Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Tuesday, 01 September 2026 |
KALBARONLINE.com - Koordinator Harian Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Provinsi Kalbar, Daniel, mengungkapkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan gambut membutuhkan penanganan berbeda dibandingkan kebakaran di lahan mineral.
Ia mengatakan, di lahan gambut api bahkan dapat tetap membara di bawah permukaan meski tidak lagi terlihat. Karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman jauh lebih sulit.
“Memang ada perbedaan penanganan antara lahan gambut dan lahan mineral. Karakteristik keduanya berbeda,” kata Daniel.
Ia menjelaskan, pada lahan mineral atau tanah keras, api umumnya hanya membakar bagian permukaan. Sementara pada lahan gambut, pembakaran dapat merambat hingga ke bagian bawah tanah.
“Seperti yang kita saksikan di belakang saya ini, sudah tidak terlihat api, tetapi masih mengeluarkan asap. Artinya, masih terjadi pembakaran di bagian bawah permukaan,” ujarnya.
Menurut Daniel, kedalaman gambut di Kalimantan Barat dapat mencapai satu hingga delapan meter. Kondisi tersebut membuat api sulit dipastikan benar-benar padam meski permukaan terlihat sudah aman.
Karena itu, pemadaman lahan gambut membutuhkan teknik khusus. Air yang disemprotkan melalui selang tidak cukup hanya diarahkan ke permukaan, tetapi harus menggunakan teknik tertentu agar dapat menjangkau bagian bawah gambut.
“Penyemprotan harus dilakukan dengan teknik tertentu agar air dapat masuk hingga ke bagian bawah gambut,” pungkasnya. (Lid)
KALBARONLINE.com - Koordinator Harian Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Provinsi Kalbar, Daniel, mengungkapkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan gambut membutuhkan penanganan berbeda dibandingkan kebakaran di lahan mineral.
Ia mengatakan, di lahan gambut api bahkan dapat tetap membara di bawah permukaan meski tidak lagi terlihat. Karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman jauh lebih sulit.
“Memang ada perbedaan penanganan antara lahan gambut dan lahan mineral. Karakteristik keduanya berbeda,” kata Daniel.
Ia menjelaskan, pada lahan mineral atau tanah keras, api umumnya hanya membakar bagian permukaan. Sementara pada lahan gambut, pembakaran dapat merambat hingga ke bagian bawah tanah.
“Seperti yang kita saksikan di belakang saya ini, sudah tidak terlihat api, tetapi masih mengeluarkan asap. Artinya, masih terjadi pembakaran di bagian bawah permukaan,” ujarnya.
Menurut Daniel, kedalaman gambut di Kalimantan Barat dapat mencapai satu hingga delapan meter. Kondisi tersebut membuat api sulit dipastikan benar-benar padam meski permukaan terlihat sudah aman.
Karena itu, pemadaman lahan gambut membutuhkan teknik khusus. Air yang disemprotkan melalui selang tidak cukup hanya diarahkan ke permukaan, tetapi harus menggunakan teknik tertentu agar dapat menjangkau bagian bawah gambut.
“Penyemprotan harus dilakukan dengan teknik tertentu agar air dapat masuk hingga ke bagian bawah gambut,” pungkasnya. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini