Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Friday, 12 June 2026 |
KALBARONLINE.com – Meski fasilitas kesehatan di Kalimantan Barat terus berkembang, masih banyak masyarakat yang memilih berobat ke luar negeri, khususnya ke rumah sakit swasta di Kuching dan Kuala Lumpur, Malaysia.
Fenomena tersebut diakui Direktur RSUD Soedarso Pontianak, Harry Agung. Menurutnya, kondisi itu menjadi tantangan sekaligus dorongan bagi rumah sakit daerah untuk terus meningkatkan kualitas layanan kesehatan agar mampu bersaing dan memenuhi harapan masyarakat.
Harry menilai, upaya peningkatan layanan tidak hanya berfokus pada teknologi maupun fasilitas kesehatan, tetapi juga menyangkut kualitas pelayanan kepada pasien. Keramahan petugas serta kecepatan pelayanan dinilai menjadi faktor penting yang perlu terus diperbaiki.
“Yang perlu terus dioptimalkan bukan hanya kualitas teknologinya, tetapi bagaimana memanage hospitality atau keramahannya kepada pasien dan juga kecepatan pelayanan. Ini yang memang masih menjadi tantangan rumah sakit daerah,” katanya.
Selain pelayanan, ketersediaan dokter spesialis juga masih menjadi pekerjaan rumah bagi sektor kesehatan di daerah. Harry mengakui jumlah dokter spesialis di Kalimantan Barat masih terbatas dan penyebarannya belum merata.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah daerah bersama institusi pendidikan terus mendorong pengembangan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Kalimantan Barat.
Ia mengungkapkan, Universitas Tanjungpura (Untan) saat ini telah membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi dan telah mengantongi izin operasional. Tak hanya itu, RSUD Soedarso bersama Untan juga berencana membuka pendidikan spesialis jantung pada tahun ini, disusul pendidikan spesialis bedah pada tahun depan.
Menurut Harry, langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di berbagai daerah yang masih mengalami kekurangan tenaga medis.
“Ini salah satu langkah untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di wilayah-wilayah yang masih kekurangan dan belum merata,” ujarnya.
Di sisi lain, RSUD Soedarso masih menjadi salah satu rumah sakit rujukan utama bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau BPJS Kesehatan di Kalimantan Barat. Bahkan, lebih dari 90 persen pasien yang mendapatkan layanan di rumah sakit daerah merupakan peserta BPJS Kesehatan.
Tingginya jumlah pasien menjadi tantangan tersendiri dalam menghadirkan pelayanan yang cepat dan optimal. Setiap harinya, jumlah pasien rawat jalan di RSUD Soedarso mencapai 800 hingga 1.000 orang. Sementara pasien yang masuk melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) berkisar antara 80 hingga 120 orang per hari.
“Ini menjadi tantangan rumah sakit daerah untuk memberikan pelayanan lebih cepat. Karena itu perlu penambahan sarana-prasarana dan juga sumber daya manusia,” jelasnya.
Selain peningkatan layanan dan fasilitas, Harry juga menekankan pentingnya penguatan kapasitas tenaga kesehatan, terutama dokter spesialis. Menurutnya, kualitas tenaga medis Indonesia masih sering dibandingkan dengan tenaga medis dari luar negeri sehingga peningkatan kompetensi harus terus dilakukan.
“Intinya kami ingin memberikan motivasi agar tenaga kesehatan terus meningkatkan pengetahuannya, tidak hanya melalui pendidikan di dalam negeri tetapi juga di luar negeri,” tutupnya. (*)
KALBARONLINE.com – Meski fasilitas kesehatan di Kalimantan Barat terus berkembang, masih banyak masyarakat yang memilih berobat ke luar negeri, khususnya ke rumah sakit swasta di Kuching dan Kuala Lumpur, Malaysia.
Fenomena tersebut diakui Direktur RSUD Soedarso Pontianak, Harry Agung. Menurutnya, kondisi itu menjadi tantangan sekaligus dorongan bagi rumah sakit daerah untuk terus meningkatkan kualitas layanan kesehatan agar mampu bersaing dan memenuhi harapan masyarakat.
Harry menilai, upaya peningkatan layanan tidak hanya berfokus pada teknologi maupun fasilitas kesehatan, tetapi juga menyangkut kualitas pelayanan kepada pasien. Keramahan petugas serta kecepatan pelayanan dinilai menjadi faktor penting yang perlu terus diperbaiki.
“Yang perlu terus dioptimalkan bukan hanya kualitas teknologinya, tetapi bagaimana memanage hospitality atau keramahannya kepada pasien dan juga kecepatan pelayanan. Ini yang memang masih menjadi tantangan rumah sakit daerah,” katanya.
Selain pelayanan, ketersediaan dokter spesialis juga masih menjadi pekerjaan rumah bagi sektor kesehatan di daerah. Harry mengakui jumlah dokter spesialis di Kalimantan Barat masih terbatas dan penyebarannya belum merata.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah daerah bersama institusi pendidikan terus mendorong pengembangan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Kalimantan Barat.
Ia mengungkapkan, Universitas Tanjungpura (Untan) saat ini telah membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi dan telah mengantongi izin operasional. Tak hanya itu, RSUD Soedarso bersama Untan juga berencana membuka pendidikan spesialis jantung pada tahun ini, disusul pendidikan spesialis bedah pada tahun depan.
Menurut Harry, langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di berbagai daerah yang masih mengalami kekurangan tenaga medis.
“Ini salah satu langkah untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di wilayah-wilayah yang masih kekurangan dan belum merata,” ujarnya.
Di sisi lain, RSUD Soedarso masih menjadi salah satu rumah sakit rujukan utama bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau BPJS Kesehatan di Kalimantan Barat. Bahkan, lebih dari 90 persen pasien yang mendapatkan layanan di rumah sakit daerah merupakan peserta BPJS Kesehatan.
Tingginya jumlah pasien menjadi tantangan tersendiri dalam menghadirkan pelayanan yang cepat dan optimal. Setiap harinya, jumlah pasien rawat jalan di RSUD Soedarso mencapai 800 hingga 1.000 orang. Sementara pasien yang masuk melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) berkisar antara 80 hingga 120 orang per hari.
“Ini menjadi tantangan rumah sakit daerah untuk memberikan pelayanan lebih cepat. Karena itu perlu penambahan sarana-prasarana dan juga sumber daya manusia,” jelasnya.
Selain peningkatan layanan dan fasilitas, Harry juga menekankan pentingnya penguatan kapasitas tenaga kesehatan, terutama dokter spesialis. Menurutnya, kualitas tenaga medis Indonesia masih sering dibandingkan dengan tenaga medis dari luar negeri sehingga peningkatan kompetensi harus terus dilakukan.
“Intinya kami ingin memberikan motivasi agar tenaga kesehatan terus meningkatkan pengetahuannya, tidak hanya melalui pendidikan di dalam negeri tetapi juga di luar negeri,” tutupnya. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini