Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Jumat, 13 Maret 2026 |
KALBARONLINE.com - Kematian Irfan Zaki Azizi (17 tahun) menyisakan tanda tanya besar bagi keluarga. Santri asal Kayong Utara ini menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit setelah sempat dirawat akibat trauma berat di bagian kepala.
Diketahui, bahwa pihak keluarga kini menuntut pengusutan tuntas atas dugaan kekerasan di lingkungan pesantren, menyusul adanya perbedaan mencolok antara laporan medis awal dengan kondisi fisik korban yang penuh luka memar.
Informasi meninggalnya Azizi disampaikan oleh pamannya, Rio. Ia mengatakan keponakannya menghembuskan napas terakhir sekitar pukul 07.00 WIB di RSU Santo Antonius Pontianak.
“Ia ponakan saya meninggal sekitar jam 7 pagi tadi. Saya tidak sempat menyusul ke Pontianak,” ujar Rio saat dikonfirmasi, Jumat (13/03/2026).
Rio menambahkan, jenazah Azizi telah dimandikan dan dikafankan di Pontianak sebelum dipulangkan ke kampung halamannya di Kabupaten Kayong Utara.
“Jenazah sudah dimandikan dan dikafankan di Pontianak sebelum dibawa pulang ke Kayong,” katanya.
Keluarga berharap almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan dan kasus yang menimpanya dapat diusut hingga tuntas.
“Semoga almarhum husnul khatimah dan mendapatkan keadilan di dunia,” tambah Rio.
Sebelumnya, Azizi yang menempuh pendidikan di Pesantren Labbaik Indonesia, Kabupaten Kubu Raya, sempat menjalani perawatan intensif setelah diduga mengalami trauma di bagian kepala.
Kondisi Azizi pertama kali diketahui orang tuanya, Ahmad Edi Santoso dan Nur Hasanah, setelah pihak pesantren mengabarkan bahwa putra mereka mengalami alergi terhadap obat parasetamol. Mendapat kabar tersebut, keduanya segera berangkat dari Kayong Utara menuju Kubu Raya untuk memastikan kondisi anak mereka.
Namun sesampainya di rumah sakit, keluarga menemukan kondisi yang berbeda dari penjelasan awal. Wajah Azizi tampak lebam dan mengalami pembengkakan serius, terutama di area mata.
“Kami awalnya diberitahu anak kami alergi parasetamol. Tapi setelah melihat langsung, wajahnya lebam dan bengkak parah. Ini terlihat bukan seperti alergi,” ujar Ahmad, Kamis (12/03/2026).
Foto yang beredar memperlihatkan Azizi terbaring di ranjang perawatan dengan kedua mata bengkak hingga tertutup. Memar kehitaman terlihat jelas di sekitar mata dan pipinya, bahkan di bagian kening terdapat benjolan besar.
Keluarga menduga Azizi menjadi korban kekerasan saat berada di lingkungan pesantren yang berlokasi di Jalan Parit Kerakah, Desa Pal IX, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.
Dokter jaga di RS Anton Soedjarwo Bhayangkara Polda Kalbar yang pertama menangani Azizi menyebut adanya dugaan trauma pada bagian kepala sehingga diperlukan penanganan medis lanjutan.
“Dokter mengatakan ada trauma di kepala,” kata Ahmad.
Karena kondisinya dinilai serius, Azizi kemudian dirujuk ke RSU Santo Antonius Pontianak untuk mendapatkan penanganan dokter spesialis bedah saraf.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Pesantren Labbaik Indonesia, Ustaz Aswandi Alfatih, mengatakan pihaknya belum dapat memberikan keterangan pasti mengenai penyebab kejadian tersebut.
“Kami belum bisa memberikan keterangan lebih jauh. Saat ini kami masih di rumah sakit untuk mencari penyebabnya, jadi belum bisa disimpulkan apakah ada tindak kekerasan atau tidak,” ujarnya.
Pihak pesantren menyatakan masih menunggu hasil pemeriksaan medis dari dokter terkait kondisi Azizi serta berharap penyebab peristiwa tersebut segera terungkap. (Sans)
KALBARONLINE.com - Kematian Irfan Zaki Azizi (17 tahun) menyisakan tanda tanya besar bagi keluarga. Santri asal Kayong Utara ini menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit setelah sempat dirawat akibat trauma berat di bagian kepala.
Diketahui, bahwa pihak keluarga kini menuntut pengusutan tuntas atas dugaan kekerasan di lingkungan pesantren, menyusul adanya perbedaan mencolok antara laporan medis awal dengan kondisi fisik korban yang penuh luka memar.
Informasi meninggalnya Azizi disampaikan oleh pamannya, Rio. Ia mengatakan keponakannya menghembuskan napas terakhir sekitar pukul 07.00 WIB di RSU Santo Antonius Pontianak.
“Ia ponakan saya meninggal sekitar jam 7 pagi tadi. Saya tidak sempat menyusul ke Pontianak,” ujar Rio saat dikonfirmasi, Jumat (13/03/2026).
Rio menambahkan, jenazah Azizi telah dimandikan dan dikafankan di Pontianak sebelum dipulangkan ke kampung halamannya di Kabupaten Kayong Utara.
“Jenazah sudah dimandikan dan dikafankan di Pontianak sebelum dibawa pulang ke Kayong,” katanya.
Keluarga berharap almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan dan kasus yang menimpanya dapat diusut hingga tuntas.
“Semoga almarhum husnul khatimah dan mendapatkan keadilan di dunia,” tambah Rio.
Sebelumnya, Azizi yang menempuh pendidikan di Pesantren Labbaik Indonesia, Kabupaten Kubu Raya, sempat menjalani perawatan intensif setelah diduga mengalami trauma di bagian kepala.
Kondisi Azizi pertama kali diketahui orang tuanya, Ahmad Edi Santoso dan Nur Hasanah, setelah pihak pesantren mengabarkan bahwa putra mereka mengalami alergi terhadap obat parasetamol. Mendapat kabar tersebut, keduanya segera berangkat dari Kayong Utara menuju Kubu Raya untuk memastikan kondisi anak mereka.
Namun sesampainya di rumah sakit, keluarga menemukan kondisi yang berbeda dari penjelasan awal. Wajah Azizi tampak lebam dan mengalami pembengkakan serius, terutama di area mata.
“Kami awalnya diberitahu anak kami alergi parasetamol. Tapi setelah melihat langsung, wajahnya lebam dan bengkak parah. Ini terlihat bukan seperti alergi,” ujar Ahmad, Kamis (12/03/2026).
Foto yang beredar memperlihatkan Azizi terbaring di ranjang perawatan dengan kedua mata bengkak hingga tertutup. Memar kehitaman terlihat jelas di sekitar mata dan pipinya, bahkan di bagian kening terdapat benjolan besar.
Keluarga menduga Azizi menjadi korban kekerasan saat berada di lingkungan pesantren yang berlokasi di Jalan Parit Kerakah, Desa Pal IX, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.
Dokter jaga di RS Anton Soedjarwo Bhayangkara Polda Kalbar yang pertama menangani Azizi menyebut adanya dugaan trauma pada bagian kepala sehingga diperlukan penanganan medis lanjutan.
“Dokter mengatakan ada trauma di kepala,” kata Ahmad.
Karena kondisinya dinilai serius, Azizi kemudian dirujuk ke RSU Santo Antonius Pontianak untuk mendapatkan penanganan dokter spesialis bedah saraf.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Pesantren Labbaik Indonesia, Ustaz Aswandi Alfatih, mengatakan pihaknya belum dapat memberikan keterangan pasti mengenai penyebab kejadian tersebut.
“Kami belum bisa memberikan keterangan lebih jauh. Saat ini kami masih di rumah sakit untuk mencari penyebabnya, jadi belum bisa disimpulkan apakah ada tindak kekerasan atau tidak,” ujarnya.
Pihak pesantren menyatakan masih menunggu hasil pemeriksaan medis dari dokter terkait kondisi Azizi serta berharap penyebab peristiwa tersebut segera terungkap. (Sans)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini