Pontianak    

Masih Banyak Warga Kalbar Berobat ke Malaysia, RSUD Soedarso Akui Tantangan Pelayanan dan Dokter Spesialis

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Friday, 12 June 2026
Masih Banyak Warga Kalbar Berobat ke Malaysia, RSUD Soedarso Akui Tantangan Pelayanan dan Dokter Spesialis
RSUD Soedarso akui banyak warga Kalbar berobat ke Malaysia. Pelayanan dan dokter spesialis jadi tantangan utama (Foto: Lid/KALBARONLINE.com)
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com – Meski fasilitas kesehatan di Kalimantan Barat terus berkembang, masih banyak masyarakat yang memilih berobat ke luar negeri, khususnya ke rumah sakit swasta di Kuching dan Kuala Lumpur, Malaysia.

Fenomena tersebut diakui Direktur RSUD Soedarso Pontianak, Harry Agung. Menurutnya, kondisi itu menjadi tantangan sekaligus dorongan bagi rumah sakit daerah untuk terus meningkatkan kualitas layanan kesehatan agar mampu bersaing dan memenuhi harapan masyarakat.

Harry menilai, upaya peningkatan layanan tidak hanya berfokus pada teknologi maupun fasilitas kesehatan, tetapi juga menyangkut kualitas pelayanan kepada pasien. Keramahan petugas serta kecepatan pelayanan dinilai menjadi faktor penting yang perlu terus diperbaiki.

“Yang perlu terus dioptimalkan bukan hanya kualitas teknologinya, tetapi bagaimana memanage hospitality atau keramahannya kepada pasien dan juga kecepatan pelayanan. Ini yang memang masih menjadi tantangan rumah sakit daerah,” katanya.

Selain pelayanan, ketersediaan dokter spesialis juga masih menjadi pekerjaan rumah bagi sektor kesehatan di daerah. Harry mengakui jumlah dokter spesialis di Kalimantan Barat masih terbatas dan penyebarannya belum merata.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah daerah bersama institusi pendidikan terus mendorong pengembangan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Kalimantan Barat.

Ia mengungkapkan, Universitas Tanjungpura (Untan) saat ini telah membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi dan telah mengantongi izin operasional. Tak hanya itu, RSUD Soedarso bersama Untan juga berencana membuka pendidikan spesialis jantung pada tahun ini, disusul pendidikan spesialis bedah pada tahun depan.

Menurut Harry, langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di berbagai daerah yang masih mengalami kekurangan tenaga medis.

“Ini salah satu langkah untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di wilayah-wilayah yang masih kekurangan dan belum merata,” ujarnya.

Di sisi lain, RSUD Soedarso masih menjadi salah satu rumah sakit rujukan utama bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau BPJS Kesehatan di Kalimantan Barat. Bahkan, lebih dari 90 persen pasien yang mendapatkan layanan di rumah sakit daerah merupakan peserta BPJS Kesehatan.

Tingginya jumlah pasien menjadi tantangan tersendiri dalam menghadirkan pelayanan yang cepat dan optimal. Setiap harinya, jumlah pasien rawat jalan di RSUD Soedarso mencapai 800 hingga 1.000 orang. Sementara pasien yang masuk melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) berkisar antara 80 hingga 120 orang per hari.

“Ini menjadi tantangan rumah sakit daerah untuk memberikan pelayanan lebih cepat. Karena itu perlu penambahan sarana-prasarana dan juga sumber daya manusia,” jelasnya.

Selain peningkatan layanan dan fasilitas, Harry juga menekankan pentingnya penguatan kapasitas tenaga kesehatan, terutama dokter spesialis. Menurutnya, kualitas tenaga medis Indonesia masih sering dibandingkan dengan tenaga medis dari luar negeri sehingga peningkatan kompetensi harus terus dilakukan.

“Intinya kami ingin memberikan motivasi agar tenaga kesehatan terus meningkatkan pengetahuannya, tidak hanya melalui pendidikan di dalam negeri tetapi juga di luar negeri,” tutupnya. (*)

Artikel Selanjutnya
Polres Kapuas Hulu Klarifikasi Video Pesawat yang Viral di TikTok, Ternyata untuk Pemotretan Udara Lahan Gambut
Friday, 12 June 2026
Artikel Sebelumnya
Gubernur Kalbar Sebut BI-Rate 5,50 Persen Tetap Berdampak, Tekanan Rupiah dan Harga Komoditas Jadi Sorotan
Friday, 12 June 2026

Berita terkait