Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Jumat, 20 Februari 2026 |
KALBARONLINE.com – Berdiri di tengah ruangan yang dulu jadi pusat pelayanan masyarakat, Kepala Kantah Aceh Tamiang, Evan Rahmaini, hanya bisa melihat hamparan lumpur dan rak-rak arsip yang roboh. Enam hari setelah banjir setinggi 5 meter surut, ia baru bisa mencapai kantornya dengan berjalan kaki, menembus akses yang terputus total.
Namun, tidak ada waktu untuk meratap. Di bawah tumpukan lumpur tebal itu, tersimpan 75.000 dokumen berharga milik masyarakat Aceh Tamiang.
“Hari pertama kami hanya memetakan kondisi. Hari kedua, strategi baru disusun: dokumen mana yang harus keluar duluan, ke mana akan dibawa,” kenang Evan mengenai masa-masa kritis pasca bencana.
Perjuangan ini tidak dilakukan sendirian. Sebuah kolaborasi lintas wilayah pun tercipta. Karena tak ada bangunan yang layak di Aceh Tamiang, evakuasi besar-besaran dilakukan menuju Langkat dan Banda Aceh. Sebanyak 30 Taruna/i STPN pun diterjunkan langsung ke lapangan, mencuci lembar demi lembar sertifikat yang kotor akibat bencana.
Meski pelayanan harus berpindah lokasi sementara, komitmen Kantah Aceh Tamiang tetap bulat: memastikan tidak ada satu pun hak tanah masyarakat yang hilang tersapu banjir. Restorasi ini bukan sekadar membersihkan kertas, melainkan memulihkan kepercayaan masyarakat pasca bencana. (Jau/*)
KALBARONLINE.com – Berdiri di tengah ruangan yang dulu jadi pusat pelayanan masyarakat, Kepala Kantah Aceh Tamiang, Evan Rahmaini, hanya bisa melihat hamparan lumpur dan rak-rak arsip yang roboh. Enam hari setelah banjir setinggi 5 meter surut, ia baru bisa mencapai kantornya dengan berjalan kaki, menembus akses yang terputus total.
Namun, tidak ada waktu untuk meratap. Di bawah tumpukan lumpur tebal itu, tersimpan 75.000 dokumen berharga milik masyarakat Aceh Tamiang.
“Hari pertama kami hanya memetakan kondisi. Hari kedua, strategi baru disusun: dokumen mana yang harus keluar duluan, ke mana akan dibawa,” kenang Evan mengenai masa-masa kritis pasca bencana.
Perjuangan ini tidak dilakukan sendirian. Sebuah kolaborasi lintas wilayah pun tercipta. Karena tak ada bangunan yang layak di Aceh Tamiang, evakuasi besar-besaran dilakukan menuju Langkat dan Banda Aceh. Sebanyak 30 Taruna/i STPN pun diterjunkan langsung ke lapangan, mencuci lembar demi lembar sertifikat yang kotor akibat bencana.
Meski pelayanan harus berpindah lokasi sementara, komitmen Kantah Aceh Tamiang tetap bulat: memastikan tidak ada satu pun hak tanah masyarakat yang hilang tersapu banjir. Restorasi ini bukan sekadar membersihkan kertas, melainkan memulihkan kepercayaan masyarakat pasca bencana. (Jau/*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini