Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Minggu, 01 Maret 2026 |
KALBARONLINE.com - Bupati Ketapang, Alexander Wilyo secara resmi menutup rangkaian Gawai Adat Bejujokng XV di Desa Gema, Kecamatan Simpang Dua, Sabtu (28/02/2026).
Penutupan gawai adat tersebut dihadiri Wakil Ketua DPRD Kabupaten Ketapang Matius Yudi, Wakil Ketua DAD Kabupaten Ketapang, H Jahilin, unsur forkopimcam, para kepala perangkat daerah, camat, kepala desa, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, serta masyarakat dari berbagai wilayah.
Dalam sambutannya, Alexander mengajak masyarakat untuk senantiasa bersyukur atas hasil panen padi yang melimpah sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa (Jubata/Duwata Perimbang Alam Bumi).
“Tradisi gawai ini adalah wujud syukur kita atas berkat panen yang diberikan Tuhan. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk penghormatan kepada alam dan leluhur yang telah menjaga kehidupan kita,” ujarnya.
Alexander menegaskan, Gawai Adat Bejujokng merupakan warisan budaya masyarakat Dayak yang harus terus dijaga dan dilestarikan di tengah arus modernisasi.
“Di tengah kemajuan zaman, kita tidak boleh kehilangan jati diri. Budaya adalah identitas kita. Kalau budaya hilang, maka hilang pula karakter dan kebanggaan kita sebagai masyarakat Dayak,” tegasnya.
Bupati juga mengapresiasi konsistensi masyarakat Desa Gema yang telah menyelenggarakan Gawai Adat Bejujokng hingga tahun ke-15. Menurutnya, kualitas pelaksanaan gawai semakin baik dari tahun ke tahun dan sudah setara dengan gawai tingkat kabupaten.
Sebagai bentuk dukungan konkret terhadap pelestarian budaya, ia mengungkapkan rencana pembangunan miniatur rumah betang atau rumah adat di Desa Gema.
“Kita rencanakan pembangunan miniatur rumah betang di Desa Gema. Tahun ini kita siapkan DED-nya, dan tahun depan kita mulai pembangunannya secara gotong royong oleh seluruh desa di Kecamatan Simpang Dua. Ini simbol komitmen kita menjaga dan menghidupkan budaya,” pungkasnya.
Bupati berharap, Gawai Adat Bejujokng terus menjadi kekuatan budaya sekaligus mempererat persatuan masyarakat di Kabupaten Ketapang. (Adi LC)
KALBARONLINE.com - Bupati Ketapang, Alexander Wilyo secara resmi menutup rangkaian Gawai Adat Bejujokng XV di Desa Gema, Kecamatan Simpang Dua, Sabtu (28/02/2026).
Penutupan gawai adat tersebut dihadiri Wakil Ketua DPRD Kabupaten Ketapang Matius Yudi, Wakil Ketua DAD Kabupaten Ketapang, H Jahilin, unsur forkopimcam, para kepala perangkat daerah, camat, kepala desa, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, serta masyarakat dari berbagai wilayah.
Dalam sambutannya, Alexander mengajak masyarakat untuk senantiasa bersyukur atas hasil panen padi yang melimpah sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa (Jubata/Duwata Perimbang Alam Bumi).
“Tradisi gawai ini adalah wujud syukur kita atas berkat panen yang diberikan Tuhan. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk penghormatan kepada alam dan leluhur yang telah menjaga kehidupan kita,” ujarnya.
Alexander menegaskan, Gawai Adat Bejujokng merupakan warisan budaya masyarakat Dayak yang harus terus dijaga dan dilestarikan di tengah arus modernisasi.
“Di tengah kemajuan zaman, kita tidak boleh kehilangan jati diri. Budaya adalah identitas kita. Kalau budaya hilang, maka hilang pula karakter dan kebanggaan kita sebagai masyarakat Dayak,” tegasnya.
Bupati juga mengapresiasi konsistensi masyarakat Desa Gema yang telah menyelenggarakan Gawai Adat Bejujokng hingga tahun ke-15. Menurutnya, kualitas pelaksanaan gawai semakin baik dari tahun ke tahun dan sudah setara dengan gawai tingkat kabupaten.
Sebagai bentuk dukungan konkret terhadap pelestarian budaya, ia mengungkapkan rencana pembangunan miniatur rumah betang atau rumah adat di Desa Gema.
“Kita rencanakan pembangunan miniatur rumah betang di Desa Gema. Tahun ini kita siapkan DED-nya, dan tahun depan kita mulai pembangunannya secara gotong royong oleh seluruh desa di Kecamatan Simpang Dua. Ini simbol komitmen kita menjaga dan menghidupkan budaya,” pungkasnya.
Bupati berharap, Gawai Adat Bejujokng terus menjadi kekuatan budaya sekaligus mempererat persatuan masyarakat di Kabupaten Ketapang. (Adi LC)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini