Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Kamis, 22 Januari 2026 |
KALBARONLINE.com - Ditengah keterbatasan fisik dengan memilki tubuh kecil dibanding manusia normal pada umumnya, tak membuat Muhammad Rifki Asudais pantang menyerah untuk menyelesaikan studi di Universitas OSO Pontianak.
Mahasiswa penyandang disabilitas asal Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat ini berhasil menyelesaikan studi S1 Program Studi Manajemen di Universitas OSO Pontianak dengan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,90.
Tak hanya lulus tepat waktu, Rifki juga menyandang predikat Mahasiswa Berprestasi tingkat Fakultas hingga tingkat Universitas. Ia menjadi satu dari 46 mahasiswa yang diwisuda dalam Wisuda Sarjana Universitas OSO Pontianak Angkatan Periode II yang digelar di Gedung Pontianak Convention Center (PCC), Kamis (22/1/2026).
“Perasaannya campur aduk. Senang, terharu, dan bahagia. Dari SD, SMP, SMA sampai kuliah itu penuh perjuangan. Hari ini momen yang benar-benar emosional,” ujar Rifki saat ditemui usai wisuda.
Mahasiswa berusia 23 tahun ini menempuh pendidikan sarjana selama 4 tahun 2 bulan 3 hari. Sejak awal perkuliahan, ia merantau dari Kayong Utara ke Pontianak dengan mengandalkan beasiswa penuh dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.
Rifki mengungkapkan, dirinya berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh tukang, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga.
“Aku dari masuk kampus itu dapat beasiswa full dari Pemda Kalbar. Itu buat mahasiswa-mahasiswa, siswa-siswa berprestasi. Dapat uang bulanan, terus dapat uang UKT dibayarkan. Nah, jadi dari hal-hal itu sebenarnya tuh membantu keluarga gitu kan,” ujar Rifki.
Namun, kondisi ekonomi keluarga semakin sulit ketika sang ayah harus berhenti bekerja usai menjalani lima kali operasi dan dilarang dokter melakukan pekerjaan berat. Sejak saat itu, Rifki memutuskan untuk bekerja juga mengikuti berbagain perlombaan sambil kuliah demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Sejak itu saya benar-benar berusaha mandiri. Ikut lomba, freelance video editing, apa pun yang bisa saya lakukan secara positif,” katanya.
Meski kerap mendapat cemoohan karena keterbatasan fisiknya, Rifki mengaku hal tersebut justru memacu semangatnya untuk membuktikan bahwa stigma terhadap penyandang disabilitas tidaklah benar.
“Sebelumnya orang memandangku sebagai disabilitas yang mempunyai keterbatasan. Dan kadang-kadang stigma orang terhadap disabilitas itu nggak bisa ngapa-ngapain. Nggak bisa berprestasi, atau nggak bisa bertumbuh, atau nggak bisa sukses. Tapi dengan tekat, dengan ihtiar, dengan kemampuan dari diri sendiri untuk membuktikan bahwa stigma-stigma itu tuh tidak benar. Jadi berproses dari SD, SMP, SMA, dan berkuliah,” ungkapnya.
Saat ini, Rifki aktif sebagai fasilitator program Bakti Komdigi yang bekerja sama dengan DNIKS Pusat, khususnya dalam pelatihan digital bagi penyandang disabilitas di berbagai daerah. Ia bahkan telah mengikuti pelatihan hingga ke Kalimantan Selatan dan dikontrak untuk kegiatan nasional selama satu tahun ke depan.
Ke depan, Rifki memiliki mimpi sederhana namun bermakna. “Di usia 25 tahun, saya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitar, masyarakat, daerah, dan teman-teman disabilitas,” ujarnya.
Ia pun berpesan kepada generasi muda yang tengah berjuang dengan keterbatasan ekonomi maupun tekanan mental agar tidak menyerah.
“Masalah finansial itu berat, tapi jangan takut melakukan hal positif. Asah skill, ikut lomba, magang, atau freelance. Dan kalau pikiran negatif datang, itu manusiawi. Tapi kita harus yakin kita bisa melawannya,” tutup Rifki penuh semangat. (Lid)
KALBARONLINE.com - Ditengah keterbatasan fisik dengan memilki tubuh kecil dibanding manusia normal pada umumnya, tak membuat Muhammad Rifki Asudais pantang menyerah untuk menyelesaikan studi di Universitas OSO Pontianak.
Mahasiswa penyandang disabilitas asal Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat ini berhasil menyelesaikan studi S1 Program Studi Manajemen di Universitas OSO Pontianak dengan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,90.
Tak hanya lulus tepat waktu, Rifki juga menyandang predikat Mahasiswa Berprestasi tingkat Fakultas hingga tingkat Universitas. Ia menjadi satu dari 46 mahasiswa yang diwisuda dalam Wisuda Sarjana Universitas OSO Pontianak Angkatan Periode II yang digelar di Gedung Pontianak Convention Center (PCC), Kamis (22/1/2026).
“Perasaannya campur aduk. Senang, terharu, dan bahagia. Dari SD, SMP, SMA sampai kuliah itu penuh perjuangan. Hari ini momen yang benar-benar emosional,” ujar Rifki saat ditemui usai wisuda.
Mahasiswa berusia 23 tahun ini menempuh pendidikan sarjana selama 4 tahun 2 bulan 3 hari. Sejak awal perkuliahan, ia merantau dari Kayong Utara ke Pontianak dengan mengandalkan beasiswa penuh dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.
Rifki mengungkapkan, dirinya berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh tukang, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga.
“Aku dari masuk kampus itu dapat beasiswa full dari Pemda Kalbar. Itu buat mahasiswa-mahasiswa, siswa-siswa berprestasi. Dapat uang bulanan, terus dapat uang UKT dibayarkan. Nah, jadi dari hal-hal itu sebenarnya tuh membantu keluarga gitu kan,” ujar Rifki.
Namun, kondisi ekonomi keluarga semakin sulit ketika sang ayah harus berhenti bekerja usai menjalani lima kali operasi dan dilarang dokter melakukan pekerjaan berat. Sejak saat itu, Rifki memutuskan untuk bekerja juga mengikuti berbagain perlombaan sambil kuliah demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Sejak itu saya benar-benar berusaha mandiri. Ikut lomba, freelance video editing, apa pun yang bisa saya lakukan secara positif,” katanya.
Meski kerap mendapat cemoohan karena keterbatasan fisiknya, Rifki mengaku hal tersebut justru memacu semangatnya untuk membuktikan bahwa stigma terhadap penyandang disabilitas tidaklah benar.
“Sebelumnya orang memandangku sebagai disabilitas yang mempunyai keterbatasan. Dan kadang-kadang stigma orang terhadap disabilitas itu nggak bisa ngapa-ngapain. Nggak bisa berprestasi, atau nggak bisa bertumbuh, atau nggak bisa sukses. Tapi dengan tekat, dengan ihtiar, dengan kemampuan dari diri sendiri untuk membuktikan bahwa stigma-stigma itu tuh tidak benar. Jadi berproses dari SD, SMP, SMA, dan berkuliah,” ungkapnya.
Saat ini, Rifki aktif sebagai fasilitator program Bakti Komdigi yang bekerja sama dengan DNIKS Pusat, khususnya dalam pelatihan digital bagi penyandang disabilitas di berbagai daerah. Ia bahkan telah mengikuti pelatihan hingga ke Kalimantan Selatan dan dikontrak untuk kegiatan nasional selama satu tahun ke depan.
Ke depan, Rifki memiliki mimpi sederhana namun bermakna. “Di usia 25 tahun, saya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitar, masyarakat, daerah, dan teman-teman disabilitas,” ujarnya.
Ia pun berpesan kepada generasi muda yang tengah berjuang dengan keterbatasan ekonomi maupun tekanan mental agar tidak menyerah.
“Masalah finansial itu berat, tapi jangan takut melakukan hal positif. Asah skill, ikut lomba, magang, atau freelance. Dan kalau pikiran negatif datang, itu manusiawi. Tapi kita harus yakin kita bisa melawannya,” tutup Rifki penuh semangat. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini