Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Monday, 31 August 2026 |
KALBARONLINE.com - Festival Film Pelajar Kalimantan Barat (FFPK) kembali digelar dan memasuki tahun ketujuh. Pada penyelenggaraan tahun ini, para pelajar diajak menuangkan gagasan tentang perkembangan kecerdasan buatan (AI) hingga persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui karya film.
Pembina FFPK sekaligus Ketua P3I Kalimantan Barat, Zulfydar Zaidar Mochtar, mengatakan festival tersebut menjadi ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kreativitas sekaligus melatih kemampuan berpikir dan merencanakan sebuah gagasan menjadi karya.
“Kita memberikan ruang kepada mereka dengan memfasilitasi kemampuan untuk membuat film. Dulu, kegiatan ini diawali karena melihat banyaknya anak-anak yang bermain gim tanpa arah. Maka, kami menjadikan Festival Film Pelajar ini sebagai wadah untuk mengarahkan kreativitas mereka,” ungkapnya.
Menurut Zulfydar, proses pembuatan film tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga mendorong pelajar untuk berpikir kritis terhadap berbagai persoalan di sekitar mereka.
“Festival ini diharapkan menjadi sesuatu yang membuat mereka semakin cerdas. Kenapa cerdas? Karena sesuatu yang awalnya tidak ada bisa menjadi ada,” sebutnya.
Ia menilai kemampuan tersebut penting sebagai bekal generasi muda menghadapi persaingan menuju bonus demografi 2045.
Para peserta, kata Zulfydar, tidak harus berakhir menjadi sutradara maupun bekerja di industri perfilman. Pengalaman selama proses produksi film justru dapat menjadi bekal untuk mengasah kemampuan berpikir, menyusun rencana, hingga menyampaikan gagasan.
“Yang terpenting adalah mereka sudah memiliki kemampuan untuk berpikir, merencanakan sesuatu, dan menuangkannya dalam bentuk karya,” ujarnya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, isu AI dipilih untuk melihat bagaimana para pelajar menyikapi teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, karhutla juga menjadi tema yang diangkat karena persoalan tersebut tengah dirasakan langsung masyarakat Kalimantan Barat. Melalui film, pelajar diberi ruang untuk menyampaikan pandangan sekaligus kritik terhadap kondisi lingkungan di sekitar mereka.
“Mereka bisa menyampaikan pandangan, baik terhadap DPRD maupun pemerintah. Hal-hal kritis yang mereka lihat tidak semuanya harus negatif,” katanya.
Dari sisi peserta, FFPK tahun ini juga diperkirakan mendapat antusiasme tinggi. Zulfydar menyebut jumlah peserta workshop telah mencapai lebih dari 100 orang.
Sementara itu, jumlah film yang masuk diperkirakan meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya berkisar 40-50 film, tahun ini jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 70 hingga 100 film.
Peningkatan tersebut menunjukkan semakin besarnya minat pelajar Kalimantan Barat untuk menjadikan film sebagai medium berekspresi dan menyampaikan gagasan.
Zulfydar berharap FFPK tidak berhenti sebagai ajang kompetisi, tetapi terus menjadi ruang bagi pelajar untuk menunjukkan kemampuan dan menyampaikan pemikiran mereka.
Ia juga berharap karya-karya yang lahir dari festival tersebut dapat membuka peluang bagi para pelajar untuk berkiprah hingga tingkat nasional maupun internasional.
“Kami juga akan berusaha agar sertifikasi festival ini dapat menjadi bagian dari kurasi yang diakui oleh pemerintah pusat,” pungkasnya. (Lid)
KALBARONLINE.com - Festival Film Pelajar Kalimantan Barat (FFPK) kembali digelar dan memasuki tahun ketujuh. Pada penyelenggaraan tahun ini, para pelajar diajak menuangkan gagasan tentang perkembangan kecerdasan buatan (AI) hingga persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui karya film.
Pembina FFPK sekaligus Ketua P3I Kalimantan Barat, Zulfydar Zaidar Mochtar, mengatakan festival tersebut menjadi ruang bagi pelajar untuk mengembangkan kreativitas sekaligus melatih kemampuan berpikir dan merencanakan sebuah gagasan menjadi karya.
“Kita memberikan ruang kepada mereka dengan memfasilitasi kemampuan untuk membuat film. Dulu, kegiatan ini diawali karena melihat banyaknya anak-anak yang bermain gim tanpa arah. Maka, kami menjadikan Festival Film Pelajar ini sebagai wadah untuk mengarahkan kreativitas mereka,” ungkapnya.
Menurut Zulfydar, proses pembuatan film tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga mendorong pelajar untuk berpikir kritis terhadap berbagai persoalan di sekitar mereka.
“Festival ini diharapkan menjadi sesuatu yang membuat mereka semakin cerdas. Kenapa cerdas? Karena sesuatu yang awalnya tidak ada bisa menjadi ada,” sebutnya.
Ia menilai kemampuan tersebut penting sebagai bekal generasi muda menghadapi persaingan menuju bonus demografi 2045.
Para peserta, kata Zulfydar, tidak harus berakhir menjadi sutradara maupun bekerja di industri perfilman. Pengalaman selama proses produksi film justru dapat menjadi bekal untuk mengasah kemampuan berpikir, menyusun rencana, hingga menyampaikan gagasan.
“Yang terpenting adalah mereka sudah memiliki kemampuan untuk berpikir, merencanakan sesuatu, dan menuangkannya dalam bentuk karya,” ujarnya.
Pada penyelenggaraan tahun ini, isu AI dipilih untuk melihat bagaimana para pelajar menyikapi teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di sisi lain, karhutla juga menjadi tema yang diangkat karena persoalan tersebut tengah dirasakan langsung masyarakat Kalimantan Barat. Melalui film, pelajar diberi ruang untuk menyampaikan pandangan sekaligus kritik terhadap kondisi lingkungan di sekitar mereka.
“Mereka bisa menyampaikan pandangan, baik terhadap DPRD maupun pemerintah. Hal-hal kritis yang mereka lihat tidak semuanya harus negatif,” katanya.
Dari sisi peserta, FFPK tahun ini juga diperkirakan mendapat antusiasme tinggi. Zulfydar menyebut jumlah peserta workshop telah mencapai lebih dari 100 orang.
Sementara itu, jumlah film yang masuk diperkirakan meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya berkisar 40-50 film, tahun ini jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 70 hingga 100 film.
Peningkatan tersebut menunjukkan semakin besarnya minat pelajar Kalimantan Barat untuk menjadikan film sebagai medium berekspresi dan menyampaikan gagasan.
Zulfydar berharap FFPK tidak berhenti sebagai ajang kompetisi, tetapi terus menjadi ruang bagi pelajar untuk menunjukkan kemampuan dan menyampaikan pemikiran mereka.
Ia juga berharap karya-karya yang lahir dari festival tersebut dapat membuka peluang bagi para pelajar untuk berkiprah hingga tingkat nasional maupun internasional.
“Kami juga akan berusaha agar sertifikasi festival ini dapat menjadi bagian dari kurasi yang diakui oleh pemerintah pusat,” pungkasnya. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini