Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Thursday, 15 October 2026 |
KALBARONLINE.com – Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, mendorong Program Kampung Iklim (ProKlim) berkembang menjadi gerakan nyata masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Menurutnya, perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan kondisi yang sudah dirasakan saat ini, mulai dari peningkatan suhu, cuaca tidak menentu, hingga pasang air laut yang memicu genangan di sejumlah wilayah.
“Kita membutuhkan gerakan bersama yang masif dan dimulai dari lingkungan paling dekat dengan masyarakat, yaitu RT, RW, dan kelurahan,” ujarnya saat membuka Sosialisasi Program Kampung Iklim Kota Pontianak Tahun 2026 di Aula Sultan Syarif Abdurrahman, Kantor Wali Kota Pontianak, Kamis (15/10/2026).
Bahasan mengatakan, ProKlim menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Upaya tersebut dapat dimulai dari kegiatan sederhana, seperti penghijauan pekarangan, pemanenan air hujan, menjaga parit dan sungai, mengelola sampah dengan konsep 3R, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, hingga menghemat energi dan air.
Ia menargetkan setiap kelurahan di Kota Pontianak dapat melahirkan sedikitnya satu hingga dua RW berbasis ProKlim. Dengan total 29 kelurahan, target tersebut diharapkan mampu membentuk puluhan kawasan tangguh iklim baru secara bertahap.
“Saya ingin minimal satu sampai dua RW berbasis ProKlim lahir di setiap kelurahan. Camat dan lurah harus menjadi motor penggerak, identifikasi potensi lokal, rangkul pemuda, PKK, tokoh masyarakat dan seluruh warga,” katanya.
Bahasan menilai Pontianak memiliki modal yang cukup baik untuk mengembangkan program tersebut. Pada 2025, tiga kawasan di Kota Pontianak memperoleh penghargaan ProKlim dari Kementerian Lingkungan Hidup, yakni RW 27 Kampung Tangguh Bencana Siantan Hulu, RW 15 Kampung Tenun Batu Layang, serta RW 33 Kampung Gambut Siantan Hilir.
Capaian tersebut diharapkan menjadi pemicu bagi wilayah lain untuk mengembangkan praktik serupa. Menurut Bahasan, keberhasilan yang telah diraih tidak boleh membuat masyarakat berpuas diri, tetapi harus mendorong semakin luasnya keterlibatan warga dalam menghadapi perubahan iklim.
“Prestasi ini jangan membuat kita puas. Justru harus menular ke RW lain. Kita ingin ProKlim menjadi kebutuhan dan budaya hidup baru masyarakat,” tutupnya. (*)
KALBARONLINE.com – Wakil Wali Kota Pontianak, Bahasan, mendorong Program Kampung Iklim (ProKlim) berkembang menjadi gerakan nyata masyarakat dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Menurutnya, perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan kondisi yang sudah dirasakan saat ini, mulai dari peningkatan suhu, cuaca tidak menentu, hingga pasang air laut yang memicu genangan di sejumlah wilayah.
“Kita membutuhkan gerakan bersama yang masif dan dimulai dari lingkungan paling dekat dengan masyarakat, yaitu RT, RW, dan kelurahan,” ujarnya saat membuka Sosialisasi Program Kampung Iklim Kota Pontianak Tahun 2026 di Aula Sultan Syarif Abdurrahman, Kantor Wali Kota Pontianak, Kamis (15/10/2026).
Bahasan mengatakan, ProKlim menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Upaya tersebut dapat dimulai dari kegiatan sederhana, seperti penghijauan pekarangan, pemanenan air hujan, menjaga parit dan sungai, mengelola sampah dengan konsep 3R, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, hingga menghemat energi dan air.
Ia menargetkan setiap kelurahan di Kota Pontianak dapat melahirkan sedikitnya satu hingga dua RW berbasis ProKlim. Dengan total 29 kelurahan, target tersebut diharapkan mampu membentuk puluhan kawasan tangguh iklim baru secara bertahap.
“Saya ingin minimal satu sampai dua RW berbasis ProKlim lahir di setiap kelurahan. Camat dan lurah harus menjadi motor penggerak, identifikasi potensi lokal, rangkul pemuda, PKK, tokoh masyarakat dan seluruh warga,” katanya.
Bahasan menilai Pontianak memiliki modal yang cukup baik untuk mengembangkan program tersebut. Pada 2025, tiga kawasan di Kota Pontianak memperoleh penghargaan ProKlim dari Kementerian Lingkungan Hidup, yakni RW 27 Kampung Tangguh Bencana Siantan Hulu, RW 15 Kampung Tenun Batu Layang, serta RW 33 Kampung Gambut Siantan Hilir.
Capaian tersebut diharapkan menjadi pemicu bagi wilayah lain untuk mengembangkan praktik serupa. Menurut Bahasan, keberhasilan yang telah diraih tidak boleh membuat masyarakat berpuas diri, tetapi harus mendorong semakin luasnya keterlibatan warga dalam menghadapi perubahan iklim.
“Prestasi ini jangan membuat kita puas. Justru harus menular ke RW lain. Kita ingin ProKlim menjadi kebutuhan dan budaya hidup baru masyarakat,” tutupnya. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini