Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Saturday, 27 June 2026 |
KALBARONLINE.com – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menjajal kemampuan bermain catur dalam laga persahabatan melawan Master Nasional Arief Rahman di Elaia Coffee & Eatery, Sabtu (27/6/2026) malam. Pertandingan tersebut menjadi momentum untuk mendorong pembinaan catur usia dini sekaligus meningkatkan prestasi olahraga catur di Kota Pontianak.
Edi mengatakan, kemajuan olahraga catur dapat dilihat dari lahirnya pecatur-pecatur berprestasi, mulai dari Master Nasional, Master Internasional hingga Grandmaster. Menurutnya, semakin banyak pecatur bergelar master, semakin baik pula sistem pembinaan yang berjalan di suatu daerah.
"Kalau kita mau lihat kemajuan olahraga catur, itu bisa dilihat dari jumlah Master Nasional, Master Internasional, bahkan Grandmaster. Itu menunjukkan prestasi," ujarnya.
Ia berharap Kota Pontianak mampu melahirkan lebih banyak pecatur berprestasi di tingkat nasional maupun internasional. Saat ini, Pontianak telah memiliki seorang Master Nasional, Arief Rahman, dan seorang FIDE Master, Muhammad Kamalsyah Patappa. Target jangka panjangnya adalah melahirkan Grandmaster dari Kota Pontianak.
"Kita berharap mudah-mudahan Kota Pontianak bisa melahirkan banyak Master Internasional, bahkan sampai Grandmaster. Kuncinya pembinaan sejak usia dini dan sering kompetisi," katanya.
Menurut Edi, anak-anak perlu diberi ruang untuk terus berlatih, bertanding, dan mengasah kemampuan secara berkelanjutan. Kelompok-kelompok catur junior juga harus diperkuat agar menjadi wadah lahirnya bibit-bibit pecatur baru.
Pemerintah Kota Pontianak, lanjutnya, akan terus mendukung pengembangan olahraga, termasuk catur. Ia juga mendorong setiap cabang olahraga agar kreatif memanfaatkan ruang, jejaring, komunitas, dunia usaha, hingga fasilitas publik untuk mendukung pembinaan atlet.
"Kalau catur relatif ruangannya mudah. Bisa di ruangan tertutup maupun terbuka. Semakin banyak pencatur, baik amatir maupun profesional, pasti akan menaikkan kualitas atlet-atlet catur yang bisa berskala internasional," ungkapnya.
Usai bertanding, Edi mengaku memperoleh pengalaman berharga. Pada pertandingan pertama ia harus mengakui keunggulan Arief Rahman. Namun pada pertandingan kedua, ia berhasil memaksa sang Master Nasional bermain remis.
"Melawan Mas Arief luar biasa. Yang pertama saya kalah, biasa main grogi, blunder. Tapi yang kedua remis. Bisa remis melawan Master Nasional itu sudah luar biasa," ucapnya.
Sementara itu, Master Nasional Arief Rahman menceritakan kecintaannya terhadap olahraga catur yang dimulai sejak duduk di bangku kelas 3 SD. Ketertarikannya tumbuh dari lingkungan keluarga karena kedua orang tuanya juga gemar bermain catur.
Sejak kecil, Arief rutin berlatih dan mempelajari berbagai buku catur. Saat kelas 4 SD, ia mulai mengikuti kejuaraan tingkat Kota Pontianak dan berhasil meraih juara kedua.
Perjalanan prestasinya berlanjut di berbagai kejuaraan nasional. Pada 2007, Arief meraih peringkat ketiga nasional di Surabaya, kemudian menjadi runner-up nasional di Bandung pada 2008. Puncaknya, pada Kejuaraan Nasional 2015 di Bogor, ia berhasil meraih gelar Master Nasional.
"Tepatnya tahun 2015 saya ikut kejuaraan di Bogor, kejuaraan nasional juga. Di situ saya dapat Master Nasional," ungkap Arief.
Dalam mengembangkan kemampuannya, Arief banyak terinspirasi oleh Grandmaster asal Rusia, Anatoly Karpov. Saat itu, ia mempelajari gaya bermain Karpov melalui berbagai buku catur karena video pertandingan belum semudah diakses seperti sekarang.
Meski tidak sedang mengikuti turnamen, Arief mengaku tetap berlatih setiap hari. Menjelang kompetisi, intensitas latihannya akan ditingkatkan. Dalam waktu dekat, ia menargetkan tampil pada turnamen internasional di Kuala Lumpur pada September mendatang.
"Walaupun tidak ada turnamen, saya tetap latihan. Kalau sudah mendekati turnamen, biasanya sebulan sebelumnya latihan lebih ekstra. Yang ingin saya kejar itu internasional," pungkasnya. (*)
KALBARONLINE.com – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menjajal kemampuan bermain catur dalam laga persahabatan melawan Master Nasional Arief Rahman di Elaia Coffee & Eatery, Sabtu (27/6/2026) malam. Pertandingan tersebut menjadi momentum untuk mendorong pembinaan catur usia dini sekaligus meningkatkan prestasi olahraga catur di Kota Pontianak.
Edi mengatakan, kemajuan olahraga catur dapat dilihat dari lahirnya pecatur-pecatur berprestasi, mulai dari Master Nasional, Master Internasional hingga Grandmaster. Menurutnya, semakin banyak pecatur bergelar master, semakin baik pula sistem pembinaan yang berjalan di suatu daerah.
"Kalau kita mau lihat kemajuan olahraga catur, itu bisa dilihat dari jumlah Master Nasional, Master Internasional, bahkan Grandmaster. Itu menunjukkan prestasi," ujarnya.
Ia berharap Kota Pontianak mampu melahirkan lebih banyak pecatur berprestasi di tingkat nasional maupun internasional. Saat ini, Pontianak telah memiliki seorang Master Nasional, Arief Rahman, dan seorang FIDE Master, Muhammad Kamalsyah Patappa. Target jangka panjangnya adalah melahirkan Grandmaster dari Kota Pontianak.
"Kita berharap mudah-mudahan Kota Pontianak bisa melahirkan banyak Master Internasional, bahkan sampai Grandmaster. Kuncinya pembinaan sejak usia dini dan sering kompetisi," katanya.
Menurut Edi, anak-anak perlu diberi ruang untuk terus berlatih, bertanding, dan mengasah kemampuan secara berkelanjutan. Kelompok-kelompok catur junior juga harus diperkuat agar menjadi wadah lahirnya bibit-bibit pecatur baru.
Pemerintah Kota Pontianak, lanjutnya, akan terus mendukung pengembangan olahraga, termasuk catur. Ia juga mendorong setiap cabang olahraga agar kreatif memanfaatkan ruang, jejaring, komunitas, dunia usaha, hingga fasilitas publik untuk mendukung pembinaan atlet.
"Kalau catur relatif ruangannya mudah. Bisa di ruangan tertutup maupun terbuka. Semakin banyak pencatur, baik amatir maupun profesional, pasti akan menaikkan kualitas atlet-atlet catur yang bisa berskala internasional," ungkapnya.
Usai bertanding, Edi mengaku memperoleh pengalaman berharga. Pada pertandingan pertama ia harus mengakui keunggulan Arief Rahman. Namun pada pertandingan kedua, ia berhasil memaksa sang Master Nasional bermain remis.
"Melawan Mas Arief luar biasa. Yang pertama saya kalah, biasa main grogi, blunder. Tapi yang kedua remis. Bisa remis melawan Master Nasional itu sudah luar biasa," ucapnya.
Sementara itu, Master Nasional Arief Rahman menceritakan kecintaannya terhadap olahraga catur yang dimulai sejak duduk di bangku kelas 3 SD. Ketertarikannya tumbuh dari lingkungan keluarga karena kedua orang tuanya juga gemar bermain catur.
Sejak kecil, Arief rutin berlatih dan mempelajari berbagai buku catur. Saat kelas 4 SD, ia mulai mengikuti kejuaraan tingkat Kota Pontianak dan berhasil meraih juara kedua.
Perjalanan prestasinya berlanjut di berbagai kejuaraan nasional. Pada 2007, Arief meraih peringkat ketiga nasional di Surabaya, kemudian menjadi runner-up nasional di Bandung pada 2008. Puncaknya, pada Kejuaraan Nasional 2015 di Bogor, ia berhasil meraih gelar Master Nasional.
"Tepatnya tahun 2015 saya ikut kejuaraan di Bogor, kejuaraan nasional juga. Di situ saya dapat Master Nasional," ungkap Arief.
Dalam mengembangkan kemampuannya, Arief banyak terinspirasi oleh Grandmaster asal Rusia, Anatoly Karpov. Saat itu, ia mempelajari gaya bermain Karpov melalui berbagai buku catur karena video pertandingan belum semudah diakses seperti sekarang.
Meski tidak sedang mengikuti turnamen, Arief mengaku tetap berlatih setiap hari. Menjelang kompetisi, intensitas latihannya akan ditingkatkan. Dalam waktu dekat, ia menargetkan tampil pada turnamen internasional di Kuala Lumpur pada September mendatang.
"Walaupun tidak ada turnamen, saya tetap latihan. Kalau sudah mendekati turnamen, biasanya sebulan sebelumnya latihan lebih ekstra. Yang ingin saya kejar itu internasional," pungkasnya. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini