Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Friday, 14 August 2026 |
KALBARONLINE.com – Seorang pria berinisial SU alias GI diduga melakukan penganiayaan terhadap sekuriti dan dokter jaga IGD RSUD Tuan Besar Syarif Idrus (TBSI) Kubu Raya, Kalimantan Barat. Peristiwa tersebut terjadi saat tenaga medis menangani anggota keluarga GI yang sedang dalam kondisi kritis.
GI disebut merupakan adik Bupati Kubu Raya Sujiwo. Ia juga menjabat Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Kubu Raya masa bakti 2026-2030.
Informasi yang dihimpun, peristiwa tersebut terjadi di ruang resusitasi IGD RSUD TBSI pada Sabtu (8/8/2026). Saat itu, keluarga GI membawa Iin Sumirat, mantan Kepala Desa Rasau Jaya III, untuk mendapatkan pertolongan medis.
Iin diketahui merupakan adik ipar Sujiwo. Saat berada di IGD, Iin didiagnosis mengalami kondisi jantung serius, yakni syok kardiogenik, STEMI anterior ekstensif, onset sekitar satu jam dan Killip IV.
Dalam proses penanganan, petugas meminta keluarga pasien keluar dari ruang resusitasi. Ruangan tersebut dibatasi hanya untuk dua orang keluarga inti agar dokter dan tenaga kesehatan dapat melakukan tindakan medis.
Namun, berdasarkan informasi yang dihimpun, GI diduga tetap berada di dalam ruangan meski telah beberapa kali diingatkan oleh sekuriti dan tenaga kesehatan.
Situasi kemudian memanas. GI diduga memukul sekuriti berinisial HE dan dokter jaga IGD berinisial WE yang saat itu mengingatkan keluarga pasien agar keluar dari ruang resusitasi.
Di tengah kondisi pasien yang kritis, tenaga medis terus melakukan penanganan. Iin kemudian dirujuk ke RSUD dr. Soedarso Pontianak untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Namun, nyawa Iin tidak tertolong. Ia akhirnya meninggal dunia setelah dirujuk ke rumah sakit tersebut.
Peristiwa dugaan penganiayaan terhadap petugas medis dan sekuriti tersebut kemudian menjadi perhatian setelah videonya beredar di media sosial.
Bupati Kubu Raya Sujiwo akhirnya angkat bicara mengenai dugaan tindakan yang dilakukan adiknya. Ia mengaku awalnya tidak ingin memberikan pernyataan karena keluarga masih dalam suasana berduka atas meninggalnya Iin.
“Sebenarnya saya belum akan membuat suatu statement berkaitan dengan viralnya kejadian arogansi di rumah sakit TBSI. Karena pertama kami masih berkabung, masih berduka dan memang saya itu rencananya setelah tujuh hari (akan berkomentar),” ujar Sujiwo kepada sejumlah media, Rabu (12/8/2026) malam.
Namun, setelah media meminta tanggapan, Sujiwo memutuskan menyampaikan sikapnya secara terbuka. Ia menegaskan tidak akan memberikan toleransi terhadap tindakan kekerasan maupun arogansi di rumah sakit, meskipun terduga pelaku merupakan anggota keluarganya.
“Tetapi ketika media bertanya, di sini saya akan jawab ya. Supaya bisa clear sikap saya. Berkaitan dengan hal itu, saya sebagai pribadi dan juga sebagai bupati tidak pernah memberikan toleransi. Tidak sedikit pun membenarkan, bahkan mengecam, bahkan mengutuk perilaku itu. Mengutuk perilaku itu. Siapapun yang melakukan, termasuk keluarga saya,” tegas Sujiwo.
Sujiwo menekankan jabatan maupun hubungan keluarga tidak boleh menjadi alasan untuk membenarkan tindakan kekerasan terhadap tenaga kesehatan yang sedang menjalankan tugas.
“Harusnya kalau keluarga saya, mereka harus selalu menjaga saya. Menjaga saya, memberikan motivasi kepada saya. Termasuk orang yang merasa dekat dengan saya. Mereka harus menjaga saya, harus memotivasi saya. Menjaga nama baik saya, bukan sebaliknya,” tegas Sujiwo.
Kasus dugaan penganiayaan tersebut kini menjadi perhatian, sementara kronologi lengkap serta proses penanganan terhadap dugaan tindak kekerasan tersebut masih didalami para pihak.
KALBARONLINE.com – Seorang pria berinisial SU alias GI diduga melakukan penganiayaan terhadap sekuriti dan dokter jaga IGD RSUD Tuan Besar Syarif Idrus (TBSI) Kubu Raya, Kalimantan Barat. Peristiwa tersebut terjadi saat tenaga medis menangani anggota keluarga GI yang sedang dalam kondisi kritis.
GI disebut merupakan adik Bupati Kubu Raya Sujiwo. Ia juga menjabat Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Kubu Raya masa bakti 2026-2030.
Informasi yang dihimpun, peristiwa tersebut terjadi di ruang resusitasi IGD RSUD TBSI pada Sabtu (8/8/2026). Saat itu, keluarga GI membawa Iin Sumirat, mantan Kepala Desa Rasau Jaya III, untuk mendapatkan pertolongan medis.
Iin diketahui merupakan adik ipar Sujiwo. Saat berada di IGD, Iin didiagnosis mengalami kondisi jantung serius, yakni syok kardiogenik, STEMI anterior ekstensif, onset sekitar satu jam dan Killip IV.
Dalam proses penanganan, petugas meminta keluarga pasien keluar dari ruang resusitasi. Ruangan tersebut dibatasi hanya untuk dua orang keluarga inti agar dokter dan tenaga kesehatan dapat melakukan tindakan medis.
Namun, berdasarkan informasi yang dihimpun, GI diduga tetap berada di dalam ruangan meski telah beberapa kali diingatkan oleh sekuriti dan tenaga kesehatan.
Situasi kemudian memanas. GI diduga memukul sekuriti berinisial HE dan dokter jaga IGD berinisial WE yang saat itu mengingatkan keluarga pasien agar keluar dari ruang resusitasi.
Di tengah kondisi pasien yang kritis, tenaga medis terus melakukan penanganan. Iin kemudian dirujuk ke RSUD dr. Soedarso Pontianak untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Namun, nyawa Iin tidak tertolong. Ia akhirnya meninggal dunia setelah dirujuk ke rumah sakit tersebut.
Peristiwa dugaan penganiayaan terhadap petugas medis dan sekuriti tersebut kemudian menjadi perhatian setelah videonya beredar di media sosial.
Bupati Kubu Raya Sujiwo akhirnya angkat bicara mengenai dugaan tindakan yang dilakukan adiknya. Ia mengaku awalnya tidak ingin memberikan pernyataan karena keluarga masih dalam suasana berduka atas meninggalnya Iin.
“Sebenarnya saya belum akan membuat suatu statement berkaitan dengan viralnya kejadian arogansi di rumah sakit TBSI. Karena pertama kami masih berkabung, masih berduka dan memang saya itu rencananya setelah tujuh hari (akan berkomentar),” ujar Sujiwo kepada sejumlah media, Rabu (12/8/2026) malam.
Namun, setelah media meminta tanggapan, Sujiwo memutuskan menyampaikan sikapnya secara terbuka. Ia menegaskan tidak akan memberikan toleransi terhadap tindakan kekerasan maupun arogansi di rumah sakit, meskipun terduga pelaku merupakan anggota keluarganya.
“Tetapi ketika media bertanya, di sini saya akan jawab ya. Supaya bisa clear sikap saya. Berkaitan dengan hal itu, saya sebagai pribadi dan juga sebagai bupati tidak pernah memberikan toleransi. Tidak sedikit pun membenarkan, bahkan mengecam, bahkan mengutuk perilaku itu. Mengutuk perilaku itu. Siapapun yang melakukan, termasuk keluarga saya,” tegas Sujiwo.
Sujiwo menekankan jabatan maupun hubungan keluarga tidak boleh menjadi alasan untuk membenarkan tindakan kekerasan terhadap tenaga kesehatan yang sedang menjalankan tugas.
“Harusnya kalau keluarga saya, mereka harus selalu menjaga saya. Menjaga saya, memberikan motivasi kepada saya. Termasuk orang yang merasa dekat dengan saya. Mereka harus menjaga saya, harus memotivasi saya. Menjaga nama baik saya, bukan sebaliknya,” tegas Sujiwo.
Kasus dugaan penganiayaan tersebut kini menjadi perhatian, sementara kronologi lengkap serta proses penanganan terhadap dugaan tindak kekerasan tersebut masih didalami para pihak.
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini