KALBARONLINE.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pontianak mencatat sebanyak 42 warga ber-KTP Kota Pontianak terdiagnosis HIV sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Kasus tersebut masih didominasi oleh kelompok usia produktif.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko, menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan data warga yang benar-benar memiliki identitas kependudukan Kota Pontianak.
Menurutnya, jumlah temuan kasus HIV di Kota Pontianak tidak seluruhnya berasal dari warga kota, mengingat Pontianak menjadi salah satu pusat layanan kesehatan rujukan di Kalimantan Barat.
"Ada yang namanya ditemukan kasus di Pontianak belum tentu warga Pontianak. Kalau kita lihat yang benar-benar warga ber-KTP Pontianak, tahun 2025 ada 92 orang. Tahun ini sampai bulan Juni tercatat 42 orang," kata Saptiko.
Ia menjelaskan, banyak masyarakat dari kabupaten/kota lain datang ke fasilitas kesehatan di Pontianak untuk menjalani pemeriksaan maupun pengobatan.
Karena itu, data kasus yang ditemukan di wilayah Kota Pontianak tidak bisa langsung diartikan sebagai jumlah warga Pontianak yang terinfeksi HIV.
"Banyak orang yang berobat di Pontianak, ditemukan di Kota Pontianak, menjadi laporan ditemukan di Kota Pontianak, yang belum tentu warga Kota Pontianak," ujarnya.
Saptiko mengatakan, berdasarkan karakteristik kasus, penderita HIV yang tercatat masih banyak berasal dari kelompok usia produktif.
"Didominasi usia produktif yang banyak," jelasnya.
Ia juga menyebut kasus HIV ditemukan pada berbagai kelompok perilaku seksual, baik heteroseksual maupun laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL).
Namun, berdasarkan data yang dimiliki Dinkes Pontianak, proporsi kasus pada kelompok LSL masih lebih tinggi.
"Dua-duanya ada, tapi lebih tinggi kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki," ucapnya.
Saptiko mengimbau masyarakat untuk tidak ragu melakukan pemeriksaan HIV, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko.
Menurutnya, deteksi dini dan pengobatan sejak awal menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas hidup penderita sekaligus mengurangi risiko penularan.
Ia berharap masyarakat semakin terbuka terhadap layanan kesehatan sehingga penanganan HIV dapat dilakukan lebih cepat dan tepat. (Lid)