Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Senin, 16 Maret 2026 |
KALBARONLINE.com - Dalam rangka Hari Pendengaran Sedunia yang dicanangkan WHO setiap 3 Maret, RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak menggelar penyuluhan kesehatan dengan tema "Komunitas Menjaga Kesehatan Pendengaran Anak".
Dokter spesialis THT, Eva Nurfarihah menjelaskan, bahwa gangguan pendengaran pada anak-anak makin meningkat dan banyak yang sebenarnya bisa dicegah.
"Penyebab tersering adalah kotoran telinga yang menumpuk, infeksi, dan paparan bising/suara keras," ujarnya, Senin (16/03/2026).
Kotoran telinga pada anak bisa menumpuk karena proses mengunyah yang belum optimal.
"Kotoran telinga umumnya tidak perlu 'dibersihkan' secara agresif; proses mengunyah, bicara, menelan membantu mendorong kotoran keluar perlahan," tutur Eva.
Ia menambahkan, paparan bising atau suara keras, termasuk kebiasaan memakai earphone/headset atau bermain gim dengan volume tinggi, dapat merusak saraf pendengaran. Ditekankan rumus "60-60": maksimal 60 menit per hari dan volume maksimal 60 persen.
Guru dan orang tua perlu waspada jika anak tampak tidak paham saat dijelaskan atau menyalakan TV, radio, handphone dengan suara sangat keras.
"Jika ada tanda-tanda tersebut, segera periksa ke dokter THT untuk memastikan ada atau tidaknya gangguan pendengaran," jelasnya.
Gangguan pendengaran bisa dibantu dengan alat bantu dengar. Oleh karenanya, perlu dilakukan sosialisasi.
"Sosialisasikan peran komunitas untuk lebih peduli terhadap tanda-tanda gangguan pendengaran pada anak," terangnya.
Salah satu peserta penyuluhan, Rusminah mengakui materi yang disampaikan sangat bermanfaat. Ia bahkan sempat bertanya kepada narasumber terkait dengan penyebab telinga berdengung.
"Alhamdulillah tadi sudah dijelaskan sama dokter spesialis THT sehingga saya sekarang bisa mengetahui penyebab dari telinga berdengung," pungkasnya. (Jau)
KALBARONLINE.com - Dalam rangka Hari Pendengaran Sedunia yang dicanangkan WHO setiap 3 Maret, RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak menggelar penyuluhan kesehatan dengan tema "Komunitas Menjaga Kesehatan Pendengaran Anak".
Dokter spesialis THT, Eva Nurfarihah menjelaskan, bahwa gangguan pendengaran pada anak-anak makin meningkat dan banyak yang sebenarnya bisa dicegah.
"Penyebab tersering adalah kotoran telinga yang menumpuk, infeksi, dan paparan bising/suara keras," ujarnya, Senin (16/03/2026).
Kotoran telinga pada anak bisa menumpuk karena proses mengunyah yang belum optimal.
"Kotoran telinga umumnya tidak perlu 'dibersihkan' secara agresif; proses mengunyah, bicara, menelan membantu mendorong kotoran keluar perlahan," tutur Eva.
Ia menambahkan, paparan bising atau suara keras, termasuk kebiasaan memakai earphone/headset atau bermain gim dengan volume tinggi, dapat merusak saraf pendengaran. Ditekankan rumus "60-60": maksimal 60 menit per hari dan volume maksimal 60 persen.
Guru dan orang tua perlu waspada jika anak tampak tidak paham saat dijelaskan atau menyalakan TV, radio, handphone dengan suara sangat keras.
"Jika ada tanda-tanda tersebut, segera periksa ke dokter THT untuk memastikan ada atau tidaknya gangguan pendengaran," jelasnya.
Gangguan pendengaran bisa dibantu dengan alat bantu dengar. Oleh karenanya, perlu dilakukan sosialisasi.
"Sosialisasikan peran komunitas untuk lebih peduli terhadap tanda-tanda gangguan pendengaran pada anak," terangnya.
Salah satu peserta penyuluhan, Rusminah mengakui materi yang disampaikan sangat bermanfaat. Ia bahkan sempat bertanya kepada narasumber terkait dengan penyebab telinga berdengung.
"Alhamdulillah tadi sudah dijelaskan sama dokter spesialis THT sehingga saya sekarang bisa mengetahui penyebab dari telinga berdengung," pungkasnya. (Jau)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini