Pontianak    

Gowes 1.500 Km, Pemuda Pontianak Cetak Rekor dan Jadi Ultracyclist Termuda se-Asia

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Selasa, 13 Januari 2026
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar


KALBARONLINE.com – Prestasi membanggakan datang dari Kota Pontianak. Muhammad Gusti Hibatullah, pemuda asal Kalimantan Barat, sukses menorehkan rekor sebagai ultracyclist termuda se-Asia setelah menuntaskan tantangan bersepeda jarak jauh sejauh 1.500 kilometer pada usia 15 tahun.

Pencapaian tersebut diraih Gusti saat mengikuti event Lintas Borneo 2025 yang diselenggarakan oleh Pontianak Endurance Ride. Ajang ultracycling ini dikenal ekstrem karena menuntut peserta bersepeda lintas wilayah selama berhari-hari tanpa bantuan apa pun.

Dalam event tersebut, Gusti berhasil mengungguli enam peserta lain yang berasal dari berbagai daerah dan negara, mulai dari Jakarta, Samarinda, Malaysia, hingga Jerman. Ia menjadi satu-satunya perwakilan dari Kalimantan Barat, sekaligus peserta termuda yang tampil di ajang tersebut.

Rute yang dilalui terbilang panjang dan menantang, meliputi Pontianak–Sanggau–Sekadau–Sintang–Putussibau–Badau–Kuching–Aruk–Sambas–Pemangkat–Singkawang, hingga kembali ke Pontianak. Seluruh rute sejauh 1.500 kilometer itu diselesaikan Gusti dalam waktu 152 jam, atau setara 6 hari 8 jam.

“Hal terpenting dari event ultra adalah unsupported. Jadi, selama perjalanan dari start hingga finish, tidak boleh ada bantuan dalam bentuk apa pun dari orang-orang, termasuk panitia. Aku mengikuti kategori solo, jadi full gowes mandiri sejauh 1.500 km,” kata Gusti.

Kini berusia 16 tahun, Gusti menjelaskan bahwa ultracycling bukan sekadar soal kekuatan fisik. Olahraga ini juga menguji ketahanan mental, karena peserta harus mengayuh sepeda selama berhari-hari, menghadapi cuaca ekstrem, rasa lelah, hingga kejenuhan di perjalanan.

Terlebih, event ultracycling menerapkan aturan ketat tanpa bantuan dari pihak luar.

“Dilarang keras dikawal motor atau mobil, ditemani atau disamperin keluarga, atau berinteraksi dengan kenalan selama perjalanan. Tidak boleh ada bantuan suplai dari luar, bahkan tidak boleh gowes barengan antar peserta. Setiap peserta minimal berjarak 500 meter dan otomatis didiskualifikasi jika barengan lebih dari 30 menit. Jadi, wajib solo, unsupported,” tuturnya.

Selain itu, setiap peserta dibekali tracker oleh panitia untuk memantau pergerakan dan mencegah kecurangan. Panitia juga bersiaga di sejumlah checkpoint serta di jalur lintasan untuk melakukan dokumentasi.

Selama perjalanan, Gusti harus menghadapi berbagai tantangan berat, baik fisik maupun mental. Ia sempat mengalami overheat, demam, dan meriang saat memasuki wilayah Malaysia, kondisi yang nyaris membuatnya menyerah.

“Sempat mengalami overheat, demam, dan meriang saat di Malaysia, tepatnya di km 980. Perasaan sudah campur aduk untuk menyerah dan mencari tumpangan untuk kembali ke Pontianak,” ungkapnya.

Ujian belum berhenti di situ. Saat kembali memasuki Indonesia, tepatnya di wilayah Sambas, Gusti mengalami cedera pada lengan akibat terserempet pengendara motor dari belakang. Meski demikian, ia tetap memilih melanjutkan perjalanan hingga garis finis.

“Dengan sisa tenaga dan tekad, aku memutuskan untuk lanjut menyelesaikan eventnya. Saat masuk Indonesia, tepatnya di Sambas, aku kena serempet motor dari belakang dan menyebabkan cedera yang lumayan pada lengan. Dengan rasa kesal dan marah, aku tetap lanjut sampai garis finish dan berhasil mencetak rekor. Banyak yang terjadi di jalan, 1.500 km bukan cuma soal jarak, tapi soal pendekatan lebih dalam terhadap diri,” jelasnya.

Memasuki tahun 2026, Gusti telah menyiapkan target baru. Ia berencana kembali memecahkan rekor di Lintas Borneo yang dijadwalkan berlangsung pada Juli mendatang.

Tak hanya itu, untuk jangka panjang, Gusti juga bersiap mengikuti event ultracycling Bentang Jawa di luar Kalimantan Barat. Event tersebut memiliki jarak yang sama, yakni 1.500 kilometer, namun dengan elevasi yang lebih tinggi, dimulai dari Banten dan berakhir di Banyuwangi.

“Event tersebut sama-sama berjarak 1.500 km. Namun, elevasinya lebih tinggi, start dari Banten dan finish di Banyuwangi. Suatu impian bagi aku untuk dapat mengikuti event itu,” ujarnya.

Sebagai ultracyclist termuda se-Asia, Gusti berharap prestasinya mendapat perhatian lebih.

“Aku harap dapat apresiasi dan dukungan lebih dari pemerintah setempat atau setidaknya disorot oleh media-media lokal untuk menambah semangat karena aku telah membawa nama Pontianak, Kalbar, dan Indonesia sebagai ultracyclist termuda se-Asia,” pungkasnya. (Lid)

Artikel Selanjutnya
9 Ton Udang Wangkang Kalbar Melenggang ke Pasar Global, Nilai Ekspor Tembus Rp 441 Juta
Selasa, 13 Januari 2026
Artikel Sebelumnya
Dua Lokasi Lakalantas di Ketapang Tewaskan Dua Warga, Polisi Sebut Faktor Kelalaian Pengemudi
Selasa, 13 Januari 2026

Berita terkait