Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Sunday, 28 June 2026 |
KALBARONLINE.com – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mendampingi Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI Sudaryono meninjau sekaligus memanen lidah buaya atau aloe vera di kawasan pertanian Pontianak Utara, Minggu (28/6/2026). Kunjungan ini menjadi momentum untuk memperkuat pengembangan pertanian perkotaan di Kota Pontianak.
Edi mengatakan, kehadiran Wamentan menjadi penyemangat bagi para petani lidah buaya di Pontianak. Dalam kunjungan tersebut, Sudaryono tidak hanya melakukan panen bersama, tetapi juga memberikan motivasi serta bantuan peralatan pertanian kepada para petani.
Menurut Edi, sektor pertanian di Kota Pontianak menghadapi tantangan besar karena keterbatasan lahan. Sebagian besar wilayah kota telah berkembang menjadi kawasan permukiman dan pusat aktivitas, sehingga lahan pertanian yang masih produktif harus terus dijaga, terutama di kawasan Pontianak Utara.
"Kita terbatas, karena lahan pertanian di kota ini sudah banyak terbangun. Tapi yang ada di utara ini tetap kita jaga," kata Edi yang juga menjabat Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kota Pontianak.
Ia menjelaskan, kawasan Pontianak Utara memiliki karakter lahan gambut yang cocok untuk pengembangan komoditas hortikultura, termasuk lidah buaya. Saat ini, luas lahan yang ditanami aloe vera mencapai sekitar 12 hektare, sementara total lahan hortikultura di Kota Pontianak sekitar 370 hektare.
"Di utara ini lahan gambut dan cocok untuk itu. Sekarang yang ditanam aloe vera ada sekitar 12 hektare. Totalnya ada sekitar 370 hektare untuk hortikultura," jelasnya.
Edi menegaskan, kawasan pertanian tersebut akan terus dipertahankan sebagai salah satu penyuplai hasil hortikultura dan komoditas pertanian produktif bagi Kota Pontianak. Menurutnya, meski Pontianak dikenal sebagai kota jasa dan perdagangan, sektor pertanian perkotaan tetap memiliki nilai strategis dalam mendukung perekonomian masyarakat.
Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menilai Kalimantan Barat memiliki potensi besar di sektor pertanian. Selain program cetak sawah untuk tanaman pangan seperti padi dan jagung, daerah ini juga memiliki potensi hortikultura yang layak terus dikembangkan.
Ia menyebut kebun lidah buaya di Kota Pontianak sebagai salah satu potensi yang menjanjikan. Namun, menurutnya, pengembangan komoditas tersebut harus dibarengi dengan kepastian pasar agar mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi petani.
"Di Kota Pontianak ini ada kebun aloe vera atau lidah buaya. Ini saya kira bagus, tinggal kita cek nanti pasarnya ke mana," katanya.
Sudaryono menegaskan, Kementerian Pertanian siap mendukung petani di Kalimantan Barat. Menurutnya, arahan Presiden adalah memperkuat swasembada pangan, menjaga stok produksi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
"Intinya titip kawan-kawan petani semua di Kalimantan Barat. Kalau perlu apa pun, kita siapkan. Visi Presiden jelas, bagaimana swasembada, punya stok produksi pangan yang cukup, dan petani harus sejahtera," pungkasnya. (*)
KALBARONLINE.com – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mendampingi Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI Sudaryono meninjau sekaligus memanen lidah buaya atau aloe vera di kawasan pertanian Pontianak Utara, Minggu (28/6/2026). Kunjungan ini menjadi momentum untuk memperkuat pengembangan pertanian perkotaan di Kota Pontianak.
Edi mengatakan, kehadiran Wamentan menjadi penyemangat bagi para petani lidah buaya di Pontianak. Dalam kunjungan tersebut, Sudaryono tidak hanya melakukan panen bersama, tetapi juga memberikan motivasi serta bantuan peralatan pertanian kepada para petani.
Menurut Edi, sektor pertanian di Kota Pontianak menghadapi tantangan besar karena keterbatasan lahan. Sebagian besar wilayah kota telah berkembang menjadi kawasan permukiman dan pusat aktivitas, sehingga lahan pertanian yang masih produktif harus terus dijaga, terutama di kawasan Pontianak Utara.
"Kita terbatas, karena lahan pertanian di kota ini sudah banyak terbangun. Tapi yang ada di utara ini tetap kita jaga," kata Edi yang juga menjabat Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kota Pontianak.
Ia menjelaskan, kawasan Pontianak Utara memiliki karakter lahan gambut yang cocok untuk pengembangan komoditas hortikultura, termasuk lidah buaya. Saat ini, luas lahan yang ditanami aloe vera mencapai sekitar 12 hektare, sementara total lahan hortikultura di Kota Pontianak sekitar 370 hektare.
"Di utara ini lahan gambut dan cocok untuk itu. Sekarang yang ditanam aloe vera ada sekitar 12 hektare. Totalnya ada sekitar 370 hektare untuk hortikultura," jelasnya.
Edi menegaskan, kawasan pertanian tersebut akan terus dipertahankan sebagai salah satu penyuplai hasil hortikultura dan komoditas pertanian produktif bagi Kota Pontianak. Menurutnya, meski Pontianak dikenal sebagai kota jasa dan perdagangan, sektor pertanian perkotaan tetap memiliki nilai strategis dalam mendukung perekonomian masyarakat.
Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menilai Kalimantan Barat memiliki potensi besar di sektor pertanian. Selain program cetak sawah untuk tanaman pangan seperti padi dan jagung, daerah ini juga memiliki potensi hortikultura yang layak terus dikembangkan.
Ia menyebut kebun lidah buaya di Kota Pontianak sebagai salah satu potensi yang menjanjikan. Namun, menurutnya, pengembangan komoditas tersebut harus dibarengi dengan kepastian pasar agar mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi petani.
"Di Kota Pontianak ini ada kebun aloe vera atau lidah buaya. Ini saya kira bagus, tinggal kita cek nanti pasarnya ke mana," katanya.
Sudaryono menegaskan, Kementerian Pertanian siap mendukung petani di Kalimantan Barat. Menurutnya, arahan Presiden adalah memperkuat swasembada pangan, menjaga stok produksi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
"Intinya titip kawan-kawan petani semua di Kalimantan Barat. Kalau perlu apa pun, kita siapkan. Visi Presiden jelas, bagaimana swasembada, punya stok produksi pangan yang cukup, dan petani harus sejahtera," pungkasnya. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini