Pontianak    

Pontianak Tuan Rumah Rakernas XVI ARSADA 2026, Bahas Kemandirian RS Daerah hingga Pemerataan SDM Kesehatan

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Thursday, 11 June 2026
Pontianak Tuan Rumah Rakernas XVI ARSADA 2026, Bahas Kemandirian RS Daerah hingga Pemerataan SDM Kesehatan
Pontianak jadi tuan rumah Rakernas XVI ARSADA 2026, membahas kemandirian rumah sakit daerah dan SDM kesehatan (Foto: Lid/KALBARONLINE.com)
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com – Kota Pontianak dipercaya menjadi tuan rumah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVI Asosiasi Rumah Sakit Daerah Seluruh Indonesia (ARSADA) yang berlangsung pada 11–13 Juni 2026. Kegiatan berskala nasional ini dihadiri perwakilan rumah sakit daerah dari berbagai provinsi di Indonesia dan turut diramaikan dengan pameran teknologi serta peralatan kesehatan modern.

Rakernas ARSADA 2026 menjadi forum strategis bagi rumah sakit daerah untuk membahas berbagai tantangan di sektor kesehatan, mulai dari tata kelola rumah sakit, regulasi, kemandirian Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), hingga pemerataan sumber daya manusia (SDM) kesehatan.

Ketua ARSADA Wilayah Kalimantan Barat, Harry Agung Tjahyadi, mengatakan Rakernas kali ini memiliki arti penting karena menjadi momentum sebelum pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) ARSADA tahun depan.

“Pontianak mendapat kesempatan menjadi tuan rumah sebelum Munas tahun depan. Ini menjadi forum yang mempertemukan rumah sakit daerah dari seluruh Indonesia untuk membahas berbagai persoalan, baik dari aspek tata kelola rumah sakit maupun regulasi yang berkaitan dengan pengelolaan rumah sakit daerah,” ujarnya.

Menurut Harry Agung, salah satu isu utama yang menjadi perhatian dalam Rakernas ARSADA adalah tingkat kemandirian rumah sakit daerah yang berstatus BLUD. Saat ini, kondisi rumah sakit daerah di Indonesia masih beragam, mulai dari yang sudah mandiri hingga yang masih sangat bergantung pada dukungan pemerintah daerah.

“Ada yang sudah mandiri, ada yang sedang menuju mandiri, dan masih banyak yang belum mandiri. Karena itu rumah sakit daerah tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan pemerintah daerah, terutama dalam pemenuhan sarana, prasarana, dan alat kesehatan,” katanya.

Selain membahas tata kelola rumah sakit daerah, Rakernas XVI ARSADA juga menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai kementerian dan lembaga, seperti Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, Kementerian PAN-RB, hingga Ombudsman RI. Berbagai isu yang dibahas mencakup pelayanan klinis, pengelolaan SDM kesehatan, layanan publik, hingga tantangan regulasi yang dihadapi rumah sakit daerah.

Dalam forum tersebut, sejumlah rumah sakit daerah juga akan mempresentasikan praktik terbaik (best practice) dalam pengelolaan rumah sakit. Salah satunya adalah RSUD Soedarso Pontianak yang dinilai berhasil meningkatkan tingkat kemandirian BLUD dalam beberapa tahun terakhir.

Harry Agung mengungkapkan, pendapatan BLUD RSUD Soedarso terus mengalami peningkatan sehingga ketergantungannya terhadap APBD semakin berkurang.

“RSUD Soedarso saat ini sudah mencapai tingkat kemandirian sekitar 86 persen. Itu sudah masuk kategori mandiri. Harapannya rumah sakit daerah lainnya juga bisa mengikuti capaian tersebut,” ungkapnya.

Menurutnya, secara nasional baru sekitar 20 hingga 25 rumah sakit daerah yang telah masuk kategori mandiri. Sementara sebagian besar rumah sakit daerah lainnya masih membutuhkan dukungan anggaran pemerintah daerah untuk menopang operasional layanan.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menyambut baik terpilihnya Pontianak dan Kalbar sebagai tuan rumah Rakernas XVI ARSADA. Ia menilai kegiatan ini menjadi kesempatan memperkenalkan Kalimantan Barat kepada peserta dari seluruh Indonesia.

“Kita berterima kasih karena Pontianak dan Kalimantan Barat dipilih sebagai tempat pelaksanaan Rakernas ARSADA ke-16. Tentu ini menjadi kebanggaan sekaligus kesempatan memperkenalkan daerah kita secara nasional,” katanya.

Menurut Norsan, kehadiran ratusan peserta dari berbagai daerah juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian lokal, terutama bagi sektor UMKM, perhotelan, dan jasa.

Ia juga menilai pelayanan di RSUD Soedarso Pontianak terus mengalami peningkatan, baik dari sisi fasilitas maupun kelengkapan alat kesehatan. Namun, tingginya jumlah pasien rujukan dari berbagai daerah masih menjadi tantangan tersendiri karena menyebabkan kapasitas tempat tidur sering penuh.

“Pelayanan RSUD Soedarso sekarang sudah bagus, alat-alatnya juga sudah lengkap. Tinggal bagaimana manajemen pelayanannya terus ditingkatkan. Memang saat ini sering penuh karena pasien rujukan datang dari berbagai daerah,” ujarnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi Kalbar telah meresmikan rumah sakit baru di Kabupaten Kubu Raya yang diharapkan mampu menjadi alternatif layanan rujukan sekaligus mengurangi kepadatan pasien di RSUD Soedarso. (Lid)

Artikel Selanjutnya
Renovasi Pendopo Gubernur Kalbar Telan Rp10,26 Miliar, Ria Norsan Beberkan Alasannya
Thursday, 11 June 2026
Artikel Sebelumnya
Hanya Segelintir RSUD yang Mandiri, ARSADA Ungkap Tantangan Besar Rumah Sakit Daerah
Thursday, 11 June 2026

Berita terkait