
“Kalau pagi tidak terlalu, kecuali malam. Kalau siang masih nampak. Kalau malam itu cukup mengganggu. Walaupun begitu kita tetap berlayar, cuma mengurangi kecepatan,” kata Aran saat ditemui Jumat (21/8/2026).
Hal serupa disampaikan Umar, awak kapal KM Bapake. Ia menyebut jarak pandang pada siang hari masih berada di kisaran 50 hingga 100 meter. Namun, kondisi pada malam hari dinilai lebih mengkhawatirkan.
“Jarak pandang 100 meter masih kelihatan. Mengganggu itu malam. Kami berangkat dari jam 9-10 pagi,” ujarnya.
Umar mengatakan KM Bapake melayani rute Pontianak menuju Telok Batang dan Seponti dengan membawa barang kebutuhan pokok.
Dalam kondisi kabut asap, pihaknya tetap berlayar. Namun, kecepatan kapal diturunkan untuk menyesuaikan kondisi jarak pandang.
“Kalau keadaan begini masih kelihatan 100 meter, 50 meter kalau siang. Kalau malam kita tidak menjamin, jadinya memperlambat kecepatan,” katanya.
Menurut Umar, perjalanan menuju tujuan dapat memakan waktu hingga 24 jam. Karena itu, kondisi jarak pandang menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan awak kapal selama perjalanan.
“Kalau dibilang mengganggu tidak juga, cuma agak waspada,” pungkasnya. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini