Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Sabtu, 04 April 2026 |
KALBARONLINE.com – Di tengah dorongan pemerintah pusat agar warga negara Indonesia (WNI) memanfaatkan fasilitas kesehatan dalam negeri, langkah Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan yang memilih berobat ke luar negeri justru memunculkan ironi tersendiri.
Norsan diketahui bertolak ke Kuching, Malaysia, pada Jumat, 3 April 2026, untuk menjalani pemeriksaan kesehatan usai mengalami serangan vertigo.
“Saya chek up, karena malam Jumat dapat serangan vertigo. Disebabkan kecapekan dan kurang tidur serta istirahat. Kadis Kesehatan juga ikut menangani malam itu. Mumpung hari libur jadi berobat di Kuching. Sore ini sudah kembali,” ujar Norsan, seperti dikutip dari salah satu media online di Kalbar.
Politisi Partai Gerindra itu juga mengirimkan foto dirinya bersama sang istri, Erlina—yang menjabat sebagai Bupati Mempawah—saat tengah menjalani pemeriksaan medis. Ia memastikan kondisinya sudah membaik dan siap kembali beraktivitas.
“Hari Senin, saya sudah masuk kantor lagi,” tambahnya.
Langkah berobat ke luar negeri ini menjadi sorotan, mengingat pemerintah pusat dalam beberapa tahun terakhir terus menguatkan fasilitas kesehatan nasional sekaligus mendorong masyarakat agar tidak lagi berobat ke luar negeri.
Presiden Prabowo Subianto, misalnya, menegaskan pentingnya memanfaatkan layanan kesehatan dalam negeri. Hal itu disampaikannya saat meresmikan Ngoerah Sun Wellness and Aesthetic Center di Bali.
“Dengan adanya fasilitas seperti ini, diharapkan warga negara Indonesia yang membutuhkan pelayanan kesehatan berkualitas tinggi tidak perlu lagi pergi ke luar negeri,” ujar Prabowo.
Menurutnya, kebiasaan berobat ke luar negeri berpotensi menggerus devisa negara. Sebaliknya, jika pelayanan kesehatan dalam negeri dimanfaatkan secara optimal, hal itu justru bisa memperkuat perekonomian nasional.
“Ini tentu akan sangat membantu dalam memperkuat perekonomian nasional, karena kita tidak lagi banyak menghabiskan devisa, tetapi justru bisa menarik pasien dari luar negeri untuk datang ke sini,” tambahnya.
Pesan serupa sebelumnya juga pernah disampaikan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Ia bahkan mengaku prihatin karena masih banyak WNI yang memilih berobat ke luar negeri, mulai dari Malaysia, Singapura, hingga Amerika Serikat.
“Saya paling sedih kalau mendengar ada warga negara kita yang sakit, kemudian perginya ke luar negeri,” kata Jokowi saat meresmikan RSUD Soedarso Pontianak.
Fenomena ini menjadi catatan tersendiri, terutama ketika pemerintah terus mendorong penguatan layanan kesehatan dalam negeri sebagai bagian dari strategi pembangunan, termasuk menjaga stabilitas ekonomi dan menekan keluarnya devisa.
Di satu sisi, pemerintah berupaya membangun kepercayaan terhadap fasilitas kesehatan nasional. Namun di sisi lain, praktik berobat ke luar negeri oleh pejabat publik masih kerap terjadi, memunculkan pertanyaan tentang konsistensi antara kebijakan dan implementasi di lapangan.
Sebelumnya, Ria Norsan juga pernah menyampaikan pandangan berbeda terkait kebiasaan berobat ke luar negeri. Saat membuka kegiatan visitasi program fellowship jantung di RSUD Soedarso Pontianak, ia menyoroti masih banyak masyarakat Kalimantan Barat yang memilih berobat ke luar negeri, khususnya ke Kuching.
“Kebiasaan masyarakat berobat ke luar negeri harus kita ubah. Dengan adanya program ini, pelayanan kesehatan kita akan semakin maksimal dan rumah sakit kita siap melayani masyarakat yang terkena serangan jantung,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut kini menjadi perhatian karena beririsan dengan langkah yang diambilnya. Di satu sisi, dorongan untuk membangun kepercayaan terhadap fasilitas kesehatan dalam negeri disampaikan secara terbuka. Namun di sisi lain, pilihan berobat ke luar negeri tetap dilakukan.
Kontras ini menghadirkan ruang tafsir publik terkait konsistensi antara pernyataan dan praktik, terutama dalam konteks upaya memperkuat layanan kesehatan nasional sekaligus menekan keluarnya devisa. (Tim)
KALBARONLINE.com – Di tengah dorongan pemerintah pusat agar warga negara Indonesia (WNI) memanfaatkan fasilitas kesehatan dalam negeri, langkah Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan yang memilih berobat ke luar negeri justru memunculkan ironi tersendiri.
Norsan diketahui bertolak ke Kuching, Malaysia, pada Jumat, 3 April 2026, untuk menjalani pemeriksaan kesehatan usai mengalami serangan vertigo.
“Saya chek up, karena malam Jumat dapat serangan vertigo. Disebabkan kecapekan dan kurang tidur serta istirahat. Kadis Kesehatan juga ikut menangani malam itu. Mumpung hari libur jadi berobat di Kuching. Sore ini sudah kembali,” ujar Norsan, seperti dikutip dari salah satu media online di Kalbar.
Politisi Partai Gerindra itu juga mengirimkan foto dirinya bersama sang istri, Erlina—yang menjabat sebagai Bupati Mempawah—saat tengah menjalani pemeriksaan medis. Ia memastikan kondisinya sudah membaik dan siap kembali beraktivitas.
“Hari Senin, saya sudah masuk kantor lagi,” tambahnya.
Langkah berobat ke luar negeri ini menjadi sorotan, mengingat pemerintah pusat dalam beberapa tahun terakhir terus menguatkan fasilitas kesehatan nasional sekaligus mendorong masyarakat agar tidak lagi berobat ke luar negeri.
Presiden Prabowo Subianto, misalnya, menegaskan pentingnya memanfaatkan layanan kesehatan dalam negeri. Hal itu disampaikannya saat meresmikan Ngoerah Sun Wellness and Aesthetic Center di Bali.
“Dengan adanya fasilitas seperti ini, diharapkan warga negara Indonesia yang membutuhkan pelayanan kesehatan berkualitas tinggi tidak perlu lagi pergi ke luar negeri,” ujar Prabowo.
Menurutnya, kebiasaan berobat ke luar negeri berpotensi menggerus devisa negara. Sebaliknya, jika pelayanan kesehatan dalam negeri dimanfaatkan secara optimal, hal itu justru bisa memperkuat perekonomian nasional.
“Ini tentu akan sangat membantu dalam memperkuat perekonomian nasional, karena kita tidak lagi banyak menghabiskan devisa, tetapi justru bisa menarik pasien dari luar negeri untuk datang ke sini,” tambahnya.
Pesan serupa sebelumnya juga pernah disampaikan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Ia bahkan mengaku prihatin karena masih banyak WNI yang memilih berobat ke luar negeri, mulai dari Malaysia, Singapura, hingga Amerika Serikat.
“Saya paling sedih kalau mendengar ada warga negara kita yang sakit, kemudian perginya ke luar negeri,” kata Jokowi saat meresmikan RSUD Soedarso Pontianak.
Fenomena ini menjadi catatan tersendiri, terutama ketika pemerintah terus mendorong penguatan layanan kesehatan dalam negeri sebagai bagian dari strategi pembangunan, termasuk menjaga stabilitas ekonomi dan menekan keluarnya devisa.
Di satu sisi, pemerintah berupaya membangun kepercayaan terhadap fasilitas kesehatan nasional. Namun di sisi lain, praktik berobat ke luar negeri oleh pejabat publik masih kerap terjadi, memunculkan pertanyaan tentang konsistensi antara kebijakan dan implementasi di lapangan.
Sebelumnya, Ria Norsan juga pernah menyampaikan pandangan berbeda terkait kebiasaan berobat ke luar negeri. Saat membuka kegiatan visitasi program fellowship jantung di RSUD Soedarso Pontianak, ia menyoroti masih banyak masyarakat Kalimantan Barat yang memilih berobat ke luar negeri, khususnya ke Kuching.
“Kebiasaan masyarakat berobat ke luar negeri harus kita ubah. Dengan adanya program ini, pelayanan kesehatan kita akan semakin maksimal dan rumah sakit kita siap melayani masyarakat yang terkena serangan jantung,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut kini menjadi perhatian karena beririsan dengan langkah yang diambilnya. Di satu sisi, dorongan untuk membangun kepercayaan terhadap fasilitas kesehatan dalam negeri disampaikan secara terbuka. Namun di sisi lain, pilihan berobat ke luar negeri tetap dilakukan.
Kontras ini menghadirkan ruang tafsir publik terkait konsistensi antara pernyataan dan praktik, terutama dalam konteks upaya memperkuat layanan kesehatan nasional sekaligus menekan keluarnya devisa. (Tim)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini